
Hari perlahan mulai malam dan saat itu, mereka sedang melakukan perjalanan pulang setelah mengantarkan Sang Kakek kontrol di salah satu rumah sakit.
“Kakek senang setelah mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi Kakek saat ini?” tanya Raka pada Sang Kakek yang nampak bahagia setelah mengetahui bahwa dirinya baik-baik saja.
“Alhamdulillah, tentu saja Kakek senang. Semua ini karena kebaikan, perhatian dan ketulusan dari cucu menantu,” pungkas Almer memuji Melinda.
“Kakek terlalu berlebihan, lagipula ini sudah menjadi tugas Melinda,” sahut Melinda.
“Raka, lihatlah istrimu. Selalu saja merendah,” ujar Almer.
Raka tersenyum lebar ke arah istri tercintanya.
Apakah permasalahan di keluarga kami sudah berakhir? Semoga saja semua kejahatan tidak lagi datang kepada keluarga kami ini. (Batin Melinda)
“Ada apa sayang?” tanya Raka ketika melihat wajah tak tenang istrinya.
“Tidak ada apa-apa, sayang,” jawab Melinda.
“Sayang, kalau ada hal yang mengganggu pikiranmu, tolong beritahu aku!” pinta Raka kepada istrinya.
“Iya sayang,” balas Melinda.
“Ekhmm.” Almer berdehem mendengar percakapan sayang-sayangan dari sepasang suami istri yang duduk di kursi tengah.
Raka dan Melinda saling tukar senyum setelah mendengar Kakek Almer berdehem.
🌷
Setibanya di rumah, Almer didampingi oleh dua pelayan masuk ke dalam kamarnya. Sementara Raka dan Melinda memutuskan untuk bersantai-santai sejenak di area kolam renang.
“Sayang, bisa berenang?” tanya Melinda kepada suaminya.
“Tentu saja bisa, selama aku di luar negeri, aku banyak menghabiskan waktu di air. Karena air salah satu alternatif untukku menghilangkan rasa trauma ku,” jawab Raka.
“Bisa tidak ajarkan aku caranya berenang?” tanya Melinda yang ingin sekali bisa berenang.
“Boleh, asal ada syaratnya,” balas Raka.
“Syarat? Apa syaratnya?” tanya Melinda penasaran.
Raka mendekatkan wajahnya ditelinga Melinda dengan tersenyum kecil.
__ADS_1
Wajah Melinda seketika itu merah merona setelah mendengar syarat dari suaminya.
“Bagaimana? Apakah istriku setuju kalau malam ini kita...”
Melinda dengan cepat menutup mulut suaminya rapat-rapat.
“Sayang, jangan bicara sembarangan disini. Kalau ada yang mendengar bagaimana?” tanya Melinda sembari menoleh ke kiri dan ke kanan.
“Siapa juga yang mau mendengarkan percakapan antara suami dan istri?” tanya Raka.
“Sebenarnya, tanpa ada persyaratan seperti itu saya akan melayani Mas Raka dengan baik. Jadi, itu bukanlah syarat tetapi kewajiban aku sebagai seorang istri untuk memenuhi kebutuhan seorang suami,” terang Melinda.
Raka takjub dengan perkataan istrinya dan cepat-cepat membawa Sang istri masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Raka dengan buru-buru mengajak istrinya naik ke tempat tidur.
“Sayang, sebentar lagi mau Maghrib,” ucap Melinda mengingatkan suaminya.
“Lalu, kenapa memangnya kalau Maghrib? Lagipula kita tidak akan melakukan hubungan intim diwaktu seperti ini. Aku hanya ingin kita manja-manjaan ditempat tidur,” pungkas Raka dan menepuk sisi kiri tempat tidur agar Melinda segera datang padanya.
Melinda bernapas lega, ia hampir berpikir yang tidak-tidak.
Melinda pun naik ke tempat tidur dan menyandarkan kepalanya di lengan Sang suami.
“Bayi kembar? Kalau itu mau suamiku tentu saja sebagai istri aku pasti setuju. Baiklah, besok kita akan pergi ke rumah sakit,” jawab Melinda.
Raka sangat senang begitu juga dengan Melinda. Mereka berdua tak sabar ingin memiliki bayi yang lucu-lucu serta menggemaskan.
Sekitar hampir 10 menit kedua bermesraan, suara adzan Maghrib mulai berkumandang. Saat itu juga keduanya terkesiap dan bergegas mengambil air wudhu.
Disaat yang bersamaan, Luna kembali ke Indonesia karena ingin bersantai sejenak di kota kelahirannya, Jakarta.
Luna tersenyum lebar karena tak sabar ingin menemui mantan kekasihnya, Raka Arafat.
“Raka, saat ini kamu dan wanita itu pasti tidak bahagia. Kamu tenang saja Raka, aku masih mencintaimu dan aku akan berusaha menjadi wanita yang lebih baik lagi dari wanita itu,” ucap Luna bermonolog.
Luna pun menghentikan sebuah taksi dan bergegas pergi ke hotel yang letaknya tak jauh dari rumah mewah keluarga Arafat.
Alasan mengapa Luna ingin tinggal di hotel tak jauh dari kediaman keluarga Arafat adalah agar dirinya bisa cepat sampai bila sewaktu-waktu ingin bertemu dengan Raka Arafat.
Malam hari.
__ADS_1
Raka, Melinda dan Sang Kakek sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka bertiga sedang membicarakan tentang keinginan Raka dan istri untuk melakukan program bayi kembar.
“Benarkah? Kakek tidak sabar ingin melihat cicit Kakek yang tentunya sangat menggemaskan,” ucap Almer yang nampak sangat antusias menunggu kehadiran calon cicitnya yang menggemaskan.
“Kakek jangan senang dulu, kita masih dalam tahap berencana. Ya semoga saja Allah mengizinkan, kalaupun nantinya belum diberi bayi kembar juga tidak masalah. Lagipula, yang paling penting adalah Raka memiliki istri hebat seperti Melinda,” terang Raka yang terus menatap mata indah Melinda.
Melinda menjadi salah tingkah dengan tatapan suaminya yang terlihat begitu mencintainya.
“Raka, kapan kalian akan berangkat ke rumah sakit?” tanya Almer kepada cucunya.
“Insya Allah kalau tidak ada halangan besok siang kami pergi ke rumah sakit, Kek,” balas Raka.
“Sudah menghubungi dokter spesialis kandungan untuk besok siang?” tanya Almer memastikan.
Raka dan Melinda dengan kompak menggelengkan kepala mereka.
“Tunggu apalagi? Cepat hubungi dokter spesialis kandungan dan tanya apakah besok siang bisa bertemu atau tidak!” perintah Almer kepada cucu kandungnya.
Raka meraih ponselnya dan menghubungi asisten pribadinya itu.
“Hallo, assalamu'alaikum Reza!” Raka menghubungi Reza dan menjelaskan alasan mengapa ia menghubungi asisten pribadinya itu.
Usai menghubungi asisten pribadinya, Raka seketika itu mendapat lemparan bantal di bagian wajahnya.
Bugh!
“Kakek, kenapa malah melempar wajah Raka dengan bantal?” tanya Raka terheran-heran.
“Kamu ini ya, apa-apa selalu Reza. Tidak bisakah kamu melakukannya sendiri? Lagipula yang ingin memiliki bayi adalah kamu dan bukan Reza,” ujar Almer yang nampak cukup kesal dengan kelakuan cucu kandungnya yang selalu menghubungi Reza.
“Kakek, Reza adalah asisten pribadi Raka dan terserah Raka dong mau ngapain,” balas Raka dan tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit.
“Terserah kamu saja, Kakek mau ke kamar,” ucap Almer sembari beranjak dari sofa.
“Ayo Kakek, Melinda antar Kakek ke kamar,” tutur Melinda sembari menuntut Kakek tua itu berjalan menuju kamar.
“Lihatlah, ini baru cucu menantu yang baik. Andai saja istrimu ini cucu kandung Kakek,” ucap Almer kepada cucu kandungnya, Raka.
Raka mengernyitkan keningnya, bisa-bisanya Kakek mengatakan hal seperti itu.
Raka pun berlari kecil mengejar Kakek serta Sang istri yang sudah meninggalkan ruang keluarga.
__ADS_1
“Kalau Melinda cucu kandung Kakek, berarti Raka jadi Cucu menantu Kakek? Tidak masalah, yang terpenting istri Raka tetaplah Melinda,” pungkas Raka dengan santai.
“Terserah kamu saja,” celetuk Sang Kakek.