
Raka dan Melinda menikmati menu makanan itu bersama-sama. Berulang kali mereka saling tukar pandang dan melempar senyum satu sama lain.
Reza menyukai momen yang sangat langka itu dan memutuskan untuk mengambil gambar keduanya yang sedang makan bersama dengan sangat romantis.
“Mas Raka, terima kasih untuk kejutan hari ini. Saya sangat menyukainya,” ucap Melinda yang entah berapa kali telah mengatakan kata terima kasih kepada suaminya.
“Berhentilah mengucapkan terima kasih, sekarang kita sudah impas,” sahut Raka yang duduk manis di kursi rodanya.
“Mas Raka, makanan ini rasanya sangat enak,” ucap Melinda memuji rasa makanan yang sedang mereka nikmati.
“Syukurlah kalau kamu menyukainya,” jawab Melinda.
Melinda terus tersenyum lebar ke arah suaminya, Melinda yakin bahwa sebentar lagi suaminya akan jatuh cinta padanya.
Raka juga melempar senyum kepada istrinya dan sangat bahagia karena permintaan maafnya telah diterima oleh istrinya itu.
Usai menikmati makan bersama, Raka mengajak Melinda untuk berkeliling restoran. Ternyata, restoran tersebut cukup luas dan membuat Melinda berpikir bahwa harga dari restoran itu pasti sangatlah mahal.
Setelah puas berkeliling restoran, merekapun memutuskan untuk kembali ke rumah. Akan tetapi, sebelum pulang mereka terlebih dulu mengambil gambar untuk dijadikan sebagai pengingat dimasa depan.
Cekrek!
Melinda maupun Raka tersenyum lebar ke arah kamera yang memotret gambar diri mereka.
“Boleh aku melihat hasilnya?” tanya Melinda kepada asisten pribadi suaminya.
“Silakan, Nona Muda,” jawab Reza sembari memberikan ponsel pintar Tuan Mudanya pada Nona Mudanya.
Melinda mengirim foto tersebut ke aplikasi WhatsApp miliknya dan akan menyimpannya sebagai kenangan terindah.
“Terima kasih,” ucap Melinda dan memberikan ponsel itu kembali kepada asisten pribadi suaminya.
“Sudah? Ayo kita pulang!” ajak Raka karena hari yang hampir gelap dan juga hampir memasuki waktu sholat Maghrib.
Melinda berjalan beriringan bersama dengan suaminya menuju mobil. Senyum Melinda tak memudar sama sekali dan malah semakin merekah sempurna.
Mereka masuk ke dalam mobil dan bergegas kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Melinda serta Raka saling menggenggam erat jemari tangan. Mereka seperti pasangan yang saling mencintai dan susah untuk dilepaskan.
🌷
Setibanya di rumah, Melinda dan Raka bergegas menuju kamar. Karena waktu Maghrib yang hampir habis. Reza dengan sigap mendorong kursi roda Tuan Mudanya menuju kamar.
Setelah sepasang suami istri itu masuk ke dalam kamar, Reza pun kembali turun untuk melaksanakan sholat Maghrib sebelum ia kembali ke rumahnya sendiri.
Melinda melakukan tugasnya sebagai seorang itu, yaitu membantu suaminya melepaskan pakaian dan mengganti pakaian suaminya. Kemudian, Raka masuk seorang diri ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Selama Raka berada di dalam kamar mandi, Melinda bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Melinda juga melepaskan kalung, cincin serta anting yang sebelumnya ia gunakan ke dalam kotak perhiasan.
Semua aksesoris yang Melinda pakai, tentu saja harganya di atas rata-rata dan Melinda harus menjaga aksesoris mahal itu agar tidak hilang ataupun tak sengaja terjatuh, sehingga aksesoris itu mahal itu hilang.
“Aku sudah selesai, kamu berwudhu lah,” ujar Raka pada Melinda dan untungnya Melinda telah selesai berganti pakaian.
“Mas Raka mau saya bantu turun dari kursi roda?” tanya Melinda pada suaminya.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” jawab Raka yang tidak ingin merepotkan istrinya.
“Baiklah,” balas Melinda singkat dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
🌷
Malam hari.
Usai makan malam bersama, Raka dan juga Kakeknya seketika itu masuk ke ruang kerja Raka Arafat. Sepertinya, Kakek dan Cucu itu sedang membahas masalah yang sangat penting di ruang kerja tersebut.
Melinda setia menunggu suaminya di ruang keluarga, bila Melinda berada di kamar, Melinda bisa saja tertidur dan tak tahu kapan suaminya kembali ke kamar.
1 jam telah berlalu dan suaminya masih belum keluar dari ruangan tersebut. Hingga akhirnya Melinda beranjak meninggalkan ruang keluarga menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Ketika Melinda melewati ruang kerja suaminya, saat itu juga suaminya keluar dan betapa senangnya Melinda melihat suaminya.
__ADS_1
“Kamu ngapain disini?” tanya Raka ketika melihat istrinya.
“Mau ke dapur, Mas Raka. Mau minum, kebetulan saya haus,” jawab Melinda sembari menunjuk ke arah dapur dengan jari telunjuknya.
“Kenapa tidak minta bantuan ke pelayan saja?” tanya Raka.
“Tidak, Mas Raka. Lagipula saya ke dapur untuk mengambil air minum. Mas Raka mau saya ambilkan air minum sekalian?”
“Boleh, air hangat ya,” balas Raka.
Melinda melenggang menuju dapur untuk mengambil air minum.
Almer sengaja menguping pembicaraan suami istri itu dari dalam ruang kerja dan ketika Melinda pergi, barulah Almer keluar dari ruang kerja cucu menantunya.
Almer tersenyum lebar melihat Raka dan menepuk pundak cucu kandungnya itu.
“Good job,” ucap Almer dan melenggang pergi menuju kamarnya.
Raka mengernyitkan keningnya melihat senyum lebar Kakeknya itu.
“Ada apa dengan Kakek?” tanya Raka terheran-heran.
Melinda kembali menghampiri suaminya dan memberikan air hangat yang suaminya minta.
“Mas Raka, silakan diminum,” ujar Melinda sembari memberikan air hangat tersebut.
Raka menerimanya dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada istri. Kemudian, Raka meneguk segelas air minum itu hingga habis tak tersisa.
“Mas Raka mau air hangat lagi?” tanya Melinda.
“Ini saja sudah cukup,” jawab Raka sembari memberikan gelas yang telah kosong itu kepada istrinya.
Melinda pun permisi sebentar untuk pergi ke dapur, mencuci bersih gelas yang dipakai suaminya dan kembali menghampiri sang suami.
Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk segera pergi ke kamar mereka.
Setibanya di kamar, Raka meminta Melinda untuk tidak tidur di sofa dan saat itu juga Melinda berpikir bahwa ia tidak boleh tidur di kamar suaminya.
“Melinda, kamu tidak boleh lagi tidur di sofa!” perintah Raka.
“Melinda, kamu tetap ingin tidur di sofa itu?” tanya Raka terheran-heran.
”Iya, Mas Raka. Kalau saya tidak tidur di sofa, apakah saya harus tidur di lantai?” tanya Melinda sedih yang enggan jika harus tidur di lantai, karena Melinda tak tahan dengan dinginnya lantai. Meskipun, ada selimut yang menyelimuti tubuhnya.
“Aku berencana untuk membiarkan mu tidur di ranjang ku. Akan tetapi, kalau kamu masih ingin tidur di sofa, baiklah. Aku juga tidak ingin memaksa,” ungkap Raka.
“Apa?” Saat itu juga Melinda mengambil selimut, bantal serta guling. Kemudian, berlari secepat mungkin naik ke tempat tidur suaminya.
Melinda dengan cepat memejamkan matanya dan membuat Raka tercengang dengan gerakan gesit istrinya itu.
“Kamu boleh tidur di ranjang ku. Akan tetapi, kamu tidak boleh melewati batas tempat tidur kita,” ujar Raka yang tentu saja belum terbiasa dengan kehadiran Melinda di ranjang tidurnya. Meskipun, Raka menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta dengan sosok wanita bernama Melinda Anandi itu.
“Mas Raka tenang saja, guling saya adalah pembatas yang tepat untuk kita,” sahut Melinda yang telah membuka matanya lebar-lebar.
“Baguslah, sekarang bantu aku naik ke tempat tidur,” pinta Raka pada Melinda.
Melinda pun turun dari tempat tidur untuk membantu suaminya naik ke tempat tidur tersebut.
Melinda memapah suaminya dengan susah payah, mungkin Melinda harus sering-sering olahraga.
“Hufftt... akhirnya berhasil juga,” ucap Melinda yang berhasil memindahkan suaminya ke tempat tidur.
Raka mengacungkan jari jempol tangannya ke arah Melinda.
“Good job,” ucap Raka memuji kehebatan Melinda.
“thank's,” jawab Melinda yang sedikit mengerti dengan bahasa Inggris.
Melinda kembali naik ke tempat tidur dan merenggangkan otot-ototnya agar bisa rileks.
“Terima kasih, Mas Raka. Saya kira, saya akan tidur di sofa setiap hari,” ujar Melinda yang memandangi langit-langit kamar dengan perasaan yang sangat bahagia.
__ADS_1
“Apakah kamu senang?” tanya Raka yang juga memandangi langit-langit kamar.
“Sangat senang, Mas Raka. Saya sangat senang hingga bingung harus mengatakan apa lagi,” jawab Melinda.
Jantung Melinda kembali berdebar-debar tak karuan dan membuat Melinda takut jika suaminya sampai mendengar suara degup jantungnya.
Karena tidak ingin sampai terdengar oleh suaminya, seketika itu juga Melinda turun dari tempat tidur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Raka mengernyitkan keningnya melihat Melinda yang lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
Melinda menyentuh dadanya yang berdebar-debar tak karuan. Sepertinya, ia harus berusaha untuk mengontrol rasa cintanya kepada Sang suami. Kalau tidak, suaminya pasti akan mengetahui bahwa Melinda telah jatuh cinta dengan sosok suaminya.
Dan tak menutup kemungkinan, suaminya akan jaga jarak dengannya perihal rasa cintanya kepada Sang suami.
Cukup lama Melinda di dalam kamar mandi, sampai ia benar-benar tenang barulah ia keluar dari kamar mandi.
Melinda keluar dan rupanya Raka belum juga tidur. Raka menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Kenapa lama sekali? Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Raka memastikan.
“Saya baik-baik saja, Mas Raka. Hanya perut saya saja yang cukup sakit,” jawab Melinda yang terpaksa berbohong. Tidak mungkin juga Melinda mengatakan alasan mengapa ia lama berada di dalam kamar mandi.
“Kenapa? Apakah gara-gara makanan di restoran tadi?” tanya Raka penasaran.
“Tentu saja, tidak. Sekarang saya sudah jauh lebih baik dan waktunya bagi saya untuk beristirahat,” pungkas Melinda.
Melinda berjalan naik ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Kecuali, bagian kepalanya yang ia biarkan terbuka.
“Mas Raka, apakah benar restoran itu atas nama saya? Menurut saya itu terlalu berlebihan,” ujar Melinda yang merasa sungkan atas restoran yang suaminya beli atas nama dirinya.
“Kamu tidak perlu khawatir dan tidak perlu pusing memikirkan restoran itu. Setiap minggunya, rekening mu akan terisi yang hasil dari penjualan makanan di restoran itu,” jawab Raka.
“Benarkah? Mas Raka, saya tidak ingin menerima uang itu. Lebih baik uang itu masuk ke rekening Mas Raka saja, saya juga tidak pantas memiliki uang yang pasti sangat banyak itu,” ujar Melinda yang sangat keberatan dengan yang yang akan ia terima.
“Tolong, jangan menolak hadiah kecilku dariku. Lagipula, uang itu bisa kamu gunakan dikemudian hari,” tutur Raka dengan sangat serius.
Melinda terdiam sejenak sembari memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Baiklah, saya akan menerimanya. Akan tetapi, apa boleh uang itu saya gunakan untuk kepentingan pribadi?”
“Tentu saja boleh. Pakailah sesuka hatimu, asal jangan kamu gunakan untuk hal yang tidak baik,” terang Raka.
“Kalau seandainya saya memberikan uang itu kepada keluarga saya, apakah boleh?”
Wajah Raka seketika itu terlihat menyeramkan dan di detik berikutnya, Raka tersenyum tipis ke arah Melinda.
“Boleh saja, dengan catatan jangan terlalu sering memberikan mereka uang. Orang seperti mereka adalah orang yang tamak dan juga serakah,” pungkas Raka.
“Maaf, Mas Raka. Maaf karena keluarga saya sering membuat Mas Raka dan juga Kakek menjadi marah. Saya tidak mengira bahwa mereka akan seperti itu,” ujar Melinda mewakili keluarganya untuk meminta maaf.
“Kamu tidak perlu meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan. Kami sebenarnya tidak pelit, hanya saja cara keluargamu benar-benar tidak tahu malu. Akan tetapi, dari mereka aku tahu bahwa ada wanita baik sekaligus wanita tegar di antara mereka. Hidupmu pasti sangat sulit selama tinggal bersama mereka,” ujar Raka yang penasaran bagaimana kehidupan istrinya sebelum mereka menikah.
“Sebelum almarhumah Ibu saya meninggal, kehidupan saya berjalan dengan sangat baik. Ayah menyayangi saya, Ibu Dina menyayangi saya dan Katty juga menyayangi saya. Akan tetapi, setelah Ibu meninggal, mereka berubah drastis. Di rumah saya sendiri, saya diperlakukan seperti pembantu. Awalnya saya menganggap santai karena membersihkan rumah adalah kebiasaan saya sebelum Ibu kandung saya meninggal. Akan tetapi, lama-kelamaan Ibu dan Katty bertindak semena-mena kepada saya. Bahkan, mereka mengancam akan merusak makam almarhumah Ibu saya, bila saya tidak menuruti apa yang mereka katakan,” ungkap Melinda yang telah meneteskan air mata memilukan tersebut.
“Haaa? Lalu, apa Ayahmu tahu mengenai hal itu?” tanya Raka semakin penasaran dan merasa kasihan dengan derita yang dirasakan oleh istrinya selama ini.
“Ayah acuh tak acuh kepada saya. Bahkan, Ayah tidak pernah lagi memperhatikan dan menyayangi saya. Setiap pulang bekerja, hanya Katty yang mendapatkan hadiah dan juga makanan. Belum lagi bila ada masalah, saya lah yang menjadi pelampiasan Ayah. Ayah marah dan bahkan berkata kasar terhadap putri kandungnya sendiri,” terang Melinda sembari menghapus air matanya yang sangat sedih ketika mengingat masa-masa sulitnya yang sangat menderita.
Raka mengerakkan tangannya menghapus air mata Melinda.
“Sudah, jangan ingat-ingat kembali hal yang membuatmu sedih. Aku berharap kamu bahagia tinggal disini dan bisa melupakan semuanya kesedihan yang membuat hatimu terasa sangat sakit,” ucap Raka yang berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat Melinda kembali menangis dan merasakan penderitaan yang dulu pernah dialaminya.
Bukannya berhenti menangis, tangisan Melinda malah menjadi-jadi. Melinda menangis bukan karena sedih, akan tetapi Melinda menangis karena terharu dengan perhatian hangat suaminya.
Raka bingung melihat Melinda yang semakin histeris dan bukannya berhenti.
“Hei, kamu tidak boleh menangis. Ayolah, tidak baik terus-menerus menangis seperti ini,” ujar Raka dengan sangat lembut.
Melinda mengangguk kecil dan seketika itu ia tidak lagi menangis. Raka pun bernapas lega karena akhirnya sang istri tak menangis lagi.
“Sekarang, basuhlah wajahmu itu. Tidak baik tidur dengan wajah yang dipenuhi air mata,” tutur Raka agar Melinda segera membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata yang telah mengering.
__ADS_1
Melinda pun turun untuk membersihkan wajahnya di kamar mandi.
Raka menatap punggung istrinya dengan rasa kasihan. Raka ingin sekali memeluk tubuh Melinda. Akan tetapi, jika Raka melakukan hal itu, Raka takut Melinda akan terkejut dengan caranya itu dan Melinda pasti akan menjaga jarak dengannya.