Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 140


__ADS_3

Siang hari.


Raka ingin mengajak istrinya pergi berkencan di sebuah cafe yang cukup terkenal di kota Jakarta. Melinda dengan penuh semangat mengiyakan ajakan dari Sang suami tercinta.


“Sayang, yakin mau kencan di cafe? Atau, apakah ada tempat yang ingin istriku kunjungi?” tanya Raka kepada Melinda.


“Sayang, bukankah diawal tadi mengajakku untuk berkencan di cafe? Aku ingin di cafe saja, sayang,” jawab Melinda.


“Baiklah, istriku sayang. Ada cafe yang baru-baru ini buka, bahwa baru buka saja sudah terkenal sampai kemana-mana. Oleh karena itu, aku ingin mengajakmu kesana,” pungkas Raka.


Melinda mengiyakan dan meminta suaminya untuk segera membawanya pergi ke cafe yang dimaksud oleh suaminya itu.


Raka mengeluarkan ponselnya untuk menanyakan sudah sampai mana. Asisten pribadinya itu.


Baru saja Raka ingin menghubungi Reza, ternyata Reza sudah datang.


“Untung saja dia datang tepat waktu, kalau tidak sudah pasti aku potong gajinya,” ujar Raka sembari menoleh ke arah mobil miliknya yang selalu dibawa oleh asisten pribadinya itu.


“Sayang, tadi bicara apa? Kenapa gaji Mas Reza akan dipotong kalau telat?” tanya Melinda yang protes dengan ucapan Raka.


Melinda cukup tahu bahwa Reza adalah asisten pribadi yang berdedikasi tinggi. Bahkan, untuk mencari seorang asisten yang seperti Reza sangatlah sulit dan mungkin tidak bisa ditemukan.


“Tidak sayang, aku hanya bercanda saja. Tidak sungguh-sungguh memotong gaji Reza, kalau istriku tidak percaya coba tanya saja kepada orangnya sendiri,” balas Raka.


Melinda tersenyum lebar dan merangkul lengan suaminya. Lagipula, ia percaya dengan apa yang suaminya katakan. Sebab, Melinda tahu bahwa suaminya bukanlah orang yang ceroboh.


“Kalian sudah memutuskan untuk berkencan dimana?” tanya Sang Kakek yang tiba-tiba muncul menghampiri sepasang suami istri yang ingin berkencan layaknya sepasang kekasih.


“Alhamdulillah, sudah Kakek. Kami ingin berkencan di cafe,” jawab Raka pada kakeknya itu.


“Cafe? Kenapa tidak di tempat yang romantis seperti restoran bintang lima atau pantai?” tanya Almer.


“Kakek, sebenarnya bukan tempatnya yang menjadi alasan romantis atau tidaknya. Akan tetapi, dengan siapa kita pergi ke tempat yang ingin kita tuju,” terang Melinda.


Almer melongo begitu juga dengan Raka dan Reza. Dengan kompak ketiganya bertepuk tangan pendapat dari seorang wanita bernama Melinda.


“Lihatlah istri Raka ini Kek. Pintar, bukan?”


Almer memberikan jari jempol ke arah Melinda serta Raka.


“Kalian berdua benar-benar serasi. Tunggu apalagi? Cepatlah pergi!”


Keduanya pamit kepada Kakek Almer dan setelah itu masuk ke dalam mobil.


🌷


Akhirnya mereka tiba juga di cafe yang dimaksud oleh Raka. Raka meminta istrinya untuk masuk terlebih dahulu, karena Raka sedang ingin menghubungi seseorang perihal masalah di kantor.


Melinda mengiyakan dan bergegas memilih meja yang akan menjadi tempat duduknya bersama Sang suami.


Tanpa disadari oleh Melinda, ternyata di cafe tersebut ada Indri bersama dengan teman-temannya. Indri tak dengan menoleh ke arah pintu keluar masuk dan melihat Melinda yang memasuki cafe seorang diri.


What? Sedang apa wanita kampungan itu kemari? Tidak akan aku biarkan, terakhir dia meremehkan aku di perusahaan. Sekarang, giliran aku yang membalas perbuatan kurang ajarnya itu. (Batin Indri)


Indri beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Melinda. Indri sengaja menabrak dirinya dan mulai memperlihatkan akting terbaiknya.


Indri menjatuhkan tubuhnya dengan cukup keras, seakan-akan Melinda lah yang sengaja menabrak dirinya.

__ADS_1


“Awwww, kamu kenapa sengaja menabrakkan diri padaku?” tanya Indri dan menangis seakan-akan dirinya dianiayai oleh Melinda.


Sontak saja, pelanggan cafe serta para pelayan menoleh ke arah mereka berdua. Bahkan, hampir semua yang berada di cafe itu menyalahkan Melinda yang sengaja menabrak Indri hingga terjatuh.


Teman-teman yang datang bersama Indri, seketika itu berlari menghampirinya Indri yang terjatuh. Sementara Melinda, tidak bisa berkata-kata melihat betapa hebatnya akting dari Indri.


“Indri, kamu tidak apa-apa?” tanya salah satu teman Indri.


Indri menangis sembari menyentuh lengannya.


“Melinda, apakah kamu masih membenciku? Kenapa kamu jahat sekali kepadaku? Apakah tidak cukup dengan kamu membuatku terusir dari rumah suamiku sendiri?” tanya Indri dan menangis histeris.


Saat Melinda ingin membuka mulutnya untuk menjelaskan kepada yang lain bahwa Indri adalah wanita tukang fitnah, tiba-tiba salah satu teman Indri mendorong Melinda dan hampir membuat Melinda terjatuh.


“Oh, jadi kamu itu wanita yang dimaksud oleh Indri. Ya ampun, benar-benar tidak tahu malu,” ucapnya menghina Melinda.


“Mbak Indri, apa maksud Mbak Indri sebenarnya? Kenapa Mbak Indri berbohong dan malah memfitnah saya yang tidak-tidak?” tanya Melinda.


“Cukup, Melinda. Apakah kamu masih bermuka dua seperti ini?” tanya Indri.


“Mbak Indri harus menjelaskan semua ini dengan jujur, bukankah Mbak Indri yang setuju untuk keluar dari dengan menandantangani kontrak perjanjian?” tanya Melinda.


Plak! Plak! Indri tidak ingin fakta yang sebenarnya terungkap, ia bahkan dengan tega menampar wajah Melinda sebanyak dua kali dengan cukup keras hingga tamparan itu terdengar oleh yang lainnya.


Melinda menyentuh wajahnya dan ternyata sudut bibirnya robek terkena giginya sendiri, sehingga keluarlah dari segar dari sudut bibirnya.


Disaat itu juga Raka dan asisten pribadinya datang. Raka terkejut melihat sudut bibir istrinya mengeluarkan darah dan pipi istrinya terdapat cap Lima jari.


“Raka!” Indri terkejut sampai-sampai ia terjatuh dengan sendirinya ketika melihat Raka yang bisa berdiri tanpa menggunakan alat bantu apapun.


“Indri, apakah kamu yang membuat istriku menjadi seperti ini?” tanya Raka berteriak keras.


“Jawab! Atau cafe ini akan aku tutup secara permanen!” tegas Raka.


Melinda menangis di pelukan suaminya, perbuatan Indri telah menyakiti jiwa dan raganya.


Hampir semua orang menunjuk ke arah Indri beserta teman-temannya. Kemudian, manajer cafe tersebut datang menghampiri Raka.


“Maaf, kami benar-benar minta maaf,” ucap manajer itu yang mengenali sosok Raka Arafat.


“Cepat panggil polisi!” perintah Raka.


Raka harus memberikan sangsi bagi siapapun yang telah membuat istrinya menangis. Tidak ada satupun yang boleh lolos dari jeratan hukum karena mereka tinggal di negara yang memiliki hukum, untuk hukum harus ditegakkan seadil-adilnya.


Indri menyentuh kaki Raka dan memohon agar Raka tidak memanggil polisi. Karena Indri tahu jika itu terjadi, maka ia akan masuk ke dalam penjara yang gelap.


“Jangan harap aku memaafkan mu, wanita tak tahu diri,” tegas Raka yang tidak ingin menatap Indri.


Sebelum menghubungi polisi, manajer itu memberi perintah kepada seluruh karyawan dan karyawati untuk mengosongkan cafe tersebut. Kemudian, menutup cafe itu. Bagaimanapun, manajer itu tidak ingin bila masalah tersebut sampai ke media dan akan berakibat buruk pada cafe miliknya.


“Berhenti, siapa yang menyuruh kalian untuk memulangkan pelanggan? Mereka akan pergi setelah mendengar wanita munafik ini katakan dengan fakta yang sebenar-benarnya!” tegas Raka.


Saat itu juga Indri menjelaskan alasan dirinya keluar dari rumah. Indri juga menjelaskan secara detail tentang kontrak yang ia tandatangani sehingga dirinya mendapatkan uang sebesar 2 milyar dari keluarga Arafat. Setelah semuanya mendengar penjelasan dari Indri, mereka dengan kompak berteriak mengucapkan kata-kata sampah kepada Indri beserta teman-temannya.


Tak sampai 10 menit, cafe itu pun kosong. Hanya ada manajer cafe beserta anak buahnya. Kemudian, ada Raka, Melinda dan juga Reza. Lalu, ada para pelaku yaitu, Indri beserta teman-temannya.


Polisi pun datang dan segera membawa Indri beserta teman-temannya untuk dimintai keterangan. Tidak menutup kemungkinan, mereka akan dimasukkan ke dalam penjara.

__ADS_1


“Sayang, apa sangat sakit?” tanya Raka pada istrinya.


Melinda masih dengan posisi yang sama, ia memeluk suaminya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sang suami. Melinda benar-benar sedih atas perlakuan Indri kepadanya. Jika saat itu suaminya tidak datang, mungkin Melinda sudah membalas perbuatan Indri padanya. Akan tetapi, Melinda bersyukur karena Sang suami datang disaat dirinya benar-benar membutuhkan sosok dari seorang Raka Arafat.


Raka menggendong istrinya dan membawa istrinya ke dalam mobil. Kemudian, Raka memberi perintah kepada Reza untuk segera pergi menuju rumah sakit.


Raka akan meminta catatan dari pihak rumah sakit dan menunjukkannya kepada polisi agar segera memenjarakan Indri serta teman-temannya yang lain.


Beberapa jam kemudian.


Melinda meminta suaminya untuk membawanya pulang, lagipula ada Kakek di rumah. Jika mereka tidak pulang, Sang Kakek pasti akan khawatir.


Raka pun mengiyakan karena tidak ingin memperparah kondisi mental istrinya yang cukup terguncang atas kejadian mengerikan tersebut.


Disaat yang bersamaan, Almer memiliki firasat yang kurang baik. Kakek tua itu terus duduk di kursi teras depan untuk menunggu kedatangan cucu kandung serta cucu menantunya yang sudah hampir pukul 9 malam belum juga kembali.


Almer melihat ada mobil perlahan masuk ke area halaman rumah. Almer pun bernapas lega karena itu adalah mobil milik cucu kandungnya.


Raka dan Melinda pun turun dari mobil. Akan tetapi, Almer cukup penasaran karena Melinda menutupi wajahnya dengan masker bahkan Melinda tidur menoleh ke arahnya sama sekali.


Melinda melenggang pergi begitu saja bersama dengan suaminya.


“Tunggu, apakah kalian tidak melihat bahwa Kakek berdiri sembari menatap kalian berdua?” tanya Almer kepada sepasang suami istri tersebut.


“Kakek, kami sangat lelah. Bolehkah kami langsung masuk ke kamar?” tanya Raka.


Almer menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Akan tetapi, Almer mengurungkan keinginannya untuk bertanya. Sepertinya, besok pagi saja ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi sehingga mereka berdua nampak sangat aneh. Seakan-akan sengaja menghindari dirinya.


“Kalian pasti capek ya? Beristirahatlah, Kakek juga ingin beristirahat,” ujar Almer.


Almer menatap keduanya yang melenggang pergi dengan penuh tanda tanya. Kemudian, Almer menoleh sekilas ke arah asisten pribadi Cucu kandungnya. Meskipun Almer ada keinginan untuk bertanya kepada Reza, Almer tentu saja sudah tahu bahwa Reza tidak akan pernah menceritakan privasi apapun mengenai cucu kandungnya terhadap dirinya.


“Sudahlah, lebih baik besok saya,” gumam Almer.


Almer meminta seorang pelayan untuk membawanya masuk ke dalam kamar. Angin malam itu cukup kencang, sangat tidak baik dengan tulangnya yang sudah tidak kuat lagi.


Di dalam kamar, Melinda membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sementara Raka, membantu istrinya melepaskan pakaian.


“Mas Raka, biar aku saja,” ujar Melinda dengan suara yang tidak terlalu jelas.


“Sayang, aku saja ya yang membantumu melepaskan pakaian dan membantu mengenakan pakaian, ok?”


Melinda mengangguk kecil dan membiarkan apa yang ingin suaminya lakukan.


Setelah Raka berhasil membantu Sang istri mengganti pakaian, Raka pun merebahkan tubuhnya tepat disisi kanan istrinya. Saat itu juga, Melinda memeluk tubuh suaminya dengan cukup erat.


“Sayang, apakah wanita itu akan mendapatkan ganjaran yang setimpal?” tanya Melinda memastikan.


“Insya Allah, siapapun yang berbuat tidak baik terhadap istriku terlebih lagi main fisik, orang itu tidak akan ku biarkan bebas begitu saja. Dia harus mendekam di penjara kalau perlu selamanya berada di dalam penjara hingga maut yang menjemput orang itu,” tegas Raka yang nampak sangat geram dengan kelakuan Indri.


“Sayang, masalah ini jangan sampai Kakek tahu. Aku tidak ingin membuat Kakek sedih atas apa yang telah terjadi!” pinta Melinda pada suaminya.


“Iya sayang, Kakek tidak akan pernah aku beritahu dan tidak akan pernah tahu. Maafkan aku ya sayang, tidak datang tepat waktu,” ujar Raka meminta maaf karena datang terlambat.


“Mas Raka datang tepat waktu, jika saja Mas Raka datang lebih cepat atau lebih lambat. Wanita itu pasti akan selalu lolos,” pungkas Melinda. “Jika Mas Raka datang lebih awal, kejadian itu tidak akan terjadi dan lagi-lagi dia pasti akan membuat hidupku tak tenang. Dan jika Mas Raka datang lebih lambat, mungkin aku sudah membalas perbuatannya sehingga perkelahian kami menjadi seimbang. Yaitu, tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah,” ungkap Melinda pada suaminya.


Raka terpukau mengetahui pemikiran cerdas istrinya itu.

__ADS_1


“Wanitaku benar-benar cerdas,” puji Raka dan mencium kening istrinya dengan penuh cinta.


__ADS_2