Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 120


__ADS_3

Melinda yang tak sengaja mendengar perkataan Indri, saat itu juga menghampiri Indri yang sedang kesal.


“Masih sepagi ini Mbak Indri sudah marah-marah?” tanya Melinda sembari duduk di kursi dekat dengan Indri.


“Aku sedang ingin sendiri, lebih baik kamu pergi,” ucap Indri mengusir Melinda yang berada didekatnya.


“Apa aku tidak boleh duduk disini, Mbak Indri? Kalau begitu, aku akan bertanya kepada Kakek dan Mas Raka,” ujar Melinda yang telah beranjak dari duduknya untuk menanyakan hal tersebut.


“Jangan!” Indri cepat-cepat menahan Melinda untuk tidak pergi menemui Kakek dan juga Raka.


Melinda tertawa kecil dan kembali mendaratkan bokongnya. Kemudian, Melinda meminta kepada dua pelayan untuk membawakannya dua cangkir teh hangat.


Indri tercengang melihat bagaimana pelayan wanita itu patuh dengan ucapan Melinda.


Apa? Bisa-bisanya mereka sangat patuh terhadap wanita kampungan ini dan mengabaikan aku, Nyonya rumah ini. (Batin Indri)


“Ada apa dengan ekspresi wajah Mbak Indri? Terlihat sangat marah, tetapi ditahan. Kalau mau marah ya marah saja, keluarkan kemarahan Mbak Indri. Bukankah itu kebiasaan Mbak Indri selama ini?” tanya Melinda dengan tatapan serius.


“Kamu!” Indri berteriak dan mencoba menampar wajah Melinda. Akan tetapi, Melinda dengan sigap menangkap tangan Indri yang ingin menamparnya.


“Aku pikir dengan kejadian ini, Mbak Indri bisa berubah. Akan tetapi, aku salah,” tutur Melinda setengah mendorong Indri.


Indri hampir saja terjatuh dan untungnya ia masih bisa menjaga keseimbangannya.


“Apa Mbak Indri tidak lelah karena terus-menerus ingin mencelakakan aku? Terlebih lagi, minumanku yang Mbak Indri beri sesuatu. Untungnya saja, aku melihat bagaimana Mbak Indri memasukkan sesuatu ke minuman aku dan dengan otakku ini, gelas itu aku tukar,” terang Melinda sembari tersenyum lebar.


Indri mengepalkan tangannya erat-erat dan dengan gerakan cepat, Indri berhasil menjambak rambut panjang Melinda dengan cukup kuat.


“Sudah ku duga, semua ini gara-gara kamu. Seharusnya kamu yang merasakan sakitnya dan bukan aku!” Indri berteriak keras di telinga Melinda.


Melinda memutuskan untuk melawan Indri dengan cara mendorong Indri hingga terjatuh. Melinda tidak ingin lagi dianggap sebagai wanita lemah lembut yang mudah ditindas.


“Bangun, kenapa kamu hanya diam seperti ini?” tanya Melinda.


Saat Indri ingin bangkit, Melinda kembali mendorong Indri dengan cukup keras.


“Kamu, sudah mulai berani ya,” ucap Indri dan melepaskan high heels miliknya. Kemudian, melemparkannya ke arah wajah Melinda.


Melinda dengan gesit menghindari lemparan high heels milik Indri.

__ADS_1


Perkelahian mereka ternyata disaksikan oleh Raka dari kejauhan. Akan tetapi, Raka memutuskan untuk tetap memperhatikan dari kejauhan. Raka penasaran bagaimana dua wanita itu bertengkar dan Raka juga ingin tahu apakah istri tercintanya bisa menang dari Indri ataukah tidak.


Ayo istriku, aku tahu kamu ada wanita yang kuat dan tidak mudah ditindas. Balas lah perbuatan wanita tak tahu malu itu. (Batin Raka)


“Perlu Mbak Indri tahu, sampai detik ini aku tidak memberitahukan masalah minuman itu kepada Kakek dan juga Mas Raka. Karena apa? Karena aku tidak ingin mereka semakin membenci Mbak Indri. Akan tetapi, melihat Mbak Indri yang seperti ini, sepertinya aku tidak bisa lagi memaafkan perlakuan Mbak Indri terhadapku maupun para pekerja disini,” tegas Melinda.


Melinda perlahan mendekat ke arah Indri yang masih dengan posisi jatuhnya. Melinda tersenyum kecil dan menjambak rambut Indri dengan cukup kuat.


“Apakah sebelumnya aku pernah berbuat salah terhadapmu? Dari pertama aku datang ke rumah ini, kamu tidak pernah sekalipun baik kepadaku. Kita lihat saja, apakah kamu masih berani macam-macam kepadaku ataukah tidak?” tanya Melinda menantang Indri.


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Melinda memutuskan untuk pergi meninggalkan Indri yang terlihat semakin membenci Melinda.


Melinda berlari masuk ke dalam lift dan tak menyadari bahwa ada suaminya yang sedang memperhatikan dirinya.


Melinda menangis di dalam lift, setelah lift terbuka, Melinda buru-buru masuk ke dalam kamar yang dulu pernah menjadi kamarnya.


Wanita muda itu menangis dengan tubuh gemetar. Ia cukup takut dengan dirinya sendiri dan juga cukup takut bila kedepannya Indri lebih kejam lagi terhadap dirinya.


“Hiks... Hiks... Hiks....” Melinda menangis dan terus menangis, ia sangat takut karena mengatakan kalimat yang sebelumnya ia ucapkan kepada Indri.


“Untung saja aku bisa menghindar dari lemparan sepatu high heels milik Mbak Indri. Kalau tidak, entah apa yang terjadi kepadaku dan bisa saja Kakek serta Mas Raka mengusir Mbak Indri saat ini juga,” ucap Melinda yang tidak tega jika melihat Indri diusir dari kediaman mewah keluarga Arafat.


Disaat yang bersamaan, seorang pelayan tengah membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat permintaan Nona Mudanya. Raka saat itu juga menghentikan langkah pelayan itu dan memberitahukan bahwa istrinya sudah tidak ingin minum teh hangat. Pelayan itu hanya mengiyakan dan pada akhirnya, teh yang ia buat diminum olehnya dan rekan kerjanya yang lain.


Reza dengan gerakan cepat berlari menghampiri Tuan Mudanya.


“Iya, Tuan Muda,” jawab Reza.


“Bantu aku pergi menemui istriku di kamar, cepat!” perintah Raka.


Tak butuh waktu lama, Raka pun masuk ke dalam kamar dan tidak menemukan keberadaan Sang istri tercinta.


“Kemana istriku? Bukankah tadi Melinda memasuki lift?” Raka bertanya-tanya dengan penuh kebingungan.


“Tuan Muda, sepertinya Nona Muda ada di kamar sebelah,” tutur Reza karena dulu kamar itulah yang menjadi tempat bagi Melinda menenangkan diri.


“Kamu benar, istriku pasti di kamar sebelah. Ayo, bawa aku ke kamar sebelah!” perintah Raka.


Melinda ternyata telah terlelap di dalam kamar. Terlihat jelas, bahwa Melinda kelelahan karena menangis.

__ADS_1


“Tok! Tok! Tok!” Reza berulang kali mengetuk pintu kamar yang saat itu sedang ditempati oleh Nona Mudanya.


Melinda terbangun dari tidurnya dan bergegas membukakan pintu.


“Sayang, kamu habis menangis?” tanya Raka ketika melihat mata istrinya sembab.


Melinda menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia tidak menangis.


Raka tahu bahwa istrinya sedang berbohong. Meskipun begitu, Raka memilih berpura-pura percaya dan meminta Sang istri untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Reza pun undur diri agar sepasang suami istri dihadapannya bisa menghabiskan waktu berduaan.


“Sayang, kamu yakin tidak kenapa-kenapa?” tanya Raka dan mencium punggung tangan berulang kali.


Untungnya saja apa yang Raka lakukan ketika mereka sudah berada di dalam kamar. Kalau tidak, sudah pasti Melinda akan malu karena kemesraan mereka disaksikan oleh orang lain.


Melinda tertawa kecil ketika merasakan geli karena bulu halus di wajah suaminya yang bersentuhan dengan kulit tangannya.


Raka ikut tertawa melihat ekspresi wajah istrinya itu.


“Sayang, kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Melinda yang merasa terhibur mendengar suara tawa Sang suami tercinta.


“Tentu saja karena istriku lucu, bagaimana aku tidak tertawa?” tanya Raka dan kembali menciumi punggung tangan istrinya berulang kali.


Melinda merasa sangat senang, karena Raka bisa membuatnya kembali tersenyum dan bersemangat lagi. Melinda yakin bahwa kedepannya ia bisa mengalahkan Indri dan membuat Indri jera.


“Ayo, mandi bersama!” ajak Raka.


“Apa???” Melinda syok mendengar ajakan suaminya.


Dengan cepat Melinda menggelengkan kepalanya, ia malu jika harus mandi bersama dengan suaminya itu.


Raka tertawa lepas, wajah Melinda terlihat sangat merah karena ajakannya.


“Aku hanya bercanda saja sayang. Kenapa kamu malah terlihat sangat malu seperti itu?” tanya Raka yang justru menggoda istrinya.


Disaat yang bersamaan, Indri seperti orang kesetanan di dalam kamarnya. Ia tidak menyangka bahwa Melinda berani melawannya dan bahkan Melinda berani menjambak rambutnya.


“Wanita kampungan, wanita tak tahu diri. Bagaimana mungkin aku bisa diperlakukan kurang ajar seperti ini oleh wanita itu? Lihat saja, kedepannya kamu akan tunduk padaku dan bahkan kamu akan bersimpuh di kakiku,” ucap Indri yang sangat yakin bahwa Melinda akan kalah dari dirinya.

__ADS_1


Indri menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan melepaskan sebelah high heels miliknya yang masih menempel dikakinya. Kemudian, Indri melemparnya ke arah cermin hias hingga cermin itu rusak berkeping-keping.


“Wanita kampungan!” teriak Indri dan akhirnya kembali menangis dengan perasaan yang begitu geram atas apa yang telah Melinda lakukan padanya.


__ADS_2