
Raka beserta istri tercintanya sudah siap untuk membagi-bagikan sembako kepada orang yang membutuhkan. Jika orang lain merayakan ulang pernikahan mereka dengan pergi ke tempat wisata atau pergi ke luar negeri, lain halnya dengan Raka dan Melinda. Justru, mereka ingin pernikahan mereka yang terbilang masih sangat baru dihiasi dengan senyum-senyum orang yang benar-benar membutuhkan bantuan.
“Kakek, kami berangkat dulu. Do'akan kami agar sembako yang ingin kami bagikan jatuh ke orang yang tepat!” pinta Raka.
“Insya Allah, do'a Kakek akan selalu merestui kalian berdua. Sekali lagi selamat atas ulang tahun pernikahan kalian yang 1 tahun lebih ini,” balas Almer.
“Kakek, meski lebih beberapa bulan kami juga harus merayakannya,” pungkas Raka.
Melinda tertawa kecil sembari merangkul lengan suaminya.
Melinda menyadari bahwa suaminya benar-benar tinggi, bahkan Melinda terlihat sangat pendek jika bersanding dengan suaminya itu.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apakah aku terlihat aneh?” tanya Raka.
“Mas terlihat sangat tinggi atau aku yang memang pendek?” tanya Melinda dengan memasang wajah sedih.
Raka tertawa lepas mendengar ucapan istrinya dan mengacak rambut Melinda hingga rambut Melinda menjadi berantakan.
“Sayang, jangan seperti ini,” ujar Melinda sembari memperbaiki rambutnya.
“Kalian ini, buat kangen iri saja. Kakek juga ingin merasakan muda lagi kalau melihat kalian bermesraan seperti ini,” pungkas Almer.
Raka dan Melinda saling melempar senyum mendengar Kakek Almer berbicara.
“Tuan Muda, semuanya sudah beres. Tinggal berangkat saja,” tandas Reza kepada Tuan Mudanya.
Raka akhirnya benar-benar masuk ke dalam mobil untuk bergegas pergi membagikan sembako bersama istri serta asisten pribadinya yaitu, Reza.
🌷
Beberapa saat kemudian.
Mereka akhirnya tiba di lokasi yang biasanya banyak dilalui oleh para pengamen, pengemis dan juga pemulung. Lokasi tersebut bisa dikatakan cukup kumuh dan hampir membuat mobil tidak bisa lewat karena banyaknya sampah berhamburan di jalanan, lokasi itu sepertinya sangat jarang dilalui oleh para orang kaya.
“Sayang, bagaimana kalau disini saja?” tanya Raka kepada istrinya.
“Iya sayang, disini saja. Sepertinya tempat ini tepat dibagikan kepada orang-orang disekitar sini,” jawab Melinda dan mengatur napasnya terlebih dahulu agar rileks.
Raka meminta Reza untuk segera menghentikan laju mobilnya dan saat itu juga Reza menepi tepat disamping sebuah gubuk yang terlihat sudah reyot.
Melinda dan suaminya turun dari mobil, mata Melinda berkaca-kaca melihat bagaimana Sang suami turun tanpa bantuan dari asisten pribadi suaminya.
Raka mendekap dan mengelus pipi mulus Melinda.
“Sayang, ada apa? Kenapa mata istriku berkaca-kaca?” tanya Raka dengan suara yang begitu merdu ditelinga Melinda.
Melinda memeluk suaminya dan menangis terharu. Reza yang melihat itu dengan cepat menoleh ke arah lain karena Reza cukup canggung berada diantara sepasang suami istri tersebut.
“Sudah sayang, jangan menangis lagi. Suamimu sudah tidak apa-apa, buktinya saja suamimu ini sudah bisa berjalan normal. Bahkan, sudah bisa berlarian mengejar istriku yang nakal ini,” pungkas Raka yang tak ingin melihat Melinda menangis.
“Maaf ya sayang, jika aku cengeng seperti ini. Rasanya seperti mimpi indah,” balas Melinda sembari melepaskan pelukannya.
Raka mengecup lembut kening Melinda dan membantu Sang istri menghapus air mata tersebut.
Melinda mengatur napasnya dan menghelanya dengan senyum manisnya.
“Ayo sayang, waktunya kita membagikan sembako ini. Kurang dari 2 jam lagi, sudah memasuki waktu Maghrib dan kita harus sudah sampai di rumah,” tutur Raka pada Melinda.
Reza membuka bagasi belakang dan disaat yang bersamaan ada dua orang wanita paruh baya yang sedang melewati jalan tersebut.
Melinda tersenyum dan memberikan sembako tersebut kepada dua wanita yang kebetulan sedang Melintas.
Dua wanita paruh baya itu nampak sangat bahagia dan mengucapkan terima kasih berulang kali kepada Melinda yang telah memberikan mereka sembako yang sangat mereka butuhkan.
“Apakah kami harus difoto?” tanya salah satu dari mereka.
Melinda dengan cepat menggelengkan kepalanya, tidak ada sedikit keinginan untuk memfoto orang yang akan ia bantu. Justru, Melinda berusaha agar tidak diketahui oleh orang yang mengenal dirinya jika nanti ia membagikannya sembako-sembako tersebut.
Raka ikut memberikan sembako kepada setiap yang lewat begitu juga dengan Reza yang juga membantu sepasang suami istri itu.
Tak butuh waktu lama, sembako mereka telah habis dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Senyum puas ketiganya benar-benar penuh kebahagiaan karena telah memberikan sedikit bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
__ADS_1
“Alhamdulillah,” ucap ketiganya dengan serempak.
Raka menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. Raka kemudian, mencium kening istrinya dengan cukup lama. Setelah itu, Raka membisikkan kata-kata yang membuat hati Melinda berbunga- bunga mendengar apa yang suaminya katakan.
“Sayang, terima kasih untuk hari ini. Kamu memberikan aku sebuah kebahagiaan yang tidak bisa aku definisikan dengan sebuah kata-kata. Kamu istriku untuk selamanya.” Begitulah kata-kata yang Raka bisikan di telinga Melinda Anandi.
“Uhuk... Uhuk...” Reza sengaja terbatuk-batuk, karena sudah tidak tahan dengan sepasang suami istri yang terus-menerus menunjukkan kemesraan mereka. Reza bahkan berpikir bahwa dunia ini bukanlah milik bersama, tetapi hanya milik Tuan dan Nona Mudanya.
Raka melirik kesal dan akhirnya mengajak istri tercintanya untuk segera pulang.
Reza tersenyum senang, ia tidak ingin berlama-lama disekitar sepasang suami istri tersebut. Meskipun begitu, Reza bernapas lega karena pada akhirnya Tuan Mudanya itu benar-benar jatuh cinta dengan Nona Mudanya.
Reza tiba-tiba teringat dengan Tuan Mudanya yang dulu, yang pernah mengatakannya bahwa akan menceraikan Nona Mudanya setelah semua harta milik Almer Arafat menjadi milik Tuan Mudanya. Akan tetapi, sebelum itu terjadi Melinda telah berhasil membuat Raka bertekuk lutut.
Sepanjang perjalanan, Raka dan Melinda saling berpegangan tangan dengan erat. Seakan-akan mereka tidak ingin terpisahkan satu sama lain.
“Sayang, boleh mampir?” tanya Melinda dengan ekspresi wajah yang membuat Raka tak ingin berpaling menatap wajah istrinya.
“Boleh, istriku mau mampir kemana?” tanya Raka.
“Mau beli kerang hijau boleh?” tanya Melinda yang tiba-tiba ingin kerang hijau.
“Reza, kamu dengar apa yang istriku katakan? Bawa kami ke penjual kerang hijau yang tentunya sudah matang dan juga higienis,” tegas Raka.
“Baik, Tuan Muda. Kebetulan saya tahu tempat yang menjual kerang hijau yang dimaksud oleh Nona Muda,” balas Reza kepada Tuan Mudanya.
Reza mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, Reza berharap tempat yang menjual kerang hijau belum habis. Karena lokasi yang menjual kerang hijau cukup banyak peminatnya.
Hampir setengah jam lamanya, mereka akhirnya tiba di depan ruko dengan banner yang bertuliskan “Kerang Hijau Pak Wandi”
Raka turun terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Melinda.
Melinda cukup terkejut, melihat banyaknya orang yang mengantri untuk membeli kerang hijau tersebut.
“Mas Reza, apakah kita akan kebagian?” tanya Melinda yang dengan ekspresi wajah agak kecewa.
“Nona Muda tenang saja, biasanya stok disini cukup banyak. Insya Allah Nona Muda akan dapat kerang hijau yang diinginkan,” terang Reza kepada Melinda.
Melinda mengangguk kecil dan merangkul lengan suaminya yang berdiri disampingnya.
Melinda mengiyakan dan ikut berbaris mengantre menunggu gilirannya.
Reza memilih untuk menunggu di dalam mobil saja, sepertinya akan aneh jika ia ikut mengantri.
Sembari menunggu giliran Melinda dan Raka, keduanya berbincang-bincang dan tak jarang mereka tertawa bersama ketika membahas hal-hal yang menurut mereka adalah lucu.
Bahkan, ada beberapa yang ikut tertawa karena mendengar perbincangan konyol sepasang suami istri tersebut.
Siapa yang bakal mengira bahwa Raka dan Melinda adalah sepasang suami istri. Mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berpacaran.
20 menit kemudian.
Melinda tersenyum lebar ketika melihat kerang hijau yang sudah terbungkus rapih. Berulang kali Melinda menghirup aroma dari kerang hijau yang membuat perutnya cepat lapar.
“Sayang, makan kerang hijau secukupnya saja ya. Kerang hijau tidak baik jika dimakan berlebihan,” ujar Raka mengingatkan istrinya agar makan secukupnya saja.
“Mas Raka sayang tidak perlu khawatir, aku tahu kok kalau makan kerang hijau tidak boleh banyak-banyak,” pungkas Melinda.
Merekapun masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah.
Disaat yang bersamaan, Almer sedang duduk di ruang keluarga sembari menatap foto kedua orang tua Rafa dan juga Raka.
“Kalian berdua apakah sudah bahagia di surga? Putra kalian, Raka sekarang sudah bisa berjalan normal. Dulu, Ayah kira bahwa Raka benar-benar lumpuh, ternyata Putra kalian mengalami trauma yang cukup parah. Untungnya saja, menantu kalian yaitu Melinda menjadikan alasan bagi Raka untuk sembuh,” ujar Almer berbicara dengan kedua orang tua Raka yang telah lama meninggal dunia.
Seorang pelayan perlahan datang menghampiri Almer yang tengah menangis.
“Tuan Besar, tolong jangan bersedih lagi,” ucapnya dan memberikan Almer sebuah sapu tangan.
Almer menerima sapu tangan itu dan menghapus air matanya.
“Tolong, jangan beritahu Raka maupun Cucu menantuku masalah ini. Mereka pasti akan sedih,” pinta Almer.
“Tuan Besar tidak perlu khawatir, saya tidak akan memberitahu masalah ini,” jawabnya.
__ADS_1
Almer meletakkan kembali bingkai foto ke tempat semula dan meminta pelayan itu untuk membawanya masuk ke dalam kamar.
Setelah berada di dalam kamar, Almer meminta pelayan itu untuk membacakan teh tawar hangat untuknya.
Sekitar 5 menit, teh tawar hangat permintaan Almer datang juga. Sebenarnya, Almer merasa kurang enak badan. Akan tetapi, ia menyembunyikan kondisi keadaannya karena tidak ingin membuat Cucu kandung serta Cucu menantunya khawatir dengan kondisinya yang menurut Almer semakin melemah dimakan usia.
🌷
Malam hari.
Kondisi Almer tiba-tiba menurun dan hal itu membuat Raka maupun Melinda sangat khawatir. Mau tak mau Sang Kakek harus kembali di rawat di rumah sakit, meskipun Kakek Almer bersikeras untuk tetap berada di rumah.
Raka bahkan menangis memohon agar Kakeknya itu mau menjalani rawat inap di rumah. Tidak hanya itu, Raka pun memberitahu kakeknya bahwa ia dan Melinda akan menemani Kakeknya itu selama berada di rumah sakit.
“Kakek, tolong pahami maksud kami. Kami hanya ingin Kakek sembuh,” ujar Raka memohon agar Almer mau di rawat di rumah sakit.
Pada akhirnya Almer mengiyakan meskipun dengan terpaksa.
Raka dan Melinda bernapas lega, setidaknya Kakek mau pergi ke rumah sakit.
“Tuan Muda, mobil ambulance telah ada di depan,” ucap salah satu pelayan.
Disaat yang bersamaan, petugas rumah sakit datang untuk membawa Kakek Almer ke rumah sakit.
Raka dan Melinda pun ikut masuk ke dalam mobil ambulance. Sementara Reza, mengikuti mobil ambulance dari belakang dengan membawa dua koper yaitu milik Kakek Almer, Raka dan juga Melinda.
Raka terus menggenggam erat tangan keriput Sang Kakek dan berdo'a agar semuanya baik-baik saja. Selama diperjalanan, yang terdengar hanyalah suara do'a yang diucapkan oleh Raka serta Melinda.
Setibanya di rumah sakit, Kakek Almer langsung ditangani oleh dokter ahli jantung.
Terlihat jelas, bahwa Raka nampak sangat frustasi dan meskipun Melinda juga sama takutnya, Melinda berusaha untuk menenangkan suaminya itu.
Entah apa yang terjadi, jika Melinda tidur ada disisinya. Mungkin Raka sudah menjadi gila karena kondisi Sang Kakek yang semakin hari semakin memburuk.
Raka menggigit bibirnya dan tanpa sadar, bibir Raka mengeluarkan darah segar. Melinda cukup panik, akan tetapi sebisa mungkin ia mengendalikan diri dan mengelap darah suaminya dengan tisu.
“Sayang, tenanglah. Kakek akan baik-baik saja,” ujar Melinda dan mendekap erat tubuh suaminya untuk membuat Raka tahu bahwa ada Melinda yang akan tetap berada disampingnya.
Raka mengangguk kecil dan saat itu juga Melinda melepaskan pelukannya. Kemudian, mengajak suaminya untuk duduk sembari menunggu kabar dari dokter yang menangani Kakek Almer.
Reza pun datang dengan membawa dua koper. Reza meletakkan dua koper tersebut tepat disampingnya dan duduk tak jauh dari sepasang suami istri yang sedang sedih.
Reza berharap agar Tuan besarnya bisa segera sembuh.
“Reza, kau pulanglah!” perintah Raka dengan tatapan kosong.
Reza menggelengkan kepalanya, tidak mungkin bagi dirinya pulang ketika Tuan Mudanya sedang dalam kondisi dan keadaan yang cukup menyedihkan.
“Tidak Tuan Muda, biarkan saya disini. Saya ingin tetap berada disini menemani Tuan Muda,” terang Reza yang nampak sangat setia dengan Tuan Mudanya itu.
Raka tak membalas ucapan Reza, pikirannya saat itu benar-benar kacau. Raka sangat takut kehilangan sosok Kakek kesayangannya yang sangat penting dalam hidupnya selama ini.
“Mas Reza, terima kasih. Bolehkah saya minta tolong?” tanya Melinda yang ingin meminta tolong kepada Reza.
“Tentu saja boleh, Nona Muda. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Reza.
“Tolong belikan kami air minum!” pinta Melinda kepada asisten pribadi dari suami tercinta, Raka Arafat.
Tanpa pikir panjang, Reza beranjak dari duduknya. Bahkan, Reza berlari menuju kantin untuk membeli air mineral yang diinginkan oleh Melinda Anandi.
Melinda merasa sedikit tenang, karena ada Reza yang memilih untuk tetap berada di rumah sakit menemani Sang suami tercinta.
“Sayang, apakah Kakek akan baik-baik saja?” tanya Raka yang menatap Melinda dengan tatapan kosong.
“Kakek pernah melewati masa-masa seperti ini sayang, insya Allah Kakek akan baik-baik saja. Allah tahu bahwa kita masih membutuhkan Kakek untuk selalu berada disisi kita,” balas Melinda pada suaminya dan memeluk lengan suaminya dengan cukup erat.
Tak butuh waktu lama, Reza datang dengan membawa dua botol air mineral untuk Tuan Muda serta istri dari Tuan Mudanya, yaitu Melinda Anandi.
“Terima kasih, Mas Reza. Kenapa hanya membeli dua botol saja? lalu, Mas Reza tidak minum? Atau begini saja, ini untuk Mas Reza dan saya serta Mas Raka akan minum di botol yang sama,” tutur Melinda yang masih memikirkan orang lain, padahal saat itu Melinda sedang diuji atas penyakit Sang Kakek tersayang.
“Tidak usah, Nona Muda. Kalau saya haus, saya bisa membelinya. Lagipula, saat ini saya sedang tidak haus,” jawab Reza apa adanya.
Melinda mengangguk dan membuka satu botol air mineral. Kemudian, meminta Sang suami untuk minum air mineral tersebut.
__ADS_1
Raka tak banyak bicara, pria itu meneguk air pemberian istrinya dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas perhatian dari istrinya itu.