Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 145


__ADS_3

Raka tersenyum lebar begitu juga dengan Melinda. Keduanya sangat bahagia hingga tak bisa berkata-kata setelah mendengar penjelasan dari dokter. Kemungkinan besar mereka bisa memiliki bayi kembar jika mengikuti prosedur yang telah dokter kandungan itu katakan.


Terlebih lagi, Raka harus banyak mengonsumsi sayuran, buah-buahan serta vitamin. Yang paling penting, Raka tidak boleh merokok, minum alkohol, begadang ataupun kelelahan karena itu dapat mempengaruhi sperm* milik Raka.


“Ayo sayang, kita harus semangat,” ucap Raka yang sangat antusias untuk program bayi kembar.


“Iya sayang, kita harus semangat!” seru Melinda.


Keduanya saling melempar senyum dan masuk ke dalam mobil.


“Reza, bawa kami ke pasar!” perintah Raka pada asisten pribadinya.


Reza pun mengiyakan dan bergegas pergi mengemudikan mobil menuju pasar sayur.


🌷


Malam hari.


Melinda baru saja mendapatkan pesan dari sahabatnya bahwa Sang sahabat akan menikah besok pagi. Melinda tentu saja sangat terkejut mendengar kabar bahagia tersebut.


“Ada apa sayang?” tanya Raka penasaran.


Melinda menangis terharu setelah membaca teks tersebut.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Raka panik.


Raka berpikir bahwa isi pesan yang diterima oleh istrinya adalah pesan yang berisi ancaman.


“Apakah ada yang mengancam istriku? Sini aku lihat,” ucap Raka yang nampak panik.


Melinda menggelengkan kepalanya, ia pun menangis terharu didalam dekapan hangat suaminya.


“Ratna akhirnya mendapatkan jodoh dan besok pagi akan menikah, sayangku. Ratna memintaku untuk mendoakan kebahagiaan Ratna dan calon suaminya,” pungkas Melinda


“Alhamdulillah, aku kira ada apa. Akhirnya sahabat dari istriku mendapatkan jodoh juga,” balas Raka.


Melinda menghapus air matanya dan melepaskan dekapannya.


“Ratna pasti sangat bahagia,” ujar melinda yang ikut bahagia karena akhirnya Ratna akan melepas masa lajangnya.


“Oh tentu saja, istriku. Ayo, giliran kita yang harus bahagia,” bisik Raka mengajak istrinya untuk melakukan hubungan intim.


Melinda dengan malu-malu mengiyakan ajakan suaminya itu.


Raka tersenyum lebar dan bergegas merapikan tempat tidur mereka berdua.

__ADS_1


Keesokan paginya.


Raka dengan semangat menikmati tauge mentah sebagai lalapan untuknya. Melinda tertawa kecil melihat suaminya begitu semangat menikmati tauge mentah tersebut.


“Enak sayang?” tanya Melinda penasaran.


“Tentu saja enak sayangku, aku bahkan bisa menghabiskan sekilo tauge mentah ini,” balas Raka setengah bergurau.


Melinda tertawa lepas ketika melihat ekspresi wajah suaminya yang tak sesuai dengan apa yang suaminya katakan.


“Boleh, kalau memang suamiku kuat menghabiskannya,” balas Melinda dan ikut menikmati tauge mentah tersebut.


“Sayang, besok rebus ubi-ubian ya!” pinta Raka.


“Siap sayang, besok kita akan makan ubi-ubian mengikuti saran dari dokter,” balas Melinda.


Raka menoleh kearah jam tangan miliknya dan kurang dari 2 jam waktu sholat Jum'at akan tiba.


Disaat yang bersamaan, Kakek Almer berjalan dengan perlahan menghampiri sepasang suami istri yang sedang berada di area kolam renang.


“Kalian disini ternyata,” ujar Almer yang saat itu berjalan dengan didampingi dua pelayan. Untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


“Kakek nanti sholat Jum'at?” tanya Raka pada Sang Kakek yang sudah duduk tepat disampingnya.


“Ya tentu saja, Kakek masih sehat dan sholat Jum'at itu wajib untuk kita,” balas Almer dan tak sengaja melirik ke arah tauge mentah yang sedang dimakan oleh Raka maupun Melinda.


Kakek Almer saat itu juga menggelengkan kepalanya.


“Kalian saja yang makan, Kakek sudah puas makan tauge,” balas Almer kepada Raka.


Raka mengangguk kecil dan kembali menikmati tauge mentah tersebut.


Reza tiba-tiba datang menghampiri Raka sembari menyerahkan beberapa berkas yang harus Raka periksa saat itu juga.


“Reza, bawa berkas-berkas ini ke ruangan ku. Aku akan menyusul!” perintah Raka.


Reza mengiyakan dan mengambil berkas yang sudah ia letakkan di atas meja tersebut. Kemudian, melenggang pergi menuju ruang kerja Tuan Mudanya.


“Sayang, aku ke ruang kerja dulu ya. Kalau sudah selesai, aku akan datang padamu,” ucap Raka dan mencium kening istrinya di depan Kakek Almer serta dua pelayan wanita.


Melinda tersenyum canggung sembari memperhatikan punggung suaminya yang perlahan menjauh.


“Melihat kalian berdua mesra seperti tadi membuat Kakek bahagia. Semoga keinginan kalian berdua segera terwujud,” tutur Almer pada Melinda.


Melinda mengaminkan apa yang Almer katakan. Bagi Melinda itu adalah do'a yang akan membuat semuanya segera terwujud.

__ADS_1


Raka memasuki ruang kerjanya dan mulai memeriksa satu-persatu berkas yang dibawa oleh Asisten pribadinya. Raka memeriksa dengan sangat hati-hati dan juga detail. Tidak ada satupun yang Raka lewatkan karena itu akan berakibat fatal.


“Datanglah ke bibi dan katakan bahwa aku ingin makan sayur bening dengan tambahan tauge!” perintah Raka.


“Sekarang, Tuan Muda?” tanya Reza.


“Ya sekarang, kamu kira tahun depan?” tanya Raka terheran-heran.


“Baik, Tuan Muda. Saya permisi,” balas Reza dan melenggang pergi menghampiri pelayan untuk menyampaikan apa yang Tuan Mudanya inginkan.


Melinda memutuskan untuk menunggu suaminya di dalam kamar sembari menyiapkan pakaian yang akan suaminya gunakan untuk melaksanakan ibadah sholat Jum'at berjama’ah di masjid.


“Warna abu-abu ini cukup bagus bila dikenakan oleh Mas Raka,” ujar Melinda.


Melinda tersenyum dan perlahan menyetrika pakaian yang akan suaminya kenakan tersebut.


“Sudah rapi, waktunya untuk berisitirahat sejenak,” tutur Melinda.


Melinda merebahkan tubuhnya di tempat tidur sembari merenggangkan ototnya yang terasa pegal. Perlahan Melinda memejamkan matanya dan akhirnya terlelap.


Sekitar 30 menit kemudian, Raka masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang telah terlelap.


Saat Raka ingin naik ke tempat tidur, Melinda terkesiap dan hampir memukul kepala suaminya.


“Maaf sayang,” ucap Melinda yang tak jadi memukul kepala suaminya itu.


“Sayang, apakah kamu bermimpi buruk?” tanya Raka.


Melinda menggelengkan kepalanya dan menarik suaminya hingga jatuh tepat diatas tubuh Melinda.


“Apakah istriku sungguh tidak sabar menunggu nanti malam?” tanya Raka membuat pipi Melinda merah merona.


Melinda mendorong suaminya dengan malu-malu.


Saat Raka ingin mendekap tubuh istrinya, pintu kamar tiba-tiba diketuk dari luar.


Raka cukup kesal dan bergegas pergi untuk membuka pintu kamarnya.


“Maaf, Tuan Muda. Ini sayur bening dengan tambahan tauge yang Tuan Muda inginkan,” ucap pelayan dengan membawa mangkuk berisi sayur bening dengan tambahan tauge.


Raka yang ingin marah, seketika itu mereda. Ia tersenyum kecil dan mengambil mangkuk tersebut. Kemudian, menutup pintu rapat-rapat tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“Sayang, seharusnya mengucapkan terima kasih sebelum menutup pintu,” tutur Melinda mengingatkan suaminya untuk selalu mengucapkan terima kasih.


“Iya sayang, lain kali aku akan mengucapkan terima kasih,” balas Raka sembari berjalan ke arah meja dan meletakkan mangkuk tersebut ke atas meja.

__ADS_1


“Wah, sepertinya enak. Aku boleh mencobanya?” tanya Melinda penasaran.


“Tentu saja sayangku, ini untuk kita berdua,” jawab Raka dan mencium sekilas bibir ranum Melinda.


__ADS_2