Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 93


__ADS_3

Melinda berusaha menghubungi Ibu tirinya untuk memastikan apakah benar bahwa Ayah kandungnya telah meninggal dunia ataukah hanya tipuan belaka dari Ibu tirinya itu.


Berulang kali Melinda menghubungi Ibu tirinya. Akan tetapi, Ibu tirinya tak juga mengangkat teleponnya.


“Ya Allah, kenapa Ibu Dina susah sekali dihubungi,” ujar Melinda yang nampak panik.


Melinda panik sampai-sampai ia menangis histeris karena tidak bisa menghubungi Ibu tirinya. Dengan tangan gemetar, ia pun mencoba menghubungi nomor telepon Katty. Akan tetapi, nomor telepon Katty malah tidak aktif atau sedang diluar jangkauan.


Saat Melinda ingin kembali menghubungi nomor telepon Ibu tirinya, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dan tanpa berpikir panjang lagi, Melinda cepat-cepat membuka pesan tersebut yang isinya adalah alamat rumah sakit tempat dimana Sang Ayah menghembuskan nafas terakhirnya.


“Ayah!” Melinda berteriak histeris dan berlari secepat mungkin keluar dari kamar untuk segera memastikan apakah Ayahnya benar-benar meninggalkan dirinya untuk selamanya ataukah berita itu hanya kebohongan yang sengaja Ibu tirinya lakukan untuk membuatnya sedih.


Melinda berlari keluar dari lift dan meminta salah satu bodyguard untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


Disaat yang bersamaan, Raka hampir tiba di rumah sakit yang dimaksud oleh Dina.


“Lebih cepat!” perintah Raka pada asisten pribadinya.


“Tuan Muda, ini sudah cepat,” balas Reza pada Tuan Mudanya.


Sekitar 10 menit kemudian, merekapun akhirnya sampai di rumah sakit.


Reza sebagai asisten pribadi dari Tuan Mudanya, saat itu juga keluar dari mobil untuk membantu Tuan Mudanya turun dari mobil tersebut.


“Tuan Muda, sebenarnya siapa yang sakit?” tanya Reza penasaran.


“Jangan banyak tanya,” tegas Raka yang sedang tidak ingin berbicara apapun sebelum memastikan kabar tersebut.


Raka meminta Reza untuk mencari tahu apakah ada pasien bernama Bambang di rumah sakit itu.


Reza pun bergegas menanyakan keberadaan Bambang pada para perawat.


“Permisi, ada pasien bernama Bambang?” tanya Reza.


Raka dari kejauhan tampak serius memperhatikan Reza yang sedang memastikan apakah Bambang benar berada di rumah sakit tersebut ataukah tidak.


Tak butuh waktu lama, Reza berbalik badan menghampiri Tuan Mudanya dan bergegas pergi ke ruang mayat untuk memastikan apakah benar pria bernama Bambang itu adalah Ayah kandung dari Nona Mudanya ataukah tidak.


Raka terkejut ketika melihat Dina dan juga Katty sedang menangis dengan saling berpelukan.

__ADS_1


“Tuan Muda,” ucap Dina ketika melihat Raka datang bersama dengan Reza.


Raka diam membisu dan memberi isyarat agar asisten pribadinya itu membawanya masuk ke dalam ruang mayat.


🌷


Beberapa saat kemudian.


Melinda tiba di rumah sakit dan tak butuh waktu lama, Melinda akhirnya tahu bahwa Sang Ayah benar-benar meninggalkan dirinya untuk selamanya.


“Ayah!” Melinda menjerit histeris dan sangat terpukul dengan kepergian Sang Ayah tersayang.


Sebagai seorang suami, Raka berusaha menenangkan istrinya yang nampak sangat sedih.


“Melinda, aku tahu kamu sedih. Akan tetapi, ini sudah takdir Allah,” ucap Raka pada istrinya.


Melinda menangis dan terus menangis meratapi nasibnya yang telah menjadi yatim piatu.


“Reza, cepat urus semuanya!” perintah Raka pada asisten pribadinya agar segera mengurus semua kepulangan almarhum.


Dina dan Katty ikut menangis karena kepergian Bambang yang bisa dikatakan sangat mendadak.


“Ayah, kenapa Ayah pergi meninggalkan Melinda secepat ini? Disaat Ayah sudah mulai menyayangi Melinda lagi, kenapa Ayah pergi meninggalkan Melinda dengan cara seperti ini?” tanya Melinda sembari terus memeluk jenazah Ayahnya.


Katty bahkan tak segan-segan mendorong tubuh Melinda hingga jatuh ke lantai dan hal tersebut disaksikan langsung oleh Raka.


Raka menahan diri untuk tidak berteriak di ruangan tersebut untuk menghargai almarhum Bambang.


“Kamu yang tidak tahu sopan santun, kali ini aku memaafkan kamu. Akan tetapi, berbeda bila hal seperti ini kembali terjadi. Aku akan pastikan bahwa kamu menyesal seumur hidupmu,” tegas Raka pada Katty.


Raka meminta Melinda untuk bangkit dan keluar dari ruangan tersebut.


Melinda dengan sedih, mengangguk kecil dan keluar dari ruangan itu bersama dengan suaminya.


Dina dan Katty yang sebelumnya menangis. Tiba-tiba tersenyum sinis seakan-akan mereka sama sekali tidak merasa sedih maupun kehilangan atas kematian Bambang.


“Mama, bagaimana akting Katty tadi?” tanya Katty meminta pendapat dari Dina.


“Kamu sangat jago, Katty sayang. Sepertinya, kamu sangat cocok bila menjadi pemain film dan juga sinetron,” puji Dina pada putrinya.

__ADS_1


Setelah keluar dari ruangan itu, Raka menghubungi salah satu polisi kenalannya. Entah kenapa, Raka merasa curiga dengan kematian Bambang.


Melinda terkejut setelah mendengarkan perkataan suaminya yang baru saja menghubungi seseorang yang Melinda sendiri tidak tahu siapa orang tersebut.


“Mas Raka baru saja berbicara dengan siapa?” tanya Melinda dengan mata sembab karena menangis.


“Kamu akan tahu sendiri,” jawab Raka yang membuat Melinda semakin penasaran.


Melinda yang masih larut dalam kesedihan hanya bisa mengangguk patuh.


“Reza, cepat kemari!” perintah Raka pada Reza melalui sambungan telepon.


Tak butuh waktu lama, Reza datang dengan nafas terengah-engah.


“Iya, Tuan Muda,” ucap Reza menghadap pada Tuan Mudanya.


“Ayo kita pulang!” perintah Raka.


Tidak hanya Raka dan Reza saja yang kembali ke rumah. Melinda pun juga ikut pulang.


“Mas Raka, bolehkan saya tetap disini?” tanya Melinda dengan air mata yang kembali mengalir deras di pipinya.


“Ayahmu sebentar lagi akan dilakukan autopsi karena aku curiga atas kematian ayahmu. Sebagai putrinya, sudah sepatutnya kamu mencari bukti. Sekarang, kita pulang dan menunggu hasilnya,” pungkas Raka pada Melinda.


“Maksud Mas Raka apa? Kenapa harus melakukan otopsi segala?” tanya Melinda yang tak terima bila Sang Ayah harus diautopsi.


“Aku melakukan semua ini agar kebenaran terungkap. Apakah kamu tidak curiga dengan kedua wanita didalam itu?” tanya Raka.


Melinda hanya diam membisu setelah mendapat pertanyaan dari Sang suami. Melihat Melinda yang diam membisu, Raka pun menganggap bahwa istrinya setuju untuk dilakukannya autopsi.


“Aku anggap diam mu adalah persetujuan. Sekarang kita harus pulang dan rencana untuk memulangkan Ayah Bambang, dibatalkan,” tegas Raka.


Melinda berjalan beriringan dengan suaminya. Entah kenapa, perkataan suaminya membuat pikirannya perlahan menaruh curiga dengan Dina dan juga Katty.


“Kamu jangan terlalu banyak berpikir,” ucap Raka ketika melihat wajah Melinda yang nampak sangat sedih.


“Mas Raka, bagaimana bila dugaan Mas Raka benar?” tanya Melinda lirih.


“Aku tidak segan-segan menyeret mereka ke dalam jeruji besi,” pungkas Raka.

__ADS_1


“Saya sangat setuju,” sahut Reza yang tentu saja sangat geram dengan ibu dan anak itu.


Melinda hanya menunduk sedih karena bingung harus berkata apalagi. Mengingat kelakuan kasar yang dilakukan Dina maupun Katty terhadap dirinya.


__ADS_2