Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 103


__ADS_3

Sore hari.


Melinda telah sampai di rumah setelah menemani Ratna dan juga Nenek Ratna di rumah sakit.


Ketika baru saja memasuki rumah dengan mengucapkan salam dan dibalas oleh para pelayan, Melinda menyadari bahwa suami serta Kakek belum kembali.


“Nona Muda sudah makan? Apa ingin kami siapkan makanan?” tanya salah satu pelayan.


“Nanti saja, Mbak. Saya ingin menunggu Mas Raka dan Kakek pulang terlebih dulu,” jawab Melinda.


Melinda pun memutuskan untuk bersantai sejenak di area kolam renang sembari mengingat-ingat kembali apa yang suaminya dulu lakukan padanya.


“Dulu, Mas Raka pernah menjahili ku sampai-sampai aku jatuh ke dalam kolam renang,” ucap Melinda bermonolog.


Tak ada sedikitpun rasa dendam dihatinya untuk Sang suami. Hanya saja, ada sedikit rasa jengkel yang membuat Melinda ingin mencubit pipi suaminya itu.


“Nona Muda mau dibuatkan sesuatu?” tanya salah satu pelayan yang menghampiri Melinda di area kolam renang.


“Boleh, Mbak. Tolong buatkan saya teh hangat,” pinta Melinda.


“Mau sekalian dengan roti, Nona Muda?” tanya pelayan wanita.


“Boleh, Mbak,” jawab Melinda dengan suara yang begitu santun.


Melinda menggerai rambutnya yang panjang dan menyisirnya dengan jemari tangannya.


“Rambutku ternyata sudah panjang, bagaimana bila aku potong saja?” tanya Melinda bermonolog.


“Tidak boleh,” sahut Raka yang ternyata sudah berada tepat dibelakang Melinda.


Melinda terkejut mendengar suara suaminya dan saat itu juga Melinda berbalik badan.


“Mas Raka sudah pulang,” ucap Melinda dan bergegas beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan Sang suami.


Melinda meraih tangan Raka dan mencium punggung Raka dengan sepenuh hati.


“Aku masih ingin melihat rambutmu yang panjang,” pungkas Raka sembari membelai rambut Melinda yang masih menunduk untuknya.


Melinda tersipu malu dan tiba-tiba angin kencang mengenai rambut panjang Melinda yang tergerai, sehingga kecantikan Melinda berkali-kali lipat dilihat oleh Raka.


Raka menyentuh dadanya dan menjadi salah tingkah melihat betapa cantik istrinya itu.


Rambut Melinda yang panjang terhempas angin hingga membuat wajah suaminya tertutup oleh rambut Melinda yang panjang.


“Maafkan saya, Mas Raka,” ucap Melinda dan buru-buru mengikat rambutnya itu.


Raka tertawa kecil dan memberi isyarat agar Melinda mendekat.


Melinda mengernyitkan keningnya dan mendekatkan wajahnya pada Sang suami. Hal tak terduga pun terjadi, Raka mengecup pipi Melinda dan membuat Melinda menjadi salah tingkah.


Kemesraan mereka ternyata disaksikan langsung oleh Almer yang tak sengaja melihat bagaimana Raka mencium pipi cucu menantunya.


“Kakek!” Melinda terkejut dan secepat kilat melangkah mundur menjauhi Sang suami yang baru saja mencium pipinya.


“Kakek sedang apa disitu? Kakek mengganggu kemesraan kamu berdua saja,” protes Raka kepada kakeknya.


“Ya mau bagaimana lagi, Kakek sudah terlanjur melihatnya,” balas Almer santai.


Almer tertawa dengan bahagia sembari meninggalkan sepasang suami istri yang berada di area kolam renang tersebut.


Disaat yang bersamaan, pelayan wanita datang dengan membawa teh hangat dan juga roti untuk Nona Muda.


“Terima kasih, Mbak,” ucap Melinda.

__ADS_1


Pelayan wanita itu pun pamit meninggalkan keduanya yang harus lebih banyak menghabiskan waktu berdua.


“Mas Raka, jangan seperti tadi lagi. Saya malu,” ucap Melinda yang wajahnya benar-benar memerah menahan malu karena ulah suaminya.


“Maaf, aku terlalu senang dan kelepasan,” balas Raka yang juga salah tingkah karena ulahnya sendiri.


“Mas Raka, kita ke kamar saja ya. Mas Raka pasti sangat lelah,” ajak Melinda.


“Kamu habiskan dulu teh dan roti itu,” balas Raka sembari menunjuk teh dan juga roti yang berada di atas meja.


“Mas Raka mau?” tanya Melinda menawarkan teh dan roti miliknya.


“Tidak, kamu saja,” jawab Raka.


Melinda dengan grogi meneguk teh hangat miliknya dan perlahan mengunyah roti tawar tersebut. Setelah itu, Melinda bergegas membawa suaminya menuju kamar mereka.


Disaat yang bersamaan, seorang pria datang untuk bertemu dengan Raka. Sepertinya ada hal penting yang ingin pria itu sampaikan secara langsung dengan Raka.


“Aku ada urusan penting, tolong pertemukan aku dengan Tuan Raka,” pinta pria itu.


“Kami tidak bisa sembarangan menerima orang. Sebutkan nama mu terlebih dahulu,” ucap salah satu bodyguard yang menjaga kediaman keluarga Arafat.


“Ini sangat penting,” tegas pria tersebut.


“Tidak bisa!” Bodyguard yang menjaga kediaman keluarga Arafat berteriak keras menentang keras keinginan pria dihadapannya.


Salah satu bodyguard yang lain perlahan menyadari bahwa pria itu beberapa waktu lalu pernah datang bersama dengan seorang wanita yaitu Luna.


“Oh, jadi kamu datang kemari? Cepat pergi atau kami akan main kekerasan disini,” ucap bodyguard.


“Baiklah, aku akan pergi dari sini. Sebelum itu, tolong berikan surat ini kepada Tuan Raka!”


Setelah memberikan sepucuk surat tersebut, pria itu pergi bersama dengan mobilnya.


Di dalam kamar.


Raka telah selesai mengenakan pakaiannya dengan tatanan rambut yang ia sisir sendiri. Melinda tanpa sadar tersenyum lebar ketika melihat wajah tampan suaminya.


Mas Raka terlihat sangat tampan. (Batin Melinda)


Melinda hanya bisa memuji ketampanan suaminya di dalam hatinya. Dikarenakan, Melinda terlalu malu jika memuji ketampanan suaminya secara langsung.


“Tidak bisakah kamu memujiku sedikit saja?” tanya Raka meminta Melinda memuji dirinya.


Melinda terlalu malu untuk mengatakannya, ia hanya bisa mengangguk kecil dan membuat Raka menjadi senang karena tingkah lucu istrinya.


“Kamu tidak perlu begitu, aku memang tampan dan kamu pasti malu untuk mengakuinya,” pungkas Raka.


“Mas Raka memang tampan,” puji Melinda.


Raka tertegun dan di detik berikutnya pria itu tersenyum lega.


Suara ketukan pintu tiba-tiba berbunyi. Membuat Melinda akhirnya bergegas membuka pintu kamar.


“Iya, Mbak. Ada apa?” tanya Melinda penasaran.


“Nona Muda, ini ada surat untuk Tuan Muda,” ucap pelayan tersebut sembari memberikan sepucuk surat.


Melinda tanpa ragu menerima surat tersebut dan menutup kembali pintu kamar rapat-rapat.


“Mas Raka, ini ada surat,” ucap Melinda sembari berjalan mendekat ke arah suaminya untuk segera memberikan surat tersebut.


Raka menatap surat yang sudah berada ditangannya dengan tatapan terheran-heran.

__ADS_1


“Surat?” tanya Raka kebingungan.


“Mas Raka buka saja, siapa tahu ada hal penting di dalamnya,” ucap Melinda.


“Aku tidak yakin dengan isi di dalam, tolong kamu saja yang membukanya,” pinta Raka dan memberikan kembali surat tersebut.


Melinda menerimanya kembali dan mulai membuka isi di dalamnya.


“Dari Luna,” ucap Melinda ketika melihat ada nama Luna.


Saat itu juga Raka mengambil surat ditangan Melinda dan merobeknya dengan kesal.


“Wanita gila,” ucap Raka dan membuang robekan kertas tersebut di lantai, hingga berhamburan dimana-mana.


Melihat suaminya yang nampak kesal, Melinda sebagai istri mencoba menenangkan hati suaminya itu.


“Mas Raka yang tenang ya,” ucap Melinda sembari menyentuh dada suaminya.


Rasa kesal dan marah Raka seketika itu hilang saat mendengar suara istrinya serta sentuhan lembut dari Sang istri.


“Marahku hilang begitu saja setelah apa yang kamu lakukan, istriku. Terima kasih banyak,” ucap Raka.


“Alhamdulillah,” balas Melinda dengan lega. “Mas Raka, kita keluar ya!” ajak Melinda agar segera keluar dari kamar.


Melinda membawa suaminya keluar dari kamar dan meminta salah satu pelayan wanita untuk membersihkan kamar mereka.


“Melinda sayang, bawa aku menemui penjaga di depan,” pinta Raka.


“Baik, Mas Raka,” balas Melinda.


Tak butuh waktu lama, Raka sampai di depan teras rumah bersama dengan Sang istri.


“Jawab dengan jujur, siapa yang mengantarkan surat dari wanita murahan itu?” tanya Raka dengan tatapan tajam.


Salah satu bodyguard maju menghadap pada Tuan Mudanya.


“Maafkan saya, Tuan Muda,” ucapnya.


“Bukankah kalian tahu bahwa aku tidak bisa memperkerjakan orang yang tidak guna seperti kalian ini? Apa perlu kalian aku pecat semua?” tanya Raka.


“Mas Raka.” Melinda berjongkok dengan memberikan tatapan penuh kehangatan.


Raka mengerti tatapan Melinda, tatapan permohonan agar dirinya tak mengeluarkan kata-kata yang akan membuat para bodyguard kehilangan pekerjaan mereka.


“Baiklah, untuk kali ini aku memaafkan kalian. Ingat baik-baik, hal seperti ini jangan terulang lagi. Aku tidak ingin mendengar apapun mengenai wanita bernama Luna,” tegas Raka.


Melinda membawa suaminya ke ruang makan, barangkali rasa suaminya benar-benar hilang setelah mereka makan bersama.


“Kakek,” sapa Melinda pada Almer yang sudah berada di kursinya.


“Kalian dari mana saja? Cepat kemari, Kakek ingin makan bersama kalian,” ucap Almer.


Melinda tersenyum dan duduk diantara suami serta Sang Kakek.


“Raka, ada apa denganmu?” tanya Almer ketika melihat ekspresi dari Cucu kandungnya itu.


“Tidak ada apa-apa,” jawab Raka ketus.


“Mas Raka, tidak baik berbicara seperti itu kepada Kakek,” ucap Melinda mengingatkan suami agar sopan kepada Sang Kakek.


Raka menghela napasnya dan meminta maaf atas perkataannya yang tidak sopan.


Almer tersenyum lebar, Kakek tua itu semakin yakin bahwa cucu kandungnya mencintai sosok cucu menantu kesayangannya itu dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2