
Sore hari.
Wajah bahagia Melinda sejak tadi terpencar sangat jelas hingga Almer penasaran apa yang membuat cucu menantunya terlihat bahagia.
“Cucu menantu, Kakek perhatian dari tadi cucu menantu tersenyum bahagia. Boleh Kakek tahu apa yang membuat Cucu menantu terlihat sebahagia ini?” tanya Almer penasaran.
Melinda tersenyum malu-malu ketika Kakek tua itu bertanya mengenai alasan dirinya yang terlihat bahagia.
“Kakek, nanti malam Melinda dan Mas Raka akan pergi menonton film di bioskop. Kakek mau ikut?” tanya Melinda barangkali Kakek dari suaminya ingin ikut menonton film di bioskop.
Almer tertawa lepas mendengar pertanyaan dari cucu menantunya.
“Kakek sudah sangat tua dan sepertinya tidak pantas jika menonton film di bioskop. Lagipula, Kakek tidak ingin mengganggu waktu Cucu menantu dan juga Raka,” terang Almer dan kembali tertawa.
“Kakek bisa saja,” balas Melinda tersipu malu.
Raka datang menghampiri istri dan juga Kakeknya yang tengah menonton televisi berada di ruang keluarga.
“Wah, sepertinya ada yang telah Raka lewatkan,” ujar Raka yang datang bersama dengan salah satu bodyguard untuk mendorong kursi rodanya.
Bodyguard itu pun permisi untuk berjaga-jaga di depan rumah setelah membawa Tuan Mudanya ke ruang keluarga.
“Raka, apakah kamu dan Cucu menantu nanti malam akan pergi menonton film di bioskop?” tanya Almer memastikan kembali, karena tak ingin bila Cucu kandungnya itu membatalkan apa yang sudah dijanjikan kepada cucu menantunya.
“Iya, Kakek. Raka dan Melinda akan pergi ke bioskop. Apakah Kakek ingin ikut bersama kami?” tanya Raka.
“Kamu ini ya, sama seperti istrimu. Tadi, cucu menantu sempat mengajak Kakek untuk ikut. Akan tetapi, Kakek tidak pantas jika menonton film di bioskop. Lebih baik Kakek dirumah saja,” pungkas Almer pada cucunya.
“Kakek mau dibawakan apa?” tanya Raka barangkali Kakeknya itu menginginkan sesuatu untuk dibawa pulang.
“Kakek tidak ingin apa-apa, Kakek hanya ingin sehat dan secepatnya melihat buah hati kalian,” jawab Almer yang lagi-lagi membahas masalah calon buah hati cucu dan juga cucu menantunya yang entah kapan akan lahir.
Raka dan Melinda saling tukar pandang satu sama setelah mendengar apa yang Kakek tua itu katakan.
“Kakek, soal itu kita tidak tahu kapan. Lagipula, kami masih terlalu dini memikirkan buah hati. Kami masih ingin menikmati masa-masa bulan madu kami, benar tidak istriku?” tanya Raka pada Melinda.
“Yang Mas Raka katakan ada benarnya, Kakek. Kami masih ingin menikmati masa-masa pengantin baru kami,” pungkas Melinda.
“Kalau itu pilihan kalian Kakek menghargainya. Kakek berharap Kakek akan selalu sehat sampai cicit Kakek ke dunia ini,” balas Almer sembari beranjak dari duduknya. “Kakek ingin beristirahat sejenak di kamar, kalian berbincang-bincang lah disini,” imbuh Almer dan berjalan meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga.
Melinda melirik sekilas ke arah suaminya yang malah fokus menonton televisi. Terbesit di benak Melinda untuk segera memberikan Kakek tua itu seorang cicit. Akan tetapi, Melinda dan suaminya tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Bahkan, mereka tidak tidur dalam satu selimut apalagi dalam satu tempat tidur.
“Kenapa? Apa kamu sedang memikirkan apa yang Kakek inginkan? Aku berharap kamu sama sekali tidak memikirkan hal itu,” tegas Raka.
“Tidak. Saya sama sekali tidak memikirkan hal itu, mungkin saja Mas Raka yang memikirkannya,” sahut Melinda sembari mengibaskan rambutnya yang panjang ke belakang.
“Apa yang kamu katakan barusan? Kamu pikir aku tertarik dengan hal seperti itu? Lagipula, kamu bukan tipeku,” tegas Raka dan membuat hati Melinda saat itu juga merasa sakit.
Melinda berpikir bahwa tipe wanita idaman suaminya adalah mantan kekasih suaminya. Jika saja tidak ada kejadian itu, mungkin Raka dan Melinda tidak akan pernah menikah.
Melinda cemburu dengan wanita yang ternyata adalah tipe wanita idaman suaminya.
“Maaf, karena saya jelek,” ucap Melinda dengan mata berkaca-kaca dan berlari secepat mungkin menjauh dari suaminya.
Raka sempat melihat mata Melinda berkaca-kaca.
“Sepertinya aku telah membuatnya menangis,” ucap Raka merasa bersalah.
__ADS_1
Raka memanggil bodyguard untuk segera membawanya ke dalam kamar. Raka tidak ingin Melinda menangis dan akan membuatnya diomeli oleh Kakek kandungnya.
Raka masuk ke dalam kamar dan ternyata benar, Melinda tengah menangis di sofa sembari memeluk guling dengan erat.
“Hei, kenapa kamu menangis? Aku tidak bermaksud mengatakan kamu jelek,” ucap Raka dengan sangat lirih dan berharap Melinda segera berhenti menangis.
Melinda mencoba untuk tidak menangis. Akan tetapi, air matanya semakin deras manakala mengingat perkataan suaminya yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah tipe wanita idaman suaminya.
Melinda menyadari bahwa dirinya begitu mencintai sosok Raka Arafat yang jelas-jelas tidak tertarik padanya.
“Maaf, maafkan aku.” Raka berusaha membujuk Melinda agar tidak menangis dengan cara meminta maaf.
Entah kenapa, Raka tidak bisa melihat Melinda menangis. Jika Melinda menangis, Raka ikut merasa sedih dan Raka tidak ingin Melinda menangis karenanya.
“Ayolah, kamu sama sekali tidak jelek. Sekarang, lihatlah aku,” tutur Raka sembari menyentuh kepala Melinda.
Melinda perlahan menghentikan tangisannya dan menjauhkan guling yang sebelumnya menutupi seluruh wajahnya.
“Apakah benar saya tidak jelek?” tanya Melinda memastikan.
“Tentu saja, kamu tidak jelek. Sekarang berhentilah menangis, aku tidak ingin Kakek melihatmu menangis dan memarahinya lagi,” pinta Raka dengan tatapan sayu.
Tatapan yang belum pernah Melinda lihat sebelumnya.
Melihat tatapan yang tak pernah Melinda lihat sebelumnya, Melinda pun percaya bahwa dalam hati suaminya ada perasaan untuknya. Meskipun perasaan itu hanya 1% saja.
Toh, kedepannya tidak menutup kemungkinan bahwa 1% itu akan menjadi 100%.
“Jangan menangis lagi, sekarang kamu bersiap-siap untuk sholat Maghrib. Lihatlah, kurang dari setengah jam waktu Maghrib akan tiba dan aku tidak ingin kamu menangis,” tutur Raka yang tidak ingin Melinda kembali menangis seperti beberapa menit yang lalu.
Melinda mengangguk kecil dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata.
🌷
Waktu bagi Raka dan Melinda untuk menonton film di bioskop akhirnya tiba. Keduanya terlihat sangat romantis ketika mengenakan pakaian couple atas permintaan Almer Arafat.
“Kakek, apakah ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Raka yang geli dengan pakaian yang ia gunakan.
Kaos hitam dengan gambar love ditengah membuat Raka geli memakainya.
“Mas Raka, menurut saya ini sangat cocok untuk kita berdua,” sahut Melinda yang sangat semangat karena akan menonton film bersama dengan suaminya.
“Benar apa yang dikatakan Nona Muda, pakaian ini sangat cocok dikenakan oleh Tuan Muda dan juga Nona Muda,” tutur Reza sembari mengangkat kedua jempol jari tangannya.
“Kamu dengarkan, Raka? Istrimu dan juga asisten mu saja mengatakan hal yang sama seperti yang Kakek katakan,” pungkas Almer tersenyum puas dengan pakaian yang sengaja ia pesankan beberapa jam yang lalu.
Raka tidak pernah berpakaian seperti itu. Menurutnya, pasangan yang berpakaian serba kembar adalah pasangan yang tidak waras. Dan kini, ia sama tidak waras nya dengan pasangan diluar sana.
“Tuan Muda, sudah waktunya kita untuk berangkat,” ujar Reza mengingatkan Tuan Mudanya untuk lekas pergi.
“Baiklah, mari kita pergi sekarang!” perintah Raka.
Melinda mencium punggung tangan Kakek dari suaminya sebelum masuk ke dalam mobil. Sementara Reza tengah sibuk membantu Tuan Mudanya naik ke dalam mobil.
Almer melambaikan tangannya kepada Melinda yang akan pergi.
Melinda tersenyum bahagia ketika mobil perlahan melaju meninggalkan area rumah.
__ADS_1
“Terima kasih, Mas Raka,” tutur Melinda yang telah menggenggam erat jemari tangan suaminya.
“Diamlah, aku sedang tidak ingin bicara,” balas Raka yang sedang tidak ingin berbicara apalagi menanggapi perkataan istrinya.
Karena suasana di dalam mobil menjadi sangat sunyi, Melinda pun memilih untuk tidur.
Melinda terlelap dan tanpa sadar ia bersandar di bahu suaminya dengan tangan yang masih menggenggam erat jemari tangan suaminya.
Raka menoleh ke arah Melinda yang ternyata tengah terlelap. Melihat istrinya yang tertidur, Raka memilih untuk membiarkan Melinda tidur bersandar di bahunya. Sesekali, Raka melindungi kepala istrinya yang hampir bergeser dari bahunya.
Reza melirik sekilas dan bertepuk tangan dengan penuh semangat di dalam benaknya. Reza memuji kesempatan yang Allah berikan untuk keduanya agar semakin mendekat.
🌷
Melinda terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara suaminya yang mengatakan bahwa mereka telah sampai tujuan. Melinda membuka matanya lebar-lebar dan ternyata mereka sudah sampai di area parkir salah satu pusat perbelanjaan yang tentu saja terdapat sebuah bioskop yang akan mereka tonton bersama.
Melinda turun begitu juga dengan suaminya yang dibantu oleh asisten pribadi suaminya, Reza.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba dan Melinda lah yang memilih film mana yang akan mereka tonton.
Melinda dengan semangat memilih film romantis dengan harapan suaminya bisa mengerti mengenai perasaannya itu.
“Kenapa harus memilih film romantis?” tanya Raka yang tak setuju dengan film yang dipilih oleh istrinya.
“Mas Raka, bukankah Mas Raka sudah menyetujui permintaan saya?”
“Baiklah, kali ini aku mengalah,” balas Raka yang tidak ingin berdebat dengan Melinda karena ada banyak pasang mata yang tengah memperhatikannya.
Melinda menoleh ke arah popcorn dan saat itu juga Melinda meminta suaminya untuk membelikannya popcorn. Raka lagi-lagi mengiyakan dan memberi perintah kepada asisten pribadinya untuk segera membeli apapun yang istrinya inginkan.
Mendengar hal itu, Melinda dengan semangat berlari untuk memilih makanan yang akan ia nikmati selama film romantis itu berlangsung.
Raka menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tiba-tiba gatal dengan kelakuan istrinya.
Raka menyadari bahwa Melinda seketika itu menjadi pusat perhatian.
“Wanita itu, dimana tempatnya pasti mengundang perhatian,” ucap Raka geleng-geleng kepala.
Sekitar 10 menit Melinda memilih ini dan itu, merekapun bergegas masuk ke gedung bioskop.
Melinda duduk bersebelahan dengan suaminya dan Reza duduk bersebelahan dengan Tuan Mudanya. Itu artinya, Raka berada di antara istri dan juga asisten pribadinya.
“Apakah kamu kelelahan karena harus memapah tubuhku yang berat ini?” tanya Raka pada asisten pribadinya yang duduk di sisi kanannya.
“Tidak sama sekali, Tuan Muda,” jawab Reza yang sama sekali tidak masalah dengan berat badan Tuan Mudanya itu.
Melinda terlihat sangat antusias dengan layar besar dihadapannya. Sesekali, Melinda menoleh ke arah suaminya yang ternyata fokus dengan layar lebar dihadapan mereka.
“Mas Raka, ayo coba popcorn ini. Rasanya sangat manis dan ada juga yang asin,” tutur Melinda sembari menyodorkan popcorn dengan rasa manis.
Raka menatap kecut Melinda dan mengambil beberapa popcorn tersebut. Kemudian, Raka memasukkannya ke dalam mulut.
“Bagaimana, Mas Raka suka?” tanya Melinda penasaran.
Raka tak langsung menjawab, dikarenakan mulutnya yang masih sibuk mengunyah.
Melinda terus menatap suaminya untuk mengetahui apakah suaminya suka atau tidak.
__ADS_1
“Jangan melihatku seperti itu, popcorn yang kamu pilihkan rasanya enak,” pungkas Raka agar Melinda berhenti menatapnya.