Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 127


__ADS_3

Disaat yang bersamaan, Indri sedang berada disebuah restoran yang cukup terkenal di kota Jakarta. Terlihat jelas bahwa Indri sedang mengadakan acara makan siang bersama dengan teman-temannya yang entah dari mana asalnya.


“Wah, baru beberapa hari ketemu saja kamu sudah mentraktir kami. Sepertinya kamu sangat kaya,” puji salah satu dari mereka yang semeja dengan Indri.


Indri tersenyum sombong, wanita itu sangat senang mendengar dirinya dipuji.


“Oh, tentu saja. Orang tuaku memiliki perusahaan diluar negeri dan sehari-hari pekerjaanku adalah menghabiskan uang,” pungkas Indri yang membanggakan dirinya.


“Wah, kami semua iri padamu,” ucap mereka secara bersamaan.


Aku tetap harus terlihat kaya dihadapan mereka. Rasanya aku sangat ingin pamer kekayaan kepada wanita kampungan itu. (Batin Indri)


Meskipun Indri telah hengkang dari keluarga Arafat. Tetap saja, ia masih membenci sosok Melinda. Bahkan, Indri ingin sekali mempermalukan Melinda di depan orang banyak.


Setelah makan, Indri memutuskan untuk kembali ke hotel. Ia butuh istirahat karena beberapa hari terakhir ia tidak bisa tidur nyenyak.


“Mau kami antar?” tanya seorang wanita salah satu dari mereka.


“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Sopirku akan segera datang dan membawaku pulang ke hotel,” jawab Indri yang nampak seperti seorang Nona yang bergelimang harta.


“Baiklah, kalau kamu ingin party lagi jangan lupa beritahu kami, okay!”


“Siap, kalian tenang saja!” seru Indri.


Ketika mereka semua sudah pergi, Indri memutuskan untuk naik taksi. Lagipula, ia tidak memiliki sopir pribadi. Lebih-lebih keluarga kaya, toh dari dulu ia terlahir miskin dan sampai detik ini Indri masih tidak ingin menemui orang tua kandungnya di kampung.


“Aku benar-benar harus istirahat, mataku rasanya sangat pedih dan harus segera tidur,” ucap Indri bermonolog.


Ketika ada taksi lewat, Indri dengan sigap menggerakkan tangannya untuk menghentikan taksi yang sedang melaju ke arahnya. Taksi itupun berhenti dan Indri buru-buru masuk ke dalam keadaan tersebut.


“Pak, cepat bawa aku ke hotel!” perintah Indri dan menyebutkan nama hotel yang menjadi tempat tinggalnya untuk sementara waktu.


Indri membuka ponselnya dan melihat banyaknya pesan yang ia terima. Akan tetapi, Indri tidak niat untuk membukanya.


Sore hari.


Melinda terus menemani Sang Kakek di rumah sakit. Melinda bertindak layaknya seorang cucu kandung bagi Kakek tua itu.


Apa yang Melinda lakukan, membuat Kakek tua itu tersentuh. Ia sama sekali tidak menyesal menikahkan Melinda dengan cucu kandungnya, Raka.


“Kakek, kenapa melihat Melinda terus? Kakek harus tidur, bukankah Kakek dengar apa yang dokter katakan? Penyakit jantung Kakek kumat dan Kakek harus memperbanyak istirahat,” pungkas Melinda.


Almer hanya mengangguk memberi isyarat bahwa ia mengerti maksud Melinda.


“Kakek, apakah Mas Raka harus diberitahu mengenai kondisi Kakek?” tanya Melinda.


“Jangan, Kakek tidak ingin membuat Raka kepikiran. Ada yang harus Raka selesaikan disana,” balas Almer dengan suara yang terdengar agak mengecil.


“Baik, Kek. Kalau itu keinginan Kakek, Melinda tidak akan memaksa. Sekarang Kakek tidur ya. Melinda akan terus disini, menemani Kakek,” ujar Melinda yang ingin terus berada di rumah sakit, menemani Kakek Almer.


“Jangan, Cucu menantu. Lebih baik Cucu menantu tidur saja di rumah, Kakek tidak ingin bila merepotkan Cucu menantu.”


Meskipun sakit, beliau tetap mengkhawatirkan kondisi kesehatan Melinda. Hal tersebut, membuat Melinda terharu karena Sang Kakek begitu menyayangi dirinya.

__ADS_1


“Kakek, biarkan Melinda tetap disini ya Kek. Melinda ingin menemani Kakek disini, tolong kabulkan permintaan Melinda ini ya Kek,” pinta Melinda setengah memohon.


“Baiklah, kalau memang itu yang Cucu menantu inginkan. Kakek tidur dulu ya,” ujar Almer dan perlahan memejamkan matanya.


Karena tak ingin mengganggu istirahat Beliau, Melinda memilih untuk duduk diluar ruangan.


Baru saja Melinda keluar dari ruang rawat Almer, Ratna ternyata sudah ada di depan pintu.


“Ratna, kamu kenapa disini?” tanya Melinda setengah terkejut


“Bagaimana aku diam saja ketika tahu bahwa Tuan Beda sedang dirawat,” jawab Ratna yang tak bisa diam saja setelah pesan singkat yang Melinda kirim padanya.


“Ratna, aku hanya memintamu untuk mendo’akan Kakek. Aku bukannya tidak ingin kamu datang, aku tidak ingin merepotkan kamu,” pungkas Melinda.


“Kamu tidak perlu merasa tidak enakan begitu, Melinda. Tuan Besar sudah sangat baik padaku dan jika aku tidak datang, Tuan Besar akan mengira bahwa aku manusia yang tidak tahu terima kasih,” terang Ratna.


“Ya Allah, Ratna. Kamu kenapa berpikiran seperti itu? Kakek bukan orang yang seperti itu,” jelas Melinda sehalus mungkin.


“Maaf, aku tidak bermaksud berbicara seperti itu Melinda. Maaf, aku menyesal,” tutur Ratna.


“Ratna, kamu tidak perlu meminta maaf. Sekarang kamu duduklah disini bersamaku, sekarang Kakek sedang tidur. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu terlihat sangat kelelahan,” ujar Melinda ketika melihat wajah Ratna yang cukup pucat.


“Melinda, sebenarnya aku datang kesini ingin menjenguk Tuan Besar sekalian aku ingin pamit padamu,” terang Ratna.


“Ratna, panggil lah Kakek Almer dengan sebutan Kakek. Bukankah Kakek sudah memintamu untuk memanggil beliau dengan panggilan Kakek? Dan lagi, maksud kamu pamit itu apa? Kamu ingin kemana, Ratna?” tanya Melinda penasaran.


“Begini Melinda, aku untuk beberapa bulan ke depan ingin tinggal sementara waktu di tempat kelahiran nenekku. Ternyata, aku masih memiliki saudara di kampung. Rasanya, aku sangat senang karena ternyata aku masih memiliki keluarga,” ungkap Ratna.


“Dipulau sumatera, Melinda. Lebih tepatnya di Aceh,” jawab Ratna.


“Aceh? Wah, ternyata kamu memiliki saudara di serambi Mekkah. Aku iri jadinya, Oya kamu belum juga menjawab pertanyaan ku. Kapan kamu akan kesana?” tanya Melinda.


“Insya Allah lusa aku berangkat, kamu tidak apa-apa,'kan?”


“Secepat itu? Lalu, bagaimana dengan rumahmu? Kamu tidak perlu merasa tidak enakan padaku, Ratna. Kalau kamu bahagia aku juga bahagia, akhirnya aku memiliki keluarga,” pungkas Melinda.


“Soal rumah, untuk sementara waktu aku sewakan. Ya hitung-hitung ada yang menghuni rumahku, daripada aku tinggalkan begitu saja.”


Sekitar 1 jam keduanya berbincang-bincang, sampai akhirnya seorang dokter pria datang untuk memeriksa kondisi Sang Kakek.


Melinda perlahan mulai tak tenang, ia berharap Kakeknya itu bisa segera sembuh.


“Melinda, apakah Tuan Raka tahu mengenai kondisi Kakek?” tanya Ratna penasaran.


“Mas Raka sama sekali tidak tahu, Ratna. Kakek melarang ku untuk memberitahukan Mas Raka. Sebagai cucu, aku tidak bisa menentang keputusan Kakek. Yang terpenting sekarang adalah Kakek cepat sembuh dan Mas tak bisa segera menyelesaikan pekerjaannya di Eropa. Aku sebenarnya tidak bisa berjauhan dengan Mas Raka,” terang Melinda menunduk sedih.


Ratna sebagai sahabat berusaha untuk terus menyemangati Melinda yang tengah dilanda kesedihan. Ya begitulah fungsi dari sahabat, saling menyemangati satu sama lain ketika salah satu dari mereka memiliki masalah.


Dokter pria itu akhirnya keluar dari ruang rawat Kakek, Melinda pun bergegas bertanya mengenai kondisi terbaru Sang Kakek.


Setelah berbincang-bincang dengan Dokter tersebut, Melinda cukup sedih karena ternyata umur Kakek tidak lama lagi. Hal itu membuat Melinda menangis histeris, Melinda tidak sanggup jika kehilangan sosok Kakek yang sudah dianggap seperti Kakek kandung Melinda. Bahkan, dari Beliau Melinda merasakan kasih sayang yang benar-benar tulus.


Ratna yang mendengar penjelasan tersebut, ikut menangis histeris. Keduanya menangis dengan saling berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


Malam hari.


Melinda dan Ratna baru saja selesai sholat isya berjamaah di masjid yang kebetulan cukup dekat dengan rumah sakit. Setelah melaksanakan sholat isya, keduanya berjalan kaki menuju rumah sakit.


“Kalian darimana?” tanya Almer ketika melihat Melinda dan Ratna yang baru memasuki ruangannya.


“Kami dari masjid, Kek. Bagaimana keadaan Kakek sekarang? Apakah dada Kakek masih sesak?” tanya Melinda dengan bibir bergetar.


Melinda berusaha sebaik mungkin tersenyum di depan Sang Kakek. Meskipun, dalam hatinya Melinda menangis karena tak sanggup melihat wajah tua dari Kakek Almer.


“Ada apa, Cucu menantu? Kenapa sedih? Apakah usia Kakek tidak akan lama lagi?” tanya Almer dan tersenyum dengan tatapan penuh kehangatan.


“Kakek, kenapa Kakek berkata seperti itu? Kata dokter Kakek sebentar lagi Kakek boleh pulang. Kenapa Kakek bicara yang tidak-tidak?” tanya Melinda.


Air mata Melinda tak mampu dibendung lagi, ia menangis histeris dan berlari keluar dari ruangan tersebut.


Ratna yang melihat sahabatnya berlari keluar, akhirnya menyusul untuk membawa Melinda masuk kembali ke dalam ruang rawat Kakek Almer.


“Melinda, kamu tidak boleh seperti ini. Kakek akan semakin sedih melihat kamu menangis dan berlari keluar, ayo kita masuk lagi!” Ratna menggenggam erat tangan Melinda.


“Ratna, aku tidak sanggup. Aku benar-benar tidak sanggup, aku sangat rapuh. Aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang aku cintai, Kakek adalah salah satu keluarga yang sangat aku sayangi melebihi diriku. Jika boleh memilih, aku ingin menggantikan posisi Kakek agar Kakek tidak pergi meninggalkan dunia ini terlebih dahulu,” ujar Melinda yang terus menangis.


“Melinda kamu ini bicara apa? Kamu tidak boleh bicara sembarangan seperti itu. Tolong jangan berkata yang tidak-tidak.” Ratna semakin menggenggam erat tangan Melinda dan terus memohon agar Melinda tidak lagi mengucapkan kata-kata yang tak pantas tersebut.


Melinda menutup mulutnya rapat-rapat dan berusaha untuk tetap tenang dengan cara mengatur napasnya yang cukup berantakan. Setelah dirasa cukup, Melinda memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar Sang Kakek.


“Kakek sepertinya sudah tidur,” ucap Ratna dengan suara yang sangat lirih ketika baru saja memasuki kamar.


“Ratna, maaf atas perkataan ku tadi. Sekarang kamu beristirahatlah, aku ingin duduk disamping Kakek.”


Ratna mengangguk kecil dan perlahan membaringkan tubuhnya di tikar yang sebelumnya sudah dialasi oleh selimut yang cukup tebal, sehingga dinginnya lantai tidak akan dirasakan oleh Melinda maupun Ratna.


Melinda menghela napasnya dan menyentuh tangan Kakek Almer. Ketika Melinda memandangi wajah Kakek Almer, Melinda seketika itu tahu bahwa Kakek tua itu berpura-pura sudah terlelap.


Apakah Kakek sengaja berpura-pura tidur? Bahkan, aku bisa melihat dengan jelas mata Kakek bergerak-gerak meskipun dalam posisi memejamkan mata. (Batin Melinda)


Melinda menyentuh tangan keriput Kakek Almer dengan hati-hati.


“Selamat tidur, Kakek. Cepat sembuh ya Kakek, dokter sudah memberitahu Melinda mengenai kondisi Kakek dan ternyata Kakek hanya kelelahan saja. Pokoknya, Kakek harus istirahat yang cukup dan semoga cepat sembuh,” ujar Melinda.


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Melinda beranjak dari duduknya dan ikut merebahkan tubuhnya di dekat Ratna yang ternyata belum juga terlelap.


“Ratna, kenapa belum tidur? Bukankah sudah aku bilang agar kamu pulang saja, aku tidak ingin merepotkan mu,” tutur Melinda sembari menoleh ke arah Ratna yang berada disebelahnya.


“Aku ingin tidur, ketika aku sudah tertidur, Melinda. Oya, berada di rumah sakit mengingatkan aku kepada Almarhumah Nenek. Sekarang, Nenek telah bahagia bersama dengan kedua orangtuaku di surga,” pungkas Ratna.


“Kamu yang sabar ya Ratna, suatu hari nanti kita akan bertemu dengan kedua orang tuanya kita di Surga,” balas Melinda dengan tersenyum manis ke arah Ratna.


“Wah, hubungan persahabatan kita sangat unik. Sama-sama yatim-piatu,” jelas Ratna.


“Kamu ini bisa saja,” sahut Melinda kepada sahabatnya itu.


Ya. Mereka memanglah dua wanita yang telah menjadi yatim-piatu. Meskipun begitu, terlihat jelas bahwa mereka adalah pribadi yang kuat dengan mental baja.

__ADS_1


__ADS_2