Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 43


__ADS_3

Seminggu sudah mereka berada di puncak dan seminggu itu juga Melinda tak banyak bicara. Sementara Raka masih sama dengan kepribadiannya yang selalu saja mengatakan serta mencemooh Melinda sesuka hatinya.


“Hei pelayan, buatkan aku kopi yang baru!” perintah Raka.


Melinda mengiyakan dan membuatkan kopi baru untuk suaminya.


“Reza, apakah kamu merasa ada yang aneh dengan pelayan itu?” tanya Raka sembari menunjuk ke arah punggung Melinda yang perlahan menjauh.


“Tanyakan saja kepada diri Anda sendiri, Tuan Muda.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, Reza pergi meninggalkan Raka.


Raka semakin bingung dengan tingkah asisten pribadinya.


“Ada apa dengan Reza? Apakah dia sedang tidak waras?” tanya Raka bermonolog.


Melinda membuatkan kopi untuk suaminya tanpa semangat sedikitpun. Rasanya ia ingin segera menghilang dari dunia dan tak ingin muncul kembali, baik dihadapan keluarganya maupun keluarga Sang suami.


“Akhhh!” Melinda berteriak ketika tak sengaja air panas yang sedang ia tuangkan tumpah dan mengenai tangannya.


Mendengar teriakkan Melinda di dapur, Raka bergegas menggerakkan kursi rodanya untuk melihat apa yang telah terjadi kepada Melinda.


“Kenapa berteriak?” tanya Raka pada Melinda yang baru saja berteriak.


Melinda dengan cepat menyembunyikan tangannya di punggung karena tak ingin bila Raka memarahinya dan mengatakan hal yang nantinya malah akan menyakitkan hati Melinda.


“Maaf membuat Mas Raka harus datang ke dapur. Tadi ada kecoa lewat dan membuat saya berteriak, untungnya kecoa itu telah pergi,” jawab Melinda dan berbalik badan untuk menyelesaikan tugasnya membuat kopi.


Setelah kopi jadi, Melinda berjalan perlahan menuju ruang keluarga dan meninggalkan Raka seorang diri di dapur.


“Hei, pelayan!” Raka menggerakkan kursi rodanya menyusul Melinda yang lebih dulu menuju ruang keluarga.


Setibanya di ruang keluarga, Raka tak melihat keberadaan Melinda yang tiba-tiba menghilang begitu saja.


“Wanita itu sepertinya sengaja menghindari ku. Lain kali, aku harus lebih tegas lagi terhadapnya,” ucap Raka bermonolog.


Melinda berjalan-jalan seorang diri untuk menikmati udara segar dan dingin puncak tersebut.


Saat Melinda tengah berjalan sembari memperhatikan hamparan kebun teh yang terlihat segar, tiba-tiba ada seorang wanita muda menghampirinya.


“Selamat pagi.” Wanita muda yang mengenakan setelan piyama menyapa Melinda dengan ramah.


“Selamat pagi juga,” balas Melinda.


“Kamu yang tinggal di villa itu ya?” tanyanya.


Melinda menatap wanita itu dengan tatapan penuh tanya.


“Ya ampun, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, aku Hani dan aku tinggal di villa itu,” ucap Hani sembari menunjuk villa yang sedang ia tempati.


“Saya Melinda, memang benar saya dan suami saya tinggal di villa itu,” balas Melinda.


Raka dari kejauhan memperhatikan istrinya yang sedang berbicara oleh wanita yang entah datangnya darimana. Saat itu juga, Raka memanggil asisten pribadinya untuk membawa istrinya masuk ke dalam rumah.


“Reza!” panggil Raka lantang.


“Iya, Tuan Muda,” sahut Reza menghampiri Tuan Mudanya.


“Pergi dan susul pelayanku sekarang juga! Aku tidak ingin dia berbicara kepada siapapun,” pungkas Raka.

__ADS_1


Reza mengiyakan perintah dari Tuan Mudanya dan bergegas menyusul Melinda yang tengah berbincang-bincang dengan orang lain.


“Nona Muda, Tuan Muda meminta anda untuk segera pulang,” ucap Reza.


Melinda pun pamit untuk segera pulang karena tak ingin bila suaminya memarahinya habis-habisan kalau dirinya tidak cepat-cepat kembali.


Hani mengiyakan dan memperhatikan bagaimana Melinda diperlakukan bak seorang ratu.


“Nona Muda? Tuan Muda? Sepertinya mereka dari keluarga terpandang,” ucap Hani dan memutuskan untuk berkeliling sekitar kebun teh.


Melinda menghampiri suaminya dan meminta maaf karena keluar tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Raka tak ingin mendengar alasan apapun dari Melinda. Raka pun meminta Melinda untuk segera masuk ke dalam dan tak boleh keluar dari rumah, kecuali atas izin darinya.


Melinda tak bisa berkata-kata, toh sekarang dirinya hanyalah pelayan bagi suaminya sendiri.


Ponsel milik Reza berbunyi dan ternyata yang menghubunginya adalah Kakek dari Tuan Mudanya.


“Ada apa? Kenapa wajahmu langsung tegang begitu?” tanya Raka penasaran.


“Tuan besar,” jawab Reza dan menerima sambungan telepon dari Almer.


Tidak ada 1 menit, sambungan telepon pun selesai.


“Tuan besar kurang dari 5 menit akan tiba,” ungkap Reza.


“Apa!!” Raka panik dan meminta Reza untuk segera memindahkan pakaiannya ke dalam kamar yang ditempati oleh Melinda.


Reza berlari terbirit-birit menuju kamar karena tak ingin masalah semakin rumit ketika nantinya Almer tahu bahwa selama seminggu, Raka maupun Melinda tidak pernah tidur sekamar.


“Nona Muda! Tolong buka pintunya, Tuan Besar sebentar lagi akan tiba,” ucap Reza yang telah membawa pakaian milik Tuan Mudanya.


“Benarkah?” tanya Melinda yang telah membuka pintu.


“Baru saja Tuan besar menghubungi saya,” jawab Reza.


Melinda mengambil pakaian suaminya dan secepat kilat memasukkan pakaian suaminya ke dalam almari.


Raka tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh istrinya dan meminta Reza untuk membantunya berbaring di tempat tidur.


“Kamu, jangan sampai memberitahukan mengenai fakta yang sebenarnya. Sekarang, kita harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri yang tengah berbulan madu, kamu mengerti!”


“Iya, Mas Raka. Saya mengerti dan saya akan berusaha sebaik mungkin agar Kakek tidak marah,” ujar Melinda.


“Sekarang naiklah ke tempat dan berpura-pura lah bahwa kita sedang tertidur!” perintah Raka.


Melinda pun naik ke tempat tidur, sementara Reza menangani hal yang lain.


Disaat yang bersamaan, mobil Almer pun tiba tepat di depan villa yang saat itu tengah ditempati oleh pasangan pengantin baru.


“Tuan Besar.” Reza berlari menghampiri Almer dan menyapanya.


“Bagaimana perkembangan mengenai hubungan cucuku dan cucu menantuku? Apakah ada kemajuan?” tanya Almer penasaran.


“Tuan Muda dan Nona Muda semakin hari semakin romantis, Tuan besar. Bahkan, saat ini mereka tengah berada di dalam kamar,” ucap Reza yang berbohong demi Raka maupun Melinda agar tidak terkena masalah sekaligus tidak ingin membuat Almer kecewa.


Almer tertawa kecil dan mempercayai apa yang dikatakan oleh Reza.

__ADS_1


“Rasanya sangat bahagia karena sebentar lagi mereka akan memberikanku cucu,” tutur Almer.


“Iya..” Reza terkejut ketika mendengar penuturan Almer yang begitu semangat menantikan bayi mungil yang mungkin tidak bisa diberikan oleh pasangan pengantin baru tersebut.


“Kenapa kamu terkejut? Apa aku tidak boleh memiliki cicit?” tanya Almer yang tersinggung dengan reaksi Reza.


Reza seketika itu meminta maaf atas perilakunya yang membuat Kakek tua dihadapannya tersinggung.


Almer tersenyum tipis sembari menepuk-nepuk pundak asisten pribadi Cucunya.


“Kamu ini tidak bisa diajak bercanda. Ayo bawa aku menemui cucu dan juga cucu menantu kesayanganku!” pinta Almer.


Raka sangat risih jika harus tidur satu ranjang bersama dengan wanita, terlebih lagi wanita itu adalah Melinda.


“Kamu ingat baik-baik, kita seperti ini karena Kakek dan bukan atas kemauanku sendiri,” ucap Raka lirih karena takut terdengar oleh Kakeknya.


“Saya paham dan saya mengerti mengenai hubungan kita,” balas Melinda sembari menahan rasa sakit dihatinya.


Reza mengetuk pintu kamar dan memberitahu sepasang pengantin tersebut mengenai Almer yang ingin bertemu.


“Cepat bukakan pintu kamar!” perintah Raka pada Melinda yang tengah berbaring membelakangi dirinya.


Melinda pun turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu.


“Kakek.” Melinda tersenyum lebar dan mencium punggung tangan Kakek dari suaminya.


Almer menyadari bahwa punggung tangan kanan Melinda terlihat sedikit melepuh.


“Kenapa punggung tangan cucu menantu bisa melepuh begini?” tanya Almer sembari menyentuh tangan Melinda.


Melinda cepat-cepat menyembunyikan tangannya dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Raka yang sedang berbaring, mencoba untuk bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.


“Raka, apa yang telah kamu lakukan terhadap cucu menantu Kakek? Kenapa punggung tangan istrimu melepuh?” tanya Almer sembari berjalan masuk ke dalam menghampiri Raka.


“Kakek, tolong jangan salahkan Mas Raka. Saya teledor hingga tangan saya seperti ini, Mas Raka telah banyak membantu saya dan membuat saya bahagia selama kami berbulan madu disini,” terang Melinda yang berbohong karena tak ingin bila Raka mendapatkan omel terus-menerus dari Sang Kakek.


Reza yang mendengar keterangan palsu dari Melinda untuk membela Tuan Mudanya, membuatnya semakin bersalah. Reza berharap Tuan Mudanya mau menarik perkataan yang seharusnya tidak boleh diucapkan.


“Benarkah?” tanya Almer memastikan.


“Kakek tolong jangan marah ya,” tutur Melinda.


Almer tersenyum lebar dan berterima kasih kepada cucunya. Kemudian, meminta cucunya untuk segera mengobati punggung tangan Melinda yang tengah melepuh.


Raka mengiyakan dan bernapas lega karena akhirnya Sang Kakek tak memarahinya.


“Kalian bermesraan lah di kamar, Kakek ingin berkeliling sebentar,” pungkas Almer dan melenggang pergi meninggalkan sepasang pengantin baru tersebut.


Pintar juga akting wanita menjijikkan ini. Sebaiknya aku harus berhati-hati agar tidak mudah dibohongi. (Batin Raka)


“Apa karena luka ini kamu berteriak di dapur?” tanya Raka dingin.


Melinda mengangguk kecil mengiyakan pertanyaan suaminya.


“Lain kali kamu haruslah berhati-hati karena jika tidak, aku yang akan disalahkan oleh kakek. Ngomong-ngomong, akting kamu sangat bagus. Kamu sangat berbakat menjadi bintang sinetron,” ucap Raka yang tentu saja setiap perkataan yang keluar dari mulutnya adalah hinaan untuk Melinda.

__ADS_1


Melinda hanya diam mendengar setiap hinaan yang keluar dari mulut suaminya. Meskipun begitu, Melinda sedikit bernapas lega karena suaminya tidak lagi dimarahi oleh Sang Kakek.


__ADS_2