Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 56


__ADS_3

Sebelum memasuki waktu subuh, Raka dan juga Melinda telah bangun dari tidur.


Saat itu, Raka meminta Melinda untuk menyiapkan pakaian yang akan Raka kenakan selama di Malaysia. Tentu saja Melinda terkejut, Melinda tidak tahu bahwa suaminya akan pergi ke negeri tetangga.


“Mas Raka akan pergi ke Malaysia? Pagi ini?” tanya Melinda memastikan.


“Iya, aku dan Kakek. Aku lupa memberitahukan mu sebelumnya,” jawab Raka.


Melinda menghela napasnya yang terdengar sangat kecewa.


“Ada apa? Kau tentu saja tidak bisa ikut. Aku dan Kakek bukan sedang liburan disana. Melainkan, bekerja untuk mencari uang,” pungkas Raka pada Melinda.


“Mas Raka dan Kakek pergi berapa lama?” tanya Melinda penasaran.


“Sekitar satu Minggu,” jawab Raka.


“Satu Minggu bukan waktu yang singkat. Itu artinya saya akan sendirian di rumah,” tutur Melinda sembari mengikat rambutnya yang panjang agar tidak berantakan.


Raka mengeluarkan sebuah kartu kredit dan memberikannya kepada Melinda.


“Ambillah kartu kredit ini dan pakailah sesuka hatimu,” ucap Raka untuk mengurangi rasa kesepian Melinda.


Melinda dengan sopan menolak kartu kredit tersebut dan lebih memilih menggunakan uang tunai saja.


“Mas Raka, saya tidak ingin menggunakan kartu kredit. Apakah Mas Raka ada uang tunai?” tanya Melinda.


“Haaa?” Raka melongo mendengar permintaan Melinda.


Melinda tersenyum bodoh melihat ekspresi wajah suaminya.


“Apakah kamu tahu berapa banyak uang di dalam kartu kredit ku ini? Uang ini bahkan bisa membeli beberapa mobil,” ungkap Raka.


“Meskipun bisa membeli mobil, tetap saja saya tidak bisa mengendarainya. Jadi, berikan saja saya yang tunai 500 ribu saja,” terang Melinda yang menurutnya 500 ribu itu lebih dari cukup.


“Apa kamu bercanda? Kartu kredit ku kamu tukar dengan uang tunai 500 ribu? Bagaimana bisa kamu sebodoh ini,” ucap Raka geleng-geleng kepala.


Melinda lagi-lagi hanya merespon perkataan suaminya dengan senyum bodohnya.


“Sudahlah, cepat siapkan pakaian yang akan aku kenakan selama di Malaysia dan jangan lupa tata dengan rapi ke dalam koper!” perintah Raka.


“Baik, Mas Raka. Saya akan menyiapkan dan menatanya dengan sangat rapi,” balas Melinda.


Raka menoleh ke arah arloji jam miliknya yang berada tepat disamping bantal tidurnya. Ternyata, 30 menit lagi akan memasuki waktu sholat subuh.


Raka pun meminta Melinda untuk membantunya pindah ke kursi roda untuk segera membersihkan diri.


🌷🌷


Pagi hari.


Almer, Raka dan Melinda tengah menikmati sarapan pagi mereka. Almer dan Raka berulang kali menoleh ke arah Melinda yang sebentar lagi akan tinggal sendirian di rumah, meskipun ada banyak pelayan dan bodyguard di rumah mewah itu.


“Cucu menantu, kalau bosan di rumah bilang saja ke pelayan atau sopir. Mereka akan membawa Cucu menantu kemanapun yang Cucu menantu inginkan,” ujar Almer pada Melinda.

__ADS_1


Melinda hanya mengiyakan dengan senyum manisnya. Lalu, kembali mengunyah hidangan di hadapannya dengan lahap.


Almer lebih dulu selesai dengan makanannya, kemudian disusul juga oleh Raka dan Melinda.


Ternyata tidak hanya Almer dan Raka saja yang akan melakukan perjalanan menuju Malaysia. Reza pun ternyata ikut pergi karena hampir semua jadwal diatur oleh asisten pribadi Raka tersebut.


Reza telah menunggu Almer maupun Raka di depan rumah.


“Cucu menantu, kami berangkat. Ingat pesan Kakek tadi, kalau ada apa-apa dan ingin sesuatu tinggal katakan saja kepada mereka,” tutur Almer sembari menyentuh bahu kiri istri dari Raka.


“Kakek, tolong jangan terlalu memikirkan Melinda disini. Melinda disini akan berdo'a semoga perjalanan menuju Malaysia lancar jaya,” balas Melinda.


Almer mengaminkan Do'a tersebut dan lebih dulu masuk ke dalam mobil untuk memberikan waktu bagi cucu dan cucu menantunya untuk berbincang-bincang sebentar, sebelum pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.


“Aku pergi dan jangan pernah kamu macam-macam selama aku di Malaysia. Dan satu lagi, uang tunai yang kamu inginkan sudah aku taruh di sofa kamar,” pungkas Melinda.


“Mas Raka tidak perlu mengatakan bahwa hal itu. Saya ini adalah istri Mas Raka dan saya adalah orang yang setia. Boleh saya meminta satu hal?” tanya Melinda.


“Apa?” tanya Raka dingin.


“Selama Mas Raka di Malaysia, bolehkah kita bertukar kabar?” tanya Melinda malu-malu.


Almer yang berada di dalam mobil begitu penasaran dengan apa yang dikatakan oleh cucu menantunya. Akan tetapi, Almer sama sekali tak bisa mendengar apapun dari dalam mobil.


“Reza, apa kamu tahu apa yang sedang mereka bicarakan? Lihatlah wajah cucu menantuku, terlihat sangat malu-malu,” tutur Almer pada asisten pribadi cucu kandungnya.


“Maafkan saya, Tuan Besar. Saya pun tidak bisa mendengar perbincangan Tuan Muda dan juga Nona Muda,” balas Reza dengan jujur.


Raka dan Melinda telah selesai berbincang-bincang. Saat itu juga, Raka memberi isyarat agar Reza segera membantunya masuk ke dalam mobil.


Melinda tersenyum manis dan mencium punggung tangan suaminya, sebelum Sang suami benar-benar masuk ke dalam mobil.


Melinda melambaikan tangannya sembari menahan air matanya. Hingga mobil itu pergi, barulah Melinda meneteskan air matanya.


Sebelumnya, Melinda tidak pernah merasakan perasaan sedih seperti ini. Bahkan dengan Royan pun Melinda tidak merasakan debaran jantung seperti yang ia rasakan kepada suaminya, Raka Arafat.


“Nona Muda pasti sangat sedih karena Tuan Muda harus pergi,” tutur salah satu pelayan wanita ketika melihat Nona Mudanya menangis.


“Iya, Mbak. Saya sangat sedih karena Mas Raka, Kakek dan juga Mas Reza melakukan perjalanan yang cukup jauh. Tolong do'akan keselamatan Mas Raka, Kakek dan juga Mas Reza ya Mbak!” pinta Melinda.


Pelayan mengiyakan dan mengajak para pelayan yang lain untuk mendo'akan keselamatan mereka bertiga.


Melinda menghapus air matanya dan memutuskan untuk segera masuk ke dalam.


Tiba di dalam kamar, Melinda terkejut melihat uang tunai yang cukup banyak pemberian suaminya.


“Uang sebanyak ini, bukankah aku hanya meminta 500 ribu saja,” tutur Melinda.


Melinda menghitung uang tersebut dan ternyata total semuanya adalah 20 juta. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Melinda menyentuh uang yang begitu banyak.


“Mas Raka terlalu berlebihan, aku mana sanggup menghabiskan uang sebanyak ini,” pungkas Melinda.


Melinda mengambil uang sebanyak 500 ribu dan sisanya ia masukkan ke dalam laci meja suaminya.

__ADS_1


Raka duduk tepat disamping Kakeknya dan terlihat sedang memikirkan hal yang cukup serius. Almer yang duduk di samping Cucunya ingin sekali bertanya. Akan tetapi, Almer menahannya dan akan bertanya ketika sudah tiba di Malaysia.


Sore hari.


Melinda duduk di sofa ruang keluarga, wanita itu tengah memandangi layar ponselnya dan menunggu balasan dari suaminya.


“Bukankah Mas Raka tadi pagi sepakat untuk saling bertukar kabar? Sudah jam segini dan Mas Raka belum juga membalas pesanku,” tutur Melinda dan meletakkan kembali ponselnya di meja. Kemudian, menonton televisi yang sudah menyala kurang lebih 1 jam.


Salah satu pelayan menghampiri Melinda yang sejak tadi duduk tanpa meminta cemilan atau makanan apapun.


“Nona Muda, sudah jam segini. Apakah ada yang ingin Nona Muda makan?” tanyanya kepada Melinda.


“Saya sedang tidak ingin makan apapun Mbak. Kalau boleh, saya ingin jus alpukat. Apakah ada?” tanya Melinda.


“Tentu saja ada, Nona Muda. Kalau tidak ada, saya akan berusaha mencarinya,” jawabnya.


Melinda tertawa mendengar jawaban dari pelayan yang terdengar sangat lucu.


Melihat Nona Mudanya yang tertawa, pelayan itu sangat senang.


“Kami sangat beruntung dengan kehadiran Nona Muda,” ucap Pelayan wanita.


“Mbak ini bisa saja,” jawab Melinda dengan salah tingkah.


Pelayan itu permisi ke dapur untuk membuat jus alpukat yang Melinda inginkan.


Melinda kembali fokus dengan acara televisi dihadapannya dan tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Melinda buru-buru meraih ponselnya dan ternyata pesan yang ia kirim ke sang suami akhirnya dibalas.


💌 Mas Raka “Aku sedang beristirahat dan baik-baik saja.”


Melinda melompat kegirangan membaca isi pesan dari suaminya.


“Alhamdulillah, akhirnya Mas Raka mau membalas pesan dariku. Sekarang, aku harus bertanya apa ya?” Melinda berpikir keras untuk mengirim pesan singkat kepada suaminya yang saat itu sedang berada di Malaysia.


Melinda menjadi salah tingkah manakala para pelayan dan para bodyguard berlari menghampiri dirinya.


“Nona Muda baik-baik saja?” tanya salah satu bodyguard.


“Ha? Memangnya saya kenapa?” tanya Melinda terheran-heran sekaligus menjadi salah tingkah.


“Nona Muda baru saja berteriak,” jawab bodyguard.


“Benarkah?” tanya Melinda memastikan.


Para pelayan dan bodyguard dengan kompak mengiyakan pertanyaan Melinda.


Melinda terlanjur malu dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.


Sebelum meninggalkan Melinda yang berada di ruang keluarga, para pelayan dan para bodyguard kembali bertanya untuk memastikan bahwa Nona Muda mereka baik-baik saja.


Melinda dengan senyum manisnya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Mendengar perkataan tersebut, merekapun melenggang pergi.

__ADS_1


Melinda menghela napasnya, ia tidak sadar bahwa dirinya berteriak karena terlalu bahagia mendapatkan pesan singkat dari suaminya.


__ADS_2