
Seminggu sudah Melinda di rawat dan seminggu itu juga Raka berada di rumah sakit atas perintah dari Sang Kakek. Untungnya, siang itu Melinda telah diperbolehkan pulang dan tentu saja Raka sangat senang.
“Akhirnya hari ini aku bisa keluar juga dari rumah sakit ini,” ucap Raka sembari melirik tajam ke arah Melinda yang menyebabkan dirinya tidur di rumah sakit yang jelas-jelas membuat seluruh tubuh Raka sakit karena tempat tidur yang tak sesuai dengan keinginannya.
Melinda hanya diam karena tak ingin membuat Raka semakin kesal kepadanya. Hampir setiap hari Raka protes karena harus tidur di rumah sakit dan bukan di rumah.
“Kenapa masih diam? Cepat dorong kursi rodaku!” perintah Raka pada Melinda yang tengah melamun.
Melinda mengiyakan dan mendorong kursi roda suaminya meninggalkan ruangan tersebut.
“Tuan Muda, biar saya saja,” ucap Reza yang ingin mengambil alih apa yang dilakukan oleh Melinda.
“Kamu tidak usah ikut campur. Lagipula apa yang dilakukan oleh wanita ini adalah kewajiban untuk melayani suaminya,” tegas Raka yang tak suka dengan Reza yang sok jadi pahlawan di siang bolong.
Reza sebenarnya tidak bermaksud ikut campur. Akan tetapi, Melinda saat itu belum sepenuhnya sembuh dan Raka malah menyuruh Melinda untuk mendorong kursi roda, sungguh tidak berperikemanusiaan.
“Jangan sekali-kali kamu memikirkan hal buruk tentang ku,” ucap Raka pada Reza yang terus menatapnya.
Reza saat itu menundukkan pandangannya dan berjalan beriringan menuju area parkir.
🌷
Mendengar kabar bahwa cucu dan cucu menantu sebentar lagi tiba, Almer bergegas keluar dari kamarnya untuk menyambut kedatangan sepasang suami istri tersebut.
Indri yang tak sengaja berpapasan dengan Almer terlihat tak senang dengan raut wajah bahagia dari Kakek tua itu.
Sialan, sepertinya wanita kampungan itu sudah keluar dari rumah sakit. Sepertinya aku harus berakting agar Kakek tua itu percaya bahwa aku telah berubah. (Batin Indri)
Indri saat itu juga berbalik arah dan berlari kecil untuk menyambut kedatangan sepasang suami istri yang masih dalam perjalanan.
Raka yang menoleh sekilas ke arah Melinda yang duduk tepat disampingnya.
“Ingat, jangan sekali-kali kamu menceritakan apa yang telah aku lakukan di rumah sakit,” ucap Raka agar Melinda tak buka mulut.
“Mas Raka tidak perlu takut, saya juga tidak ada niat untuk menceritakan hal tersebut kepada Kakek,” jawab Melinda yang tak ingin menambah masalah.
__ADS_1
“Apa katamu barusan? Takut?” Raka menoleh ke arah Melinda yang tak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Melinda kepadanya.
Kenapa Mas Raka selalu saja berpikiran negatif seperti ini. Hanya perkataan begitu saja sudah marah seperti ini. (Batin Melinda)
“Kenapa diam? Kenapa tidak menjawab?” tanya Raka pada Melinda yang hanya diam membisu.
“Maaf, Mas Raka. Saya salah,” balas Melinda memilih meminta maaf agar Raka tidak memperpanjang hal yang seharusnya tidak perlu diributkan.
“Apa masalah langsung selesai begitu saja setelah mengatakan kata maaf?”
Reza geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan yang begitu mengesalkan dari Raka. Tuan Mudanya itu begitu senang mencari-cari keributan dengan Melinda.
“Lalu, saya harus bagaimana agar Mas Raka tidak marah seperti ini?” tanya Melinda yang sama sekali tidak ingin membuat Raka marah terhadap dirinya.
“Karena kamu sudah menawarkan diri seperti itu, maka nanti malam kamu harus memijat tubuhku yang pegal-pegal ini. Kalau kamu bersedia, aku akan memaafkan dirimu,” terang Raka yang butuh sekali pijatan tangan Melinda.
“Baiklah, saya akan memijat tubuh Mas Raka,” balas Melinda.
“Dan satu lagi, jangan coba-coba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Karena paling paling tidak suka jika kamu menginginkan hal lebih yang jelas-jelas tidak akan pernah terjadi,” tegas Raka.
Mobil pun memasuki area kediaman mewah keluarga Arafat.
Melinda tersenyum lebar karena harus terlihat bahagia dihadapan Almer.
“Assalamu’alaikum, Kakek.” Melinda berjalan mendekat dan mencium punggung tangan Kakek dari suaminya, Raka.
Apa yang Melinda lakukan tersebut, sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Indri. Kalaupun iya, itu tidak lebih dari 3 kali selama tinggal di rumah tersebut.
“Wa’alaikumsalam, ini baru cucu menantu kesayangan Kakek,” ucap Almer yang tentunya menyindir keras Indri yang berdiri tepat disampingnya.
Saat Melinda ingin berjabat tangan dengan Indri, saat itu juga Indri menarik tubuh Melinda kedalam pelukannya.
“Apa kabar adik ipar? Aku sangat bahagia karena kamu akhirnya sudah keluar dari rumah sakit,” tutur Indri yang berusaha akrab dengan Melinda.
Melinda sedikit terkejut dengan perkataan Indri yang cukup hangat kepada dirinya. Berbeda jauh dari terakhir mereka bertemu.
__ADS_1
“Alhamdulillah saya baik, Mbak Indri,” balas Melinda dengan tersenyum lebar.
Raka terkejut melihat Indri yang ternyata masih ada dihadapannya.
“Kakek!” Raka menatap Kakeknya dengan tatapan penuh tanya.
Almer hanya mengedipkan matanya memberi isyarat agar Raka diam.
Apa yang telah wanita jahat ini lakukan sehingga Kakek tidak jadi mengusirnya? Sungguh menyebalkan sekali. (Batin Raka)
Almer meminta Melinda maupun Raka untuk segera beristirahat di kamar. Raka pun mengiyakan begitu juga dengan Melinda.
Setelah Raka dan Melinda telah masuk ke dalam lift, Almer sekali lagi memperingatkan Indri agar tidak macam-macam terhadap cucu menantu kesayangannya. Indri yang mendengar peringatan sekaligus ancaman dari Almer hanya bisa mengiyakan.
Hal tersebut Indri lakukan karena dirinya tidak siap jika harus diusir dari rumah mewah tersebut.
Mendengar jawaban dari Indri, Almer sedikit bernapas lega dan memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya.
Dasar Kakek tua bau tanah. Kamu pikir hanya wanita menjijikan itu saja cucu menantumu? Aku pun juga cucu menantumu. (Batin Indri)
Para pelayan terlihat begitu bahagia atas kepulangan Melinda. Mereka berharap agar Indri segera ditendang keluar dari rumah tersebut, dikarenakan mereka merasa bahwa kedatangan Indri di rumah itu membawa petaka untuk mereka.
“Karena kita sudah pulang, sekarang buatkan aku kopi!” perintah Raka yang sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Sekarang, Mas?” tanya Melinda yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa yang menjadi tempat tidurnya.
“Ya sekarang, kamu kira tahun depan apa?” tanya Raka yang paling tidak suka jika harus mengulangi perkataannya.
“Baik, Mas Raka. Saya buatkan sekarang,” balas Melinda dan kembali melenggang keluar dari kamar untuk membuatkan suaminya kopi.
Raka menatap jengah istrinya yang menurutnya begitu bodoh.
Wanita itu selalu saja membuatku jengkel. Selain banyak tanya, dia juga bodoh. (Batin Raka)
Sembari menunggu kopi datang, Raka memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak karena ia sudah sangat lama tidak merasakan nyamannya tempat tidur miliknya tersebut.
__ADS_1
❤️