
Melinda memanyunkan bibirnya ketika melihat suaminya yang hanya berbaring di tempat tidur. Melinda mengira bahwa suaminya tengah mempermainkan dirinya.
Bukankah tadi Mas Raka mengatakan akan memberikanku kejutan? Sudah jam segini, kenapa Mas Raka belum juga memberikan kejutan itu? Apakah mungkin Mas raka lupa? (Batin Melinda)
“Mas Raka, mana kejutannya? Apakah belum Mas Raka siapkan?” tanya Melinda penasaran.
“Nanti ya sayang, suamimu ini lagi ingin rebahan,” jawab Raka.
“Baiklah, lagipula saya juga tidak terlalu tertarik dengan kejutan itu. Bagaimana, kalau Mas Raka menceritakan apa saja yang Mas Raka lakukanlah diluar negeri?” tanya Melinda penasaran yang malah tertarik dengan kegiatan suaminya selama berada di benua Eropa.
“Tunggu sebentar, suamimu ini ingin ke kamar mandi,” ujar Raka.
Melinda dengan cepat membantu suaminya untuk duduk di kursi roda.
”Mau saya bantu, sayang?” tanya Melinda.
“Tidak usah, aku bisa sendiri,” jawab Raka.
Saat suaminya sedang berada di dalam kamar mandi, Melinda memutuskan untuk menyalakan televisi. Melinda mencoba mencari acara televisi yang bagus dan cocok untuknya. Akan tetapi, Melinda tidak menemukannya.
Sesekali Melinda menoleh ke arah kamar mandi dan suaminya belum juga ada tanda-tanda ingin keluar dari kamar mandi.
“Sayang, tolong bantu aku!” panggil Raka dengan pintu yang terbuka setengah.
Melinda berlari kecil menuju kamar mandi dan membantu suaminya keluar dari kamar mandi tersebut.
“Sayang, bukankah tadi sudah dibilangin agar saya ikut masuk,” ujar Melinda setelah suaminya berada di tempat tidur.
“Tidak boleh, yang ada malah kamu mengintip,” balas Raka dengan wajar tanpa ekspresi.
Melinda tertawa lepas ketika mendengar balasan dari suaminya.
“Kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu?” tanya Raka sembari menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
“Kalau mau senyum ya senyum saja jangan di tahan,” ujar Melinda kepada Sang suami tercinta.
“Iyakah?” tanya Raka dan menarik tubuh Melinda agar semakin menempel padanya.
Melinda tersipu malu-malu ketika Raka menatapnya dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Melinda berdiri.
Gleg!! Melinda menelan salivanya dengan susah payah ketika suaminya berkedip genit padanya.
“Mau melihat kejutannya?” tanya Raka dengan tatapan serius.
Melinda perlahan mengangguk tanda bahwa ia ingin melihat kejutan dari suaminya.
“Kalau begitu, pejamkan dulu matamu dan hitung dari 1 sampai 10. Kemitraan, bukalah matamu,” ujar Raka meminta istrinya untuk memejamkan matanya dan berhitung dari 1 sampai 10.
Melinda dengan patuh memejamkan matanya dan mulai menghitung bilangan 1 sampai sepuluh.
Ketika Melinda sedang menghitung, Melinda merasa bahwa suaminya perlahan bergeser menjauh dari dirinya. Pada saat hitungan ke sepuluh, Melinda cepat-cepat membuka matanya dan hal betapa terkejutnya Melinda ketika melihat suaminya berdiri kokoh tanpa memegang apapun sebagai penahan dari tubuh suaminya.
__ADS_1
“Mas Raka!” teriak Melinda yang sangat syok dengan apa yang Melinda lihat.
Jika saja di dalam kamar itu tidak menggunakan peredam suara, sudah pasti suara Melinda terdengar sampai keluar kamar dan mungkin sampai ke lantai bawah.
Melinda buru-buru turun dan memeluk tubuh suaminya dengan sangat kencang.
“Mas Raka jangan takut, saya tidak akan melepaskan Mas Raka dari pelukan saya. Mas Raka tenang saja, Mas Raka tidak akan jatuh,” tegas Melinda yang nampak panik melihat suaminya berdiri tegap.
Raka tersenyum lebar dan dengan gerakan cepat mengangkat tubuh istrinya. Raka memutar-mutar tubuhnya dan membuat Melinda menjerit ketakutan.
Melinda berpikir bahwa ia tengah bermimpi di dalam tidurnya.
“Melinda, sadarlah ini hanya mimpi,” ucap Melinda berbicara dengan dirinya sendiri agar segera sadar dari apa yang telah ia lihat.
Raka menjatuhkan tubuh Melinda ke atas kasur dan disusul pula oleh Raka. Kini tubuh Raka tepat diatas tubuh Melinda.
“Sayang, ini bukan mungkin. Kamu sama sekali tidak bermimpi sayang, ini nyata,” tegas Raka dan mencium basah bibir Melinda.
Melinda menggigit bibirnya sendiri sesaat setelah Raka mencium bibirnya.
“Aww... Sakit,” ucap Melinda merasakan sakit pada bibir bawahnya.
“Ba-bagaimana mungkin, apakah ini benar-benar nyata?” tanya Melinda sembari menyentuh wajah suaminya.
“Tentu saja, lihatlah kakiku!” Raka masih dengan posisi diatas tubuh Melinda dan menggerakkan kakinya berulang kali untuk menunjukkan bahwa benar ia telah bisa berjalan kembali.
“Allahu Akbar!” Melinda bertakbir menyebut nama Allah dan menangis terharu.
Raka tersenyum lebar dan kembali memperlihatkan bagaimana ia bisa berdiri tegap tanpa bantuan apapun.
“Apakah istriku sekarang sudah senang?” tanya Raka dengan begitu senang.
“Demi Allah, sekalipun jika Mas Raka lumpuh, saya tetap mencintai Mas Raka,” ungkap Melinda.
Raka menarik tubuh Melinda ke dalam pelukannya, perkataan Melinda membuat dirinya benar-benar merasakan cinta tulus dari seorang wanita bernama Melinda Anandi.
“Sayang, sebenarnya aku tidaklah lumpuh. Hanya saja, aku trauma setelah kecelakaan yang menimpaku. Belum lagi, rasa sedih kehilangan seorang Kakak yang sangat aku cintai. Akan tetapi, trauma itu dengan susah payah aku lawan setelah tahu bahwa istriku patut aku bahagiakan. Bukankah dulu aku pernah mengatakan untuk membahagiakan mu, istriku sayang?”
Melinda menangis terharu, apapun alasan suaminya. Melinda sama sekali tidak kecewa, justru Melinda berjanji kepada dirinya sendiri untuk lebih memahami perasaan suaminya.
“Apakah trauma Mas Raka benar-benar telah hilang?” tanya Melinda memastikan apa yang suaminya katakan.
“Berkat kamu, istriku sayang. Traumaku hilang, terima kasih atas kesabaranmu selama ini. Maaf, dulu aku pernah berbuat kejam padamu,” ucap Raka yang benar-benar menyesal telah membuat luka di hati istrinya.
“Mas Raka sayang, biarlah itu menjadi masa lalu. Sekarang, yang harus kita fokuskan adalah menata masa depan yang lebih cerah untuk keluarga kecil kita,” pungkas Melinda.
Raka tersenyum bahagia, pemikiran istrinya begitu dewasa dan bahkan Raka mengakui bahwa untuk urusan pemikiran, pemikiran istrinya lah yang lebih matang daripada dirinya.
“Apakah Kakek sebelumnya tahu bahwa Mas Raka sebenarnya tidak lumpuh?” tanya Melinda.
“Yang tahu bahwa aku tidak lumpuh dan hanya mengalami trauma yaitu, dokter yang menangani ku ketika aku sekarat, Reza yang tak lain adalah asisten pribadi ku dan yang terakhir adalah wanita yang sangat aku cintai, yaitu Melinda Anandi,” ungkap Raka kepada Sang istri.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
Melinda dan Sang suami berbincang-bincang di tempat tidur, terlihat jelas bahwa Melinda ingin terus menempel kepada suaminya itu.
“Aku sudah mengetahui bahwa istriku sangatlah pintar,” ujar Raka.
Melinda mendongak menatap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Sangatlah pintar yang bagaimana, sayang? ayo, cepat beritahu!” pinta Melinda dan kembali menjatuhkan kepalanya di dada Raka.
Melinda tertawa geli mendengar detak jantung suaminya yang berdetak tak karuan.
“Apakah Mas Raka gugup dengan posisi kita yang seperti ini?” tanya Melinda dan kembali tertawa geli.
“Wah, 3 bulan lebih kita tidak bertemu ternyata istriku genit juga ya,” balas Raka menggoda Melinda.
Melinda mengernyitkan keningnya dan mendongak menatap suaminya.
“Biarin saja, lagipula genit dengan suaminya sendiri tidak dilarang. justru, menambah pahala untuk aku,” balas Melinda dan menggigit dada Raka.
Raka terkejut dengan apa yang istrinya lakukan. Raka tersenyum lebar dan menciumi seluruh wajah Sang istri berulang kali.
Melinda mencoba untuk kabur dari suaminya. Akan tetapi, Melinda tidak berhasil karena suaminya terus mendekap tubuh dengan sangat erat.
“Hayo, istriku mau kemana? Aku tidak akan membiarkan istriku kabur,” ujar Raka.
Melinda akhirnya pasrah dengan apa yang suaminya lakukan padanya.
Setelah Raka puas menciumi wajah istrinya, Raka mengajak istrinya untuk tidur.
Melinda dengan lembut menolak ajakan suaminya, ia masih ingin berbincang-bincang.
Raka mengiyakan, bagaimanapun istrinya pasti sedih selama 3 bulan lebih ditinggalkan dirinya.
“Ngomong-ngomong, kenapa istriku ini pintar sekali?” tanya Raka penasaran.
“Hmm... Maksud Mas Raka apa? Apa aku tidak boleh menjadi istri yang pintar?” tanya Melinda.
“Sayang, aku sudah tahu semuanya. Tentang bagaimana istriku menangani perusahaan, bagaimana kalau istriku saja yang bekerja dan aku berdiam diri di rumah?” tanya Raka.
“Boleh, tidak masalah,” jawab Melinda yang sangat santai.
Raka melotot tajam menatap istrinya. “Tidak. Aku tidak akan membiarkan istriku bekerja di perusahaan lagi, bagaimana kalau ada yang menyukai istriku dan merebut istriku dari diriku?” tanya Raka.
Melinda menggelengkan kepalanya dan tertawa geli mendengar apa yang suaminya katakan.
“Sayang, kenapa berpikiran yang tidak-tidak? Aku mencintaimu untuk selamanya dan aku bersumpah, tidak ada pria lain yang bisa menyentuh hatiku kecuali suamiku sendiri, yaitu Mas Raka Arafat,” tegas Melinda.
“Tenang sayang, aku percaya. Ayo, sudah waktunya untuk kita tidur. Besok kita akan sholat subuh bersama,” tutur Raka.
Raka turun dari tempat tidur begitu juga dengan Melinda. Mereka berdua bersama-sama masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum mereka tidur bersama.
__ADS_1
Melinda memperhatikan bagaimana suaminya berjalan, sungguh suaminya benar-benar terlihat gagah dan membuat Melinda semakin jatuh cinta dengan sosok suaminya itu.