
Akhirnya hari yang dinantikan oleh Melinda tiba juga. Melinda mendapat kabar dari salah satu pelayan wanita di rumah itu bahwa suami, Kakek serta asisten pribadi suaminya akan tiba beberapa jam lagi. Mendapat kabar gembira tersebut, membuat Melinda bersemangat dan turun tangan untuk memasak makanan di dapur.
Para pelayan tidak bisa mencegah Melinda yang sangat semangat dalam memasak makanan untuk mereka bertiga, terlebih lagi untuk suami tercinta.
“Nona Muda kelihatannya sangat bahagia,” ucap salah satu pelayan yang sedang mencuci sayuran hijau.
“Benarkah?” tanya Melinda malu-malu. “Mungkin, karena Mas Raka, Kakek dan Mas Reza akan pulang,” imbuh Melinda yang sedang mengiris bawang putih.
Melinda melakukan pekerjaannya dengan penuh cinta. Melinda berharap suaminya kembali dalam keadaan baik-baik saja serta sehat.
Para pelayan memuji sosok Melinda yang turun tangan dalam memasak makanan. Mungkin, hanya Melinda lah yang turun tangan langsung seperti itu.
“Mbak, kenapa melihat saya dengan tatapan serius begitu?” tanya Melinda terheran-heran.
“Kami kagum dengan sosok Nona Muda. Selama kami bekerja disini, kami tidak pernah melihat Nona Indri atau yang lain memasak di dapur seperti ini,” jawab pelayan tersebut.
Melinda mengernyitkan keningnya ketika mendengar kata lainnya.
“Lainnya? Maksud Mbak apa ya?” tanya Melinda penasaran dengan apa yang pelayan itu katakan.
Pelayan itu menepuk-nepuk mulutnya sendiri yang keceplosan.
“Mbak, tolong jawab pertanyaan saya. Lainnya itu maksudnya apa?” tanya Melinda semakin penasaran.
“Maafkan saya, Nona Muda. Seharusnya saya tidak mengatakannya,” jawabnya yang tentu saja itu bukan jawaban yang ingin didengar oleh Melinda.
“Mbak, tolong jawab pertanyaan dari saya. Jangan membuat saya semakin penasaran,” pinta Melinda dengan sangat serius. “Apakah Mas Raka pernah mengajak seorang wanita, maksud saya apakah Mas Raka pernah mengajak mantan kekasihnya ke rumah ini?” tanya Melinda penasaran.
Para pelayan dengan kompak saling tukar pandang satu sama lain.
“Ternyata benar,” ucap Melinda agak kecewa.
Aku telah jatuh cinta dengan Mas Raka. Tentu saja aku cemburu karena Mas Raka pernah mengajak wanita itu. Sebaiknya, aku berhenti bertanya dan tidak ingin tahu siapa wanita itu. (Batin Melinda)
Melinda melanjutkan pekerjaannya mengiris bawang putih tanpa mengatakan sepatah katapun.
Beberapa jam kemudian.
Melinda mendapat kabar bahwa sebentar lagi Raka, Almer dan Reza akan tiba di rumah. Tanpa pikir panjang, Melinda berlari menuju teras depan rumah untuk menanti kedatangan mereka, khususnya kedatangan Raka Arafat.
“Nona Muda, sudah waktunya Nona Muda minum obat,” ucap salah satu pelayan mengingatkan Melinda untuk segera minum obat.
“Sebentar lagi, Mbak. Saya akan berdiam diri disini menunggu kedatangan Kakek dan Mas Raka,” jawab Melinda.
__ADS_1
“Nona Muda tidak boleh telat minum obat,” pungkasnya.
Melinda pun menurut dan bergegas mencari obat miliknya untuk segera diminum.
Minum obat selesai dan Melinda bergegas keluar dari kamarnya menuju teras depan.
Disaat yang bersamaan, akhirnya mereka bertiga sampai di rumah dengan selamat.
Para pelayan dan juga para bodyguard dengan kompak menyambut serta menyapa majikan mereka yang baru tiba setelah seminggu berada di Malaysia.
Melinda tersenyum lebar dan berlari kecil ketika melihat suaminya yang baru saja turun dari mobil dibantu oleh asisten pribadi dari Raka Arafat.
Melinda mencium punggung tangan Almer dan juga Raka secara bergantian. Melinda bahkan menanyakan kabar Kakek mertuanya dan juga Sang suami.
Melihat sekilas saja, Raka tahu bahwa Melinda sedang sakit. Dikarenakan wajah Melinda yang agak pucat dan tubuh yang terlihat agak kurus.
Apa wanita ini sedang menjalani diet? Yang benar saja, bisa-bisanya dia melakukan hal itu. (Batin Raka)
“Kakek senang akhirnya bisa kembali ke rumah dan melihat Cucu menantu,” ucap Almer yang tak menyadari bahwa cucu menantunya sedang sakit.
Merekapun masuk ke dalam untuk segera beristirahat sejenak. Kemudian, mereka akan makan siang bersama di ruang makan.
Raka telah masuk ke dalam kamar bersama dengan Melinda. Sementara Reza, sedang beristirahat di salah satu kamar tamu untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang cukup kelelahan.
“Apa yang kamu lakukan selama aku berada di Malaysia?” tanya Raka dingin.
“Apakah kamu tidak makan? Apakah kamu sedang menjalani diet? Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu itu sudah seperti sedotan plastik?” Raka semakin kesal ketika wajah Melinda terlihat sangat pucat.
“Mas Raka, saya sama sekali tidak menjalani program diet. Sebenarnya saya sedang sakit dan Mas Raka tidak perlu khawatir, saya sudah makan teratur dan juga minum obat,” ungkap Melinda.
“Apa kamu sungguh tidak bisa menjaga kesehatan tubuh mu? Astaga, bagaimana bisa ada wanita seperti kamu ini. Aku cukup bersabar selama ini dan jangan membuat aku semakin benci kepadamu,” tegas Raka.
“Saya sakit, apakah Mas Raka tidak ada sedikitpun rasa khawatir dengan kondisi saya?” Melinda bertanya dengan cukup lantang dan membuat Raka tertegun.
“Apa kamu menyukaiku?” tanya Raka penasaran ketika tahu bahwa Melinda ingin diperhatikan.
Melinda tak bisa mengiyakan apalagi memungkiri pertanyaan suaminya. Satu-satunya cara terbaik adalah diam seribu bahasa.
“Ah, mana mungkin juga kamu menyukaiku. Lagipula, kita dua pribadi yang saling bertentangan satu sama lain,” tutur Raka tertawa mengejek.
Melinda tidak berani menyatakan perasaan sukanya kepada Sang suami.
“Tuan Muda, Tuan Besar menunggu di ruang kerja Tuan Muda,” ucap bodyguard di depan pintu kamar.
__ADS_1
Saat itu juga, Raka meminta Melinda untuk membawanya ke ruang kerja.
Setibanya di ruang kerja, rupanya Almer sedang duduk dan tengah serius dengan laptop dihadapannya.
“Istriku, kamu boleh pergi,” tutur Raka selembut mungkin didepan Sang Kakek.
Melinda pun pamit meninggalkan Suami dan Sang Kakek di ruang kerja tersebut.
“Kakek memanggil Raka ada urusan apa?” tanya Raka penasaran.
“Lihatlah ini, saham kita melonjak naik,” tutur Almer memperlihatkan saham mereka yang melonjak naik dan sangat memuaskan.
Melinda tak terlalu memikirkan perkataan suaminya itu. Melinda cukup senang karena Sang suami kembali setelah seminggu mereka berpisah.
Saat Melinda ingin masuk ke dalam lift, seorang pelayan tiba-tiba berlari ke arahnya dan mengatakan bahwa Ibu tirinya datang kembali.
Melinda terkejut mendengar bahwa Ibu tirinya datang kembali dan yang pasti akan membuat masalah lagi dan lagi.
Melinda berlari kecil menuju luar rumah untuk menghampiri Ibu tirinya itu.
“Ibu, kenapa Ibu datang kemari? Pulanglah, Ibu. Tolong jangan menambah masalah yang ada.” Melinda memohon dengan sangat kepada Ibu tirinya agar segera pulang.
“Kamu ya benar-benar kurang aja. Aku datang kesini bukannya disambut malah di usir,” ucap Dina dengan sangat lantang.
Plak! Dina tak bisa menahan kekesalannya, ia menampar wajah Melinda cukup keras sehingga bekas tamparannya tercetak jelas di pipi Melinda.
Almer dan juga Raka ternyata menyaksikan bagaimana Melinda ditampar oleh Dina.
Saat itu juga, Almer berteriak dan meminta para bodyguard untuk mengirimnya ke penjara atas tuduhan kekerasan, pemerasan dan merusak nama baik keluarga Arafat.
Melinda memohon agar Kakek dari suaminya memaafkan apa yang Dina lakukan padanya dan memberikan kesempatan terakhir untuk ibu tirinya itu. Akan tetapi, Almer tidak bisa mengabulkan permintaan dari cucu menantu kesayangannya itu, karena apa yang sudah dilakukan oleh Dina sudah kelewat batas.
“Kakek, Melinda mohon tolong maafkan Ibu Dina dan beri Ibu Dina kesempatan terakhir. Melinda mohon, Kakek.”
“Melinda, apakah kamu pikir wanita itu akan langsung bertaubat dengan apa yang telah dia lakukan kepadamu? Aku setuju dengan Kakek dan bila perlu, penjarakan dia seumur hidup,” pungkas Raka yang sangat murka dengan apa yang telah Dina lakukan kepada istrinya.
Dina memohon untuk dilepaskan dengan terus menangis histeris. Ia tidak menyangka bahwa apa yang ia lakukan akan menggiringnya masuk ke dalam jeruji besi.
Melinda berlari menghampiri Almer yang sangat marah. Melinda memohon dan memohon kepada Kakek dari suaminya agar melepaskan Ibu tirinya.
“Kakek, Melinda mohon agar Kakek memberikan kesempatan terakhir untuk Ibu Dina. Melinda tidak ingin, Ibu Dina, Ayah dan juga Katty semakin membenci Melinda,” ucap Melinda meminta belas kasih dari sosok cucu menantunya.
“Lihatlah cucu menantuku ini. Hatinya begitu baik hingga rela berkorban memohon belas kasih dariku. Kalian keluarga yang tak tahu diri. Ini peringatan keras dariku untuk mu dan juga keluargamu, jangan pernah kalian menginjakkan kaki di rumah ini selangkah pun,” tegas Almer berkata dengan sangat lantang kepada Dina. “Kalau sampai aku melihat batang hidung kalian, akan aku pastikan kalian semua mendekam di balik jeruji besi untuk selamanya,” imbuh Almer dan masuk ke dalam dengan merangkul lengan cucu menantunya.
__ADS_1
Melinda menangis bersyukur, ia bersyukur karena Kakek dari suaminya mau melepaskan Ibu tirinya yang telah menampar wajahnya.
“Kalian, obati wajah cucu menantuku. Dan pastikan, bahwa wanita tak tahu diri itu pergi dari area rumah ini selamanya!” perintah Almer.