
Beberapa Minggu kemudian.
Melinda duduk seorang diri di taman halaman depan rumah. Kesibukannya sebagai seorang istri semakin hari semakin banyak. Belum lagi, jika suaminya memberi perintah yang sangat mendadak dan diharuskan secepat mungkin menyelesaikan apa yang diperintahkan oleh suaminya.
“Nona Muda, Tuan Muda memanggil Anda,” ucap salah satu pelayan menghampiri Melinda yang baru saja selesai menyiram tanaman hias.
“Iya, Mbak. Sebentar lagi saya akan masuk ke dalam,” sahut Melinda sembari menyeka keringatnya yang mengucur dengan cukup deras.
Melinda pun beranjak dari duduknya untuk segera menghampiri suaminya.
“Kamu kemana saja, Melinda? Bukankah aku memintamu menyiapkan kopi untukku?”
“Maafkan saya, Mas Raka. Saya benar-benar lupa, sekarang saya akan ke dapur dan membuatkan kopi untuk Mas Raka,” sahut Melinda dan berlari kecil menuju dapur.
“Wanita itu sungguh menyebalkan, bisa-bisanya ia lupa dengan kewajibannya,” tutur Raka sembari geleng-geleng kepala.
“Tuan Muda, tidak bisakah Anda bersikap baik dengan Nona Muda? Bagaimana jika Tuan Besar kembali dari Singapura dan mengetahui bahwa Tuan Muda lagi-lagi mempersulit Nona Muda?”
“Apakah sikapku begitu sangat keterlaluan terhadapnya? Bukankah aku sedikit ada perubahan, maksudku bukankah aku sudah tidak pernah membentaknya? Apakah perkataan ku tadi menurutmu adalah sikap jahat kepada wanita itu?” tanya Raka dengan menatap tajam asisten pribadinya.
Reza memilih menutup mulutnya rapat-rapat daripada harus berdebat dengan pria angkuh seperti Tuan Mudanya itu.
Tak berselang lama, Melinda datang dengan membawa kopi yang diinginkan oleh suaminya.
“Terima kasih, sekarang kamu mandilah dan bersiap-siap pergi bersamaku. Temanku hari ini ada yang menikah dan tentu saja kamu juga harus ikut bersamaku,” terang Raka.
“Baik, Mas Raka. Saya permisi,” balas Melinda dan melenggang pergi untuk segera membersihkan diri.
Raka perlahan menyesap kopi hitam buatan istrinya. Entah kenapa, hanya kopi buatan Melinda lah yang cocok di mulut seorang Raka Arafat.
Reza membuka pesan di ponsel Tuan Mudanya dan terkejut melihat isi pesan tersebut.
Asisten pribadi Raka itu terlihat tak senang setelah membaca isi pesan masuk tersebut dan memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada Tuan Mudanya mengenai pesan singkat yang masuk itu.
Raka mengernyitkan keningnya melihat reaksi asisten pribadinya ketika melihat ponsel miliknya.
“Kau kenapa? Apakah ada pesan yang masuk? Apakah itu sangat penting dan membuatmu terlihat tak tenang seperti itu?” tanya Raka penasaran.
Dengan berat hati dan sangat terpaksa, Reza pun menunjukkan isi pesan tersebut.
“Saya harap Tuan Muda memutuskan kontak ataupun hal yang berkaitan dengan wanita itu. Ingatlah, Tuan Muda anda sekarang telah menikah dan Tuan Besar pasti murka bila tahu bahwa Tuan Muda dan wanita itu masih berhubungan,” ungkap Reza panjang lebar.
“I MISS YOU, KAK RAKA.” Begitulah isi pesan yang diterima oleh Raka.
Raka tersenyum kecut dan memberikan ponsel tersebut agar dibawa oleh asisten pribadinya.
“Apa kau takut bahwa aku akan menemuinya? Blokir saja nomor telepon wanita itu,” tutur Raka yang terlihat acuh tak acuh setelah membaca isi pesan tersebut.
“Baiklah, saya akan memblokirnya,” sahut Reza dan memblokir nomor telepon tersebut agar tidak bisa menghubungi Tuan Mudanya lagi. Setelah itu, Reza memasukkan ponsel milik Tuan Mudanya ke dalam saku jas kerja.
Melinda telah selesai membersihkan diri dan memilih dress berwarna hijau muda yang terlihat simpel, namun sangat elegan bila dipandang.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Melinda keluar dari lift dengan tampilan yang memukau para pria yang melihat. Raka maupun Reza yang melihat tampilan cantik dari sosok Melinda, berdecak kagum dalam batin mereka masing-masing.
“Tuan Muda, hari ini Nona Muda terlihat sangat cantik. Sepertinya, Nona Muda akan mencuri perhatian di pesta nanti,” ujar Reza memuji kecantikan Melinda secara langsung di depan Tuan Mudanya.
Raka pun terpukau dan cepat-cepat bersikap biasa saja.
“Kau terlalu berlebihan, mana bisa wanita kampungan seperti dia mencuri perhatian di pesta nanti,” sahut Raka.
Melinda tersenyum ke arah suaminya dan berharap suaminya memuji penampilannya.
“Mas Raka, bagaimana penampilan saya hari ini?” tanya Melinda dengan penuh percaya diri.
“Biasa saja,” jawab Raka singkat dengan wajah tanpa ekspresi.
“Benarkah?” tanya Melinda yang tak percaya dengan jawaban suaminya yang mengatakan bahwa penampilannya biasa saja.
“Kalau tidak percaya, tanya saja pada asisten ku!” perintah Raka.
“Mas Reza, tolong jawab dengan jujur. Bagaimana penampilan saya hari ini?” tanya Melinda penasaran.
“Tentu saja, Nona Muda sangat cantik. Tuan Muda mengatakan kalimat tadi karena terlalu gengsi,” balas Reza melirik sekilas ke arah Tuan Mudanya yang ternyata sedang menatapnya dengan penuh amarah.
Melinda tertawa kecil melihat ekspresi wajah suaminya yang menatap dingin ke arah Reza.
“Ayo berangkat!” perintah Raka tanpa ingin menatap istrinya.
Reza mendorong kursi roda Tuan Mudanya menuju halaman depan rumah dan Melinda berjalan beriringan dengan suaminya yang duduk manis di kursi roda.
Melinda, Raka dan juga Reza telah berada di dalam mobil. Saat itu juga, mobil perlahan melaju meninggalkan area rumah.
“Apa kamu harus seperti ini?” tanya Raka penasaran. “Atau mungkin, kamu sering menggenggam tangan pria itu?” tanya Raka lagi.
“Mas Raka bicara apa? Saya tidak pernah melakukan ini sebelumnya, kecuali dengan Mas Raka,” tegas Melinda.
“Benarkah?” tanya Raka yang tak percaya.
Reza yang mendengar percakapan keduanya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Sepertinya Tuan Mudanya itu secara tidak langsung sedang cemburu dengan mantan kekasih Melinda.
Melinda awalnya malu dengan apa yang ia lakukan. Akan tetapi, semakin sering ia melakukannya, perlahan rasa malu itu malah berubah menjadi nyaman dan menjadi kebiasaan Melinda untuk selalu menggenggam erat jemari tangan suaminya.
“Mas Raka, apakah perjalanan kita jauh?” tanya Melinda penasaran.
“Tidak usah banyak bertanya, kamu cukup diam dan kita pasti akan sampai ke tempat tujuan,” balas Raka datar.
Melinda mengangguk dengan penuh semangat sembari tersenyum lebar ke arah suaminya.
“Habis dari pesta pernikahan, apakah kamu ingin mampir ke suatu tempat?” tanya Raka.
“Suatu tempat? Sepertinya tidak ada, Mas. Kita langsung pulang saja ya,” pinta Melinda yang hanya ingin cepat pulang setelah menghadiri pesta pernikahan teman dari suaminya.
“Yakin tidak ingin mampir ke suatu tempat?” tanya Raka memastikan.
“Yakin, Mas Raka. Lagipula, apa yang harus saya cari lagi? Semuanya sudah tersedia di rumah,” jawab Melinda.
__ADS_1
Raka tersenyum dalam hatinya mendengar jawaban Melinda. Perlahan Raka menyadari bahwa Melinda bukankah sosok wanita materialistis seperti yang ia kira sebelumnya.
🌷
Mobil berhenti tepat di area parkir yang cukup luas. Suara musik terdengar cukup kencang ketika Melinda perlahan turun dari mobil. Raka pun turun dibantu oleh asisten pribadinya.
“Mas Raka, di jam seperti ini sepertinya banyak tamu undangan yang datang. Saya tiba-tiba merasa tidak percaya diri, benarkah tampilan saya hari ini biasa-biasa saja?” tanya Melinda memastikan kembali.
“Ya, sangat biasa. Sudahlah, siapa juga yang mau melihat kamu. Ayo kita masuk!”
Reza ikut masuk ke dalam karena tugasnya adalah mendorong kursi roda Tuan Mudanya.
Baru saja melangkah masuk, Melinda telah mencuri perhatian dan membuat Raka terkejut serta tak rela bila istrinya menjadi pusat perhatian.
Raka menggenggam erat jemari tangan istrinya yang berjalan berdampingan tepat disampingnya.
Melinda seketika itu menoleh ke arah suaminya dengan senyum terbaiknya.
Raka menatap dingin istrinya dan berganti menatap satu-persatu orang yang berani memandangi istrinya.
Melihat Raka yang menatap dingin seperti itu, mereka pun dengan cepat mengalihkan pandangan mereka pada Melinda.
“Kita tidak perlu berlama-lama disini,” ucap Raka pada Melinda dan juga asisten pribadinya.
Reza tersenyum lebar mengetahui bahwa Tuan Mudanya cemburu dengan para pria yang menatap kagum kecantikan Nona Mudanya itu.
“Mas Raka, kita baru saja tiba,” balas Melinda pada suaminya yang ingin buru-buru meninggalkan pesta pernikahan tersebut.
“Kenapa? Kamu senang bila mata keranjang mereka memandangi mu terus?” tanya Raka kesal.
“Kenapa Mas Raka tiba-tiba seperti ini? Kalau memang begitu, ya sudah habis dari makan dan mengucapkan selamat kepada mempelai pengantin, kita langsung pulang,” pungkas Melinda.
Seorang pria dengan tubuh tegap. Namun, tidak setampan Raka Arafat berjalan menghampiri pasangan pengantin baru tersebut.
“Raka, kamu apa kabar? Siapa wanita ini? Apakah ini istrimu? Ternyata kamu pandai sekali memilih wanita cantik. Aku kira yang kemarin itu akan menjadi istrimu,” ucap pria bernama Ramon.
“Berhentilah berbicara hal gila kepadaku. Pergilah dari hadapanku sekarang juga!” perintah Raka yang tak senang dengan apa yang Ramon katakan padanya.
“Kamu masih sama seperti yang dulu, sombong dan juga angkuh,” ucap Ramon dengan sangat sinis dan melenggang pergi.
Melinda terlihat sedih ketika mendengar perkataan Ramon tersebut. Itu artinya, Sang suami memiliki kekasih dan mungkin suami serta kekasih dari suaminya itu saling mencintai.
“Melinda, kamu jangan dengarkan apa yang pria gila itu katakan,” ucap Raka yang tidak ingin membuat Melinda salah paham.
Melinda hanya mengangguk kecil dan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.
Reza yang melihat ekspresi wajah Nona Mudanya akhirnya tahu bahwa Nona Mudanya telah menyukai sosok dari Tuan Mudanya. Akan tetapi, Tuan Mudanya masih belum tahu mengenai perasaan Nona Mudanya itu.
Melinda mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Kemudian, duduk di kursi para undangan pernikahan tersebut.
“Kenapa makannya sedikit?” tanya Raka ketika melihat porsi makan Melinda yang tidak sampai 5 sendok.
“Saya tiba-tiba tidak nafsu makan, Mas Raka,” jawab Melinda yang masih kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Ramon, salah satu teman suaminya.
__ADS_1
Apakah Mas Raka tidak bisa melihat dengan jelas bahwa aku sedang cemburu? Baiklah, itu artinya Mas Raka memang tidak pernah tertarik padaku. (Batin Melinda)
Melinda benar-benar kehilangan selera makannya dan terus-menerus mengingat perkataan Ramon yang cukup membuatnya cemburu mengenai hubungan suaminya dengan mantan kekasih suaminya itu.