
Melinda yang telah berada di dapur, bergegas meletakkan nampan tersebut ke rak piring.
“Ya Allah, kenapa perasaanku untuk Mas Raka menjadi seperti ini? Kenapa aku malah mengatakan hal yang sudah sangat jelas, bahwa hubungan kami ini tidak lebih dari pelayan dan Majikan,” ucap Melinda sembari menyentuh jantungnya yang berdebar-debar tak karuan.
Melinda mencoba untuk terlihat baik-baik saja dengan apa yang tengah dirasakannya saat ini.
“Sebaiknya aku ke kamar,” ucap Melinda bermonolog dan bergegas menuju kamar.
Raka yang masih berada di ruang keluarga, merasa aneh dengan perasaannya. Mendengar perkataan Melinda beberapa menit yang lalu, membuat Raka cukup senang.
Kenapa dengan aku ini? Kenapa tiba-tiba aku menyukai ucapannya itu? Tidak.
Raka menggelengkan kepalanya mencoba menjauhkan pikiran serta perasaan yang sangat mustahil ia miliki untuk Melinda yang jelas-jelas telah membuatnya menderita atas pernikahan mereka tersebut.
Almer kembali menghampiri Cucunya yang kini hanya duduk seorang diri tanpa ditemani cucu menantunya.
“Dimana cucu menantu?” tanya Almer sembari mendaratkan bokongnya di sofa.
“Mungkin di dapur,” jawab Raka singkat.
“Raka, sepertinya Kakek harus kembali,” ucap Almer karena mendadak ada urusan penting yang harus segera diselesaikan.
“Benarkah? Kalau begitu, Raka akan memanggil istri Raka,” ucap Raka.
Raka menggerakkan kursi rodanya mencari Melinda yang entah dimana.
Melinda sedang berada di dalam kamar dan tengah menyisir rambutnya yang panjang.
“Temui Kakek sekarang,” ucap Raka yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Melinda yang tengah melamun, terkejut dan menjatuhkan sisir yang sedang dipegangnya.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Melinda terkesiap melihat suaminya yang masuk seperti hantu.
“Ada apa? Apa aku mengejutkan kamu?”
Melinda menggelengkan kepalanya dengan tersenyum canggung.
“Keluarlah, temui Kakek sekarang!” perintah Raka.
Melinda berlari ke arah suaminya dan mendorong kursi roda suaminya menghampiri Almer.
“Cucu menantu, sepertinya Kakek tidak bisa memenuhi permintaan Cucu menantu. Kakek harus pulang sekarang dan Kakek berjanji, setelah bulan madu kalian selesai, Kakek akan mengajak kalian makan malam bersama di restoran milik Kakek,” pungkas Almer.
“Kakek tidak perlu membuat janji seperti itu. Melinda berdo'a agar Kakek sampai rumah dengan selamat,” ujar Melinda.
Almer tersenyum lega mendengar apa yang dikatakan cucu menantunya itu.
“Raka, Kakek berharap kamu mengerti maksud dari perkataan Kakek tadi.”
Raka hanya mengangguk kecil tanpa ingin mengatakan sepatah katapun kepada kakeknya.
__ADS_1
“Sudah waktunya Kakek pulang, wassalamu'alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Melinda mencium punggung tangan Kakek dari suaminya bergantian dengan Sang suami.
Melinda mengantarkan Almer sampai keluar pintu dan tak lupa melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan mereka.
Hati-hati Kakek, terima kasih sudah datang menemui kami. (Batin Melinda)
Raka melirik sekilas ke arah Melinda yang terlihat sedih.
“Apakah Kakek tua itu adalah Kakekmu?” tanya Raka mengomentari ekspresi wajah istrinya.
“Setidaknya saya diperlakukan dengan sangat baik,” terang Melinda.
Raka tersenyum kecut dengan keterangan Melinda yang begitu menggelikan telinga.
“Itu artinya kamu tidak pernah diperlakukan dengan baik?”
“Saya tidak perlu menjelaskannya lagi. Bukankah sejauh ini Mas Raka melihatnya?” tanya Melinda mencoba terlihat tegar seakan-akan dirinya adalah wanita kuat yang tidak bisa ditindas lagi.
“Wow, apa yang terjadi dengan cara bicaramu? Sepertinya, kamu belajar dengan sangat baik.”
“Saya anggap perkataan Mas Raka adalah pujian untuk saja,” balas Melinda dan melenggang pergi begitu saja.
Raka terperangah tak percaya dengan sikap Melinda yang berubah drastis dalam hitungan jam.
“Hei, kau mendengarkan apa yang barusan saja dia katakan kepadaku?” tanya Raka pada asisten pribadinya yang berdiri tepat disampingnya.
“Sialan.” Raka mengumpat kesal dan tak terima dengan apa yang telah Melinda katakan padanya.
Melinda yang berada di dalam kamar sedang berpikir keras. Sepertinya dia harus sedikit merubah sikapnya agar tidak terus-menerus ditindas oleh suaminya maupun keluarganya.
“Ternyata begini rasanya menjadi wanita kuat. Akan tetapi, apakah aku bisa sepenuhnya melakukan sikap seperti ini?”
Raka masuk ke dalam kamar dengan suara pintu yang terbuka cukup keras hingga menimbulkan suara.
Melinda terkejut dan hampir melompat dari tempat tidur.
“Pergilah!” perintah Raka pada asisten pribadinya.
Reza pun permisi dan berharap Tuan Mudanya bisa mengontrol emosi untuk tidak berkata kasar kepada Melinda.
“Apa yang kamu katakan tadi? Apa kamu mencoba menentang ku?” tanya Raka yang merasa dipermainkan oleh Melinda.
Melinda berdehem mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Kenapa masih diam?” tanya Raka dingin.
Perlahan Melinda berjalan mendekat ke arah Raka yang sedang menatapnya dengan begitu dingin.
__ADS_1
“Apakah saya telah membuat Mas Raka tersinggung? Saya rasa Mas Raka cukup pintar mengambil kesimpulan mengenai perkataan saya tadi,” pungkas Melinda.
Raka tak sengaja melirik ke arah tangan Melinda yang bergetar. Raka membulatkan matanya dan tertawa lepas.
Ada apa dengan pria ini? Kenapa malah tertawa? Apakah aku benar-benar aneh? Memang benar, aku adalah wanita yang cukup aneh. (Batin Melinda)
“Sudahlah, aku sedang tidak ingin membuat anak orang menangis,” celetuk Raka sembari menggerakkan kursi rodanya menuju tempat tidur.
“Boleh saya bertanya satu hal?” tanya Melinda yang sangat penasaran dengan pertanyaannya.
“Kamu ingin bertanya apa? Cepat kemari dan bantu aku naik ke tempat tidur!” perintah Raka yang ingin beristirahat.
“Apakah pernikahan kita akan berakhir dengan perceraian? Tidak bisakah Mas Raka mencoba untuk menerima pernikahan ini hingga akhir?” tanya Melinda memberanikan diri bertanya hal yang akan mempermalukan dirinya sendiri.
Raka terkejut mendengar pertanyaan Melinda yang terdengar sangat aneh.
“Kenapa? Apakah kamu mulai menyukaiku?” tanya Raka penasaran.
“Kalau benar pernikahan kita berakhir dengan perceraian, bolehkah saya bekerja untuk menghasilkan uang dan memiliki hubungan spesial dengan pria lain?” tanya Melinda.
Tentu saja pertanyaan Melinda mengenai hubungan spesial dengan pria lain adalah cara untuk memancing perasaan Raka yang sebenarnya.
Jawablah pertanyaan aku ini Mas Raka. Aku ingin mendengar jawaban langsung dari mulut Mas Raka. (Batin Melinda)
“Pertanyaan macam ini? Aku rasa, aku tidak perlu menjawabnya,” tegas Raka.
Raka kemudian berteriak memanggil asisten pribadinya untuk membantunya berbaring di tempat tidur.
Sementara Melinda, hanya bisa diam dengan perasaan malu.
“Kenapa masih disini? Keluarlah! Aku ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu.” Perintah Raka.
“Baiklah, saya harap pertanyaan tadi saya tarik kembali,” balas Melinda dan melenggang pergi keluar dari kamar.
Reza masuk ke dalam bersamaan dengan Melinda yang keluar dari kamar.
“Kenapa lama sekali? Ayo bantu aku pindah ke tempat tidur!” perintah Raka.
“Baik, Tuan muda.”
Raka memutuskan untuk melupakan pertanyaan konyol dari Melinda.
Apa yang sedang wanita itu pikirkan? Apa tadi yang dia katakan, dia ingin memiliki hubungan spesial dengan pria lain? Dasar tidak waras. (Batin Raka)
“Apa kau dengar apa yang ditanyakan padaku beberapa menit yang lalu?” tanya Raka yang sudah berbaring di tempat tidur.
“Maksud Tuan Muda? Saya sama sekali tidak mendengar apapun. Kecuali, teriakkan Tuan Muda yang meminta saya masuk ke dalam kamar,” jawab Reza apa adanya.
“Sudahlah, lupakan saja. Sekarang pergilah dan jangan ganggu tidur siang ku!”
“Baik, Tuan Muda. Saya permisi,” ujar Reza sembari berjalan mundur.
__ADS_1
Melinda mencoba menenangkan diri sembari menghirup udara segar di luar villa.
“Aku tidak seharusnya bertanya kepada Mas Raka mengenai hubungan aneh ini. Akan tetapi, aku berharap bahwa kedepannya Mas Raka bisa menyukaiku,” ucap Melinda bermonolog.