
Selama film ditayangkan, Melinda terlihat sangat serius menghayati film tersebut. Sementara Raka, sesekali memandangi wajah Melinda yang nampak sangat serius.
Melinda menoleh ke arah suaminya dan saat itu juga Raka berpaling muka karena tidak ingin ketahuan oleh istrinya.
Melinda tak tahu soal itu dan kembali melahap popcorn dengan rasa manis.
Reza tak terlalu suka dengan film yang beradegan romantis. Ia pun memilih untuk tidur sejenak karena suasana yang cukup tenang selama film itu ditayangkan.
“Hiks... Hiks...” Melinda menangis karena terlalu menghayati adegan sedih di film itu dan membuat Raka terheran-heran dengan sikap istrinya yang mudah sekali menangis.
Raka mengeluarkan sapu tangannya dan memberikan sapu tangan itu kepada istrinya.
“Jangan cengeng, cepat hapus air matamu itu. Aku tidak ingin bila orang lain mengira aku yang membuatmu menangis,” tutur Raka berbisik ditelinga istrinya.
Melinda mengambil sapu tangan suaminya dan menghapus air matanya. Kemudian, ia memeluk lengan suaminya dan bersandar di bahu suaminya itu.
Raka tertegun sejenak dan ingin segera menjauhkan Melinda yang menyentuh tubuhnya. Akan tetapi, ketika melihat disekitar tempat ia duduk, kebanyakan para pasangan disana juga melakukan hal serupa.
Raka pun pasrah dengan apa yang Melinda lakukan, sementara itu Reza masih terlelap dalam tidurnya.
🌷
Melinda, Raka dan Reza akhirnya keluar dari gedung bioskop karena film yang berdurasi 1 jam lebih itu akhirnya berakhir.
“Mas Raka, bagaimana menurut Mas Raka dengan film yang kita tonton tadi?” tanya Melinda yang penasaran dengan pendapat suaminya.
“Biasa saja,” jawab Raka yang tak sepenuhnya menikmati film romantis tersebut.
Reza tidak perlu ditanya, sudah jelas ia tidak tahu alur cerita dari film itu. Dikarenakan selama film ditayangkan, pria itu malah terlelap dalam tidur.
“Menurut saya, filmnya cukup bagus. Apalagi ketika tokoh utama pria berhasil melewati masa kritisnya dan bersatu dengan tokoh utama wanita,” terang Melinda mengutarakan pendapatnya.
“Terserah kamu saja,” balas Raka singkat.
Mereka berjalan dan terus berjalan, sampai akhirnya mereka sudah berada di area parkir. Melinda pun masuk ke dalam mobil dan disusul oleh suaminya dengan dibantu oleh asisten pribadi suaminya.
“Tuan Muda, apakah kita langsung pulang?” tanya Reza pada Tuan Mudanya.
“Kau tanyakan saja pada wanita yang duduk di sebelahku. Barangkali ada tempat yang ingin dia kunjungi,” jawab Raka tanpa menoleh ke arah Melinda.
Melinda tersenyum dan kembali memeluk erat lengan suaminya.
Raka yang belum terbiasa dengan hubungan mereka, saat itu juga meminta Melinda untuk melepaskan pelukannya.
“Lepaskan, aku tidak ingin disentuh oleh sembarangan orang!” perintah Raka dingin.
Melinda menggelengkan kepalanya menolak perintah dari suaminya itu.
“Apakah saya adalah sembarangan orang? Bagaimanapun, saya adalah istri Mas Raka,” balas Melinda dengan sangat santai.
“Reza, pulang sekarang juga!” perintah Raka yang ingin segera sampai di rumah.
“Baik, Tuan Muda!” seru Reza dan mulai mengendarai mobil meninggalkan area parkir.
Melinda begitu menempel pada suaminya dengan sangat erat. Meskipun begitu, Raka sangat tak suka dengan sikap Melinda yang tiba-tiba seperti itu.
“Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan dari tadi? Cepat lepaskan pelukanmu itu!” perintah Raka.
__ADS_1
Melinda pun melepaskan pelukannya itu. Kemudian, Melinda menggenggam erat jemari tangan suaminya seperti yang biasanya ia lakukan.
“Bagaimana kalau seperti ini? Apakah Mas Raka juga tidak suka?” tanya Melinda penasaran.
Kali ini Raka hanya diam, dengan kata lain Raka tak mempermasalahkan dengan apa yang Melinda lakukan saat itu.
Melinda mulai mengantuk, ia pun memutuskan untuk tidur di dalam mobil selagi masih berada di jalan. Bila sudah sampai rumah, Melinda akan sulit sekali untuk tidur.
Melinda memejamkan matanya dan tak butuh waktu lama, Melinda pun tertidur. Lagi-lagi kepala Melinda bersandar di bahu suaminya dan Raka pun tak mempermasalahkan hal tersebut.
🌷
Almer menyambut kedatangan cucu dan cucu menantunya yang baru pulang dari pergi menonton film di bioskop.
“Kalian sudah pulang, bagaimana dengan film yang kalian tonton? Apakah bagus?” tanya Almer penasaran.
“Oh, tentu saja sangat bagus, Kakek,” jawab Raka dengan tersenyum lebar.
Melinda memanyunkan bibirnya ketika melihat ekspresi wajah suaminya.
“Iya Kakek, film yang kami tonton sangat bagus. Bahkan, Mas Raka berulang kali memuji akting pemeran utama,” pungkas Melinda.
“Benarkah? Apa mungkin sebaiknya Kakek juga harus menonton?” Almer tertawa lepas sembari membayangkan bagaimana ia masuk ke dalam bioskop yang kebanyakan adalah muda-mudi.
“Kakek bisa saja,” sahut Melinda yang ikut tertawa.
Raka menatap heran Kakek dan istrinya yang sangat heboh.
“Reza, lebih baik kau pulang sekarang. Aku tidak ingin kau ikut gilanya dengan mereka,” ujar Raka pada asisten pribadinya.
“Baik, Tuan Muda. Saya permisi dan besok seperti biasa, sebelum jam 6 saya sudah berada disini,” pungkas Reza.
“Kakek, kami ingin istirahat,” ujar Raka yang ingin segera pergi ke kamarnya dan tidak ingin berlama-lama dekat dengan Kakeknya itu.
Jika terus dekat dengan Kakeknya, Raka takut jika Kakeknya itu bertanya banyak hal atau mungkin membahas masalah cicit yang sedang dinanti-nanti oleh Kakeknya itu.
“Pergilah, kalian pasti sangat lelah dan ingin segera beristirahat,” sahut Almer.
Sesampainya di dalam kamar, Melinda membantu suaminya melepaskan sepatu serta membantu suaminya berganti pakaian. Melinda telah terbiasa dengan hal yang ia lakukan untuk suaminya.
“Mas Raka mau pakai piyama?” tanya Melinda sembari membuka almari pakaian suaminya.
“Piyama saja,” jawab Raka singkat.
Melinda mengambil piyama berwarna cokelat muda dan membantu suaminya mengenakan piyama tersebut.
Setelah itu, Melinda membantu suaminya naik ke tempat tidur.
“Tunggu, ayo bawa aku ke kursi lagi!” pinta Raka yang sudah di tempat tidur.
“Haa? Mas Raka mau kemana?” tanya Melinda dengan napas terengah-engah.
“Aku mau buang air kecil, apa kamu tidak kuat membantuku turun dari tempat tidur?” tanya Raka dengan alis terangkat.
Mata Melinda terbuka lebar dan membantu suaminya turun dari tempat tidur.
“Kenapa Mas Raka tidak bilang sekalian?” tanya Melinda yang sedikit lelah karena harus membantu suaminya naik dan turun tempat tidur.
__ADS_1
Raka tertawa dalam hatinya, ia senang ketika melihat ekspresi wajah Melinda yang berusaha menahan berat badannya.
“Apakah aku harus mengurangi berat badanku?” tanya Raka ketika mendengar napas terengah-engah Melinda.
“Mas Raka tidak perlu melakukannya. Sepertinya saya lah yang kurang olahraga. Besok pagi saya akan olahraga agar tidak mudah lelah seperti ini,” terang Melinda yang tidak ingin bila suaminya harus menurunkan berat badan, terlebih lagi tubuh suaminya sudah sangat sempurna untuk ukuran seorang pria yang lumpuh.
“Kenapa aku tidak boleh melakukan diet?” tanya Raka penasaran dengan apa yang ada dipikiran istrinya. “Apa karena aku pria lumpuh?” tanya Raka lagi.
“Mas Raka kenapa berkata seperti itu? Mas Raka tidak perlu diet, karena tubuh Mas raka sudah sangat sempurna. Bahkan, saya mengagumi bentuk perut sixpack milik Mas Raka,” jawab Melinda dengan wajah merah merona seperti tomat segar.
Raka melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya.
“Apa katamu? Bagaimana bisa kamu memuji perutku. Itu artinya, kamu sering melihat perutku ini?” tanya Raka dengan ekspresi yang sangat terkejut.
“Bagaimana saya tidak melihatnya, kalau hampir setiap hari saya lah yang membantu Mas Raka mengenakan pakaian. Apakah perkataan saya ini salah?” tanya Melinda dengan menutup setengah wajahnya yang terasa panas karena saking malunya membicarakan hal yang menurutnya sangat vulg*r.
Raka menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tiba-tiba gatal, bagaimanapun ia tidak bisa mengelak dengan apa yang Melinda katakan.
“Baiklah, apa yang kamu katakan memanglah fakta. Akan tetapi, lain kali jangan lagi memandangi perutku atau bagian tubuhku yang lainnya. Tugasmu hanyalah membantuku memakaikan pakaian,” tegas Raka dan mengerakkan kursi rodanya menuju kamar mandi.
Melinda menutup seluruh wajahnya rapat-rapat dan ketika suaminya sudah masuk ke dalam kamar mandi, barulah Melinda menjauhkan tangan dari wajahnya.
“Hufftt... Sepertinya Mas Raka akan mengira aku adalah wanita mesum. Akan tetapi, aku mengatakan yang sebenarnya,” ucap Melinda dan bergegas mengganti pakaiannya serta menghapus sisa-sisa make up di wajahnya itu.
Raka keluar dari kamar mandi dan tak sengaja melihat punggung polos istrinya yang ingin mengenakan pakaian.
Raka cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan ketika Melinda berbalik, rupanya sang suami sudah keluar dari kamar mandi.
“Aaaaaaa!” Melinda berteriak dan bersembunyi di balik almari. “Mas Raka kenapa mengintip?” tanya Melinda seakan-akan dirinya telah ternodai.
“Siapa yang mengintip. Lagipula aku tidak melihat apapun, kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak kepada ku,” sahut Raka.
“Benarkah?” tanya Melinda memastikan sembari menggenakan pakaiannya.
“Kenapa? Kamu kecewa karena aku tidak sempat melihatmu yang sedang berganti pakaian?” tanya Raka yang masih membelakangi Melinda.
Melinda yang telah menggenakan pakaiannya saat itu juga menghampiri suaminya dan mencubit pelan pipi suaminya.
Raka terkejut dan menyentuh pipinya yang baru saja dicubit oleh Melinda.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Raka kebingungan.
Melinda hanya menatap kesal suaminya dan masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.
Raka mengedipkan matanya berulang kali dan menekan tombol di kursi rodanya sehingga kursi rodanya itu bergerak ke arah yang Raka inginkan.
Di dalam kamar mandi, Melinda terlihat sangat malu. Ia membasuh wajahnya berulang kali berpikir agar rasa malunya itu segera pergi.
“Malu, gugup dan juga kesal bercampur menjadi satu. Mas Raka benar-benar menyebalkan,” tutur Melinda.
Melinda terlihat mulai santai dengan suaminya. Kemungkinan, karena sudah mulai berbicara satu sama lain dan terlihat tidak ada jarak lagi seperti yang sebelumnya. Akan tetapi, Melinda belum tahu apa suaminya sudah jatuh cinta padanya ataukah belum.
Aku tidak tahu, apakah perasaan suka ku kepada Mas Raka akan semakin bertambah ataukah berkurang. Yang aku tahu, bahwa jatuh cinta padanya bukanlah kesalahan. (Batin Melinda)
Melinda yang telah selesai membersihkan wajahnya, memutuskan untuk segera keluar dari kamar mandi. Ketika Melinda melihat suaminya, ternyata suaminya itu sudah berada di tempat tidur dan telah terlelap.
Mas Raka kuat sekali, bisa naik ke tempat tidur tanpa bantuan ku. (Batin Melinda)
__ADS_1
Melinda menggerai rambut panjangnya dan bergegas naik ke sofa untuk segera tidur.