Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 27


__ADS_3

“Nona Muda kenapa di dapur?” tanya salah satu pelayan ketika melihat Melinda memasuki dapur.


“Saya ingin membuat kopi untuk Mas Raka,” jawab Melinda yang tengah memasukkan bubuk kopi dan juga gula ke dalam cangkir.


“Nona Muda begitu perhatian dengan Tuan Muda,” puji pelayan tersebut.


“Perhatian? Bukankah hal seperti ini wajar?” tanya Melinda terheran-heran.


“Hanya Nona Muda saja yang mau melakukan hal ini dan bagi kami apa yang Nona Muda lakukan begitu luar biasa,” jawab salah satu pelayan dan diiyakan oleh pelayan yang lain.


“Maksud perkataan Mbak, hanya saya yang pergi di dapur? Memangnya Mbak Indri tidak pernah masuk ke dapur?” tanya Melinda penasaran.


Mereka dengan kompak menggelengkan kepala.


Melinda tersenyum kaku dan bergegas menuju kamar karena tak ingin mereka bergosip ria mengenai sosok Indri.


Lebih baik aku cari aman saja. (Batin Melinda)


“Kamu dari mana saja? Membuat kopi saja seperti melakukan perjalanan keluar angkasa,” ujar Raka yang telah menunggu kopi yang dibuatkan oleh Melinda.


“Maaf, Mas Raka,” tutur Melinda yang lebih memilih meminta maaf daripada beradu mulut dengan suaminya.


“Apa tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan selain mengucapkan kata maaf? Cepat kemari dan bantu aku mengganti pakaian!”


Melinda meletakkan secangkir kopi ke atas meja terlebih dahulu. Kemudian, berjalan mendekat ke arah suaminya yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang.


Jantung Melinda berdebar-debar dengan cukup kencang ketika melihat suaminya yang begitu cool.


Akan tetapi, sebisa mungkin Melinda bersikap biasa-biasa saja agar kegugupannya tak terlihat oleh Raka.


“Kenapa gugup begitu? Apakah kamu terpesona dengan ketampanan ku?” tanya Raka sembari membelai lembut wajahnya sendiri.


Melinda menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaannya dari Raka.


Saking gugupnya, Melinda bahkan mengeluarkan keringat dingin dengan tangan gemetar.


Raka yang melihat keringat serta tangan Melinda gemetaran terkejut. Saat itu juga Raka menarik tangan Melinda yang kebetulan dapat dijangkau oleh tangan Raka agar segera jatuh di tempat tidur.

__ADS_1


“Mas Raka!” Melinda berteriak ketakutan karena berpikir bahwa Raka akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.


“Kenapa kamu berteriak? Aku hanya ingin kamu beristirahat, sepertinya kamu belum sepenuhnya sembuh,” terang Raka yang sama sekali tak tertarik dengan Melinda.


Melinda menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya rapat-rapat tak terkecuali bagian kepalanya.


Raka menatap heran Melinda yang menurutnya sangat aneh.


“Apa kamu akan terus seperti itu? Begitu saja terus sampai kamu kehabisan nafas dan mati karena tak ada oksigen,” ujar Raka yang sangat jengkel dengan tingkah Melinda.


Melinda perlahan membuka selimut tersebut dan tersenyum canggung ke arah sang suami yang masih duduk bersandar pada kepala ranjang.


Apa yang sedang dipikirkan oleh wanita menjijikkan ini? Ah menyebalkan sekali, kenapa wanita ini harus tersenyum seperti itu. (Batin Raka)


“Mas Raka, sebaiknya saya beristirahat di sofa saja,” tutur Melinda yang tak nyaman berada di ranjang yang sama dengan Raka.


“Kenapa? Apa tidak bisa kamu mengiyakan apa yang dikatakan oleh ku? Aku ingatkan sekali lagi dan kamu harus mendengarkannya baik-baik! Selamanya aku takkan tertarik padamu apalagi sampai tertarik dengan tubuhmu itu, karena hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Kalau semua harta Kakek sudah jatuh ke tangan ku, kamu akan aku ceraikan,” ungkap Raka dengan tatapan penuh keseriusan.


Mendengar ungkapan isi hati Raka yang seperti itu, membuat Melinda merasa sangat sesak. Perkataan Raka seperti beribu-ribu pedang yang menusuk seluruh tubuhnya secara bersamaan. Tanpa sadar Melinda meneteskan air matanya dan disaksikan langsung oleh Raka yang memang terus memandangi wajah Melinda.


Apa aku salah bicara? Kenapa juga wanita itu menangis seakan-akan dia telah aku sakiti. (Batin Raka)


Raka tersenyum sinis dan tak memikirkan perasaan Melinda sama sekali. Bagi Raka pernikahan mereka adalah kesalahan besar dan harus segera diselesaikan dengan cara bercerai setelah Almer memberikan seluruh harta tersebut kepada Raka Arafat.


Melinda berlari menuju kolam renang dengan menyembunyikan wajahnya agar tak dilihat oleh pelayan maupun bodyguard.


Kenapa sangat sakit Ya Allah? Cerai? Kenapa Mas Raka harus mengatakan hal tersebut, kenapa Ya Allah? (Batin Melinda)


Perkataan Raka benar-benar menyiksa batin Melinda. Meskipun Melinda tak mencintai sosok suaminya, akan tetapi mendengar bahwa suaminya akan menceraikannya membuat hati Melinda sakit yang teramat sangat sakit.


Indri yang tak sengaja melihat Melinda menangis, saat itu memutuskan untuk menghampiri Melinda sekaligus mencari tahu penyebab Melinda menangis.


“Hai, kenapa kamu menangis disini?” tanya Indri sembari menyentuh kedua bahu Melinda dari belakang.


Melinda terkejut dan segera menghapus air matanya.


“Hayo, ada apa? Mau coba cerita ke aku?” tanya Indri semakin penasaran.

__ADS_1


Melinda bukan tipe wanita yang menceritakan penderitaannya kepada orang lain. Terlebih lagi, menceritakan hal tersebut kepada Indri yang jelas-jelas tak menyukai dirinya.


“Saya menangis karena merindukan almarhum Ibu saya, Mbak Indri,” jawab Melinda dan memutuskan untuk kembali ke kamar karena tak ingin jika Indri terus menanyakan hal yang sama sekali tidak ingin ceritakan.


Indri sangat jengkel dengan Melinda yang malah pergi, sementara Indri masih penasaran dengan tangisan Melinda.


“Dasar wanita kampungan, kamu kira aku percaya begitu saja? Apa mungkin dia dan Raka sedang bertengkar?” tanya Indri bermonolog sembari menerka-nerka alasan mengapa Melinda menangis.


Melinda kembali masuk ke dalam dan mencoba untuk terlihat baik-baik saja dihadapan Raka yang kebetulan masih dengan posisi seperti sebelumnya.


“Sudah menangis nya?” tanya Raka sambil memegang rokok ditangannya, kemudian mengisapnya dan muncullah asal rokok yang cukup banyak.


Melinda hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


“Kamu mau ngapain? Cepat kemari dan lepaskan pakaianku!” perintah Raka yang sangat gerah padahal AC tengah menyala.


Wanita muda berusia 20 tahun itu tak langsung menghampiri Raka, justru ia berjalan ke arah almari pakaian dan membuka almari pakaian tersebut.


“Mas Raka mau pakai baju yang mana?” tanya Melinda berusaha sebaik mungkin melayani suaminya. Meskipun, saat itu perasaannya begitu hancur atas apa yang dikatakan oleh Raka beberapa saat yang lalu.


“Terserah,” jawab Raka singkat dan kembali mengisap rokok ditangannya.


Melinda pun mengambil setelan pakaian santai berwarna biru tua untuk segera dikenakan oleh Raka.


Perlahan Melinda mendekat ke arah Raka yang terus menatapnya dengan begitu intens.


“Mas Raka, letakkan dulu rokok itu ke sini,” ucap Melinda yang tangan kirinya memegang asbak rokok.


Raka mengangkat sebelah alisnya dan meletakkan rokok miliknya ke asbak rokok. Kemudian, mengangkat kedua tangannya ketika Melinda ingin melepaskan pakaian yang Raka kenakan.


Perut sixpack milik Raka tercetak dengan sangat jelas dan membuat Melinda salah fokus. Terlebih lagi bagian buah dada Raka yang begitu kencang.


Seumur hidupnya, baru pertama kalinya Melinda melihat bagian tersebut dan tentu saja hanya tubuh Raka yang pertama kali dilihat oleh Melinda.


Meskipun dulu Melinda dan Royan pernah memilih hubungan spesial, tetap saja keduanya tidak pernah sekalipun berjalan-jalan atau menghabiskan waktu berdua seperti pasangan kekasih pada umumnya. Hubungan Melinda maupun Royan bisa dikatakan seperti teman yang memiliki perasaan yang sama, namun tidak sampai berpegangan tangan seperti kekasih pada umumnya.


Dan ketika Royan memeluk Melinda pada saat acara pernikahan, itu adalah pelukan pertama serta terakhir mereka berdua. Karena memang, hubungan Melinda dan Royan tidak seperti hubungan sepasang kekasih pada umumnya.

__ADS_1


__ADS_2