Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 134


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, kondisi Melinda akhirnya kembali sehat seperti sediakala. Meskipun begitu, Melinda merasa bahwa dirinya tidak baik-baik saja karena hampir seminggu suaminya tidak ada kabar dan itu cukup membuat Melinda frustasi.


Siang itu, Melinda sedang berada di kantor. Baru saja ia selesai mengadakan rapat penting dengan peluncuran terbaru produk dari perusahaan Arafat.


Meskipun begitu, Melinda harus banyak belajar lagi agar bisa segera menyusul kemampuan rekan bisnis yang lainnya yang tentu saja lebih berpengalaman dari dirinya.


“Hufft... Akhirnya sudah selesai, sebaiknya aku pulang dan makan siang di rumah,” ujar Melinda bermonolog.


Melinda segera memasukkan barang-barang penting miliknya ke dalam tas. Dan tak lupa, Melinda mematikan layar monitor dihadapannya.


“Pak, saya pulang ya. Tolong bereskan ruangan saya,” pinta Melinda dan melenggang pergi meninggalkan ruang kantor yang untuk sementara waktu menjadi milik Melinda.


Di area parkir, ternyata Pak Joko yang tak lain sopir pribadi Kakek Almer telah menunggunya.


“Selamat siang, Pak. Sudah menunggu saya dari tadi?” tanya Melinda.


“Tidak juga, Nona Muda,” jawabnya.


Melinda masuk ke dalam mobil dan meletakkan tas miliknya ke samping kiri.


“Pak, nanti kita mampir ke apotek ya. Saya mau nyetok vitamin,” tutur Melinda.


“Siap, Nona Muda,” jawabnya lagi.


Jantung Melinda tiba-tiba berdegup kencang tidak seperti biasanya, saat itu juga Melinda menangis karena tiba-tiba wajah suaminya melintas dipikirannya.


“Nona Muda kenapa?” tanya Pak Joko yang belum juga menyalakan mesin mobil.


“Saya tidak kenapa-kenapa, Pak. Cuma sedang sedih saja, ayo Pak kita pergi dari sini,” pinta Melinda.


Pak Joko hanya bisa mengiyakan dan bergegas meninggalkan area parkir.


Mas Raka dimana sekarang? Apakah begitu sulit untuk mengirim kabar padaku? (Batin Melinda)


Melinda terus menangis tanpa henti, ia menyalahkan dirinya sendiri yang begitu cengeng.


Ketika tiba di depan apotek, Melinda memutuskan untuk tidak turun dari mobil. Wanita muda itu meminta agar Pak Joko lah yang turun dari membeli untuk membeli beberapa vitamin.


“Pak, maaf! Bolehkah saya minta tolong?” tanya Melinda.


“Nona Muda mau saya yang turun membeli vitamin?” tanya Pak Joko yang paham dengan perkataan Melinda.


“Iya, Pak. Saya rasa akan aneh bila saya yang turun dengan kondisi


“Nona Muda tenang saja, saya yang akan keluar membeli vitamin.”


Melinda mengucapkan terima atas perhatian sopir pribadi Kakek Almer. Melinda pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah kepada Pak Joko.


“Pak, beli semua ya,” tutur Melinda.

__ADS_1


Ketika Pak Joko turun dari mobil untuk segera masuk ke dalam apotek, Melinda cepat-cepat mengeluarkan alat make-up miliknya.


Melinda berusaha menutupi kesedihannya dengan make-up dan Melinda berharap setibanya di rumah, ia tidak berpapasan langsung dengan Kakek Almer.


Wanita muda itu tidak ingin membuat Kakek Almer kepikiran tentang dirinya yang akhir-akhir ini sering menangis. Karena selama ini, Melinda selalu berbohong bahwa suaminya sering mengirim kabar padanya.


“Sudah, sepertinya Kakek tidak akan tahu bahwa aku habis menangis,” tutur Melinda dan tersenyum ke arah kaca kecil yang berada ditangannya.


Melinda memasukkan kembali alat make-up miliknya ke dalam tas.


Sekitar 5 menit kemungkinan, Pak Joko masuk ke dalam mobil dan beberapa sebuah kantong plastik berwarna putih kepada Nona Mudanya.


Melinda mengambilnya dua lempeng vitamin dan memberikannya kepada Pak Joko.


“Pak Joko juga harus minum vitamin,” ujar Melinda.


“Alhamdulillah, saya lagi-lagi berterima kasih kepada Nona Muda yang selalu memberikan saya vitamin,” ujarnya.


“Pak Joko tidak perlu berbicara seperti itu, apa yang saya beli tentu Pak Joko harus kecipratan juga,” pungkas Melinda dan meminta Pak Joko untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah.


Melinda mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan untuk sahabatnya yang ada di Aceh, sekedar menanyakan kabar dan keadaan Ratna disana.


Ratna, tiba-tiba aku ingin kita duduk berdua dan bercengkrama seperti yang kita lakukan dulu. (Batin Melinda)


Melinda terus memperhatikan layar ponselnya dan melihat apakah pesan yang ia kirim untuk Ratna sudah terbaca ataukah belum.


“Ratna pasti sangat sibuk, biasanya dia langsung membaca pesanku begitu aku mengirimkan pesan singkat kepadanya,” ucap Melinda lirih.


Rumah Kediaman Keluarga Arafat.


Melinda bergegas turun dari mobil, wanita muda itu cepat-cepat masuk ke dalam rumah agar tidak berpapasan dengan Sang Kakek. Melinda tidak ingin bila Kakek tua itu melihat wajahnya yang menyedihkan.


Melinda berlari kecil menuju lift dan akhirnya ia berhasil masuk ke dalam lift tanpa berpapasan dengan Sang Kakek.


“Huffttt...” Melinda bernapas lega dan pada saat pintu lift terbuka, Melinda melangkahkan kakinya keluar dari lift untuk segera masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Melinda terduduk lemas didepan pintu kamar sembari menyentuh dadanya.


Bugh! Bugh! Melinda memukul dadanya berulang kali agar tidak panik ketika membayangkan yang tidak-tidak mengenai Sang suami yang ada di luar negeri.


“Nona Muda!” Melinda yang tengah bersandar di pintu kamar, seketika itu terkejut ketika mendengar suara ketukan pintu dibarengi dengan suara pelayan yang memanggil dirinya.


Melinda mengusap wajahnya dan bangkit dari lantai untuk membuka pintu kamarnya.


“Nona Muda ingin makan siang bersama dengan Tuan Besar? Kalau iya, saya akan menyampaikan langsung kepada Tuan Besar,” ucap pelayan wanita yang sebelumnya dimintai tolong oleh Tuan Besarnya untuk menemui Nona Mudanya, yaitu Melinda Anandi.


“Tolong sampaikan kepada Kakek bahwa saya ingin mengganti pakaian terlebih dulu ya Mbak!” pinta Melinda.


Pelayan itu mengiyakan permintaan Melinda dan permisi untuk segera menyampaikan balasan Melinda.

__ADS_1


Melinda mengunci pintunya rapat-rapat dan buru-buru mengganti pakaiannya. Setelah itu, Melinda membasuh wajahnya dengan air sembari memijat lembut area sekitar mata agar nampak terlihat segar.


“Sudah selesai. Sebaiknya aku turun kebawah, Kakek pasti jenuh menungguku yang belum juga berada di ruang makan,” ujar Melinda bermonolog.


Almer tersenyum manakala melihat melihat yang akhirnya tiba di ruang makan.


“Maaf, Kakek. Melinda terlambat,” ujar Melinda.


Kakek tua itu menoleh ke arah jam ditangannya sembari memperbaiki posisi kaca mata yang ia gunakan.


“Tidak sama sekali,” pungkas Almer.


Melinda tersenyum lebar ketika melihat hidangan dihadapannya.


“Kakek tahu bahwa hidangan ini adalah makanan kesukaan Cucu menantu, Kakek harap cucu menantu bisa makan yang banyak agar berat badan Cucu menantu kembali seperti sediakala,” tutur Almer.


“Kakek, bagaimana Kakek tahu kalau Melinda kehilangan berat badan?” tanya Melinda dengan tatapan sedih.


“Tidak hanya Kakek, pekerja di rumah ini pun tahu bahwa Cucu menantu sekarang sangat kurus. Kakek tidak ingin bila Raka kembali dan melihat istrinya kurus, Raka malah salah paham dan mengira bahwa Kakek tidak perhatian dengan Cucu menantu disini,” terang Almer.


“Kakek tidak perlu khawatir, saat Mas Raka pulang nanti, Melinda akan menjelaskan bahwa ini semua bukan karena kurangnya perhatian dari Kakek. Kakek tidak perlu risau,” balas Melinda.


“Sudah-sudah, sebaiknya kita makan sekarang. Kasihan kalau hidangan ini tidak segera kita santap,” tandas Almer.


Melinda mengambil piring Kakek almer dan mengisinya dengan makanan yang sesuai dengan keinginan Kakek tua tersebut.


“Kakek mau tambah apalagi?” tanya Melinda.


“Sudah, sudah sangat cukup. Sekarang giliran Cucu menantu yang mengambil makanan,” jawab Almer sembari mengambil piring miliknya yang telah diisi makanan oleh Melinda.


Melinda mengangkat piring miliknya dan mulai mengisi piring dengan nasi serta lauk.


Beberapa saat kemudian.


Setelah makan siang bersama, Melinda menemani Kakek Almer duduk di teras depan rumah.


“Kakek, bagaimana kondisi Kakek sekarang?” tanya Melinda penasaran.


Pelayan wanita datang dengan membawa segelas air minum dan obat yang akan Almer minum.


“Kakek, ayo sudah waktunya bagi Kakek minum obat,” ujar Melinda.


Almer sebenarnya sudah bosan dengan banyaknya obat yang harus ia minum setiap hari. Akan tetapi, Almer juga tidak ingin mengecewakan Melinda yang sangat serius merawatnya agar bisa sembuh.


“Alhamdulillah,” tutur Melinda karena Almer telah meneguk obat tersebut.


“Apakah Cucu menantu sangat senang?” tanya Almer.


Melinda dengan semangat mengiyakan pertanyaan Almer padanya.

__ADS_1


Maaf ya Kek, Kakek pasti bosan dengan banyak obat yang harus Kakek minum setiap hari. Melinda ingin Kakek cepat sembuh, Melinda tidak ingin Kakek kenapa-kenapa lagi. (Batin Melinda)


__ADS_2