Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 47


__ADS_3

Tersisa 3 hari lagi untuk berbulan madu, sepasang pengantin baru itu akan kembali ke rumah dan membuat keduanya tak sabar ingin menyudahi bulan madu yang tidak ada artinya.


Pagi itu, Melinda sedang membuatkan nasi goreng atas permintaan suaminya. Beberapa hari terakhir, Raka terus saja meminta memasak dan memasak.


“Nasi goreng permintaan Mas Raka sudah siap untuk dinikmati. Saya harap Mas Raka menghabiskan nasi goreng ini,” ujar Melinda sembari meletakkan piring berisi nasi goreng tersebut ke meja tepat dihadapan Raka.


“Memasak nasi goreng saja lama sekali,” balas Raka dan perlahan memasukan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


Saat Melinda ingin memberitahukan bahwa nasi goreng itu masih panas, Raka sudah lebih dulu memasukkan butiran-butiran nasi itu ke dalam mulutnya dan hasilnya adalah...


“Panas.. panas..” Raka cepat-cepat meneguk segelas air yang sebelumnya telah disiapkan oleh Melinda.


Melinda tak bisa menahan tawa melihat ekspresi wajah Suaminya yang sangat-sangat aneh.


“Jangan tertawa!” perintah Raka pada Melinda.


Ternyata tidak hanya Melinda saja yang tertawa. Reza pun yang berada tak jauh dari ruang makan juga ikut tertawa karena jarang-jarang ada seorang pria kaya yang kepanasan karena tak sabar ingin menikmati makanannya.


“Kau juga menertawakan ku?” tanya Raka pada asisten pribadinya.


“Maaf, Tuan Muda. Saya terbawa suasana,” jawab Reza dan bergegas pergi untuk melanjutkan tawanya yang belum selesai.


Raka menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan kasar.


“Apa ini bisa dikatakan sebagai balas dendam?” tanya Raka mendongak menatap Melinda.


“Mungkin saja,” jawab Melinda sembari tertawa kecil.


Melihat Melinda yang tertawa seperti itu, membuat Raka tersenyum tipis.


“Apakah Mas barusan tersenyum?” tanya Melinda penasaran.


“Ya. Aku tersenyum karena kamu semakin hari semakin bodoh,” jawab Raka dan kembali melanjutkan makannya yang tertunda.


Melinda menganggap santai apa yang Raka katakan.


“Karena Mas Raka sudah berada disini dan sedang menikmati nasi goreng buatan saya, maka saya harus permisi dulu.”


Melinda melenggang pergi begitu saja tanpa ingin tahu apakah suaminya mengizinkan meninggalkan ruang makan ataukah tidak.


Raka berusaha sabar karena yang ia butuhkan sekarang adalah sarapan nasi goreng.

__ADS_1


Nasi goreng ini lumayan juga. Aku sangat menyukai rasa dari perpaduan bumbu-bumbu dapur yang wanita itu racik. (Batin Raka)


“Pagi!” Beberapa pekerjaan yang memetik pucuk daun teh menyapa Melinda.


Melinda mengangguk sembari membalas sapaan mereka.


“Rasanya sangat damai tinggal disini. Meskipun begitu, aku tentu saja tidak bisa tinggal disini,” ujar Melinda bermonolog.


Dari kejauhan Melinda melihat keluarga kecil yang tengah berlari-lari di hamparan kebun teh. Keharmonisan keluarga kecil itu membuat Melinda merasa iri dan membayangkan bagaimana jika dirinya memiliki suami yang baik dan buah hati yang menggemaskan.


Bolehkah aku menginginkan hal yang bisa mustahil bagiku dan Mas Raka? Sudahlah. Untuk saat ini aku harus terlihat baik-baik saja sekaligus kuat. (Batin Melinda)


Tak terasa hampir 1 jam lamanya Melinda berada di luar villa dan hampir 1 jam itu juga Raka tak mencarinya.


“Melinda! Melinda!” Samar-samar Melinda mendengar suara yang tak asing baginya.


Melinda berusaha mencari suara yang memanggilnya itu dan ternyata itu adalah suara Royan.


Royan berlari kearah Melinda untuk segera menemui Melinda, wanita yang ia cintai.


“Mas Royan, Mas sedang ngapain disini?” tanya Melinda.


“Akhirnya, aku bisa melihatmu,” ucap Royan dengan tatapan penuh cinta.


“Kebetulan keluarga sepupuku sedang liburan disini,” jawab Royan.


Kedekatan Melinda dan Royan ternyata sedang diperhatikan oleh Raka. Raka yang cukup sabar akhirnya meledak juga. Raka berteriak memanggil istrinya agar segera datang padanya.


Melinda maupun Royan sama-sama terkejut mendengar teriakkan Raka.


“Mas Raka!” Melinda secepat mungkin berlari menuju suaminya untuk menjelaskan mengapa Royan bisa datang padanya.


Raka memberi perintah kepada Reza untuk mengusir Royan sejauh mungkin dan memutuskan untuk segera kembali ke rumah saat itu juga.


“Mas Raka, saya bisa jelaskan. Tolong Mas Raka jangan marah seperti ini,” ucap Melinda dengan terus memegang kedua tangan suaminya.


Raka menepis tangan Melinda dan masuk ke dalam villa tanpa mengatakan sepatah katapun.


“Mas Raka, tolong jangan diam seperti ini. Mas Raka boleh menghina, mencemooh saya ataupun memarahi saya. Tapi tolong, jangan diam seperti ini,” ujar Melinda yang telah berlinang air mata.


Raka sangat tidak suka dengan apa yang telah dilihatnya. Raka berpikir bahwa Melinda maupun Royan telah membuat janji sehingga mereka bisa bertemu satu sama lain.

__ADS_1


“Dimana ponselmu?” tanya Raka yang berusaha untuk tetap mengontrol emosi dihatinya agar tidak memperparah keadaan.


Melinda berlari menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya.


Diluar, Royan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Royan tidak ingin Melinda mendapatkan masalah karena ulah dari Royan.


“Tolong izinkan saya bertemu dengan Tuan Raka, saya akan menjelaskan semuanya. Apa yang kalian lihat bukanlah sebenarnya, aku menghampiri Melinda karena ingin menyapanya,” terang Royan pada asisten pribadi Raka.


“Kali ini Nona Muda mendapatkan masalah besar karena kamu,” tegas Reza dan mendorong tubuh Royan sekuat mungkin, hingga Royan terjatuh terjungkal ke tanah.


Raka mengambil telepon genggam milik Melinda dengan merk Nokia C2 yang sangat biasa. Kemudian, mematahkan nomor telepon Melinda dan menghancurkan telepon genggam itu dengan cara dibanting.


Melinda terkejut melihat telepon genggam miliknya telah hancur berkeping-keping. Akan tetapi, Melinda tak bisa melawan ataupun marah terhadap suaminya. Dilihat dari sudut manapun tetap saja dirinyalah yang salah dan bukan suaminya.


“Apakah pria tak tahu malu itu sudah pergi menjauh?” tanya Raka pada Reza.


“Sudah, Tuan Muda,” jawab Reza.


”Sekarang, bereskan semua pakaian atau apapun yang sebelumnya kita bawa untuk dibawa pulang. Pagi ini juga kita harus pergi dari sini,” tegas Raka.


Melinda menangis sembari memunguti pecahan-pecahan telepon genggam miliknya.


Melinda masih ingat betul, mengenai telepon miliknya yang kini sudah rusak. Dulu, sekitar 3 tahun yang lalu dirinya membeli telepon genggam itu di salah satu konter HP. Melinda membeli telepon genggam itu menggunakan uang yang sudah ia tabung sekitar 5 bulan lamanya.


Melinda membelinya dengan uang hasil dari membantu mencuci piring di kantin sekolah.


Butuh perjuangan untuk membelinya dan sekarang telah rusak tak bisa terpakai lagi.


Apakah pria yang wanita itu maksud adalah pria itu? Wanita sialan itu benar-benar ingin berselingkuh dariku. (Batin Raka)


🌷🌷


Semua barang-barang telah dimasukkan ke dalam mobil dan merekapun telah berpamitan dengan pemilik villa.


Reza yang mengemudikan mobil merasa sesak napas karena sepasang suami istri yang duduk di kursi tengah sedang tidak baik-baik saja.


“Kau kenapa? Cepat pergi dari sini sekarang juga!” perintah Raka yang ingin cepat-cepat keluar dari area Puncak.


“Tuan Muda, saya sedang mengendarai mobil dan lihatlah didepan! Didepan sedang mengalami kemacetan yang cukup parah,” terang Reza.


“Sial, gara wanita gila dan pria tak tahu diri, aku harus mengalami hal seperti ini. Kalau tidak hukum, mereka berdua telah aku kubur hidup-hidup,” terang Raka.

__ADS_1


Wajar bila Mas Raka marah. Siapapun pasti akan marah melihat istrinya berdua-duaan dengan mantan kekasih dari istrinya. Akan tetapi, hubungan aku dan Mas Raka hanyalah hubungan dua insan yang tak saling mengenal satu sama lain. (Batin Melinda)


__ADS_2