Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 66


__ADS_3

Sepulang dari pesta pernikahan salah satu teman Raka Arafat, Melinda terlihat lebih banyak diam daripada berbicara dan membuat Raka terheran-heran dengan sikap istrinya yang awalnya ceria, seketika berubah menjadi pendiam.


Karena tak ingin ambil pusing, Raka pun meminta asisten pribadinya untuk membawanya ke kolam renang dan meminta salah satu pelayan untuk membuatkan jus jeruk serta membawakan cemilan kepadanya.


“Tuan Muda, apakah Tuan Muda mulai memiliki perasaan untuk Nona Muda?” tanya Reza yang bersikap lancang.


Raka tertawa mengejek mendengar pertanyaan asisten pribadinya itu.


“Apakah aku membayar mu hanya untuk pertanyaan sampah itu? Tidak bisakah kamu bekerja padaku sesuai dengan tugasmu?” tanya Raka yang sangat muak dengan pernyataan asisten pribadinya itu.


“Maafkan saya, Tuan Muda. Akan tetapi, dalam hubungan rumah tangga perasaan seperti itu yang membuat kehidupan rumah tangga Tuan Muda dan Nona Muda Harmonis,” terang Reza yang berusaha memancing mengenai perasaan Tuan Mudanya itu terhadap Nona Mudanya.


“Sudahlah, kamu tidak mengerti apa-apa dan tak tahu apa-apa. Lebih baik diam dan jangan mengeluarkan sepatah katapun. Atau gaji mu aku potong,” tegas Raka.


Melinda masih penasaran dengan perkataan pria yang diduga adalah teman dari suaminya. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Melinda memutuskan untuk mencari bukti dan berharap ia menemukan bukti bahwa memang suaminya memiliki kekasih sebelum menikah dengannya.


Sebelum itu, Melinda terlebih dulu mengunci pintu untuk berjaga-jaga bila nanti suaminya akan masuk ke dalam kamar dan pintu masih terkunci rapat.


Pertama-tama Melinda membuka laci suaminya dan tak menemukan apapun. Kemudian, Melinda mencari di almari pakaian suaminya dan lagi-lagi tak menemukan apapun.


“Aku sangat penasaran dengan wanita itu. Apakah boleh aku mengorek masa lalu Mas Raka?” tanya Melinda bermonolog.


Melinda merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah suatu hal yang akan merugikan dirinya sendiri. Akhirnya, karena tak menemukan apapun Melinda memutuskan untuk menyerah dan berharap hanya dirinya lah satu-satunya wanita yang akan menemani suaminya sampai akhirnya.


“Lebih baik aku menyerah saja untuk mencari hal yang akan membuatku semakin sedih,” ucap Melinda bermonolog.


Melinda melepaskan dress hijau muda yang ia kenakan dan mengganti pakaian yang lebih santai. Kemudian, Melinda masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari riasan yang menempel di wajahnya itu.


Usai membersihkan wajahnya dari riasan, Melinda memutuskan untuk turun ke dapur.


Melinda merasa sangat haus dan ingin sekali minum-minuman yang segar.


“Mbak, ada es krim tidak di kulkas?” tanya Melinda penasaran yang tiba-tiba ingin sekali menikmati es krim di siang hari.


Pelayan itu tersenyum dan berjalan menuju kulkas. Kemudian, membuka freezer yang isinya adalah es krim.


“Mbak, ini boleh saya minta?” tanya Melinda penasaran.


Pelayan itu tertawa kecil karena pertanyaan Melinda yang membuatnya gemas.


“Tentu saja boleh, Nona Muda. Es krim ini sengaja disediakan untuk para keponakan Tuan Muda,” jawab pelayan.


“Oh, maksud Mbak anak-anak dari sepupu Mas Raka?” tanya Melinda memperjelas.


“Benar sekali!” seru pelayan wanita itu dengan penuh semangat.


Rasa penasaran Melinda tiba-tiba muncul dan Melinda memberanikan diri bertanya mengenai mantan kekasih dari suaminya.


“Mbak, saya boleh bertanya sesuatu?” tanya Melinda dengan tatapan penuh rasa penasaran.


“Boleh, Nona Muda. Silakan!”

__ADS_1


“Mbak tahu mantan kekasih Mas Raka?” tanya Melinda dan berharap bahwa pelayan dihadapannya tahu mengenai mantan kekasih dari suaminya.


Pelayan itu mengangguk dengan ragu-ragu atas pertanyaan dari Melinda.


“Apakah wanita itu sering datang ke rumah?” tanya Melinda lagi dan besar keingintahuannya terhadap mantan kekasih suaminya itu.


“Bisa dikatakan seperti itu, Nona Muda,” jawab pelayan.


Melinda menyentuh dadanya, semakin ia ingin tahu semakin sakit lah dadanya. Sepertinya ada batu yang mengganjal jantungnya dan membuatnya sulit bernapas.


Melinda menggelengkan kepalanya dan menghela napasnya yang terasa sakit. Kemudian, mengambil satu buah es krim untuk segera dinikmatinya.


“Mbak, terima kasih atas kejujuran Mbak. Kalau begitu, saya mau ke depan menikmati es krim ini,” ucap Melinda dengan membawa es krim rasa vanilla menuju teras depan rumah.


Pelayan itu memandang punggung Melinda dengan terheran-heran. Ia berdo'a agar hubungan Nona Mudanya dan juga Tuan Mudanya baik-baik saja.


Melinda duduk di kursi teras depan rumah sembari memandangi luasnya halaman rumah dengan dihiasi tanaman hias yang cukup banyak serta menarik perhatian.


Melinda menikmatinya sembari menenangkan pikirannya yang cemburu dengan mantan kekasih dari suaminya.


“Apakah wanita itu cantik? Seharusnya aku tadi bertanya mengenai wajahnya. Ya ampun, kenapa aku harus bertanya? Jelas-jelas akulah yang jelek dan juga kampungan,” ucap Melinda menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilihat dari sosok dirinya yang kampungan.


Ketika Melinda sedang menikmati es krim rasa vanilla yang ia pilih, tiba-tiba asisten suaminya datang dan hampir membuat es krim di tangannya jatuh ke lantai.


“Mas Reza, kenapa datang secara tiba-tiba? Saya hampir saja menjatuhkannya es krim ini,” tutur Melinda yang sangat terkejut.


“Maafkan saya, Nona Muda. Saya tidak bermaksud membuat Nona Muda terkejut. Saya datang kemari karena Tuan Muda sedang menunggu Nona Muda di kamar, sebaiknya Nona Muda segera menemui Tuan Muda di kamar,” pungkas Reza yang tidak ingin bila Nona Mudanya kembali mendapatkan masalah.


Melinda masuk ke dalam kamar dan ternyata suaminya sedang fokus menonton televisi. Televisi di dalam kamar memang sangat jarang dinyalakan, bahkan Melinda tidak pernah menyalakan televisi itu. Kecuali, suaminya yang menonton.


Melinda melangkah dengan langkah pelan dan duduk di sofa yang menjadi tempat tidurnya.


“Darimana saja kamu?” tanya Raka tanpa menoleh ke arah Melinda.


“Dari teras depan, Mas Raka. Habis menikmati es krim,” jawab Melinda apa adanya.


Raka menoleh sekilas dan tertawa lepas ketika melihat mulut Melinda yang sangat berantakan terkena sisa-sisa es krim.


Reza yang masih berada di teras depan rumah, berusaha menahan tawanya ketika mengingat es krim menempel mulut Nona Mudanya.


“Aku berharap ada adegan romantis, contohnya saja berciuman,” ucap Reza berharap sepasang suami istri itu berciuman dengan rasa es krim di mulut Nona Mudanya.


Melinda menatap suaminya dengan tatapan heran. Entah kenapa, ia merasa bahwa suaminya sedang menertawakan dirinya.


“Mas Raka menertawakan saya?” tanya Melinda terheran-heran sembari menunjuk dirinya sendiri.


“Kemari lah!” perintah Raka agar istrinya segera mendekat padanya.


Melinda dengan patuh mendekat ke arah suaminya.


“Menunduk lah!” perintah Raka lagi.

__ADS_1


Saat itu juga Melinda menunduk mendekat ke wajah suaminya.


“Berapa usiamu? Hanya karena menikmati es krim saja, mulutmu sudah dipenuhi es krim begini. Aku harap, hanya aku saja yang melihat wajah jelek mu,” pungkas Raka sembari menghapus sisa-sisa es krim disekitar mulut serta wajah istrinya dengan tangannya sendiri.


Melinda tersipu malu sekaligus senang karena ia bisa sedekat itu dengan suaminya. Sepertinya, kali ini Melinda bersyukur dengan wajahnya yang berantakan akibat dari es krim yang ia nikmati.


“Sudah, kenapa masih dekat-dekat begini? Cepat cuci wajahmu, bisa-bisa kamu akan mendatangkan semut ke kamarku,” ujar Raka meminta Melinda untuk segera membersihkan wajahnya.


Raka memperhatikan istrinya yang masuk ke dalam kamar dan tak sadar, Raka tersenyum ketika mengingat wajah istrinya yang sangat menggemaskan.


”Wanita itu ternyata cukup menggemaskan,” ucap Raka bermonolog.


Di dalam kamar mandi, Melinda menyentuh bibir dan juga wajahnya yang beberapa menit lalu disentuh langsung oleh suaminya.


“Kenapa aku menginginkannya lagi dan lagi. Apakah Mas Raka belum mencintaiku? Setidaknya, Mas Raka tahu bahwa aku menyukainya. Apakah Mas Raka masih mencintai mantan kekasihnya itu?” Melinda bertanya-tanya mengenai perasaan suaminya untuknya dan juga untuk mantan kekasih suaminya itu.


Melinda menghela napasnya dan buru-buru membersihkan wajahnya yang terasa lengket itu.


“Kenapa lama sekali?” tanya Raka pada Melinda yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Mas Raka menunggu saya?” tanya Melinda.


“Tidak. Untuk apa aku menunggumu?” tanya Raka datar dan menggerakkan kursi rodanya menuju kamar mandi. “Aku ingin buang air kecil,” imbuh Raka dan masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan kursi roda tersebut.


Melinda memanyunkan bibirnya dan berjalan menuju sofa. Kemudian, Melinda mengganti channel TV untuk melihat apakah ada acara yang bagus ataukah tidak.


Sekitar 2 menit, Melinda kembali meletakkan remote control dan dengan acara yang sebelumnya di tonton oleh suaminya.


Raka keluar dari kamar mandi dan saat itu juga, Melinda meminta sesuatu dari suaminya yang belum pernah ia minta.


“Mas Raka, boleh minta sesuatu?” tanya Melinda dan berharap mengabulkan permintaannya itu.


“Apa, katakan saja apa yang kamu inginkan.”


“Saya ingin sekali menonton film di bioskop. Saya ingat, selama ini saya baru sekali pergi menonton film di bioskop bersama dengan Ratna. Itupun ketika saja kelas 2 SMA. Bisakah nanti malam Mas Raka menemani saya pergi ke bioskop?” tanya Melinda yang ingin sekali menonton film romantis bersama dengan suaminya.


“Apakah aku harus ikut menemanimu?” tanya Raka tanpa ekspresi.


“Tentu saja, kalau bukan dengan Mas Raka, lalu dengan siapa lagi?” tanya Melinda dengan ekspresi sedih.


“Baiklah, nanti malam kita akan pergi ke bioskop,” balas Raka yang tak bisa menolak keinginan Melinda ketika wajah Melinda nampak sedih seperti itu.


Senyum Melinda mekar sempurna mendengar bahwa suaminya setuju untuk menemaninya menonton film di bioskop.


Melinda mengucapkan terima kasih kepadanya suaminya dan melompat kegirangan di hadapan suaminya.


Raka pun terkejut melihat respon Melinda yang begitu kegirangan.


“Dasar anak kecil,” celetuk Raka sembari geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil mendapatkan permen lollipop.


Melinda tak menghiraukan apa yang suaminya katakan. Wanita itu terlalu senang karena akhirnya ia akan menonton film bersama dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2