Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
Extra Part


__ADS_3

"Kamu sakit?" Narendra bertanya ketika matanya menangkap keberadaan Glacia di ruang makan.


Wanita itu tengah duduk sambil bersandar lesu di meja. Sekilas wajahnya tidak nampak pucat karena pakai lipstik, tapi mata Glacia tak bisa berbohong.


Narendra menurunkan Aileen yang semula ia gendong. Anak itu langsung berlari ke arah pelayan yang membawa puding. Aileen memang sangat menyukai makanan lembut itu.


Tak terasa, mereka sudah bersama lumayan lama. Aileen bahkan sudah mau menginjak usia 3 tahun.


Narendra duduk di kursi sebelah Glacia. Tangannya terangkat menyentuh kening sang istri. "Agak hangat. Kamu sakit, ya? Apa kepalamu pusing?"


Helaan nafas keluar dari mulut Glacia yang sedikit terbuka. "Hanya sedikit tidak enak badan. Aku baik-baik saja." Ia menjawab lesu.


"Kita ke dokter, ya?" tawar Narendra.


Namun Glacia menggeleng. "Sudah kubilang aku baik-baik saja. Nanti siang juga enakan. Oya, hari ini kamu bawa Aileen, ya. Atau kamu titip saja di rumah Papa," ujarnya lemas.


Narendra mengangguk. "Aku bawa Aileen ke kantor. Nanti biar dia main sama Julian selama aku kerja. Kamu serius tidak perlu ke dokter? Aku bisa berangkat agak siangan kalau kamu mau."


"Kamu ada meeting," tolak Glacia. "Sudah, lebih baik sekarang kamu sama Aileen makan, habis itu berangkat. Aku udah siapin bekal buat kalian."


Narendra terdiam. Ia cukup terenyuh karena Glacia masih mau menyiapkan bekal meski tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.


Tak mau membuat Glacia kecewa andai usahanya pagi ini sia-sia, Narendra pun akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Tapi nanti sore kita ke dokter, ya? Aku usahakan untuk pulang lebih awal."


Glacia mengangguk saja. Narendra pun sarapan sambil sesekali mengawasi Aileen yang juga tengah makan disuapi pengasuhnya. Ia sempat menyodorkan sendok ke arah Glacia, namun ditolak oleh wanita itu.


Sepertinya Glacia benar-benar kehilangan nafsu makan, dan hal tersebut membuat Narendra semakin khawatir untuk meninggalkan Glacia di rumah.


"Kamu serius, tidak apa-apa kalau aku tinggal?" Entah sudah berapa kali Narendra melontarkan pertanyaan yang sama, Glacia sampai bosan menjawabnya.


"Sudah kubilang aku baik-baik saja, Naren. Kamu harus berangkat, atau kamu akan kehilangan kesempatan untuk bekerjasama dengan klien besar itu. Jangan hancurkan pekerjaanmu hanya karena aku yang tidak enak badan."


Narendra memang sempat bercerita perihal meeting hari ini yang sangat penting bagi kelangsungan perusahaan. Bukan hanya hari ini, sebelum-sebelumnya pun Narendra kerap membagi cerita pada Glacia, seolah tak ingin menyembunyikan apa pun dari sang istri.


"Oke. Aku pasti akan pulang cepat."


Narendra menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Selepas itu ia berangkat membawa Aileen, pun tak lupa ia mengecup kening Glacia sebelum pergi.


Narendra sudah biasa membawa Aileen ke kantor. Gadis kecil itu bahkan sudah akrab dengan sebagian karyawan. Mereka seringkali mengajak Aileen bermain ketika senggang, atau saat Narendra menitipkannya dalam keadaan darurat.


Aileen, si gadis imut dengan tubuh gempal yang subur menjadi primadona di perusahaan. Nona muda yang periang dan mudah akrab dengan semua orang. Tidak sulit untuk menyukai seorang Aileen Narendra.


Julian bertugas menjaga gadis itu selama Narendra meeting. Seperti niat awal, Narendra akan pulang paling lambat sore hari guna bisa mengantar Glacia ke dokter.


Namun, rupanya rencana hanya tinggal rencana. Sebelum waktu mencapai jam makan siang, Narendra malah sudah mendengar kabar istrinya masuk rumah sakit.

__ADS_1


Sontak, ia yang baru selesai meeting langsung membatalkan jadwal meeting selanjutnya. Perasaan Narendra yang sejak pagi tidak tenang akhirnya terbukti. Kondisi Glacia sangat lemah sampai ia harus mendapat perawatan selama beberapa hari di rumah sakit.


Narendra selalu takut. Sejak tahu Glacia memiliki riwayat kanker, ia selalu merasa tidak tenang meski dokter sudah menyatakan wanita itu telah bersih. Tapi penyakit itu bisa saja kembali jika tidak dikontrol. Alasan mengapa Narendra seringkali cerewet mengenai apa pun yang Glacia makan.


"Glacy!"


Suara hentakan pintu terdengar kasar saat Narendra masuk ke ruang rawat Glacia. Lelaki itu berjalan tergesa menghampiri istrinya yang terbaring dengan jarum infus di tangan. Pun selang oksigen terpasang di hidungnya. Hal itu membuat Narendra tak bisa untuk tidak berpikir macam-macam.


"Apa yang terjadi? Sudah kubilang kita ke dokter saja dari tadi! Kenapa kamu menolak?!" seru Narendra begitu sampai di sebelah istrinya.


Melihat kedatangan Narendra, Glacia menoleh ke arah Yohanes yang berdiri di samping ranjangnya.


"Papa yang beri tahu dia," ujar Yohanes, menjawab pertanyaan tak tersirat dari Glacia.


"Apa kata dokter? Kamu baik-baik saja, kan? Tidak ada sesuatu yang buruk dari kesehatan kamu, kan?" Narendra kembali menuntut jawaban. "Kenapa tidak ada yang menjawab!"


Yohanes menghela nafas panjang melihat kepanikan menantunya. "Naren, tenang dulu. Minimal kamu netralkan dulu nafasmu."


"Bagaimana aku bisa tenang? Cepat beri tahu aku bagaimana kondisi Glacy, Pa."


"Aileen mana?" Glacia malah menanyakan keberadaan putri mereka. Hal itu membuat Narendra bertambah kesal.


Tak ingin membuat suaminya cemas lebih lama, Glacia pun segera menjelaskan. "Tadi aku sempat sesak nafas, susternya Aileen bawa aku kemari, terus Papa nyusul."


"Glacia, apa yang terjadi?"


Glacia menyungging senyum menatap Narendra. Ia menyentuh rahang pria itu yang sedikit membungkuk di atasnya. "Aku hamil."


"Hamil?" bisik Narendra. Rupanya ia belum sepenuhnya sadar dari kepanikan.


"Hm. Aku hamil. Aileen akan punya adik, Sayang." Glacia sedikit mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Narendra yang sedang mematung.


Nafas Narendra terdengar berat ketika ia berkedip. "Hamil, ya? Lalu kesehatan kamu?"


Glacia menggeleng sambil terkekeh. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, suamiku? Kita baru saja kontrol kesehatan beberapa minggu lalu, dan kamu tidak lupa bahwa dokter bilang kesehatanku sangat baik, kan?"


"Itu beberapa minggu lalu."


"Dan saat ini pun sama. Aku sehat. Aku hanya tidak enak badan karena anakmu ini," jelas Glacia menegaskan, bahwa Narendra tak perlu khawatir lagi.


Glacia membawa satu tangan Narendra ke perutnya. "Sudah empat bulan, lho. Kok, aku bisa tidak sadar, ya? Padahal aku tahu aku sudah telat selama itu. Kamu juga tidak curiga saat kita jadi lebih sering bercinta."


"Ehem." Yohanes hanya bisa berdehem mendengar pembicaraan suami istri itu. Mau bagaimana lagi, ia adalah seorang duda. Lama tak memiliki pasangan membuatnya canggung mendengar hal demikian. "Papa keluar dulu, ya? Aileen katanya di bawah. Dia tantrum karena ditinggal papanya naik ke atas."


Yohanes sedikit menyindir Narendra. Tapi Narendra sedang tak ingin membahas itu. Ia memang salah karena sempat mengabaikan Aileen, dan meninggalkannya di kantor bersama Julian. Siapa yang menyangka mereka akan menyusul.

__ADS_1


Glacia sedikit menoleh pada papanya dan mengangguk, membiarkan lelaki baya itu pergi meninggalkannya berdua dengan Narendra.


"Empat?"


"Heem." Glacia mengangguk sembari mengulum senyum senang. "Mana senyumnya? Kamu tidak senang Aileen punya adik?"


Melihat respon Narendra yang diam saja, membuat kening Glacia berkerut. "Kamu tidak senang?"


Narendra tak langsung menjawab. Ia seperti tengah berpikir akan sesuatu. "Aku senang."


"Lalu, kenapa wajahmu seperti itu?"


Narendra menatap Glacia cemas. "Bukankah, rencana kita menambah anak nanti setelah Aileen berusia lima tahun?"


Glacia menghela nafas. "Kamu melarangku pakai KB, bagaimana kita bisa berencana?"


"Aku melarangmu karena aku takut ada dampak pada tubuhmu. Tapi saat kita bercinta, aku rasa selalu mengeluarkannya di luar," ujar Narendra.


Wajah Glacia berubah datar. "Jadi kamu mau bilang ini bukan anakmu?" sewotnya.


Narendra segera menggeleng. Ia pun bingung harus menjawab bagaimana. Kabar ini terlalu tiba-tiba dan mengejutkannya.


"Bagaimana bisa kamu yakin melepasnya di luar, sementara kamu sendiri tidak pernah pakai pengaman?"


"Kamu bilang kamu perih kalau aku pakai."


"Ya sudah, tidak usah protes dan bingung kalau aku hamil. Kamu beberapa kali keluar di dalam pun tidak ingat. Apa yang bisa diingat saat merasa enak? Semua bisa kamu lupakan saat bercinta." Glacia menggerutu.


Narendra berdehem. Apa yang dikatakan Glacia memang benar. Kenapa ia harus sebingung itu. Narendra mengangguk. "Maaf, bukan aku bermaksud meragukanmu. Aku ... hanya sedikit tidak menyangka."


Mata Glacia memicing. "Jangan-jangan kamu masih memikirkan teman lama yang bahkan tidak kukenal itu?"


"Astaga, Naren. Sampai kapan kamu akan cemburu berlebihan seperti ini? Stop mencari tahu tentang hidupnya. Dia sama sekali tidak ada hubungannya denganku, baik itu sekarang atau pun di masa lalu."


"Aku diam saja saat kamu diam-diam mengawasiku. Aku diam saat tahu kamu memasang kamera tersembunyi untuk mengamati gerak-gerikku. Setelah semua yang kamu lihat, kamu masih tidak percaya padaku?"


Seketika Narendra terpaku. Glacia tahu tentang kamera itu?


"Sepertinya yang perlu dikhawatirkan itu bukan aku, tapi kamu. Kenapa kamu tidak menemui psikolog saja?"


"Glacy—"


"Jujur saja, semakin lama kamu semakin membuatku takut, Naren," bisik Glacia, membuat Narendra mematung.


Apa yang ia lakukan salah?

__ADS_1


__ADS_2