Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 150


__ADS_3

Malam hari.


Melinda tersipu malu manakala melihat suaminya yang selalu saja memandanginya. Semakin hari perlakuan Raka terhadap Melinda, membuat Melinda menjadi semakin jatuh cinta dengan sikap Raka yang begitu romantis.


Termasuk dengan malam itu, Raka baru saja memasak makanan kesukaan Melinda. Melinda sendiri bahkan menyaksikan sendiri bagaimana Sang suami masak makanan kesukaannya seorang diri tanpa dibantu oleh para pelayan.


“Ayo sayang, makanlah makanan ini. Ini semua khusus untuk istriku yang teramat sangat aku cintai dan sangat penting dalam hidupku,” ucap Raka dan mencium pipi istrinya.


“Terima kasih, sayang,” balas Melinda yang nampak malu-malu dengan sikap suaminya.


Raka menggigit bibirnya sendiri ketika melihat wajah menggemaskan istrinya. Ingin rasanya, Raka membawa Sang istri masuk ke dalam kamar saat itu juga.


“Ya Allah, istriku ini menggemaskan sekali,” puji Raka dengan mencubit kedua pipi chubby istrinya.


Melinda sama sekali tidak risih dengan apa yang suaminya lakukan. Justru, Melinda sangat senang mendengar pujian dari suami tercinta.


Para pelayan yang tak sengaja melihat keromantisan sepasang suami istri itu nampak begitu iri sekaligus senang melihat kemesraan keduanya yang semakin hari semakin lengket bak perangko.


“Sayang, sudah apa belum?” tanya Melinda karena suaminya masih asik memainkan pipi chubby miliknya.


“Belum, sayangku. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam kamar?” tanya Raka mengajak Melinda untuk masuk ke dalam kamar sebelum menikmati hidangan tersebut.


Melinda menggelengkan kepalanya dengan begitu manja.


“Kita makan dulu ya sayang, kasihan si kembar yang di dalam perut,” tutur Melinda dan lagi-lagi memasang wajah menggemaskan.


Raka semakin gemas dengan wajah istrinya yang begitu menggemaskan. Akan tetapi, Raka mencoba bersabar sedikit lagi demi calon bayi kembar mereka.


“Mau aku suap sayang?” tanya Raka dengan terus memandangi wajah istrinya yang terlihat semakin cantik.


Melinda menggelengkan kepalanya dengan memasang senyum manisnya.


“Tidak usah, sayang. Biar aku saja,” balas Melinda dan meminta suaminya untuk duduk tepat disampingnya.


Raka dengan penuh semangat mengiyakan dan segera menarik kursi miliknya agar berdekatan dengan Sang istri tercinta.


Kakek Almer perlahan datang menghampiri sepasang suami istri yang sedang bermesraan di ruang makan tersebut.


“Kalian sedang apa?” tanya Kakek Almer dengan suara cukup lantang.


Raka dan Melinda sama-sama terkejut sekaligus menoleh ke arah Sang Kakek.


“Kakek!” Raka dan Melinda kompak menyebut Kakek tua itu dengan ekspresi terkejut.


Kakek Almer dengan santainya tertawa lepas melihat ekspresi keduanya yang terkejut karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


“Kakek tak menyangka, diusia Kakek yang tak lain Muda, Kakek masih bisa membuat kalian berdua terkejut,” tutur Kakek Almer.


“Kakek mau ikut makan juga bersama kami?” tanya Melinda sembari menghampiri Kakek Almer dan menuntun Kakek Almer untuk duduk di kursi.


Raka tersenyum kecil ketika melihat betapa perhatiannya Melinda terhadap Kakeknya itu.


“Kakek tidak ingin makan, Kakek hanya ingin menemani kalian berdua disini,” terang Kakek Almer.


Raka dan Melinda saling tukar pandang sembari tersenyum mendengar keterangan dari Kakek Almer.


“Ayo sayang, sini aku suapi,” tutur Raka dan perlahan menyuapi makanan kepada Sang istri.


Melinda membuka mulutnya lebar-lebar dan secara perlahan mengunyah makanan yang sudah berada di mulutnya.


“Masya Allah, istriku semakin cantik,” puji Raka dan menciumi pipi kanan Melinda berulang kali.


Kakek Almer mengangkat kedua alisnya dengan tatapan terkejut. Sepertinya, Kakek tua itu menyesali keputusannya untuk ikut bergabung dengan sepasang suami istri tersebut.


“Kakek mau kemana?” tanya Raka.


“Sepertinya, ada hal yang lebih penting lagi yang ingin Kakek lakukan di kamar,” jawab Kakek Almer dan perlahan melenggang pergi.


Melinda mencubit pinggang suaminya dengan cukup keras.


“Aww, sakit sayangku,” ucap Raka kepada istrinya.


Raka menangapi perkataan istrinya dengan sangat santai. Pria itu tersenyum dan sekali lagi mencium pipi tembam istrinya itu.


“Sayang, jangan disini,” pinta Melinda yang cukup geli dengan perlakuan suaminya.


Raka tertawa lepas manakala melihat ekspresi wajah istrinya yang nampak geli dengan apa yang telah ia lakukan kepada Sang istri.


Beberapa menit kemudian.


Melinda telah berhasil menghabiskan makanannya dan saat itu juga Raka mengangkat tubuh istrinya ala bridal style menuju kamar cinta mereka.


Melinda hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya. Karena hal itu sudah menjadi kebiasaan suaminya yang selalu menggendong dirinya menuju kamar cinta mereka.


“Sayang, lihat ke depan!” Melinda meminta suaminya untuk melihat ke depan karena Sang suami malah fokus memandangi wajah Melinda.


“Bagaimana aku bisa melihat ke depan, sedangkan masa depanku sedang aku pandangi,” ungkap Raka.


Mulut Melinda menganga lebar ketika mendengar ucapan suaminya yang begitu menggelikan.


“Sayang, bisa-bisa aku muntah-muntah,” ucap Melinda sembari menahan tawanya.

__ADS_1


Raka tertawa lepas sembari masuk ke dalam lift.


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya masuk ke dalam kamar. Dengan perlahan, Raka menurunkan istrinya yang tengah mengandung bayi kembar mereka berdua.


“Sayang, mau langsung tidur atau mau....” Raka menghentikan ucapannya dan malah mengedipkan matanya memberi isyarat kepada istrinya.


Melinda menoleh sekilas ke arah jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 9 malam.


“Sayang, kita tidur dulu bagaimana?” tanya Melinda sembari menarik selimut agar segera menutup setengah tubuhnya.


Raka menarik selimut yang menutupi setengah tubuh istrinya dengan penuh semangat.


“Sayang,” ucap Melinda terkejut sembari menyentuh perutnya yang buncit.


Raka tertawa kecil dan mengulurkan tangannya ke arah Sang istri.


“Sayang, tenanglah. Aku mengerti, kok. Ayo, aku antar istriku ke kamar mandi,” ajak Raka.


Melinda tersenyum lebar karena salah mengira. Wanita yang tengah hamil itu perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Sebagai suami, Raka begitu menomorsatukan sosok istrinya.


“Sayang, pelan-pelan,” tutur Raka yang saat itu tengah membantu Sang istri untuk masuk ke dalam kamar mandi.


5 menit kemudian.


Raka dan Melinda kompak keluar dari kamar mandi. Saat itu, mereka berdua tidak langsung tidur.


“Sayang, bagaimana apakah nyaman?” tanya Raka yang baru saja memperbaiki posisi bantal yang akan digunakan oleh istrinya.


Melinda tersenyum sembari mencoba posisi bantal yang baru saja diperbaiki oleh suaminya.


“Sangat nyaman, sayang. Terima kasih banyak,” terang Melinda dan memberikan kecupan mesra di pipi suaminya.


Raka tersenyum lebar dan bergegas merebahkan diri dekat dengan Sang istri tercinta.


“Sayang, besok berangkat kerja?” tanya Melinda penasaran.


“Tidak, sayang. Bagaimana dengan kelas istriku?” tanya Raka balik.


“Besok aku izin ya sayang, boleh ya?” tanya Melinda yang ingin tetap di rumah sehari saja.


“Iya sayang, istriku yang tenang. Aku akan menghubungi pihak kampus agar mengizinkan istriku libur,” pungkas Melinda.


“Serius tidak apa-apa, sayang?” tanya Melinda penasaran.

__ADS_1


“Iya sayang, tenang saja. Yang penting, istriku belajar di rumah,” tandas Raka dan mencium bibir ranum istrinya dengan penuh cinta.


__ADS_2