
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Melinda pagi itu sedang sibuk mempersiapkan dirinya untuk pergi ke universitas tempat dimana ia akan mengenyam pendidikan (kuliah).
Raka sengaja tidak pergi ke perusahaan pagi itu karena ingin mengantarkan istrinya pergi ke kampus.
“Mas Raka tidak apa-apa telat ke perusahaan?” tanya Melinda memastikan.
“Tenang saja, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Sekarang kita harus berangkat karena pagi ini kamu harus tiba di kampus sebelum jam 8,” pungkas Raka.
Melinda mengangguk kecil dan sedikit sedih karena Kakek dari suaminya sedang tidak berada di Indonesia.
“Mas Raka, Kakek kapan pulang ke Indonesia? Apakah pekerjaan di Singapura belum juga selesai?” tanya Raka karena setelah lebaran idul Fitri, Kakek tua itu terbang ke Singapura dan belum juga kembali.
“Kenapa? Kamu sudah kangen dengan Kakek? Lagipula, Kakek di Singapura baru seminggu dan kemungkinan Kakek akan tinggal cukup lama di Singapura,” ungkap Raka pada istrinya.
“Mas Raka, Kakek sudah tidak dan seharusnya Kakek tidak pergi ke Singapura seorang diri. Saya hanya tidak ingin Kakek kelelahan, mengingat kondisi Kakek yang cepat lelah karena faktor usia,” pungkas Melinda pada suaminya.
“Kamu tenang saja, aku sudah mengutus beberapa kepercayaan ku untuk menjaga Kakek selama tinggal di Singapura. Sekarang, masuklah ke dalam mobil,” sahut Raka akan Melinda segera masuk ke dalam mobil.
Melinda mengangguk dan akhirnya masuk ke dalam mobil. Begitu juga Raka yang dibantu oleh asisten pribadinya, Reza.
Melinda menggigit bibirnya sendiri karena tiba-tiba saja ia mengalami kegugupan yang cukup besar.
“Kamu kenapa?” tanya Raka ketika melihat Melinda yang nampak tak nyaman.
“Mas Raka, saya tiba-tiba gugup dan juga grogi,” jawab Melinda yang semakin gugup serta grogi karena untuk pertama kalinya dirinya akan menjadi mahasiswi di salah satu kampus terkenal di ibukota Jakarta.
“Kamu yang tenang, anggap saja kamu sedang berada di tempat yang indah dan tak ada seorang pun yang berada di tempat indah itu, kecuali kamu seorang,” tutur Raka mencoba menghilangkan rasa kegugupan serta grogi dari istrinya itu.
Melinda menarik napasnya dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian, Melinda membayangkan apa yang suaminya katakan. Ia membayangkan sedang berada di ladang bunga yang sangat harum dengan cahaya matahari yang cerah. Namun, tak membuat kulitnya menjadi panas.
Selagi Melinda memejamkan mata, Raka pun mengambil kesempatan untuk memandangi wajah Melinda. Raka tersenyum lebar dan berharap Melinda tidak buru-buru membuka mata agar Raka bisa lebih lama memandangi wajah istrinya itu.
__ADS_1
Reza tersenyum sekaligus menjadi salah tingkah dengan sikap Raka kepada Melinda. Seharusnya Melinda lah yang salah tingkah. Tetapi, Reza lah yang salah tingkah dengan sikap Tuan Mudanya yang mencari kesempatan dalam kesempitan.
Raka segera memalingkan wajahnya ketika menyadari bahwa Melinda akan membuka mata.
“Mas Raka, terima kasih atas bantuan Mas Raka. Berkat Mas, saya merasa cukup tenang dan juga bisa bernapas lega,” terang Melinda dengan senyum manisnya.
“Syukurlah,” balas Raka singkat.
🌷
Mobil berhenti tepat di area kampus dimana Melinda menempuh pendidikannya. Saat itu, Melinda kembali merasakan yang namanya gugup, grogi sekaligus salah tingkah. Akan tetapi, Raka dengan sigap menggenggam erat tangan istrinya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja selama Melinda yakin.
Melinda sekali lagi mengucapkan terima kasih dan memutuskan untuk turun dari mobil. Kemudian, Raka pun turun dengan dibantu oleh asisten pribadinya.
Mereka bertiga bersama-sama menuju ruang dosen dan tak butuh waktu lama, Melinda akhirnya masuk ke dalam kelas yang sesuai dengan jurusan yang ia ambil.
Mau tak mau akhirnya Raka harus membiarkan istrinya bersosialisasi dengan penghuni kelas tersebut. Raka pun kembali ke rumah untuk persiapan pergi ke perusahaan.
“Hai,” sapa wanita itu yang usianya 5 tahun diatas Melinda.
Melinda tersenyum membalas sapaan dari wanita itu.
“Kamu Melinda ya? Istri dari pria yang duduk di kursi roda tadi?” tanya wanita itu sekedar basa-basi.
Melinda dengan senyum manisnya mengiyakan bahwa pria yang duduk di kursi roda adalah suaminya.
“Oya, perkenalkan aku Wina,” ucap Wina memperkenalkan diri kepada Melinda.
“Saya Melinda, salam kenal Mbak Wina,” balas Melinda yang juga memperkenalkan dirinya.
Disaat yang bersamaan, Raka cukup tak tenang karena membiarkan istrinya seorang diri. Raka ingin sekali menemani istrinya itu. Akan tetapi, Raka juga tidak ingin jika nantinya akan diejek sebagai seorang penguntit oleh yang lain.
__ADS_1
“Tuan Muda sepertinya sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat penting,” tutur Reza yang tak sengaja melihat wajah gelisah Tuan Mudanya dari pantulan kaca.
“Kamu tidak perlu tahu,” ketus Raka pada asisten pribadinya itu.
Reza mengangguk dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan. Meskipun begitu, Reza tidak akan pernah bosan untuk terus-menerus bertanya kepada Tuan Mudanya yang entah apa pertanyaan yang ingin ia ajukan.
“Reza, lebih cepat lagi. Akan harus segera sampai di rumah dan bergegas pergi ke perusahaan. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan ku agar bisa menjemput istriku,” tegas Raka yang tak sabar ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu.
Reza mengiyakan dan seketika itu tancap gas menuju kediaman keluarga Arafat.
Setibanya di rumah, Reza bergegas membawa Tuan Mudanya ke dalam kamar untuk mengganti pakaian.
Setelah itu, Raka dan Reza bergegas untuk turun.
“Tuan Muda, tadi Tuan Besar menelpon dan mengatakan bahwa Minggu depan Tuan Besar akan kembali,” ucap salah satu pelayan kepada Tuan Mudanya yang baru saja keluar dari lift.
Raka mengangguk kecil dan menggerakkan tangannya isyarat agar pelayan wanita itu segera bergeser karena menghalangi jalan.
Pelayan wanita itu mengangguk dan meminta maaf berulang kali kepada Tuan Mudanya berharap bahwa dirinya tidak dipecat begitu saja.
“Cukup. Aku hanya memintamu minggir dari jalanku dan bukan mengusir mu,” tegas Raka dan meminta Reza untuk segera menjawab masuk ke dalam mobil.
Pelayan itu bernapas lega karena dirinya tidak dipecat oleh sosok Raka yang terkenal sangat angkuh.
“Ya Allah, terima kasih,” ucap pelayan wanita itu ketika Raka sudah pergi dengan mobil menuju perusahaan.
Raka memandangi ponselnya dengan teramat serius. Sepertinya ia ingin menghubungi Melinda. Akan tetapi, Raka tidak ingin mengganggu istrinya yang sedang dalam masa orientasi.
“Melinda, kamu benar-benar hebat karena telah berhasil meluluhkan hatiku,” ujar Raka lirih dan untungnya tidak didengar oleh telinga asisten pribadinya itu.
Reza mengernyitkan keningnya ketika melihat Tuan Mudanya yang terus-menerus tak ingin berhenti memikirkan Nona Mudanya.
__ADS_1