
Melinda masuk ke dalam kamar Sang Ayah yang tengah tertidur. Sementara Dina, menatap dingin Melinda dan keluar dari kamar tidur seketika itu juga.
Dina semakin membenci sosok putri tirinya dan juga suami dari putri tirinya itu. Dina ingin sekali menampar wajah Melinda sampai puas agar rasa sakit dihatinya dapat terbalaskan.
Raka berusaha untuk mengendalikan dirinya ketika melihat bagaimanapun Dina menatap tajam istrinya. Bagaimanapun, Melinda adalah wanita yang sangat Raka cintai dan Raka tidak ingin siapapun orang yang berusaha menyakiti hati istrinya.
“Melinda.” Bambang bangun dari tidurnya dan menyadari bahwa putri sulungnya datang menjenguk dirinya.
“Ayah, maafkan Melinda yang baru bisa datang menjenguk Ayah,” ucap Melinda yang begitu senang ketika melihat tatapan Ayahnya yang dulu pernah ia rasakan, kini ia rasakan kembali.
Melinda menangis terharu, ia seperti melihat sosok Ayahnya yang dulu sangat menyayangi dirinya.
“Nak, maafkan Ayah. Ayah menyesal, tidak seharusnya Ayah memperlakukan kamu dengan sangat kejam,” ujar Bambang yang sangat menyesal karena telah membuat putri sulungnya menangis terus-menerus karenanya.
“Ayah... Ayah...” Melinda menggenggam erat tangan Ayahnya dengan air mata yang terus mengalir.
Raka menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah istrinya.
“Melinda, kamu tidak pantas menangis seperti ini,” tutur Raka yang tidak ingin melihat istrinya menangis untuk orang yang telah membuat istrinya menderita selama ini.
“Mas Raka, seorang anak pasti akan sedih melihat orang tuanya sakit. Begitu juga dengan saya, saya pun merasa sangat sedih ketika melihat Ayah sakit seperti ini,” balas Melinda.
Bambang tersenyum tipis dengan bibirnya yang terlihat mengering sekaligus memucat.
“Melinda, wajar saya suamimu berkata seperti itu. Semua ini memanglah kesalahan Ayah dan sudah sepantasnya Ayah menerima karma dari apa yang telah Ayah lakukan. Ayah juga merasa, umur Ayah sudah tidak panjang lagi,” terang Bambang dan menitikkan air matanya sembari tersenyum.
Melinda menggelengkan kepalanya berulang kali tak setuju dengan apa yang Ayahnya katakan.
“Ayah jangan bicara seperti ini, Melinda tidak ingin Ayah bicara yang akan membuat Melinda semakin sedih. Ayah pokoknya harus cepat sembuh, kita ke rumah sakit ya ayah.” Melinda mencoba membujuk Sang Ayah untuk berobat di rumah sakit.
“Tidak perlu, Ayah tidak perlu pergi ke rumah sakit. Ayah ingin tetap di rumah, bisakah kamu menginap disini malam ini?” tanya Bambang yang ingin sekali melihat putri sulungnya tidur di rumah keluarga mereka.
__ADS_1
Melinda terkejut, ia tidak bisa memutuskan apa mengiyakan atau menolak permintaan Ayahnya itu.
Melinda perlahan menoleh ke arah suaminya dan tak disangka, Sang suami langsung mengiyakan permintaan Bambang.
Bambang tersenyum senang, begitu juga dengan Melinda.
“Alhamdulillah,” ucap Bambang dengan sangat puas karena Melinda dan juga Raka akan tidur di rumah itu.
Dina dan Katty sedang duduk di ruang tamu dengan perasaan kesal. Mereka berdua kesal dengan kehidupan Melinda yang begitu bahagia.
“Mama, bagaimana ini? Bagaimana caranya supaya Katty bisa menjadi orang kaya?” tanya Katty yang sangat ingin menjadi orang kaya, hingga kekayaannya melebihi keluarga Raka Arafat.
“Mama juga sedang berusaha, Mama sangat ingin memiliki menantu yang kaya raya dan tentunya normal. Tidak seperti suami dari wanita sialan itu, meskipun suaminya kaya yang tetap saja dia adalah seorang pria lumpuh,”ujar Dina menghina fisik Raka Arafat.
Dina dan Katty terus berbincang-bincang, sampai akhirnya Raka dan Melinda datang.
“Kamu sudah selesai?” tanya Dina dengan sangat ketus.
“Lebih baik kalian jaga bicara kalian dengan baik-baik. Kedepannya, aku tidak menjamin bahwa kalian bisa lolos dari penjara,” tegas Raka.
Perkataan Raka seketika itu membuat Katty dan juga Dina kuduk berdiri.
Dina dan Katty refleks menutup mulut mereka rapat-rapat. Mereka terlihat sangat ciut dan membuat Melinda terheran-heran dengan tingkah Ibu serta anak itu.
Saat Melinda, Raka dan juga Reza melewati pintu keluar untuk menuju ke mobil. Dina dan Katty bergegas menutup pintu itu rapat-rapat.
“Sialan, datang kemari tidak membawa apapun. Bahkan, mereka juga tidak memberikan kita uang,” ucap Katty dengan penuh emosi.
Melinda dan Raka bergegas meninggalkan rumah itu untuk segera pulang. Mereka pulang untuk mengambil beberapa pakaian selama sehari semalam tinggal di rumah dimana Melinda dibesarkan di rumah itu.
“Mas Raka yakin mau tidur di rumah keluarga saya?” tanya Melinda memastikan.
__ADS_1
Raka tersenyum dengan penuh percaya diri ketika melihat Sang istri menatapnya dengan sangat serius.
“Mas Raka, tolong jangan tersenyum seperti ini. Saya hanya tidak ingin membuat Mas Raka terganggu dengan kehidupan keluarga saya yang aneh ini,” ujar Melinda dengan sedih.
“Kamu kenapa malah asal bicara seperti ini? Lagipula, aku pun ingin merasakan bagaimana tidur di kamarmu,” pungkas Raka dan membuat Melinda seketika itu terbungkam seribu bahasa mendengar apa yang suaminya katakan.
Raka tertawa kecil melihat ekspresi wajah istrinya yang sungguh menggemaskan.
“Saya aneh ya Mas?” tanya Melinda yang pasrah jika suaminya nanti mengatakan bahwa dirinya memang benar-benar wanita gila.
Raka menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak setuju dengan apa yang Melinda katakan.
“Kamu ini bicara apa? Sudahlah, aku sekarang ingin tidur,” ucap Raka dan seketika itu memejamkan matanya.
Melinda memandang suami yang entah kenapa saat itu terlihat sangat keren di mata Melinda Anandi.
Mas Raka kenapa kali ini terlihat sangat keren sekaligus gagah? Ya Allah, suami hamba semakin hari semakin tampan. (Batin Melinda)
Melinda tersenyum dengan penuh kebahagiaan dan membuat Raka menjadi salah tingkah ketika melihat Melinda yang tersenyum manis seperti yang saat itu Raka saksikan sendiri.
Disaat yang bersamaan, Dina marah terhadap suaminya setelah tahu bahwa Melinda dan juga Raka akan kembali untuk menginap di rumah. Dina marah karena tidak ingin bila Melinda dan juga Raka tinggal di rumah itu, meskipun hanya selama saja.
“Mas Bambang kenapa harus seperti ini? Kalau Mas sakit, ya sudah sakit saja. Kenapa harus meminta keduanya tidur di rumah ini?” Dina masih tak terima dengan apa yang telah suaminya lakukan.
Bambang memilih untuk diam seribu bahasa daripada meladeni perkataan istrinya.
“Mas kenapa diam?” tanya Dina yang merasa sengaja diabaikan oleh suaminya, Bambang.
Lagi-lagi Bambang diam dan membuat Dina semakin marah. Dina melempar guling ke wajah suaminya yang berbaring lemah. Kemudian, keluar dari kamar mereka dengan sangat kesal.
Bambang merasa sangat sedih dengan apa yang Dina lakukan. Ternyata, Dina tidak menghormatinya sebagai seorang suami.
__ADS_1