Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 88


__ADS_3

Sudah lebih dari 3 hari sejak artikel itu tersebar. Melinda terlihat nampak murung dan tidak bersemangat seperti biasanya. Raka sama sekali tak tahu bahwa Melinda sedang cemburu dan butuh penjelasan. Meskipun begitu, Raka maupun Melinda tetap pada pendirian mereka untuk tidak memberitahukan perasaan mereka masing-masing.


“Melinda, aku pergi bekerja. Kamu diamlah di rumah dan jangan kemana-mana,” ujar Raka pada Melinda.


“Baik, Mas Raka,” balas Melinda dengan tersenyum tipis dan nyaris tak terlihat.


Raka pun menutup pintu mobil dan perlahan mobil pun meninggalkan area rumah.


Rasanya aku ingin sekali meminta penjelasan dari Mas Raka mengenai wanita cantik itu. Akan tetapi, dilihat dari sudut manapun tetaplah aku yang kalah. (Batin Melinda)


Melinda menunduk sedih dan memutuskan untuk bersantai sejenak di taman sembari melihat bunga-bunga yang bermekaran di pagi hari.


“Apa Tuan Muda tetap diam saja?” tanya Reza sembari mengemudikan mobil menuju perusahaan.


“Apa maksudmu? Bisakah kamu bicara langsung saja, tidak perlu menggunakan teka-teki sampah seperti itu?” tanya Raka yang sedikit kesal dengan pertanyaan asisten pribadinya.


“Saya rasa Tuan Muda harus menjelaskan hubungan antara Tuan Muda dan juga Nona Luna kepada Nona Muda,” pungkas Raka karena tidak ingin kedepannya hubungan antara sepasang suami istri itu menjadi rumit karena hadirnya Luna.


“Apakah harus seperti itu? Apa perlu akan menjelaskannya kepada Melinda? Rasanya akan sangat aneh bila aku menjelaskannya kepada Melinda. Lagipula, hubungan kami masih belum jelas,” tutur Raka yang masih maju mundur untuk menyatakan rasa cintanya kepada Melinda Anandi.


“Apa Tuan Muda takut ditolak? Kalau dilihat-lihat Nona Muda sepertinya tertarik dengan Tuan Muda,” pungkas Reza yang terus menatap ke depan.


Raka terkejut sejenak dan terkekeh geli mendengar apa yang asisten pribadinya katakan.


“Kamu jangan membuatku menjadi besar kepala. Melinda belum tentu tertarik padaku dan jatuh cinta padaku,” ucap Raka merendah.


“Tuan Muda belum mengatakannya, bagaimana bisa Tuan Muda menarik kesimpulan seperti itu?”


“Cukup. Tugasmu saat ini hanya mengendarai mobil sampai perusahaan. Soal perasaanku, biarkan saja aku yang memikirkannya,” tegas Raka.


Reza mengangguk patuh mendengar ucapan yang sangat tegas dari Tuan Mudanya.


🌷


Malam hari.


Raka baru saja tiba dan Melinda dengan senyumnya menyambut kedatangan suaminya.


“Mas Raka sudah makan?” tanya Melinda karena dirinya belum makan sengaja menunggu suaminya tiba di rumah.

__ADS_1


“Belum. Aku hanya minum es buah dan belum makan nasi,” jawab Raka yang sengaja tidak makan karena ingin makan bersama dengan istrinya.


“Kebetulan saya juga belum makan, Mas Raka,” tutur Melinda.


“Baiklah, kita makan bersama,” sahut Raka yang sangat senang karena akan makan malam bersama dengan istrinya.


“Mas Raka, apakah di kantor tadi baik-baik saja?” tanya Melinda penasaran.


Alasan mengapa Melinda bertanya seperti itu, karena Melinda penasaran apakah wanita yang bernama Luna datang menemui suaminya, Raka Arafat.


“Tentu saja. Memangnya ada hal yang membuatmu merasa tidak nyaman?” tanya Ra penasaran.


Melinda menggelengkan kepalanya dan membawa suaminya menuju lift untuk segera berganti pakaian. Kemudian, mereka bisa makan bersama di ruang makan dan hanya berdua saja.


Setibanya di kamar, Raka ternyata ingin menyegarkan tubuhnya dan saat itu juga Melinda menyiapkan air untuk suaminya.


Setelah hampir 1 jam di dalam kamar, sepasang suami istri akhirnya keluar untuk segera makan malam bersama.


“Kakek mana?” tanya Raka pada salah satu pelayan yang baru saja dari ruang depan.


“Tuan Besar sedang beristirahat di kamar, Tuan Muda,” jawab pelayan itu tanpa berani menatap mata Tuan Mudanya yang sangat galak.


Melinda kembali membawa suaminya menuju ruang makan dan ternyata hidangan makan malam telah tertata rapi di atas meja makan.


“Kalian pergilah!” perintah Raka karena hanya ingin berdua saja di ruang makan tersebut bersama dengan Sang istri.


Para pelayan wanita dengan kompak mengiyakan dan perlahan meninggalkan ruang makan tersebut.


“Ini bukan masakan kami,” ucap Raka ketika mencicipi ayam bakar.


“Bagaimana Mas Raka bisa tahu kalau ayam bakar ini bukan saya yang memasaknya?” tanya Melinda penasaran.


“Tentu saja aku tahu. Apakah kamu meragukan aku?” tanya Raka.


“Tidak, Mas Raka. Saya sama sekali tidak bermaksud meragukan Mas Raka,” jawab Melinda yang terlihat cukup panik melihat wajah suaminya tak ekspresi.


“Aku sangat menyukaimu masakan yang kamu buat untukku,” ujar Raka yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Mereka berdua melanjutkan makan malam di ruang makan dan tiba-tiba salah satu bodyguard datang menghampiri Raka yang sedang mengunyah makanan.

__ADS_1


Raka melirik tajam ke arah bodyguard yang berdiri tak jauh darinya dan juga Istrinya, Melinda.


“Apa?” tanya Raka singkat.


“Maafkan saya, Tuan Muda. Akan tetapi, saya ingin memberitahukan bahwa ada wanita yang ingin bertemu dengan Tuan Raka sekarang juga,” ungkap bodyguard itu.


Apakah wanita itu adalah Luna? Bisa-bisa dia datang kemari. Semoga saja Kakek tidak tahu masalah ini. (Batin Raka)


Raka kehilangan selera makannya dan membuat Melinda nampak sedih karena suaminya tidak lagi mengunyah makanan yang baru beberapa sendok dimakan oleh suaminya.


“Mas Raka kenapa tidak dihabiskan makanannya?” tanya Melinda.


“Selera makan ku tiba-tiba menghilang,” jawab Raka dan meminta bodyguard itu untuk membawanya ke ruang kerja.


Melinda menghela napasnya, sepertinya Sang suami ingin bertemu dengan wanita yang sebelumnya dibicarakan oleh bodyguard.


“Apakah aku pantas untuk cemburu?” tanya Melinda berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir karena kedatangan Luna yang ingin menemui suaminya.


Luna tersenyum lebar ketika bodyguard yang sebelumnya bicara padanya mempersilakan dirinya untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.


“Dimana Kak Raka?” tanya Luna dengan terus melangkah masuk ke dalam rumah.


Melinda mengintip dari kejauhan dan merasa kalah saing ketika melihat betapa cantiknya wanita bernama Luna.


Ternyata aku tidak ada apa-apanya dengan wanita itu. Dia cantik, putih dan sangat berkelas. Berbeda jauh denganku yang dekil, jelek dan kampungan ini. (Batin Melinda)


Salah satu bodyguard menuntun Luna masuk ke ruang kerja Raka Arafat dan dari kejauhan Melinda terus memperhatikan setiap langkah Luna, bahkan sampai Luna masuk ke ruang kerja Raka.


Melinda dengan langkah gemetar berjalan mendekat untuk melihat apa yang terjadi sekaligus ingin mendengar perbincangan Raka maupun Luna yang berada di ruang kerja tersebut.


Melinda meminta bodyguard yang berdiri di depan pintu untuk segera pergi menjauh dan membiarkan dirinya berada dekat di ruang tersebut. Bodyguard itu dengan patuh menuruti perintah Melinda dan bergegas melenggang pergi.


Melinda menghela napas dan sedikit membuka pintu tersebut untuk mendengarkan setiap percakapan yang sedang dibicarakan oleh keduanya.


“Kak Raka, akhirnya Kak Raka bersedia bertemu denganku,” ucap Luna yang saat itu tengah memeluk erat tubuh Raka yang sedang duduk di kursi roda.


Melinda melihat jelas pemandangan tersebut dan bagaimana suaminya diam saja ketika mendapatkan pelukan dari Luna.


“Kak Raka, kita baikan ya. Aku ingin kita segera menikah seperti yang Kak Raka katakan dulu,” tutur Luna yang sangat bahagia karena bisa memeluk erat tubuh Raka tanpa ada penolakan sedikitpun dari Raka.

__ADS_1


Melinda mencengkram kuat gagang pintu yang sedang dipegangnya. Ia berusaha untuk tetap diam dan ingin mendengarkan apa yang akan suaminya katakan kepada wanita itu.


__ADS_2