Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
10. Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Minggu demi minggu Glacia menjalani terapi dengan Dokter Teresa. Sejauh ini mereka belum menemukan kemajuan untuk kaki Glacia. Hal itu yang terkadang membuat Glacia lelah dan ingin menyerah, namun urung saat melihat raut sang papa yang begitu menanti kesembuhannya.


Sebenarnya Glacia merasa aneh dengan tubuhnya. Ia kerap merasa kelelahan meski tak banyak beraktifitas. Dokter Teresa bilang hal itu wajar karena kondisi metabolisme tubuhnya yang belum stabil.


Glacia pun percaya dan berusaha berpikir positif karena itu yang disarankan untuk menjaga psikisnya. Sejauh ini Glacia belajar mengendalikan emosi meski sulit, karena pada dasarnya ia seorang yang pemarah dan enggan menerima saran.


Keadaan membuat segalanya berubah. Glacia dituntut mengesampingkan ego dan bergantung pada orang lain untuk sekedar bergerak. Hal ini yang paling dibenci Glacia, terlihat rendah dan menyedihkan. Ia terbiasa menjadi ratu selama hidupnya, dan ketika menemui musibah seperti ini, nalurinya sulit menerima.


"Tuan?" Sapaan itu terdengar serentak. Semua pelayan yang berada di ruang makan menunduk segan mendapati kehadiran seseorang yang terbilang tiba-tiba.


Glacia yang saat itu hendak menyuap makanan mengurungkan niat untuk kemudian menoleh ke sumber presensi.


Narendra berdiri tak jauh dari ambang pintu. Pakaian formal melekat di tubuhnya seperti biasa. Di belakangnya ada Julian yang setia mengikuti.


"Kau sudah pulang?" Glacia bertanya dengan nada seadanya sebelum lanjut makan.


Ia mendengar pergerakan Narendra, dan tak lama kemudian pria itu duduk di ujung meja berseberangan dengannya. Narendra bergumam pendek sebagai jawaban. Glacia juga tak menuntut lebih karena sejujurnya pertanyaan barusan hanya basa-basi.


Mereka terbiasa saling diam, rasanya begitu canggung ketika Glacia yang biasa bersikap ketus, sekarang harus menerima saat intensitas pertemuan mereka menjadi lebih sering dari sebelumnya.


Glacia berharap Narendra melakukan perjalanan bisnis lebih sering lagi, agar mereka tak perlu sering-sering bertemu layaknya sekarang. Seperti 3 hari ini, Glacia dengar lelaki itu habis dari luar kota untuk suatu pekerjaan. Tak pelak hal itu membuat Glacia senang, karena sejujurnya ia masih bingung bagaimana harus menyikapi Narendra.

__ADS_1


Di satu sisi Glacia belum mempercayai Narendra, ia masih berpikir bahwa lelaki itu memiliki maksud tertentu terhadap keluarganya. Mengincar harta misalnya?


Usai sarapan, Glacia menghabiskan waktunya di sun house hingga siang. Tak ada kegiatan lain yang biasa ia lakukan selain membaca dan menonton. Padahal, sebelumnya Glacia kurang suka membaca novel, tapi setelah kondisi kakinya yang tak memungkinkan ia keluar seperti dulu, Glacia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.


Saat sedang asik membaca, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Narendra yang mendekatinya setelah sebelumnya mengetuk pintu. Pria itu berdiri di hadapannya dengan wajah datar.


"Ada apa?" Glacia menutup bukunya, mengembalikan benda itu ke rak buku kecil yang ada di sudut ruang. Setidaknya, Glacia sudah mulai terbiasa dengan kursi roda elektrik sebagai alat bantu.


"Papa menyuruh kita ke mansion," sahut Narendra.


"Untuk?" tanya Glacia mengernyit.


Glacia terdiam. Ia lalu menggeleng dan membawa kursi rodanya berbalik, mendekati kembali rak buku yang beberapa saat lalu ia tinggalkan. "Bersama keluarga besar?"


Lima detik Narendra terdiam. "Iya," tukasnya singkat.


Glacia mendesah. "Kau saja. Aku malas," timpal Glacia tak semangat.


Glacia selalu menghindar bilamana ada pertemuan keluarga besar yang mengumpulkan seluruh keturunan Martadinata, ia tak nyaman berada di lingkungan mereka, terlebih pertanyaan-pertanyaan yang sering mengarah ke ranah pribadi. Glacia benci, apalagi dengan kondisinya sekarang, pasti banyak dari mereka yang akan berpura-pura prihatin melihatnya.


Narendra tak banyak berkomentar, ia seolah sudah bisa menebak jawaban Glacia.

__ADS_1


Glacia pikir Narendra sudah pergi, tapi ternyata dugaannya salah ketika tangan pria itu terulur dari balik tubuhnya, meraih buku yang sebelumnya hendak Glacia ambil. Karena letaknya sedikit tinggi dan sulit Glacia jangkau, alhasil ia kesusahan. Ia sama sekali tak menduga Narendra akan mengambilkannya.


"Thanks," ujar Glacia.


"Hm." Narendra bergumam.


"Kau akan pergi?" Glacia tahu Narendra pasti mengerti maksudnya. Pergi yang dimaksud adalah menghadiri makan malam keluarga.


Pria itu mengalihkan pandangan ke deretan buku. "Entahlah."


"Tuan?"


Narendra menoleh mendengar suara Julian dari belakang. Asistennya itu berdiri di tengah pintu sun house yang terbuka.


Narendra melirik Glacia sejenak, ia lalu memasukkan dua tangannya ke dalam saku seraya bergumam. "Aku ada pekerjaan, mau kupanggilkan pelayan?"


"Tidak perlu. Aku ingin sendiri."


Bukan hanya hidupnya yang berubah, ia dan Narendra pun jadi lebih sering berbicara. Entah ini pertanda baik atau buruk, yang pasti Glacia masih dipenuhi kebimbangan.


Glacia menatap kepergian Narendra dan Julian yang perlahan hilang dari pandangan. Ia tidak tahu kakinya akan sembuh atau tidak, karena ... beberapa waktu lalu ia sempat mendengar percakapan Yohanes bersama Dokter Teresa. Entah Narendra juga mengetahuinya atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2