
Indri menangis kesal di dalam kamar karena semalaman ia dikurung dan tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamar.
“Kakek, Raka! Apakah kalian sengaja mengurungku di dalam kamar? Tidak bisakah aku keluar sejenak untuk mengisi perutku yang lapar ini? Aku mohon, keluarkan aku dan biarkan aku makan!” Indri berteriak keras berharap Raka maupun Sang Kakek mau berbalas kasih dan membukakan pintu untuknya.
Melinda yang mendengar teriakan Indri merasa sangat kasihan. Melinda akhirnya mendatangi suami serta Sang Kakek untuk meminta mereka berdua membukakan pintu kamar Indri.
Melinda mengatur napasnya terlebih dahulu dan mengetuk pintu ruang kerja Sang suami.
Tok! Tok! Tok!
“Masuklah, istriku,” ucap Raka yang sangat hafal dengan nada ketukan pintu dari Sang istri.
Kebetulan pintu tersebut sedikit terbuka dan perlahan Melinda masuk ke dalam ruang kerja Sang suami.
“Ada apa, istriku?” tanya Raka yang menatap Melinda dengan tatapan teduh.
“Iya, cucu menantu. Apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Almer pada cucu menantu kesayangannya.
“Begini, sebenarnya Melinda kemari karena ingin meminta belas kasih dari Mas Raka dan juga Kakek. Bolehkah Melinda membuka pintu kamar Mbak Indri?” tanya Melinda dengan terus menundukkan kepalanya dan bersedia kena semprot oleh keduanya.
Raka dan Sang Kakek bertukar pandang setelah mendengar alasan mengapa Indri datang menemui mereka.
“Sayang, apakah kamu harus seperti ini kepada wanita kejam itu? Biarkan saja dia tetap di kamarnya, bila perlu selamanya dia tetap disana,” tegas Raka yang sangat kesal dengan sikap Kakak iparnya itu.
Sang Kakek menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Raka diam.
Melinda terus menundukkan kepalanya dan sangat berharap agar Sang Kakek memberikan perintah kepada para pengawal untuk membiarkan Indri bebas berkeliaran di rumah.
“Kalau itu keinginan Cucu menantu, baiklah Kakek akan menuruti keinginan Cucu menantu. Sekarang Cucu menantu temui para pengawal dan bilang ke mereka kalau Kakek mengizinkan wanita itu untuk keluar dari kamarnya,” terang Almer.
Melinda mengangguk dengan penuh semangat dan izin pamit keluar dari ruangan tersebut.
Indri masih menangis di dalam kamar, sakit di perutnya benar-benar tak tertahankan lagi.
“Mbak Indri,” panggil Melinda sembari memasuki kamar.
Indri yang saat itu tengah menangis dengan posisi tengkurap, seketika itu bangkit dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggil dirinya.
“Kampungan, ngapain kamu masuk ke dalam kamarku?” tanya Indri yang tak suka bila Melinda masuk ke dalam kamarnya.
“Mbak Indri, saya telah membantu Mbak Indri untuk keluar dari kamar ini. Tidak bisakah Mbak Indri berhenti menyebut saya kampungan?” tanya Melinda secara tegas.
Tidak. Aku tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Aku harus berpura-pura baik padanya. (Batin Indri)
“Be-benarkah? Maafkan aku, aku seperti ini karena aku sangat ketakutan terkurung di dalam kamar seorang diri,” balas Indri dan berjalan mendekati Melinda.
Indri menangis sembari memeluk erat tubuh Melinda.
Jijik sekali, aku seperti juga karena terpaksa. (Batin Indri)
“Saya harap Mbak Indri tidak melakukan hal aneh-aneh lagi setelah kejadian ini,” ucap Melinda memperingatkan Indri.
Rahang Indri mengeras menahan diri untuk tidak mencekik leher Melinda yang ucapannya terdengar sangat kurang ajar.
__ADS_1
“Melinda, kita disini adalah cucu menantu. Meskipun suamiku telah tiada, aku juga memiliki hak di rumah ini. Maka dari itu, aku sangat menyesal dan sebenarnya kedatanganku kemari adalah karena ingin memperbaiki hubungan kita. Selama ini aku salah paham padamu. Kamu mau 'kan, memaafkan aku yang khilaf ini?” tanya Indri dengan berderai air mata seakan-akan bahwa dirinya sungguh menyesal atas apa yang telah ia perbuat selama ini kepada Melinda.
Melinda yang baik hati tentu saja memaafkan Indri. Akan tetapi, Melinda tetap harus waspada terhadap iparnya itu.
“Mbak Indri, aku sudah memaafkan Mbak Indri. Sekarang, Mbak Indri pergilah ke ruang makan, saya tahu bahwa Mbak Indri pasti sangat lapar,” ujar Melinda.
Indri melepaskan pelukannya dan melenggang pergi begitu saja untuk segera mengisi perutnya.
Aku tidak boleh lagi lemah dihadapannya. Sepertinya, aku harus pintar-pintar bermain cantik untuk melawannya. (Batin Melinda)
“Kalian, cepat siapkan sarapan untukku!” perintah Indri.
Indri masih berpikir bahwa dirinya adalah Nyonya di rumah itu. Ia lupa bahwa sekarang Nyonya rumah di rumah itu adalah Melinda Anandi.
Almer tiba-tiba datang dengan wajah yang begitu ditakuti.
“Hei kamu, kalau mau makan ambillah sendiri. Pelayan di rumah ini dan juga pengawal di rumah ini hanya mendengar perintah dari 3 orang saja. Yaitu, Aku, Cucu kandungku dan Cucu menantu kesayanganku,” jelas Almer.
Indri melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Kakek, Kakek tidak bisa begitu dong. Aku juga cucu menantu Kakek, meskipun suamiku telah meninggal dunia,” balas Indri yang protes dengan penjelasan dari Sang Kakek.
“Kamu kira kamu siapa? Hanya karena kamu dinikahi oleh Cucu kandungku kamu langsung besar kepala, begitu? Bukankah kamu ingat betul bahwa pernikahan kalian tak mendapat restu dariku?” tanya Almer dengan suara yang begitu menakutkan.
Melinda datang menghampiri keduanya dan meminta Sang Kakek untuk tetap tenang.
“Kakek, tolong kendalikan amarah Kakek. Mari, saya antar Kakek ke kamar,” ujar Melinda dan membawa Sang Kakek pergi meninggalkan ruang makan.
Indri mau tak mau akhirnya mengambil makanan sendiri. Para pelayan saling melempar senyum ketika melihat Indri yang dulunya ada Nyonya di rumah itu, kini telah berubah menjadi wanita yang tak memiliki posisi istimewa di rumah itu sama sekali.
“Kakek yang tenang ya, biar urusan Mbak Indri menjadi urusan Melinda. Kakek percaya'kan, kepada Melinda?” tanya Melinda.
“Tentu saja, tapi Kakek tidak tenang kalau masih ada wanita itu berkeliaran di rumah ini,” balas Almer yang khawatir bila cucu menantu kesayangannya akan di celakai oleh Indri.
“Kakek tenang saja, Melinda tidak akan membiarkan Mbak Indri berbuat semena-mena di rumah ini,” tutur Almer.
“Baiklah, Kakek serahkan wanita itu kepada Cucu menantu. Akan tetapi, bila Cucu menantu tidak bisa mengatasinya jangan sungkan-sungkan bilang kepada Kakek,” ucap Sang Kakek.
“Siap, Kakek. Kalau begitu, Melinda permisi,” balas Melinda dan melenggang pergi keluar dari kamar Sang Kakek.
Indri yang telah selesai menikmati sarapannya, pergi begitu saja tanpa meletakkan alat makan yang ia gunakan ke tempat pencucian piring.
Melinda yang melihat hal itu, segera menghentikan langkah Indri yang ingin pergi meninggalkan ruang makan.
“Mbak Indri!” panggil Melinda.
Indri menggerutu dalam hati dan berbalik badan menghadap ke arah Melinda.
“Iya, Melinda. Kamu memanggilku?” tanya Indri dengan tersenyum palsu.
“Mbak Indri sebaiknya membiasakan diri untuk meletakkan alat makan yang Mbak Indri gunakan ke tempat pencucian piring. Saya memberitahukan hal ini juga demi kebaikan Mbak Indri sendiri,” pungkas Melinda.
“Benarkah seperti itu? Kamu memang adik yang sangat baik. Kalau begitu, aku akan membawanya ke tempat pencucian piring,” balas Indri dan akhirnya membawa bekas alat makannya ke tempat seharusnya.
__ADS_1
Melinda bernapas lega karena Indri sama sekali tak protes dengan ucapan Melinda.
Setelah meletakkan bekas alat makannya, Indri buru-buru meninggalkan dapur dan memutuskan untuk bersantai di area kolam renang.
Melinda pun pergi meninggalkan ruang makan untuk menemui suaminya yang sedang berada di taman halaman depan rumah.
“Sayang,” panggil Melinda berlari kecil menghampiri Sang suami.
Raka menoleh sembari tersenyum lebar melihat Sang istri yang tengah berlari kecil menghampiri dirinya.
“Ada apa? Apakah kamu merindukanku?” tanya Raka dengan penuh percaya diri.
“Tidak. Justru Mas Raka yang merindukan saya,” jawab Melinda.
“Tahu darimana kalau aku merindukanmu?” tanya Raka penasaran.
“Dari senyuman Mas Raka sayang,” jawab Melinda dan tertawa malu-malu.
“Baiklah, kamu memang benar. Sekarang peluklah aku,” pinta Raka.
Melinda menggelengkan kepalanya tanda ia menolak permintaan Sang suami.
“Suami sendiri minta dipeluk kok malah tidak mau?” tanya Raka dan memanyunkan bibirnya layaknya anak kecil yang sedang ngambek.
“Pelukannya di kamar saja ya sayang, kalau disini takutnya yang lain malah melihat kita dan kita malah jadi topik pembicaraan karena bermesraan tidak pada tempatnya,” jelas Melinda.
“Wah wah wah, sejak kapan istriku pandai berbicara seperti ini?” tanya Raka terheran-heran.
“Sejak kapan ya, saya juga tidak tahu,” balas Melinda sembari menahan tawanya.
“Kamu semakin lucu, istriku. Ayo, bantu aku masuk ke dalam. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.”
Melinda pun mendorong kursi roda suaminya untuk masuk ke dalam rumah.
“Raka, bisakah kamu menemaniku bersantai di area kolam renang?” tanya Indri mengajak Raka untuk ikut menemaninya.
Raka sama sekali tak menggubris perkataan maupun ajakan Indri. Raka malah menoleh ke arah Melinda dan mengucapkan kata cinta di hadapan Indri.
Indri sama sekali tak masalah dengan kedekatan keduanya. Toh, ia yakin bahwa suatu hari nanti Raka akan mencintainya dan membuang jauh sosok Melinda Anandi di hidup Raka.
“Baiklah, sepertinya kalian berdua ingin bermesraan. Kalau begitu, biar aku saja yang pergi,” pungkas Indri dan melenggang pergi secepat mungkin karena dadanya mulai sakit melihat keduanya yang semakin dekat.
“Lihatlah wanita itu, kedatangannya hanya benalu saja di rumah ini. Melihat wajahnya saja sudah sangat membuatku jijik,” tutur Raka pada Sang istri.
“Sayang, mumpung masih pagi bagaimana kalau kita minum jus alpukat?” tanya Melinda mengalihkan pembicaraan karena Melinda tidak ingin membuat pikiran suaminya semakin banyak karena kedatangan Indri.
“Boleh, aku ingin kamu yang membuatnya,” jawab Raka.
“Tentu saja, Mas Raka tunggu di ruang keluarga ya!”
“Tidak. Biarkan aku menemani mu dan melihatmu membuat jus alpukat untukku,” sahut Raka.
“Ya sudah, ayo kita ke dapur sekarang juga!” seru Melinda dan mendorong kursi roda suaminya dengan penuh semangat.
__ADS_1
Dari kejauhan tampak Indri yang menatap keduanya dengan penuh iri dan dengki.
Raka, kamu milikku. Matamu telah dibutakan oleh wanita kampungan itu. Aku berjanji, secepat mungkin kamu akan menjadi milikku dan wanita kampungan itu agar segera tersingkirkan dari hidupmu. (Batin Indri)