Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 123


__ADS_3

Keesokan paginya.


Setelah kejadian Raka menciumi Melinda, wanita itu terlihat agak tak nyaman. Bahkan, ia tidak lagi menatap suaminya maupun membuka mulutnya untuk sekedar berbicara.


Perilaku Melinda terlihat sangat jelas dan membuat Raka bertanya-tanya mengapa istrinya seperti itu.


Setiap kali Raka ingin mendekat, Melinda punya cara untuk menghindari suaminya itu.


“Sayang!” panggil Raka didepan para pelayan.


Bukannya menjawab, Melinda malah pura-pura tak dengar dan terus melenggang pergi meninggalkan suaminya yang baru saja memanggil dirinya.


Melinda berjalan dan terus berjalan, hingga akhirnya ia tiba di taman halaman rumah.


“Ya ampun, kenapa aku malah terus-menerus menghindari dari Mas Raka?” tanya Melinda bermonolog.


Melinda duduk di kursi panjang dan menghela napasnya yang cukup berat.


“Sayang!” Raka tiba-tiba muncul bersama dengan Reza, asisten pribadi Raka Arafat.


Melinda terkejut dan hampir saja jatuh dari kursi yang ia duduki.


“Mas Raka,” ucap Melinda kebingungan.


Raka memberikan isyarat tangan agar asisten pribadinya itu segera pergi meninggalkan dirinya bersama Sang istri. Setelah Reza pergi, Raka pun meminta istrinya untuk mendekat padanya dan menceritakan apa yang membuat istrinya itu menghindar dan terus menghindari seorang Raka Arafat.


“Ayo, sekarang ceritakan apa yang membuat istriku selalu saja menghindarinya suaminya!” pinta Raka yang ingin mendengar penjelasan suaminya itu.


Melinda mengulum bibirnya sendiri tanpa berani menatap mata indah suaminya.


“Sayang, tidak baik diam-diam seperti ini. Ayo, ceritakan saja. Pasti ada sesuatu yang salah dariku yang membuatmu sedih,” tutur Raka sembari mengelus lembut punggung tangan Melinda.


Wajah Melinda tiba-tiba merah merona, Melinda kembali mengingat bagaimana suaminya menciumi bibirnya dengan cukup liar.


Sebenarnya bukan itu yang menjadi permasalahannya, hanya saja Melinda cukup cemburu karena dulu suaminya pasti pernah menciumi Luna, yang tak lain adalah mantan kekasih dari suaminya.


Dengan malu-malu Melinda menceritakan sekaligus mengungkapkan rasa cemburunya itu. Raka yang mendengar penjelasan istrinya nampak serius mendengarkan setiap kata demi kata yang istrinya katakan.


“Sudah selesai, sayang?” tanya Raka dengan suara yang begitu lembut.


“Sudah, Mas Raka,” jawab Melinda yang tak menambahkan kata sayang diakhiri panggilannya.


“Jadi, istriku cemburu. Wajar saja bila istriku cemburu, aku akan menjelaskannya dari hati ke hati kepadamu, istriku. Masa lalu ku bersama Luna hanyalah masa lalu, bahkan aku bisa menjamin bahwa kamu adalah cinta pertamaku,” tutur Raka.


Melinda mengernyitkan keningnya, bagaimana bisa dirinya menjadi cinta pertama suaminya, sedangkan dulu suaminya telah memiliki kekasih sebelum dirinya.


“Mas Raka bohong,” ucap Melinda yang nampak sedih dengan jawaban suaminya karena telah membohongi dirinya.


“Sayang, yang memiliki perasaan itu aku. Jadi, aku tahu yang mana hanya tertarik saja dan yang mana benar-benar cinta. Perasaanku ini benar-benar berbeda, ada satu titik dimana aku tidak dapat merasakan dari wanita-wanita yang lain. Aku berani menjamin dan bersumpah bahwa kamu adalah cinta pertama serta cinta sejati untukku, tolong percayalah,” ungkap Raka yang kini meneteskan air matanya.


Raka bersungguh-sungguh dengan ucapannya, ia berharap bahwa Melinda memahami, mengerti dan juga percaya dengan ucapannya.


Mata Melinda berkaca-kaca, ia pun percaya dengan perkataan suaminya. Tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali dicintai oleh suaminya dengan sepenuh hati.


“Kenapa masih diam? Peluk dong!” pinta Raka sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Melinda menangis terharu, dengan penuh semangat ia memeluk tubuh suaminya yang masih duduk di kursi roda.


Dari kejauhan, Sang Kakek ternyata menyaksikan keduanya dan ikut menangis terharu. Akhirnya, sepasang suami istri yang dulu ia jodohkan secara paksa, kini telah saling jatuh cinta dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.


“Raka, ayo bersiap-siaplah! 1 jam lagi kita harus berangkat ke perusahaan,” ucap Almer dari kejauhan dengan setengah berteriak.

__ADS_1


Mau tak mau Melinda melepaskan pelukannya dan terlihat jelas wajah kesal suaminya.


“Lihatlah, Kakek menang paling pintar mengganggu momen penting kita. Dasar, Kakek tua menyebalkan,” ucap Raka dengan wajah yang begitu kesal.


Melinda menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya Sang suami mengomeli Kakek kandung dari suaminya itu.


“Sayang, tidak boleh begitu. Bagaimana kalau Kakek dengar?” tanya Melinda sembari mendorong kursi roda suaminya untuk segera masuk ke dalam rumah.


“Kakek tidak akan mendengarnya,” jawab Raka dengan sangat santai.


Beberapa saat kemudian.


Melinda dan Sang suami pagi itu mau tak mau harus berpisah, karena ada pekerjaan yang harus suaminya selesaikan. Sebagai istri, Melinda mencoba memberikan perhatian terbaiknya. Seperti, membuatkan bekal untuk Sang suami tercinta.


“Sayang, aku pergi dulu. Nanti aku telpon ya setelah sampai di kantor,” ucap Raka yang terus menggenggam erat tangan Melinda.


“Mas Raka, sudah waktunya berangkat. Lihatlah, Kakek dari tadi melihat kita,” bisik Melinda karena tidak ingin di dengar oleh Sang Kakek yang saat itu sudah berada di dalam mobil dan tengah memperhatikan dirinya serta Sang suami yang belum juga masuk ke dalam mobil.


“Reza, lihatlah mereka berdua. Sepertinya, cucuku senang sekali pamer kemesraan,” ucap Almer di dalam mobil.


“Dan saya adalah korban mereka, Tuan Besar,” sahut Reza yang selama ini dianggap tidak ada jika sepasang suami istri itu sedang bermesraan di dalam mobil.


Almer tertawa lepas, sepertinya Reza harus banyak-banyak bersabar menghadapi sepasang suami istri yang sedang dimabuk asmara tersebut.


Perbincangan hangat suaminya itu berakhir sudah karena Raka harus segera pergi ke perusahaan. Raka menggerakkan tangannya, isyarat agar Reza segera keluar dari mobil dan membantu masuk ke dalam mobil.


Perlahan, mobil pun pergi meninggalkan area halaman rumah mewah tersebut.


“Baiklah, karena Mas Raka sudah pergi. Waktunya bagiku beres-beres kamar,” ucap Melinda.


Melinda sendiri, lebih suka jika ia yang membersihkan kamar seorang diri tanpa dibantu oleh seorang pelayan pun.


“Nona Muda, mau kami buatkan apa?” tanya salah satu pelayan menghampiri Melinda yang akan masuk ke dalam lift.


Dengan senyum manisnya, Melinda masuk ke dalam lift.


Pelayan itu nampak sangat senang ketika melihat Nona Mudanya tersenyum padanya.


Disaat yang bersamaan, Ratna sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Arafat. Beberapa hari yang lalu, Ratna sudah membuat janji untuk bertemu dengan Melinda.


“Semoga Melinda suka dengan kue bolu kukus yang aku buat ini,” ucap Ratna yang saat itu sedang berada diatas motor.


Sekitar 1 km lagi, Ratna akan tiba di depan rumah mewah keluarga Arafat.


Melinda sudah berada di dalam kamar, langkah pertama yang ia ambil adalah membereskan almari pakaiannya dan pakaian Sang suami tercinta.


Melinda sama sekali tidak melihat ponselnya, makanya ia tidak tahu bahwa Ratna sahabatnya itu sedang dalam perjalanan menemui dirinya.


“Sebenarnya pakaian-pakaian ini sudah rapi. Tapi, harus lebih rapi lagi,” ucap Melinda bermonolog.


Sekitar 5 menit kemudian, Melinda dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Melinda pun bergegas membuka pintu kamarnya.


“Iya, Mbak. Ada apa?” tanya Melinda penasaran.


“Begini, Nona Muda. Di depan ada Mbak Ratna,” jawab si pelayan.


“Benarkah? Ya ampun, tolong bilang kepada Ratna untuk menunggu saya. Ok!”


“Baik, Nona Muda!”


Melinda menutup kembali pintu kamarnya dan menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Kemudian, Melinda berlari keluar dari kamar untuk segera menemui sahabatnya itu.

__ADS_1


“Ratna!” Melinda berlari menghampiri Ratna dengan penuh semangat.


“Melinda!” Ratna tak kalah bersemangatnya, ia begitu senang melihat sahabatnya.


“Kamu apa kabar?” tanya Melinda penasaran.


“Alhamdulillah, aku sangat baik. Melihatmu seperti ini, kamu terlihat sangat bahagia. Sepertinya Tuan Raka memperlakukanku dengan sangat baik,” ucap Ratna menggoda sahabatnya itu.


“Kamu ini bisa saja? Oya, kamu mau minum apa?” tanya Melinda menawarkan minuman untuk Ratna.


“Terserah kamu saja, aku datang kesini hanya ingin bertemu denganmu dan memberikanmu ini,” tutur Ratna dan memberikan sebuah kotak putih berukuran cukup besar untuk sahabatnya.


Melinda menerima kotak tersebut dan dengan senyum lebarnya, Melinda tahu bahwa itu adalah bolu kukus buatan sahabatnya.


“Ya ampun, kamu masih ingat kesukaanku? Terima kasih banyak Ratna, bolu kukus buatan mu pasti sangat enak,” puji Melinda.


“Ah, itu bukan apa-apa. Kedatanganku kesini adalah untuk menemui mu sekaligus berterima kasih kepadamu serta Tuan Raka. Berkat kalian, rumahku yang kumuh kini menjadi sangat bagus dan layak pakai,” pungkas Ratna dengan mata berkaca-kaca.


“Ratna, kamu yang semangat ya. Aku dan suamiku sangat senang karena diberikan rezeki untuk membantumu. Oya, kamu sekarang kerja dimana? Bagaimana kalau kamu kerja di perusahaannya suamiku?” tanya Melinda barangkali Ratna tertarik untuk bekerja di perusahaan.


Ratna menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia menolak.


“Melinda, kamu tahu sendiri bahwa aku tidaklah pintar. Lagipula, aku ingin bekerja yang kerjanya lebih santai. Contohnya saja, seperti berjualan pakaian atau sejenisnya,” tutur Ratna.


“Ratna, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Akan tetapi, aku tahu gaji di toko tidaklah cukup memenuhi kebutuhan kamu,” ujar Melinda dengan sangat hati-hati karena tak ingin membuat sahabatnya itu tersinggung atas perkataannya yang kurang berkenan di hati Ratna.


“Ya ampun Melinda, kamu kok bicara begitu? Aku sama sekali tidak tersinggung, justru aku senang mempunyai sahabat sepertimu,” balas Ratna.


Melinda memanggil salah satu pelayan dan meminta pelayan itu untuk menyiapkan cemilan serta minuman.


Disisi lain.


Indri terbangun dari tidurnya dengan penuh semangat. Wanita itu sangat senang karena ia memiliki uang yang sangat banyak.


Indri berjalan menuju balkon kamarnya dan menyapa dunia dengan sangat gembira.


“Selamat pagi dunia!” Indri berteriak keras menyapa dunia.


Indri memandangi padatnya kota Jakarta, wanita itu tak sabar ingin membelanjakan uangnya itu.


“Ok, jadwalku hari ini adalah belanja tas bermerk berkualitas tinggi. Setelah itu, aku makan di restoran bintang lima. Atau begini saja, lebih baik aku makan terlebih dahulu setelah itu aku shoping,” tutur Indri yang berusaha keras memikirkan jadwalnya hari itu.


Setelah cukup berada di balkon kamar, Indri memutuskan untuk segera menghubungi salah satu pria yang semalam tak sengaja menabraknya ketika ingin masuk ke dalam lift hotel.


Pria yang menurut Indri adalah pria yang sangat tampan dan juga kaya raya.


“Aku menghubungi Donny sekarang atau nanti ya? Begini saja, sebaiknya aku pura-pura jual mahal dan cuek saja. Kalau aku bertingkah begitu, pasti Donny tertarik padaku,” ujar Indri dengan tersenyum licik.


Indri sangat yakin, meskipun ia dan Donny baru saja bertemu. Keduanya pasti akan berjodoh, dikarenakan Indri merasa dirinya cantik dan wanita cantik sepertinya pasti akan membuat Donny tertarik padanya.


Bel kamar berbunyi, membuat Indri terheran-heran. Karena ia tidak memesan makanan, ia pun mengintip dari celah kamar dan betapa senangnya Indri ketika tahu bahwa itu adalah Donny.


Indri membuka pintu kamarnya dan menyapa Donny.


“Hai, Kak Donny. Selamat pagi!” Indri menyapa pria tinggi dihadapannya.


“Ada rencana siang ini? Aku ingin mengajakmu menemaniku bermain dengan putriku,” ucap Donny pada Indri.


Apa? Jangan bilang kalau pria ini telah memiliki anak? Tidak. Aku tidak bisa menyukai pria yang sudah memiliki anak. (Batin Indri)


“Wah, sepertinya saya tidak bisa. Maaf ya,” balas Indri dan menutup pintu kamarnya dengan gerakan cepat.

__ADS_1


Senyum Indri yang bahagia seketika itu sirna setelah mengetahui bahwa Donny telah memiliki anak.


Sialan, ternyata sudah punya anak. (Batin Indri)


__ADS_2