Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 62


__ADS_3

Melinda masuk ke dalam kamar dan membantu suaminya naik ke tempat tidur.


“Mas Raka kalau butuh sesuatu panggil saya saja,” tutur Melinda.


“Tidak, aku tidak butuh apapun. Aku hanya ingin tidur segera mungkin,” balas Raka dengan ekspresi datar.


“Baiklah, saya juga ingin segera tidur,” ucap Melinda dan berjalan menuju sofa tempat biasa ia tidur.


“Hei, apakah kamu sudah minum obat?” tanya Raka tanpa menyebut nama Melinda.


“Sudah, Mas Raka. Setelah makan malam, saya langsung minum obat,” jawab Melinda sembari menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.


Raka tak lagi bertanya, ia memejamkan matanya untuk segera tidur.


Melinda melirik sekilas ke arah suaminya yang telah memejamkan mata. Itu artinya, Sang suami sudah tidur.


Mas Raka sudah tidur dan aku masih belum mengantuk. Ayolah mata, kita harus segera tidur untuk menyambut besok pagi yang cerah. (Batin Melinda)


Melinda perlahan memejamkan matanya dengan tubuh yang ditutupi oleh selimut, kecuali area kepala.


🌷


Keesokan pagi.


Almer mendapat kabar bahwa partner bisnis ingin mengadakan rapat sebelum pukul 8 pagi, saat itu juga Almer memberitahukan hal tersebut kepada Cucu kandungnya yang tengah bersantai di dekat kolam renang.


“Raka, sebentar lagi kita pergi ke perusahaan. Ada rapat mendadak,” terang Almer.


Raka dengan patuh mengiyakan apa yang dikatakan oleh Kakeknya. Saat itu juga, Raka meminta Melinda yang duduk disampingnya untuk segera membawanya ke kamar.


Melinda mendorong kursi roda suaminya dan akhirnya sampai di kamar mereka.


“Cepat bantu aku mengenakan kemeja!” perintah Raka.


Melinda membuka almari pakaian suaminya dan mengambil kemeja serta jas kerja untuk dikenakan oleh Sang suami.


“Ada apa?” tanya Raka ketika Melinda tidak melepaskan celana panjang yang ia kenakan. “Cepatlah, simpan rasa malumu dan bantu aku mengenakan celana!” perintah Raka.


Wajah Melinda merah merona dan dengan terpaksa, Melinda membantu suaminya melepaskan dan mengenakan celana kerja tersebut.


Mata Melinda terbuka lebar ketika melihat ada sesuatu yang menonjol. Melinda pun memejamkan matanya dan akhirnya berhasil membantu suaminya mengenakan pakaian.


“Cepatlah, kenapa kamu malah memejamkan mata? Waktuku tidak banyak, aku tidak ingin Kakek mengomeli ku gara-gara kamu lambat seperti ini,” tutur Raka yang tak menyadari alasan mengapa Melinda memejamkan matanya.


Melinda membuka matanya dan mengambil sepasang sepatu serta sepasang kaus kaki milik suaminya.


Melinda berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya. Bagaimanapun, Melinda telah benar-benar menyukai serta mencintai suaminya dengan kondisi seperti itu.


Raka perlahan menyadari bahwa Melinda selalu patuh padanya. Tak pernah sekalipun Melinda membantah ataupun membangkang setiap perkataannya.


Kadangkala, Raka merasa seperti pria yang begitu jahat kepada Melinda dan ada kalanya Raka kesal dengan Melinda yang begitu lemah serta bodoh ketika menghadapi Bambang, Dina dan juga Katty.


“Sudah, Mas Raka,” tutur Melinda yang telah selesai memakaikan sang suami sepatu.


“Terima kasih,” balas Raka singkat dengan ekspresi datar.


Melinda mengangguk dengan penuh semangat sembari memperlihatkan senyum manisnya hingga jejeran giginya terlihat.


“Berhentilah tersenyum seperti orang gila. Sekarang, bawa aku keluar!” perintah Raka.


Almer ternyata telah menunggu cucu kandungnya di dalam mobil dan saat itu juga asisten pribadi Raka berlari menghampiri Raka untuk segera membawa Tuan Mudanya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Tunggu,” ucap Melinda ketika Reza mendorong kursi roda suaminya begitu saja.


Reza pun berhenti saat itu juga.


“Ada apa?” tanya Raka sembari menoleh ke arah Melinda yang berada di belakangnya.


Melinda melangkah maju dan kini tepat dihadapan suaminya.


“Saya belum mencium punggung tangan Mas Raka,” terang Melinda dan menunduk untuk mencium punggung tangan suaminya.


Raka yang ingin marah, seketika itu hilang rasa marah ketika melihat bagaimana Melinda mencium punggung tangannya sebelum mereka berpisah.


Almer yang melihat dari dalam mobil, merasa tersentuh dengan sikap Melinda. Almer percaya sekaligus yakin bahwa tidak lama lagi, Cucu kandungnya akan tertarik dengan sosok cucu menantunya itu.


Setelah Melinda mencium punggung tangan Sang suami, tiba waktunya bagi Sang suami untuk berangkat.


Melinda tersenyum dan tak lupa melambaikan tangannya ketika mobil tersebut perlahan keluar meninggalkan area halaman rumah.


“Mas Raka sudah pergi, kemungkinan Mas Raka dan Kakek akan pulang sore,” tutur Melinda.


Tiba-tiba perut Melinda terasa sakit dan Melinda merasa bahwa ada sesuatu yang keluar di area bawah. Melinda pun sadar bahwa ternyata ia baru saja datang bulan.


Melinda saat itu juga berbalik badan berlari kecil untuk segera masuk ke kamar.


Melinda pun tiba di dalam kamarnya dan segera mencari pembalut yang ia beli beberapa hari yang lalu.


“Syukurlah,” ujar Melinda dengan sangat lega ketika menemukan pembalut miliknya yang ia letakkan di dalam laci.


Beberapa menit kemudian.


Melinda berbaring di tempat tidur karena kondisi perutnya akibat datang bulan perlahan mulai menimbulkan nyeri. Melinda menggigit bibirnya menahan rasa sakit dan berharap rasa sakit nyeri sekaligus keram diperutnya segera hilang.


Melinda menghela napasnya dan berjalan menuju pintu.


“Iya, Mbak. Ada apa?” tanya Melinda lirih pada pelayan dihadapannya yang mengetuk pintu beberapa detik yang lalu.


“Ya Allah, Nona Muda kenapa? Wajah Nona Muda terlihat sangat pucat,” tutur pelayan yang nampak sangat panik ketika melihat wajah Melinda yang cukup pucat.


“Saya tidak apa-apa, Mbak,” jawab Melinda.


“Sebenarnya, di depan ada seorang wanita yang datang ingin bertemu dengan Nona Muda. Akan tetapi, melihat kondisi Nona Muda yang pucat seperti ini, lebih baik Nona Muda beristirahat saja,” pungkas pelayan.


“Wanita? Siapa Mbak? Mungkinkah itu adalah Ibu Dina atau Katty?” tanya Melinda dengan ekspresi terkejut.


“Bukan, Nona Muda. Sepertinya wanita itu pernah kemari, kalau tidak salah namanya Ratna.”


Melinda tersenyum lebar ketika tahu bahwa sahabatnya datang untuk menemui dirinya.


“Mbak, itu memang sahabat saya. Tolong buatkan cemilan dan juga jus ya. Sebentar lagi saya akan kebawah,” tutur Melinda yang sangat senang dengan kedatangan sahabatnya itu.


Melinda mengenakan lipstik berwarna cukup terang di bibirnya, hal itu Melinda lakukan agar wajahnya yang pucat tak terlihat jelas.


“Ratna..” Melinda berlari kecil menghampiri sahabatnya yang tengah duduk manis di ruang tamu.


Ratna terkesiap dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


“Melinda, maaf aku baru bisa datang,” tutur Ratna pada sahabatnya.


“Ya Allah, aku sangat senang kamu datang, Ratna. Kamu datang kemari apakah sedang libur bekerja?” tanya Melinda sembari mendaratkan bokongnya di sofa begitu juga dengan Ratna.


“Aku izin untuk hari ini saja. Aku selalu kepikiran tentangmu, makanya aku izin dan datang kemari,” balas Ratna yang sengaja izin untuk tidak berkerja pada hari itu saja.

__ADS_1


“Bagaimana pekerjaan mu? Apakah semuanya lancar? Aku merasa tersentuh karena kamu izin untuk bertemu denganku,” pungkas Melinda.


“Alhamdulillah, tempat aku bekerja yang baru ini cukup baik dibandingkan tempat kerjaku yang sebelumnya. Dan aku sekarang dekat dengan seseorang,” tutur Ratna malu-malu.


“Ciee... Lihatlah, pipimu menjadi merah,” ujar Melinda menggoda sahabatnya yang tengah dimabuk asmara.


“Benarkah?” tanya Ratna memastikan sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Pasti pria itu tampan. Wah, aku jadi tidak sabar ingin menghadiri pernikahan mu,” ucap Melinda dengan penuh semangat.


“Melinda, kami baru menjalani tahap pendekatan. Lagipula, aku belum siap menikah. Kamu tahu, 'kan? Aku adalah wanita miskin dan aku juga belum memiliki tabungan untuk kedepannya,” ujar Ratna sedih.


“Maaf, bukan maksud aku membuat mu sedih seperti ini,” balas Melinda merasa bersalah.


Ratna tersenyum lebar dan memeluk tubuh sahabatnya.


“Haha.. haha... Kamu tertipu. Untuk apa aku sedih? Bukankah jodoh pasti akan bertemu bila waktunya telah tiba. Lagipula, aku menganggap santai mengenai hubunganku dengan dia,” ungkap Ratna.


“Aku senang melihat kamu tertawa seperti ini,” ujar Melinda dengan senyum manisnya.


Ratna mengernyitkan keningnya, menyadari bahwa Melinda sedang tidak sehat.


“Melinda, kamu sakit?” tanya Ratna nampak khawatir.


“Aku sudah berusaha untuk terlihat sehat. Ternyata kamu bisa melihatnya dengan jelas. Iya, aku sedang datang bulan. Kamu tahu sendiri, kalau aku datang bulan bagaimana?”


“Melinda, aku pulang sekarang ya,” ucap Ratna sembari beranjak dari duduknya.


Melinda dengan sigap menahan Ratna yang akan pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


“Duduklah, kenapa kamu ingin pulang secepat ini?” tanya Melinda menahan sahabatnya itu tidak pergi begitu saja.


“Melinda, aku hanya ingin kamu beristirahat. Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Oya, suamimu mana? Jujur ya, suamimu itu terlihat galak,” ujar Ratna dengan berbisik di telinga Melinda.


“Pffuttt... Benarkah?” Melinda tertawa lepas ketika mendengar apa yang sahabatnya katakan.


Ternyata, sahabatnya itu punya mata yang sangat jeli.


“Kamu jangan tertawa, aku bicara sangat serius ini. Hawa suamimu itu seram sekali, matanya saja seakan-akan adalah pedang yang tajam,” ungkap Ratna.


“Ssuutt... Jangan sampai suamiku mendengar apa yang kamu katakan. Kalau tidak...”


“Kalau tidak, kenapa Melinda?” tanya Ratna panik.


Melinda kembali tertawa melihat ekspresi panik serta ketakutan sahabatnya itu.


“Aku hanya bercanda saja, Ratna. Lagipula, suamiku sedang tidak ada di rumah,” ucap Melinda.


Disaat yang bersamaan, dua pelayan datang dengan membawa dua jus jeruk serta cemilan yang cukup banyak. Tidak hanya itu, ada buah-buahan yang sangat segar untuk dinikmati oleh Melinda maupun Ratna.


“Terima kasih, Mbak,” ucap Melinda kepada dua pelayan tersebut.


Dua pelayan itu pun permisi melanjutkan pekerjaan mereka kembali.


“Wah, ini sangat banyak Melinda. Boleh aku bawa pulang untuk Nenekku di rumah?” tanya Ratna yang teringat dengan Neneknya di rumah.


“Boleh, kamu bawa semuanya juga boleh,” jawab Melinda yang tak keberatan dengan permintaan sahabatnya itu.


“Melinda, aku tidak serakah. Aku hanya ingin membawa sedikit buah-buahan ini saja,” terang Ratna.


“Tentu saja kamu tidak serakah, Ratna. Hanya saja aku ingin semua yang ada dimeja ini kamu bawa pulang. Lagipula, Kakek dan suamiku tidak akan mempermasalahkan hal ini,” terang Melinda.

__ADS_1


__ADS_2