Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 91


__ADS_3

Malam hari.


Melinda menjatuhkan diri di tempat tidur dan terlihat jelas bahwa wanita muda itu tengah kelelahan. Melinda sedikit kecewa karena suaminya tidak datang menjemput dirinya. Meskipun begitu, Melinda berusaha untuk santai dengan pekerjaan suaminya yang semakin hari semakin sibuk.


“Malam ini Mas Raka lagi apa ya? Aku ingin sekali menghubungi Mas Raka disana. Akan tetapi, kalau Mas Raka sibuk dan aku mengganggu Mas Raka rasanya tidak etis. Baiklah, aku akan menunggu saja,” ucap Melinda bermonolog.


Melinda tersenyum bahagia dan perlahan memejamkan mata untuk bisa tidur, walaupun hanya sebentar.


Sekitar 10 menit, Melinda akhirnya bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk segera membersihkan diri sebelum suaminya tiba.


Melinda melepaskan ikatan rambutnya dan menggerai rambut panjangnya itu. Kemudian, Melinda perlahan menanggalkan pakaiannya dan meletakkan pakaian tersebut ke dalam keranjang plastik khusus untuk pakaian kotor.


Disaat yang bersamaan, mobil yang dinaiki oleh Raka sebentar lagi sampai di rumah. Raka terlihat tak sabaran ingin melihat wajah istrinya dan ingin bertanya banyak hal mengenai hari pertama istrinya menjadi mahasiswi.


“Lebih cepat lagi!” perintah Raka tak sabaran.


Reza hanya menghela napasnya tanpa ingin menjawab perintah dari Tuan Mudanya itu.


Saat mobil perlahan memasuki area halaman rumah, Raka seketika itu tersenyum lebar. Mobil pun berhenti dan Reza cepat-cepat menurunkan Tuan Mudanya.


“Melinda sepertinya masih di kamar. Cepat bawa aku ke kamar!” perintah Raka yang ingin segera menemui istrinya itu.


“Baik, Tuan Muda,” sahut Reza dan membawa Tuan Mudanya menuju lift.


Melinda tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Wanita itu tidak mendengar suara ketukan pintu serta panggilan Raka padanya.


Ketika Melinda mematikan hair dryer tersebut, Melinda terkejut mendengar suara ketukan pintu dibarengi dengan panggilan dari suaminya.


“Ya Allah, ternyata itu Mas Raka,” ujar Melinda bermonolog dan berlari kecil untuk segera membukakan pintu tersebut.


Melinda membuka pintu kamar dan mereka pun saling bertatapan mata dengan waktu yang cukup lama.


Reza yang melihat sepasang suami istri yang saling bertatapan seperti itu, mereka seperti setan diantara keduanya. Reza akhirnya melenggang pergi tanpa pamit karena tak ingin mengganggu momen penting keduanya.


“Mas Raka sudah pulang ternyata,” ucap Melinda dengan jantung yang berdebar-debar lebih kencang dari biasanya.


Dengan tangan gemetar, Melinda mencium punggung tangan suaminya.

__ADS_1


Raka mengernyitkan keningnya ketika merasakan bahwa tangan istrinya gemetaran.


“Melinda, apakah kamu sakit?” tanya Raka memastikan.


“Sakit? Saya sama sekali tidak sakit, Mas Raka,” jawab Melinda yang terheran-heran dengan pertanyaan suaminya.


“Benarkah? Kalau begitu, kenapa tanganmu gemetaran? Apakah kamu tidak makan tepat waktu?” Begitu banyak pertanyaan yang Raka lontarkan sehingga Melinda tidak sempat menjawab pertanyaan sang suami.


“Saya baik-baik saja, Mas Raka. Kalau ditanya soal makan apa belum, sebenarnya saya belum makan,” jawab Melinda apa adanya.


“Ayo bawa aku masuk ke dalam kamar dan aku akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum kita makan malam bersama,” ujar Raka pada istrinya.


Melinda dengan patuh mendorong kursi roda suaminya membawa sang suami masuk ke dalam kamar tidur mereka berdua.


Raka yang telah berada di dalam kamar, terlihat sangat senang ketika melihat wajah cantik istrinya yang tak dilapisi oleh bedak sedikitpun.


“Melinda, bagaimana dengan hari ini?” tanya Raka penasaran.


Melinda tersenyum lebar yang seakan-akan senyuman itu menunjukkan kalau semuanya sangat lancar tanpa ada kendala sedikitpun.


“Mas Raka jangan tertawa,” ujar Melinda pada Raka yang masuk duduk cantik di kursi roda.


“Baiklah, aku tidak lagi tertawa. Sekarang, kamu siapkan air hangat untuk ku mandi!” pinta Raka pada Melinda.


🌷


Ruang makan.


Raka dan Melinda sudah berada di ruang makan dengan hidangan makanan yang bisa dikatakan sangat banyak bila hanya untuk mereka berdua saja.


“Kamu makanlah yang banyak dan jangan sampai sakit. aku paling tidak suka bila kamu kehilangan berat badan karena sakit,” pungkas Raka yang tidak ingin bila istrinya kembali jatuh sakit seperti yang sebelum-sebelumnya.


Melinda mengangguk kecil setelah mendengarkan perkataan Raka padanya.


“Oya, dimana Reza?” tanya Raka ketika menyadari bahwa asisten pribadinya menghilang begitu saja.


“Mas Reza telah pulang, Tuan Muda,” jawab pelayan tersebut yang melihat Reza melenggang pergi bersama dengan mobil milik Raka Arafat.

__ADS_1


“Ya sudah, kalau boleh pergi!” perintah Raka karena hanya ingin berduaan saja di ruang makan bersama Sang istri.


Melinda menikmati makanannya dengan lahap. Raka yang melihat pemandangan tersebut merasa sangat senang dan berharap agar Melinda agak berisi.


“Uhuk... Uhuk....” Melinda tersedak oleh makanan di dalam mulutnya ketika menyadari bahwa ternyata Sang suami tengah memandanginya yang sedang sibuk mengunyah.


“Makanlah dengan perlahan dan tidak perlu terburu-buru,” ucap Raka sembari memberikan segelas air minum kepada Melinda yang tengah terbatuk-batuk.


Melinda menerima segelas air pemberian suaminya dan meneguknya sampai habis. Kali ini, Melinda menikmati makanannya dengan sangat cantik. Melinda hanya tidak ingin bila suaminya mengatakan atau berpikiran negatif tentang caranya menikmati makanan.


“Kenapa? Apa makanannya tidak enak lagi?” tanya Raka ketika melihat Melinda yang makan dengan sangat lambat.


Melinda menggelengkan kepalanya dengan terus mengunyah makanan di dalam mulutnya.


“Mas Raka kenapa tidak makan?” tanya Melinda karena sedari tadi Raka hanya menikmati hidangan makanan tanpa nasi.


“Ini aku sudah makan dan sudah kenyang,” jawab Raka yang memang sedang tidak ingin menikmati nasi.


Melinda telah selesai menikmati makan malamnya, begitu juga dengan Raka. Merekapun memutuskan untuk bersantai sejenak di ruang keluarga sembari menonton televisi.


“Bagaimana dengan kelasmu hari ini?” tanya Raka penasaran.


“Awalnya saya sempat takut karena tidak ingin membuat Mas Raka kecewa sekaligus malu dengan saya yang bodoh ini. Akan tetapi, pemikiran itu hilang begitu saja manakala saya mulai mengenal mahasiswi yang lain,” terang Melinda apa adanya.


“Tunggu, kenapa kamu berpikiran bahwa kamu bodoh?” tanya Raka penasaran.


“Bukankah dulu Mas Raka yang sering mengatakan bahwa saya ada wanita bodoh?” tanya Melinda dengan tatapan serius.


“Benarkah?” tanya Raka tanpa ingin menatap istrinya.


Melinda menghela napasnya yang cukup berat. Kejadian beberapa waktu yang lalu, sudah Melinda lupakan. Tentang bagaimana suaminya bersikap kasar dan sering berkata kasar padanya.


“Mas Raka mau saya buatkan kopi?” tanya Melinda mencoba mencairkan suasana di ruang keluarga tersebut.


Wanita ini sepertinya sengaja menawarkan kopi untukku, agar aku bisa melupakan pertanyaan ku tadi. Sungguh wanita yang sangat baik. (Batin Raka)


Raka tersenyum tipis melihat bagaimana Melinda memperlakukan dirinya dengan sangat baik setelah apa yang sudah terjadi selama ini.

__ADS_1


__ADS_2