
Sore hari.
Raka dan Melinda baru saja selesai melaksanakan sholat di kamar. Untuk pertama kalinya, Melinda merasa bahwa Raka mulai menerima pernikahan mereka yang ternyata memasuki bulan pertama.
“Ada apa?” tanya Raka ketika tak sengaja melihat Melinda tersenyum menatapnya.
Melinda yang tak sengaja terpergok, segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Tidak ada apa-apa, Mas,” jawab Melinda yang terus menoleh ke arah lain.
“Jawabanmu membuatku kesal,” ucap Raka dan meminta Melinda untuk membantunya naik ke tempat tidur.
Melinda membantu suaminya naik ke tempat tidur dan mengucapkan terima kasih karena Sang suami telah mengimami sholat.
“Mas Raka, terima kasih karena Mas telah mengimami sholat saya,” ujar Melinda dengan senyum manisnya.
Raka hanya menatap datar Melinda tanpa ingin membalas perkataan Melinda.
“Mas Raka mau saya buatkan kopi?” tanya Melinda menawarkan diri untuk membuatkan kopi.
“Tidak. Aku sedang tidak ingin kopi, lebih baik kamu ambilkan saya rokok dan korek gas di meja!” perintah Raka menunjuk ke arah meja.
Melinda berbalik badan dan mengambil rokok serta korek gas milik suaminya.
“Ini, Mas raka.” Melinda memberikan benda tersebut kepada Raka.
“Baiklah, sekarang kamu keluar dari kamarku. Aku butuh ketenangan.”
Melinda hanya mengiyakan perkataan Raka. Meskipun, sebenarnya Melinda ingin tetap berada di dalam kamar.
Raka tersenyum sinis sembari menghisap rokok ditangannya.
Berhubung Mas Raka sedang ingin menenangkan diri di kamar, sebaiknya aku beristirahat di kamar yang sebelumnya aku tempati. (Batin Melinda)
Saat Melinda akan masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati, tiba-tiba saja Indri memanggil namanya.
“Melinda!” panggil Indri.
Melinda berbalik badan ketika mendengar namanya dipanggil.
“Melinda!” Indri sekali lagi memanggil Melinda.
“Iya, Mbak Indri. Mbak Indri mencari saya?” tanya Melinda.
Melinda sendiri tak nyaman bila berhadapan langsung dengan Indri. Melinda merasa bahwa apa yang Indri lakukan untuknya akan menimbulkan malapetaka untuknya.
“Apakah kamu bahagia dengan penderitaan orang lain?” tanya Indri yang tak tahan jika terus-menerus berpura-pura baik kepada wanita dihadapannya.
“Maksud dari perkataan Mbak Indri?” tanya Melinda yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Indri.
Indri ingin sekali menarik rambut Melinda dan bahkan Indri sangat ingin mencukur habis rambut kepala Melinda.
“Sudahlah, lupakan saja. Aku mencari mu karena ada sesuatu hal yang ingin aku tunjukkan. Mari ikut aku!” Dengan sangat terpaksa, Indri menggandeng tangan Melinda dan membawa Melinda ke kamarnya.
“Mbak, saya mau dibawa kemana?” tanya Melinda yang mulai takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Indri kepadanya.
“Kamu tidak perlu cemas begini, Melinda. Lebih baik kamu diam,” balas Indri dengan terus melangkah menuju kamarnya.
Untuk pertama kalinya, Melinda masuk ke dalam kamar Indri yang terlihat sangat mewah. Berbeda jauh dengan kamar milik Raka yang terlihat elegan. Akan tetapi, tidak mencolok mata seperti kamar milik Indri.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu kelihatan sangat terkejut dengan kamarku ini.”
“Kamar Mbak Indri sangat bagus,” puji Melinda dengan terus memperhatikan setiap sudut kamar tersebut.
“Oh, kalau itu tidak pernah diragukan lagi. Kamar ini adalah keinginanku yang dikabulkan oleh Mas Rafa. Dulu, setiap keinginanku selalu Mas Rafa penuhi,” ungkap Indri berbangga diri sekaligus pamer.
“Mbak Indri pasti sangat bahagia memiliki suami seperti almarhum Mas Rafa,” tutur Melinda yang ikut bahagia.
“Ya, kamu benar. Aku sangat bahagia dan kebahagiaanku berkali-kali lipat. Akan tetapi, kebahagiaanku sirna begitu saja, manakala kematian datang menghampiri almarhum suamiku.” Indri menangis ketika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
“Mbak Indri yang sabar ya.” Hanya kalimat itu yang bisa Melinda ucapkan untuk Indri.
“Aku selalu sabar, Melinda. Akan tetapi, kesabaran ku hilang begitu saja setelah kedatangan kamu di rumah ini. Aku tak tahan melihat bagaimana kamu bermesraan dengan Raka. Apakah kamu tahu bagaimana sakitnya hatiku?” Indri menangis dan menyalahkan kedatangan Melinda di hidup Raka.
Melinda hanya diam ketika dirinya disalahkan. Itu adalah pertahanan Melinda satu-satunya agar Indri tak kehilangan kendali untuk menyerangnya.
Wanita kampungan ini kenapa diam saja? Aku ingin sekali membunuhnya saat ini juga. Akan tetapi, aku tidak boleh gegabah untuk menghabisinya. (Batin Indri)
Indri berusaha keras untuk menahan diri agar tidak memburuk keadaan. Indri pun memutuskan untuk berpura-pura pingsan saat itu juga.
“Mbak Indri!” Melinda panik ketika melihat Indri jatuh tak sadarkan diri.
Dengan sekuat tenaga, Melinda menuntun Indri ke tempat tidur.
“Mbak Indri pasti sangat terpukul dengan kejadian itu. Maafkan saya, Mbak Indri. Kehadiran saya disini pasti membuat Mbak Indri merindukan sosok almarhum Mas Rafa,” ucap Melinda yang juga meneteskan air matanya.
Pada saat Melinda ingin beranjak pergi, tiba-tiba Indri sadarkan diri.
“Melinda, kamu mau kemana?” tanya Indri.
Melinda terkejut mengetahui bahwa Indri telah bangun dari pingsannya.
“Mbak Indri baik-baik saja? Tadi Mbak Indri pingsan dan saya ingin memberitahukan hal ini kepada Kakek,” ucap Melinda bernapas lega.
Melinda tersenyum dan menawarkan diri untuk membuatkan teh. Akan tetapi, Indri menolak Melinda yang ingin membuatkan teh untuknya.
“Melinda, bisakah kamu menolongku?” tanya Indri dengan tatapan penuh harap.
“Kalau saya bisa, saya pasti akan menolong Mbak indri.”
“Tolong ambilkan aku kebaya yang tergantung itu dan aku ingin kamu mencobanya.”
Melinda menoleh ke sisi dimana Indri menunjuk kebaya berwarna kuning kecoklatan.
“Yang ini, Mbak Indri?” tanya Melinda sembari menyentuh kebaya tersebut.
Indri mengangguk kecil ketika melihat Melinda menyentuh kebaya tersebut.
Melinda mengambil kebaya kuning kecoklatan tersebut dan mengenakannya di hadapan Indri. Melinda sama sekali tidak tahu bahwa kebaya itu sebelumnya sudah diberi bubuk gatal oleh Indri.
Rasakan itu wanita kampungan. Sampai besok, rasa gatal di sekujur tubuhmu tak akan hilang begitu saja. (Batin Indri)
“Kebaya itu terlihat sangat cocok dikenakan oleh mu, Melinda. Kamu mau?” tanya Indri.
Melinda menolak secara halus dan meletakkan kembali di tempat asalnya.
“Maaf, Mbak Indri. Kebaya ini memang sangat bagus. Akan tetapi, saya tidak pantas mengenakannya. Karena Mbak Indri baik-baik saja, saya izin keluar.”
Melinda melenggang pergi meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
Indri tertawa lepas dan tak sabar ingin melihat hasil dari bubuk gatal yang telah ia taburkan di kebaya tersebut.
“Selamat gatal-gatal wanita kampungan,” ucap Indri tersenyum licik.
Melinda kembali masuk ke dalam kamar dan ternyata Raka saat itu tengah terlelap.
Saat Melinda ingin merebahkan tubuhnya di sofa, Raka membuka matanya dan meminta Melinda untuk membuatkannya kopi.
Wanita berusia 20 tahun itu mengiyakan permintaan Raka dan bergegas menuju dapur.
“Kenapa tubuhku gatal-gatal begini?” tanya Melinda sembari menggaruk-garuk tangan, wajah serta anggota tubuh yang lain secara bergantian.
Ketika Melinda baru saja tiba di dapur untuk membuatkan Sang suami kopi, salah satu pelayan terkejut melihat wajah Nona Mudanya yang timbul bintik-bintik merah.
“Nona Melinda sedang sakit?” tanya pelayan wanita yang terlihat khawatir dengan kondisi Melinda.
“Saya baik-baik saja, Mbak,” jawab Melinda sembari menahan rasa gatal dibagian wajahnya.
“Nona Muda yakin baik-baik saja? Wajah Nona Muda timbul bintik-bintik merah.”
Melinda saat itu berjalan ke arah cermin dan ternyata benar. Wajahnya timbul bintik-bintik merah dan tidak hanya wajahnya saja, tangan serta lehernya pun memiliki banyak bintik-bintik merah.
Melinda yang panik, langsung berlari masuk ke dalam lift.
“Mas Raka!” Melinda masuk ke dalam kamar sembari memperlihatkan bintik-bintik merah di wajahnya.
Raka terkejut melihat kondisi istrinya.
“Kenapa bisa muncul bintik-bintik merah seperti itu?” tanya Raka panik melihat Melinda.
“Saya juga tidak tahu, Mas Raka,” jawab Melinda yang merasakan gatal-gatal di sekujur tubuhnya.
“Buka pakaian mu sekarang!” perintah Raka.
Melinda menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia menolak perintah dari Raka.
“Aku bilang buka sekarang juga!” perintah Raka yang ingin melihat apakah sekujur tubuh istrinya timbul bintik-bintik merah ataukah tidak.
Melinda dengan terpaksa melepas pakaian yang ternyata bintik-bintik merah tersebut sudah menyebar ke seluruh tubuh Melinda.
“Ambilkan ponselku sekarang!” perintah Raka yang ingin menghubungi dokter kulit agar segera memeriksakan kondisi istrinya.
Melinda berjalan ke arah nakas dan memberikan ponsel tersebut kepada suaminya.
Raka tertegun sejenak ketika melihat buah dada Melinda yang cukup besar.
“Mas Raka melihat apa?” tanya Melinda dan cepat berbalik badan.
“Kamu jangan salah paham, aku sama sekali tidak melihat apa-apa. Sekarang pakailah pakaian mu dan tetap di sofa. Aku tidak ingin sampai tertular karena mu,” pungkas Raka.
Melinda hanya mengiyakan sembari menahan rasa gatal pada seluruh tubuhnya.
Kenapa tubuhku tiba-tiba muncul bintik-bintik merah seperti ini? Aku sama sekali tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan tertentu. Apakah ini ulah dari Mbak Indri? Tidak. Aku tidak boleh berburuk sangka kepada Mbak Indri. (Batin Melinda)
Raka tengah menghubungi dokter kulit kenalannya dan dokter tersebut sedang dalam perjalanan menuju ke rumah.
“Dokter kulit akan datang secepat mungkin,” ucap Raka pada Melinda yang terlihat tengah menggaruk-garuk.
“Iya, Mas Raka. Terima kasih,” balas Melinda.
__ADS_1
“Hei pelayan, apakah kamu sudah ingin berubah menjadi kera? Berhentilah menggaruk-garuk, karena itu akan memperparah rasa gatal,” ucap Raka yang sedikit ada rasa tak tega melihat Melinda.
Melinda mengangguk dan menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa gatal yang teramat sangat gatal.