Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 50


__ADS_3

Malam hari.


Melinda tengah terjaga di malam hari dan bingung harus melakukan apa dikarenakan dirinya belum mengantuk. Padahal, saat itu jam telah menunjukkan pukul 11 malam.


“Ternyata, aku sudah terbiasa dengan kehadiran Mas Raka. Buktinya saja, sampai jam segini aku belum bisa tidur. Kira-kira Mas Raka disana sedang apa ya? Apakah Mas Raka sudah tidur?” tanya Melinda penasaran.


Karena belum bisa tidur, Melinda memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kolam renang.


Saat Melinda baru saja keluar dari kamar, ia terkejut manakala ada seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari luar pintu kamar.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Melinda terkejut.


“Maafkan saya, Nona Muda. Saya tidak bermaksud membuat Nona Muda terkejut,” ucapnya.


“Mbak kenapa disini? Kenapa tidak tidur?” tanya Melinda penasaran.


“Ini memang pekerjaan saya, Nona Muda. Saya akan pergi 1 jam lagi,” jawabnya.


“Ha? Maksudnya Mbak memang berdiri disini? Apakah ini juga termasuk pekerjaan Mbak?”


“Iya, Nona Muda. Dari awal saya bekerja dan sampai sekarang,” jawabnya lagi.


Melinda mengangguk dan memberi semangat kepada pelayan tersebut. Kemudian, ia melanjutkan langkahnya menuju kolam renang.


“Andai saja aku bisa berenang. Sayang sekali, aku tidak bisa berenang dan malah tenggelam,” ucap Melinda dan menertawakan dirinya sendiri.


“Ehem... Cucu menantu kenapa belum tidur?” tanya Almer sembari berjalan menghampiri Melinda.


“Kakek.” Melinda terkejut melihat Almer yang ternyata belum tidur.


“Apakah Cucu menantu merindukan Cucu Kakek?” tanya Almer tersenyum lebar.


Melinda menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan Almer.


“Karena Cucu menantu diam, itu artinya Cucu menantu memang sedang merindukan Cucu Kakek,” pungkas Almer dan mendaratkan bokongnya di kursi santai.


“Kakek jangan bilang siapa-siapa ya,” pinta Melinda agar Almer tutup mulut.


Almer tertawa lepas mendengar permintaan Melinda.


“Tenang saja, Kakek adalah orang yang tepat untuk menyembunyikan rahasia Cucu menantu,” sahut Almer.


“Syukurlah,” balas Melinda bernapas lega.


“Sudah malam, tidak baik kalau tidur larut malam seperti ini. Masuklah! Kakek tidak ingin kamu sakit.”


Melinda sebenarnya masih ingin berada di sekitar kolam renang. Akan tetapi, Melinda tidak berani jika menentang perintah dari Kakek tua itu.


“Baik, Kakek. Melinda permisi.”

__ADS_1


Melinda berjalan masuk ke dalam dan berharap dirinya bisa segera tidur tanpa memikirkan banyak hal.


🌷🌷


Keesokan pagi.


Melinda hanya sarapan berdua saja bersama dengan Almer. Sementara Raka belum juga kembali dari apartemennya.


“Kakek sudah selesai, Kakek pergi dulu. Cucu menantu kalau ada apa-apa tinggal bilang saja ke mereka,” ujar Almer melirik sekilas ke arah para pelayan.


“Baik, Kakek. Kakek hati-hati di jalan,” balas Melinda.


Almer pun bergegas pergi ke perusahaan karena ada hal penting yang harus ia tangani.


Melinda bingung harus melakukan apa di rumah itu. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Raka yang selalu mengganggunya.


Kira-kira kapan Mas Raka pulang? Apakah Mas Raka tidak pulang? (Batin Melinda)


Tiba-tiba terbesit di pikiran Melinda untuk berbelanja sesuatu diluar. Dari awal ia datang dan sampai ia menikah, dirinya tak pernah keluar dari rumah untuk berbelanja.


“Mbak, boleh saya keluar sebentar?” tanya Melinda.


“Nona Muda mau kemana?” tanya salah satu pelayan.


“Mau pergi ke minimarket, ada beberapa barang yang ingin saya beli,” jawab Melinda.


“Terima kasih,” ujar Melinda.


Melinda berlari kecil menuju lift.


Beberapa menit kemudian.


Melinda telah siap untuk berbelanja sesuatu di minimarket. Untungnya, ia masih memiliki uang pemberian Almer beberapa hari yang lalu.


“Silakan, Nona Muda.” Pelayan wanita itu mempersilakan Melinda untuk masuk ke dalam mobil.


Melinda masuk ke dalam mobil dengan penuh semangat.


Pelayan wanita yang duduk disamping Melinda mengagumi sosok istri dari Tuan Mudanya.


“Mbak kenapa melihat saya terus?” tanya Melinda salah tingkah.


“Tuan Muda beruntung memiliki istri seperti Nona Muda,” jawabnya.


Melinda tersipu malu mendengar pelayan wanita yang duduk disampingnya.


“Justru sayalah yang beruntung memiliki suami seperti Mas Raka,” jawab Melinda.


Ciittt! Mobil mengerem mendadak.

__ADS_1


“Ada apa, Pak?” tanya Melinda terkejut.


”Maaf, Nona Muda. Saya sedikit terkejut dengan ucapan Nona Muda barusan. Sekali lagi saya minta maaf,” ucap sopir tersebut dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Tentu saja mereka terkejut dengan ucapan ku, mengingat sikap angkuh Mas Raka. Meskipun begitu, aku mulai menyukainya. (Batin Melinda)


Merekapun tiba di minimarket yang tak jauh dari rumah.


Melinda turun dari mobil bersama dengan pelayan wanita.


“Selamat datang!” sapa pengawai minimarket dengan ramah.


Melinda dengan cepat mengambil tisu, pembalut serta beberapa cemilan. Ia sengaja membelinya karena di rumah tidak ada cemilan untuk dinikmati.


“Mbak mau beli apa? Biar saya yang bayar,” ujar Melinda pada pelayan rumah.


“Saya tidak ingin membeli apapun, Nona Muda. Tugas saya adalah menemani Nona Muda pergi ke minimarket ini.”


Melinda mengangguk kecil dan bergegas menuju kasir.


Tak butuh waktu lama, Melinda dan pelayan pun keluar dari minimarket tersebut.


“Melinda!” Seorang gadis muda berambut pendek berlari ke arah Melinda yang baru saja keluar dari minimarket.


Melinda menoleh dan ternyata gadis muda itu adalah Katty.


“Enak ya kamu, bisa berbelanja ini dan itu tanpa pusing memikirkan uang. Apakah kamu pernah memikirkan kehidupan kami?” tanya Katty berteriak dan membuatnya menjadi pusat perhatian bagi yang mendengar teriakkan Katty kepada Melinda.


“Katty, ayo masuk ke dalam mobil. Kita bicarakan ini baik-baik di dalam mobil, tidak baik dilihat oleh mereka,” ucap Melinda mengajak Katty untuk segera masuk ke dalam mobil.


Katty menepis tangan Melinda dan mendorongnya.


“Mentang-mentang memiliki suami kaya, kamu mengabaikan Aku, Ayah dan juga Mama. Kamu memang saudari dan anak durhaka.” Katty sengaja berteriak agar semua orang tahu bahwa Melinda adalah orang yang lupa diri.


Melihat Melinda yang jatuh, pelayan wanita itu bergegas membantu Melinda berdiri dan membawa masuk Melinda ke dalam mobil.


Sang sopir buru-buru masuk ke dalam mobil dan pergi secepat mungkin.


Katty menangis histeris sembari menjelek-jelekkan Melinda.


Banyak dari mereka yang bersimpati kepada Katty dan beberapa yang lainnya memilih untuk mengabaikan tangisan Katty.


Gara-gara kamu hidupku menjadi susah. Akan aku buat kamu dibenci oleh semua orang. (Batin Katty)


Melinda sangat syok dengan kedatangan Katty yang menjelek-jelekkan dirinya di depan orang banyak. Melinda tak pernah mengira bahwa Katty nekad melakukan hal tersebut untuk membuatnya terlihat jahat.


”Nona Muda kenapa diam saja? Seharusnya Nona Muda memarahinya,” ucap pelayan tersebut.


“Lalu, saya harus apa Mbak? Bagaimanapun, Katty tetaplah adik saya,” jawab Melinda mencoba bersabar menghadapi sikap Katty yang cukup keterlaluan.

__ADS_1


__ADS_2