Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 131


__ADS_3

Malam hari.


Melinda pulang dengan wajah nampak sangat lelah. Seharian ia berada di perusahaan dan cukup membuat kepalanya sakit. Yang Melinda inginkan saat itu adalah cepat-cepat masuk kamar dan tidur untuk melanjutkan hari esok yang tentu saja cukup sibuk.


“Selamat malam, Nona Muda!” para pelayan dan Bodyguard menyambut kedatangan Melinda.


Melinda membalas sapaan mereka dengan senyum lelahnya dan meminta dua pelayan wanita untuk membawa makanan ke dalam kamarnya. Setelah itu, Melinda berjalan menuju lift.


Tiba di dalam kamar, Melinda menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tubuh Melinda terasa sangat lengket, ia harus mandi terlebih dahulu sebelum makan malam. Perutnya yang juga lapar, tidak memungkinkan jika Melinda tidur dengan perut yang kosong. Bagaimanapun, perut Melinda juga harus terisi agar menjadi sumber tenaga untuknya.


“Biarkan aku disini dulu, lebih baik aku tunggu sampai makananku tiba,” ujar Melinda.


Pada saat Melinda memejamkan matanya beberapa detik saja, wanita itu sudah ketiduran. Sepertinya Melinda benar-benar sangat kelelahan.


Selang 5 menit, dua pelayan datang untuk mengantarkan makanan kepada Nona Mudanya.


“Astagfirullah,” ucap Melinda yang terkejut ketika mendengar suara ketukan berulang kali.


Melinda sangat kaget, sampai-sampai ia bangun dari tidurnya.


“Iya, Mbak. Silakan masuk,” ucap Melinda dan membuka lebar-lebar pintu kamarnya.


Setelah semua makanan diletakkan ke atas meja, Melinda tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu, mengunci kembali pintu kamar.


“Berhubung makanan sudah datang, saatnya aku mandi,” ucap Melinda yang sebenarnya masih ingin melanjutkan tidurnya itu.


🌷


“Dingin!” Melinda keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang berbentuk jubah.


Rambutnya yang basah, ia balut dengan handuk agar cepat kering. Meskipun begitu, Melinda tetap menggunakan hair dryer agar rambutnya kering tak ada setetes air pun yang menempel di rambutnya.


Melinda cepat-cepat mengenakan pakaian dan tak lupa mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Melinda pun duduk di kursi yang menghadap langsung pada makan malamnya.


“Waktunya makan malam,” ujar Melinda.


Melinda menoleh sekilas ke arah jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 11 malam.


“Masya Allah, hari ini aku benar-benar bekerja dengan sangat keras. Hingga jam 11 malam aku baru bisa mengisi perutku,” ujar Melinda bermonolog.


Melinda mengangkat kedua tangannya dan mulai berdo'a sebelum menikmati hidangan makanan di hadapannya.


Usai makan malam yang ternyata sudah hampir tengah malam, Melinda menyusun bekas alat makan yang ia gunakan. Lalu, ia keluar dari kamar dengan membawa nampan tersebut.


Ketika ingin memasuki lift, seorang pelayan menghentikan Melinda.


“Nona Muda, biar saya saja yang membawanya ke dapur. Sebaiknya Nona Muda berisitirahat,” ucapnya.


“Terima kasih, Mbak. Maaf merepotkan,” balas Melinda.


“Tidak sama sekali, Nona Muda. Saya tahu Nona Muda pasti sangat lelah dan butuh tidur,” ucapnya.


Melinda sekali lagi berterima kasih dan pamit untuk masuk ke dalam kamar.


Sebelum tidur, Melinda berjalan-jalan kecil di dalam kamar. Karena tidak baik jika tidur setelah makan, akan mengakibatkan pencernaan perut kurang baik dan juga tiga bagus untuk kesehatan.


Setelah dirasa cukup, Melinda masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Keesokan paginya.


Pagi yang cerah membuat Melinda cukup bersemangat untuk masuk kelas. Pagi itu, ada kelas yang harus Melinda hadiri.


“Kakek, Melinda berangkat kuliah dulu ya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Melinda tersenyum dan mencium punggung tangan Almer.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, semangat belajar Cucu menantu,” balas Almer yang berdiri sembari memperhatikan Melinda yang masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Almer tersenyum lega melihat Melinda yang akan berangkat kuliah.


“Lihatlah, cucu menantu ku benar-benar wanita yang luar biasa pintar,” ucap Almer memuji Melinda pada dua pelayan yang berdiri bersebelahan dengannya.


“Iya, Tuan Besar. Selain pintar, Nona Muda juga sangat cantik.”


“Oh tentu saja, istri Raka memang tidak ada duanya,” tandas Almer yang mengakui kecantikan Melinda.


🌷


Melinda turun dari mobil dan kebetulan saat itu Siska melihat Melinda yang baru saja keluar dari mobil.


Siska melambaikan tangannya sembari berlari kecil menghampiri Melinda.


“Hai, Melinda. Kemarin kamu tidak masuk karena ada urusan?” tanya Siska.


“Iya nih, akhir-akhir ini ada urusan yang tidak bisa aku tinggalin,” jawab Melinda.


“Kemarin ada catatan penting, untungnya saja aku membawa catatan ku. Kamu boleh menyalinnya,” pungkas Siska.


“Terima kasih, Siska. Kamu memang yang terbaik,” puji Melinda.


“Pastinya dong, 'kan aku sahabat kamu,” tutur Siska.


Melinda mengangguk setuju dengan penuturan Siska. Bagaimanapun, hanya Siska yang selalu ada untuknya ketika yang lain memilih untuk menjauh darinya.


Kebanyakan dari mereka menjauhi Melinda karena iri dengan apa yang Melinda punya. Selain memiliki suami yang super kaya, Melinda juga bisa dikatakan sosok mahasiswi yang berprestasi di kelasnya. Hal itu, membuat yang lain iri padanya. Kecuali, Siska yang selalu setia menemani Melinda selama di kelas.


Melinda dan Siska pun masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran.


Disisi lain.


Indri mulai kehabisan uang, uang yang diberikan oleh Almer padanya kini tidak sampai 50 juta. Hal itu, membuat Indri kebingungan karena ia butuh sekali uang untuk memenuhi gaya hidupnya yang dibilang sangat tinggi.


“Aisshh, sialan. Uangku tinggal segini, bagaimana cara untukku mendapatkan uang? Apa mungkin aku harus menikah dengan pak tua itu? Secara umurku dan umur Pak Romi berbeda 20 tahun,” ucap Indri.


“Hei, cantik. Kenapa sendirian?” tanya Pak Romi memanggil Indri dengan sebutan cantik.


“Loh, Pak Romi sedang apa disini?” tanya Indri yang cukup terkejut melihat Pak Romi yang sudah ada disampingnya.


“Ini cafe milikku, apa tidak boleh aku datang ke cafe ku sendiri?” tanya Pak Romi.


“Apa? Wah, berarti uang Pak Romi banyak ya,” ujar Indri yang matanya langsung berubah hijau ketika tahu uang Pak Romi yang ternyata sangat banyak karena memiliki bisnis cafe.


“Jangan panggil Pak dong. Panggil aku Mas, biar terlihat lebih muda. Oya, bagaimana dengan tawaranku Minggu lalu? Apakah kamu bersedia menjadi istri keduaku?” tanya Pak Romi yang memang sangat tertarik dengan kecantikan Indri.


“Tapi, aku tidak ingin jadi yang kedua,” ucap Indri dengan suara yang begitu menggoda.


“Tidak bisa, sayang. Bagaimanapun, aku tidak bisa meninggalkan istriku yang pertama. Bagaimana, kamu mau tidak?” tanya Pak Romi yang menjadi Indri sebagai istri keduanya, lagipula sangat tidak mungkin jika menceraikan istri pertamanya yang telah memberikannya keturunan.


Karena Indri sudah sangat kepepet masalah uang. Ia pun pada akhirnya mengiyakan ajakan Pak Romi untuk menikah.


“Tapi, Pak Romi kita nikah siri saja ya,” ucap Indri yang sama sekali tidak memiliki niatan untuk berlama-lama menjadi istri Pak Romi.


“Aku juga inginnya begitu, baiklah besok kita akan menikah,” pungkas Pak Romi.


Indri tersenyum lebar sembari memperbaiki tatapan rambutnya yang pendek. Entah kenapa, Indri sangat senang dengan rambut pendeknya. Menurutnya, rambut pendeknya itu memiliki ketertarikan tersendiri. Buktinya saja Pak Romi yang bisa dibilang adalah orang kaya akhirnya terpikat oleh kecantikan seorang Indri.


Baiklah, sebaiknya aku terima saja pria tua ini. Toh, jika uangnya sudah menipis aku tinggal pergi saja dan mencari pria kaya untuk memenuhi kebutuhan yang super mewah ini. (Batin Indri)


Entah apa yang ada di dalam pikiran Indri, seharusnya dia bertobat dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Akan tetapi, Indri malah menjadi-jadi.


Siang hari.


Cuaca siang itu benar-benar panas dan menyengat ke kulit. Melihat Melinda yang sedang menunggunya jemputan, Siska pun memutuskan untuk berdiri menemani Melinda.

__ADS_1


“Siska, kamu kenapa masih disini? Pulanglah, orang tuamu pasti menunggumu,” ujar Melinda sembari menunjuk ke arah rumah Siska.


“Ayolah, Melinda. Aku tidak kemana-mana dan hanya ingin menemanimu. Lagipula, aku sudah besar. Akan sangat lucu bila aku masih dianggap seperti anak kecil,” pungkas Siska.


“Iya, terserah kamu saja,” balas Melinda.


Tak butuh waktu lama, jemputan Melinda akhirnya datang. Sopir itu dengan cepat keluar dari mobil dan meminta maaf karena membuat Nona Mudanya menunggu.


“Tidak perlu minta maaf, Pak. Lagipula, saya baru saja keluar kelas,” ujar Melinda.


Siska tersenyum kecil melihat bagaimana Melinda berbicara dengan sangat sopan kepada sopir tersebut.


“Siska, aku duluan ya. Kamu langsung pulan, tidak boleh mampir-mampir,” ujar Melinda yang sudah berada di dalam mobil.


“Melinda, aku mau mampir kemana lagi? Rumahku saja hanya beberapa meter dari tempatku berdiri sekarang,” sahut Siska dan tertawa ngakak.


Melinda melambaikan tangannya begitu juga dengan Siska.


“Pak, Kakek dari pagi tadi tidak kemana-mana,'kan?” tanya Melinda memastikan bahwa Kakek Almer tidak pergi meninggalkan rumah.


“Nona Muda tenang saja, dari pagi tadi Tuan Besar ada di rumah. Hanya saja...”


“Hanya saja, apa Pak? Apa terjadi sesuatu kepada Kakek?” tanya Melinda yang nampak panik. Melinda tidak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi kepada Sang Kakek tersayang.


“Nona Muda jangan langsung panik begitu, maksud saya itu Tuan Besar tadi berjemur di depan rumah ya sekitar setengah jam,” terang Sang sopir.


“Ya Allah, hampir saja saya berpikiran yang tidak-tidak. Syukurlah, kalau Kakek baik-baik saja. Oya Pak, nanti sore antar saya ke kantor ya Pak!” pinta Melinda yang ingin berkunjung sebentar ke kantor, perusahaan Arafat.


Tanpa banyak bertanya, sopir itu mengiyakan permintaan Melinda yang ingin mengunjungi perusahaan.


Melinda menoleh ke arah luar dan tak sengaja melihat Indri yang sedang bermesraan dijalan bersama dengan seorang pria yang menurut Melinda cukup tua.


Itu mbak Indri, apakah Mbak Indri sedang bersama orangtuanya? Ah, untuk apa aku memikirkan privasi dari Mbak Indri. Sudahlah, lagipula bukan urusanku. (Batin Melinda)


Apapun itu, melihat berharap Indri tidak muncul dihadapannya lagi, terlebih lagi dihadapan Kakek Almer. Melinda berharap, Indri bisa hidup bahagia dan memiliki keluarga baru yang sangat menyayangi dirinya.


Melinda berpikir, bahwa sebenarnya Indri adalah wanita yang baik. Kemungkinan, Indri begitu karena merasa tersaingi dengan kehadiran Melinda di dalam keluarga Arafat.


“Pak, kita mampir ke apotek terdekat ya. Saya ingin membeli obat Kakek, sepertinya obat Kakek tinggal sedikit,” ujar Melinda yang ingin membeli obat Kakek Almer.


“Baik, Nona Muda. Sebentar lagi kita akan sampai di depan apotek,” jawabnya.


Melinda mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada suaminya. Sudah dua hari suaminya tidak mengirim kabar dan membuat Melinda sangat khawatir dengan suaminya itu.


Apakah Mas Raka disana sangat sibuk? Kenapa akhir-akhir ini Mas Raka jarang sekali mengirim kabar padaku. Semoga saja Mas Raka disana baik-baik saja. (Batin Melinda)


Jika mengingat suaminya, Melinda merasa sangat sedih. 3 bulan lebih bukan waktu yang sebentar bagi mereka untuk berpisah. Rasanya, Melinda ingin menyusul suaminya disana. Akan tetapi, tentu saja itu tidaklah mungkin. Dikarenakan, ada Kakek Almer yang harus Melinda jaga dan Melinda perhatikan.


“Kita sudah sampai, Nona Muda,” ucap Sang sopir.


“Baik, tunggu sebentar ya Pak,” ujar Melinda dengan senyum manisnya.


Melinda keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam apotek. Ia mengeluarkan resep dari dokter dan memberikannya kepada apoteker.


Setelah itu, Melinda membeli beberapa vitamin untuknya agar kondisi tubuhnya tetap stabil.


Usai melakukan pembayaran, Melinda bergegas masuk ke dalam mobil.


“Pak, ini vitamin untuk Bapak,” ucap Melinda sembari memberikan dua lempeng vitamin.


“Terima kasih, Nona Muda,” balasnya yang nampak sangat senang karena mendapatkan vitamin secara cuma-cuma dari Nona Mudanya itu.


“Ayo, Pak. Kita jalan lagi, saya juga ingin berisitirahat,” tutur Melinda.


Selama diperjalanan, Melinda memandangi arah luar. Cuaca panas kota Jakarta tidak menyurutkan semangat orang-orang yang berjualan di pinggir jalan.

__ADS_1


“Wah, panas-panas begini ternyata banyak ya Pak yang jualan di pinggir jalan,” ujar Melinda.


“Iya, Nona Muda. Kebanyakan dari mereka berjualan minuman segar,” terang Sopir pribadi tersebut.


__ADS_2