
Tepat pukul 7 malam Narendra pulang. Saat lelaki itu melewati pintu masuk, ia kontan berhenti lantaran mendapati keberadaan Glacia. Wanita itu duduk di kursi rodanya sambil menghadap Narendra. Jarak mereka masih sekitar 5 meter, tapi Narendra bisa dengan jelas melihat raut penuh kesal tertuju padanya.
Narendra melanjutkan langkah hingga berhenti tepat di depan Glacia. Glacia masih menatapnya dengan alis menukik sarat akan emosi.
"Ada apa?" tanya Narendra. Ia sedikit mengamati penampilan Glacia yang malam ini terbalut gaun tidur berbahan lembut.
Masih dengan wajah merengut, Glacia menyuarakan seruan yang terdengar agak keras. "Kemana saja tadi siang?! Bukannya aku menyuruhmu pulang?!"
Hening. Narendra tak lantas menjawab dan malah terpaku memandangnya. Glacia merasa aneh sendiri dengan sikap Narendra akhir-akhir ini. Ia tidak tahu apakah itu pandangan iba seorang pria pada wanita tak berdaya sepertinya, atau memang ada yang salah dengan wajah Glacia.
"Kenapa diam? Kau berani menantangku sekarang?" Glacia masih enggan berhenti.
Narendra membuang nafas berat. "Aku sibuk," jawabnya pendek. "Kenapa kau diam di sini? Di sini dingin." Ia melirik ke arah pintu yang terbuka, dan seketika itu pula seorang pelayan datang menutupnya.
Narendra terkejut saat Glacia melemparnya dengan buku majalah. Tampaknya wanita itu menunggu lumayan lama sebelum Narendra pulang.
"Menyebalkan!" Hanya itu yang Glacia katakan sebelum berbalik pergi memasuki lift untuk kembali ke kamar.
Narendra memandang kepergian sang istri, lalu membungkuk mengambil majalah yang tadi Glacia hempas.
"Kenapa saat ada masalah seperti ini, kau baru mau menungguku di depan pintu, Glacy?" gumamnya pelan.
__ADS_1
Di sisi lain, Glacia menutup pintu kamarnya kasar. Ia lalu mengarahkan kursi rodanya ke arah balkon dan bergeming di sana. Langit malam hari ini begitu cerah. Cahaya rembulan bersinar terang hingga menembus jendela kamarnya yang diselimuti remang.
Kilas pertemuannya dengan Claire setahun lalu tiba-tiba berputar. Wanita itu datang menemuinya tepat setelah Glacia resmi menjadi istri dari Narendra.
Claire memarahinya karena dia menganggap Glacia adalah penyebab temannya patah hati dan hampir bunuh diri. Itu adalah awal di mana Glacia tahu bahwa sebelumnya Narendra punya kekasih.
Dulu, mungkin Glacia tidak peduli. Tapi makin ke sini entah kenapa Glacia semakin ingin menyatukan mereka kembali, tak peduli bahwa saat ini Lizy sudah berstatus sebagai tunangan orang. Di samping itu, Glacia juga ingin Narendra menceraikannya.
Di tengah lamunan, pintu kamar Glacia terbuka. Glacia tahu siapa yang datang karena ia mencium wangi parfumnya. Hanya Narendra, orang yang Glacia kenal tak pernah ganti wewangian.
Pria itu berdiri di belakangnya. Glacia tidak tahu apa yang Narendra lakukan karena ia sendiri entah kenapa tak berani menoleh. Glacia merasa ada sesuatu yang beda antara dirinya dan Naren. Mungkinkah ini efek karena Glacia terlalu baik akhir-akhir ini?
"Bagaimana perasaanmu hari ini? Apa ada keluhan?" Suara rendah Narendra memecah keheningan.
"Wina bilang siang tadi kau melewatkan minum obat."
Glacia diam. Ia tahu Narendra akan selalu mengawasinya di rumah. Tidak menutup kemungkinan pria itu juga tahu apa yang ia lakukan, serta kedatangan Lizy yang sengaja ia undang tanpa persetujuannya.
"Sudah makan malam?" tanya Narendra.
Tanpa diduga Glacia justru berbalik menatapnya. "Kenapa kau bersikap seperti ini?"
__ADS_1
"Apa?" Narendra mengernyit.
"Peduli." Glacia membuang nafas. "Sejak kecelakaan itu, kau terlalu sering memperhatikanku. Apa karena kau kasihan padaku?"
"Wajahmu pucat," jawab Narendra tak nyambung.
Namun hal itu tak memengaruhi Glacia. Ia menggeleng dan terus menatap Narendra hingga pria itu balas memandangnya lama.
"Jangan kasihan padaku," ujar Glacia lagi. Suaranya terdengar halus di tengah desir angin malam.
Kau sudah terlalu baik padaku selama ini.
"Aku tidak suka dikasihani."
"Aku tidak mengasihanimu," balas Narendra.
Glacia menggeleng. "Kau kasihan padaku. Aku tahu kau tidak berani meninggalkanku karena kondisiku yang seperti ini. Kau merasa harus menjagaku karena Papa. Iya, kan?"
Narendra bungkam, namun matanya menyorot Glacia rumit, dan entah kenapa Glacia seperti menemukan secercah rasa bersalah di sana.
Di lain sisi Narendra berusaha mengontrol dirinya. Glacia tidak tahu bahwa kecelakaan itu bermula dari pesan yang Narendra kirim pada Gallen hingga menghilangkan fokus lelaki itu.
__ADS_1
Secara tidak langsung, Narendra lah penyebab kondisi Glacia saat ini.
"Naren, kalau aku membantumu mendapatkan Lizy kembali, apa kau mau?"