
“Kamu mau menjadi istri keduaku?” tanya Raka pada Luna yang masih memeluk erat tubuhnya.
“Tidak. Aku tidak akan pernah ingin menjadi istri kedua dari Kak Raka. Bagaimana kalau Kak Raka menceraikan saja wanita itu? Lagipula, dilihat darimana saja tetap aku yang paling unggul,” jawab Luna dengan penuh percaya diri dan tentu saja Raka pasti akan segera menceraikan Melinda demi dirinya.
“Benarkah seperti itu? Jadi, aku harus menceraikannya dulu, begitu maksudmu?” tanya Raka mulai memikirkan perkataan dari mantan kekasihnya itu.
Luna melepaskan pelukannya dan duduk dipangkuan Raka tanpa rasa malu sedikitpun.
“Kak Raka, aku dulu pernah membuat kesalahan. Akan tetapi, sekarang aku akan memperbaiki kesalahan-kesalahan ku dan menjadi istri yang baik untuk Kak Raka,” ujar Luna sembari mengalungkan tangannya ke leher Raka.
“Luna, turunlah dari pangkuanku. Aku sedang berpuasa dan sebagai seorang wanita, tidak seharusnya kamu terlihat rendahan seperti ini,” ucap Raka sehalus mungkin. Akan tetapi, dibalik perkataannya menyimpan sebuah pedang yang sangat tajam hingga menusuk hati seorang wanita cantik seperti Luna.
Luna seketika itu turun dari pangkuan Raka dengan perasaan yang sangat jengkel.
“Kak Raka kenapa berkata seperti itu kepada ku? Kak Raka sebelumnya tidak begini,” pungkas Luna yang tiba-tiba ngambek.
“Tidak begini maksud kamu apa? Bukankah kamu ingin menjadi istriku?” tanya Raka pada Luna yang berdiri tepat dihadapannya.
Luna tersenyum lebar sembari mengibaskan rambutnya yang panjang. Kemudian, memasang pose seksinya di hadapan Raka.
Raka tersenyum kecil melihat tingkah Luna yang sama sekali tidak menarik dipandang mata.
“Kak Raka, bagaimana dengan lekuk tubuhku ini? Saat aku diluar negeri, aku sebisa mungkin menjaga agar tubuhku selalu ideal,” tutur Luna meminta pendapat dari Raka mengenai tubuhnya yang Luna pikir begitu sempurna.
Raka tak memperhatikan bagaimana lekuk tubuh mantan kekasihnya. Melihat Luna yang dulu hingga sekarang, membuat Raka sadar dan menyesal karena pernah jatuh cinta dengan sosok wanita dihadapannya itu.
“Kak Raka kenapa diam saja? Apakah karena aku terlalu cantik dan membuat Kak Raka tak bisa berkata-kata lagi?” tanya Luna yang sudah besar kepala duluan.
“Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Lagipula, tidak ada untungnya kita menikah. Aku sekarang sudah lumpuh, bahkan adik kecilku saja sudah tidak bereaksi lagi alias sudah tidak ada gunanya lagi,” pungkas yang terdengar sangat serius.
Luna terkejut dan hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Usahanya untuk menikah agar menjadi seorang istri yang kaya raya serta menjadi Ibu akhirnya pupus sudah.
__ADS_1
“Apa? Bagaimana mungkin?” tanya Luna yang masih tak percaya dengan apa yang Raka katakan padanya.
“Aku sudah di vonis oleh dokter. Aku tidak bisa lagi berjalan seperti dulu, bahkan aku juga tidak bisa memiliki keturunan. Seumur hidupku, aku akan selalu berada di kursi roda,” ungkap Raka.
Luna terjatuh ke lantai dan menangis histeris. Keinginannya untuk menjadi orang kaya tiba-tiba hancur begitu saja.
“Kenapa kamu menangis? Apakah kamu mengurungkan niat untuk menjadi istriku?” tanya Raka pada Luna yang masih berada di lantai.
Luna bangkit dari jatuhnya dan mendekati Raka yang tetap duduk di kursi rodanya itu.
“Baiklah, aku tidak perlu lagi datang kemari. Rupanya sekali lumpuh tetap saja lumpuh. Aku rasa, wanita itu pasti akan segera pergi meninggalkan Kak Raka. Kalau dipikir-pikir, wanita mana yang mau mengurus pria cacat dan tidak berguna seperti Kak Raka ini,” tegas Luna dan melenggang pergi secepat mungkin dengan perasaan yang sangat kesal karena gagal menjadi istri dari pria yang kaya raya seperti Raka Arafat.
Melinda menangis histeris di dalam kamarnya, ia sama sekali tidak menyesali perasaannya kepada Sang suami. Akan tetapi, Melinda merasa kasihan dengan hidup suaminya yang sangat memilukan.
Tidak. Sebaiknya aku pura-pura tidak tahu saja dan memilih untuk tetap berada disisi Mas Raka. Sekarang, esok dan nanti aku akan selalu menemani Mas Raka hingga akhir hayat. (Batin Melinda)
Raka menunduk sedih, pria itu terlihat sangat sedih dan sedang memikirkan hal yang cukup berat.
Biarkan seperti ini saja. Lagipula, sudah seperti ini dan akan tetap seperti ini. (Batin Raka)
1 jam kemudian.
Raka masuk ke dalam kamarnya dengan diantarkan oleh salah satu bodyguard. Sesampainya di dalam kamar, Raka menutup pintu dan menguncinya. Kemudian, Raka menoleh ke arah Melinda yang ternyata sudah terlelap.
“Melinda, apakah kamu sudah tidur?” tanya Raka pada Melinda yang seluruh tubuhnya telah tertutup oleh selimut.
Melinda tak merespon, itu artinya Melinda sudah terlelap.
Raka ingin sekali membangunkan Melinda yang ternyata sudah tidur. Akan tetapi, Raka tak tega dan akhirnya memilih untuk melaksanakan sholat isya seorang diri.
Raka masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan kursi roda miliknya dan disaat yang bersamaan, Melinda membuka selimut yang sebelumnya menutupi seluruh tubuhnya untuk melihat apa yang sedang suaminya lakukan.
__ADS_1
“Mas Raka sedang di dalam kamar mandi, sepertinya Mas Raka ingin melaksanakan sholat isya,” ujar Melinda bermonolog.
Melinda turun dari tempat tidur dan menyiapkan segala sesuatu untuk suaminya yang akan melaksanakan sholat.
“Kamu kenapa bangun, Melinda?” tanya Raka yang telah keluar dari kamar mandi dan melihat Melinda yang sedang menyiapkan sajadah untuknya sholat.
“Iya, Mas Raka. Saya kebetulan bangun karena ingin buang air kecil dan rupanya Mas Raka sedang di kamar mandi, untuk itu saya menyiapkan peralatan sholat untuk Mas Raka,” ujar Melinda berbohong, karena sebenarnya Melinda belum tidur.
“Terima kasih, Melinda. Apakah kamu sudah sholat?” tanya Raka pada istrinya, Melinda.
“Alhamdulillah, saya sudah Mas Raka,” jawab Melinda dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi karena tidak ingin bila suaminya menyadari bahwa kedua matanya sembari karena terlalu lama menangis.
Raka memperhatikan tingkah istrinya seakan-akan tengah mencoba menghindari dirinya. Raka bertanya-tanya dalam hatinya dan ingin sekali menanyakan langsung mengenai sikap Melinda yang mencoba menghindar dirinya. Akan tetapi, Raka memilih untuk mengurungkan niatnya dan bergegas melaksanakan sholat isya seorang diri.
Melinda keluar dari kamar mandi dan melirik sekilas ke arah suaminya yang tengah sholat. Melinda pun tak langsung naik ke tempat tidur dan malah duduk di lantai tepat dibelakang suaminya dengan jarak 5 meter.
Raka akhirnya selesai dan seketika itu juga Melinda dengan hati-hati mencoba membantu suaminya untuk naik ke kursi roda.
“Kamu tidak perlu repot-repot membantuku,” ucap Raka pada Melinda yang telah berhasil membantu duduk di kursi roda.
“Saya tidak bisa diam begitu saja melihat Mas Raka berusaha naik ke kursi roda seorang diri. Mas Raka tidak perlu sungkan apalagi merasa direndahkan oleh saya. Saya melakukan karena ini juga adalah tugas saya sebagai seorang istri,” pungkas Melinda dan membuat Raka tersentuh dengan kebaikan hati istrinya.
“Terima kasih,” balas Raka pada istrinya.
Melinda tersenyum manis seakan-akan percakapan antara Raka dan juga Luna tidak pernah ia dengar. Melinda bukannya menyerah dengan perasaannya itu. Akan tetapi, rasa cintanya kepada Sang suami semakin besar. Melinda tak peduli dengan cacatnya Sang suami dan juga tidak peduli karena tidak bisa memiliki keturunan. Bagi Melinda, menjadi seorang istri adalah siap menerimanya segala kelebihan maupun kekurangan suaminya itu.
“Aku ingin segera beristirahat, bisakah kamu membantuku naik ke tempat tidur?” tanya Raka.
“Mas Raka tidak perlu bertanya. Bukankah, saya sering membantu Mas Raka naik ke tempat tidur?” tanya Melinda dan dengan senang hati membantu suaminya naik ke tempat tidur tanpa ada rasa jengkel dihatinya.
Melinda sangat baik terhadapku dan dulu aku malah memperlakukannya dengan sangat kejam. Apakah Melinda akan menerimaku bila aku mengatakan isi hatiku ini? (Batin Raka)
__ADS_1
“Mas Raka kenapa melihat saya terus? Apakah ada sesuatu diwajah saya?” tanya Melinda karena Raka terus saja menatap wajahnya tanpa berkedip.
“Benarkah? Sepertinya kamu salah mengira,” balas Raka dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain.