Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
42. Ciuman Hangat


__ADS_3

Sore harinya Glacia sampai di rumah. Ia terkejut karena sudah mendapati Narendra berdiri di ambang pintu begitu kursi rodanya menginjak lobi. Pria itu mendekat lalu bertanya. "Kau baik-baik saja?"


Glacia mengernyit, sedikit heran dengan tingkah Narendra. "Tentu."


Pria itu mengangguk. "Syukurlah. Aku khawatir kau kelelahan lagi."


Glacia tak banyak bicara. Ia melewati Narendra memasuki rumah, dan Glacia pun bisa merasakan kalau Narendra mengikutinya juga. Tak ingin ambil pusing, Glacia meminta Weni untuk membawakannya buah segar.


"Weni, tolong potongkan buah untukku," titahnya.


"Baik, Nyonya. Nyonya ingin buah apa?"


"Mangga manis dan strawberry. Anggur dan kiwi juga boleh."


"Baik, Nyonya. Saya siapkan dulu." Weni pun segera berlalu ke dapur guna menyiapkan apa yang Glacia mau.


Sepeninggal Weni, Glacia berniat melanjutkan tujuannya ke kamar. Ia memasuki lift, lalu menekan tombol lantai dua. Matanya melirik ke samping dengan bingung. "Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"


Narendra yang mendapat pertanyaan tersebut langsung menoleh. Pria itu masih berdiri dengan gestur santainya dan kedua tangan tenggelam di saku. "Tidak."


"Lalu, kenapa masih mengikutiku?"


Narendra tak langsung menjawab, namun matanya tak lepas menatap Glacia lekat. Senyum kecil nan tipis membuat Glacia sesaat menahan nafas. Sial, pria itu jarang sekali tersenyum, tapi sekalinya senyum malah jadi semanis itu. Padahal hanya senyum samar yang tak kentara terlihat.


"Aku ingin tahu, apa saja yang kau lakukan di rumah Papa?"


Kerutan Glacia semakin dalam. Narendra benar-benar aneh. Sejak kapan ia jadi ingin tahu kegiatan Glacia?


Meski begitu Glacia tetap menjawab apa adanya. "Tidak banyak. Aku hanya makan kudapan sambil membaca buku di taman bunga milik Mama."


Narendra mengangguk. "Pasti menyenangkan," bisiknya halus.


Glacia hanya mengendik. Nyatanya tak semenyenangkan yang Narendra pikir. Apalagi soal pertemuannya dengan Claire, mood Glacia benar-benar berubah sejak saat itu.


Mereka sampai di lantai dua, dan Glacia pun bergegas menghampiri kamarnya, begitu pula Narendra yang kamarnya memang bersebelahan dengan Glacia.


Narendra tak langsung masuk, ia mengamati Glacia yang membuka pintu di sampingnya. Rautnya seolah ingin mengatakan sesuatu namun tak jadi karena ragu.


Glacia masuk, sebelumnya ia sempat menoleh dulu pada Narendra yang masih bergeming tak bergerak. Entah lelaki itu terdiam karena apa. Glacia tak peduli.


Tepat saat Glacia hendak menutup pintu kamarnya, Narendra menahan. "Tunggu, Glacy."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Glacia.


Wajah Narendra terlihat dari sela pintu yang belum menutup sempurna. Glacia pun melebarkan celah itu supaya mereka bisa bicara lebih leluasa.


"Sebenarnya kau mau bilang apa?" tanya Glacia tak sabar.


"Boleh kita bicara sebentar?" Narendra sedikit melirik ke dalam kamar Galicia.


Glacia yang mengerti pun mempersilakan lelaki itu untuk masuk. Narendra duduk di sofa, sementara Glacia tetap di kursi rodanya.


"Ada apa?"


Narendra tak begitu saja buka suara. Lelaki itu memperhatikan Glacia lama hingga bermenit-menit kemudian. Sekilas Glacia menemukan kegundahan di sana. Entah hanya perasaan Glacia saja, atau Narendra memang tengah mengkhawatirkan sesuatu.


"Naren?"


"Mari kita mulai dari awal," cetus Naren mengejutkan.


Sesaat Glacia terpekur berusaha mengerti apa yang dimaksud Narendra. "Apa?"


Narendra mengubah duduknya hingga menghadap langsung pada Glacia. Satu tangannya terulur meraih tangan Glacia yang terkulai di pangkuan.


"Pernikahan ini, ayo kita perbaiki apa yang salah."


"Apa maksudmu?" Glacia menunduk melihat tangannya yang ada dalam genggaman Narendra.


"Glacy, mungkin selama ini kita terlalu acuh tak acuh. Aku mengerti hubungan kita tidak dilandasi perasaan. Tapi, ayo kita coba bangun perasaan itu."


Hening. Beberapa detik berlalu dalam semu. Glacia terkekeh sembari menggeleng pelan tak mengerti. Ia masih enggan percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Kamu mencintai Lizy, Naren," ucap Glacia berusaha mengingatkan. "Apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu? Tanpa diberi tahu pun aku sadar dia masih mengharapkanmu. Kamu pun juga begitu, kan?"


"Glacia, bisakah kamu berhenti membawa orang luar dalam pembicaraan kita?" Narendra terdengar memohon. "Ini tentang aku dan kamu, bukan Lizy atau siapa pun itu."


Glacia terdiam.


"Kenapa kamu selalu berpikir bahwa aku dan Lizy bisa kembali? Dia hanya masa lalu."


"Masa lalu pun masih bisa diperbaiki," sambung Glacia. Matanya menatap hampa bayangan Narendra di meja kaca.


"Dan itu juga berlaku untuk kita." Narendra membalas. "Ayo kita perbaiki hubungan kita di masa lalu. Pernikahan ini memang bermula dari keterpaksaanmu, tapi ayo kita berusaha saling menerima," bujuknya tak menyerah.

__ADS_1


"Kenapa?" Glacia mendongak. "Kenapa kamu mendadak seperti ini?"


Ia menarik tangannya dari Narendra, lalu memundurkan sedikit kursi rodanya untuk menghadap jendela. Langit berangsur gelap di luar sana, sama seperti hati Glacia yang kini mulai kalut oleh perkataan Narendra.


Benar dugaannya, Narendra memiliki niat pada hubungan mereka. Tapi Glacia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Narendra. Kenapa pria itu masih saja bisa bertahan dalam posisi sekarang?


Narendra berdiri, turut menghampiri Glacia dan berhenti di belakangnya. Ia menatap punggung wanita itu lama. Sungguh, bisakah Glacia memahami ketakutannya saat ini? Narendra takut, ia takut tak bisa memiliki kesempatan memperbaiki hubungan yang sejak awal terasa dingin.


"Glacy—"


"Seandainya aku mati, kamu akan menyesali keputusan itu," sanggah Glacia.


"Kenapa kamu selalu membahas kematian?" Kening Narendra berkerut dalam.


Glacia berbalik, balas menatap Narendra. "Kapan aku pernah membahas?"


Dulu, kamu pernah mengigau seperti itu juga.


Narendra menggeleng pelan. "Intinya jangan membahas hal-hal yang belum tentu terjadi."


"Kamu sudah tahu," cetus Glacia.


Narendra mengerti apa yang Glacia maksud. Ia pun tak bisa mengelak kenyataan itu.


"Jadi ini alasan dari pembicaraan kita, kan?" Glacia menatap Narendra. "Kamu mau memperbaiki hubungan kita karena tahu hidupku mungkin tak lama lagi."


"Sudah kubilang berhenti merasa kasihan, Naren. Aku akan lebih senang kalau kamu menutup mata dan fokus pada keinginan dan isi hatimu sendiri."


"Memang kamu tahu apa isi hatiku? Memang kamu paham apa yang sebenarnya ku inginkan?" tanya Narendra. "Kamu bahkan selalu salah paham dan larut dalam spekulasimu sendiri," lanjutnya telak.


"Kamu selalu merasa benar dan bertindak semaumu tanpa benar-benar memahami apa yang sebetulnya terjadi. Sampai kapan kamu akan seperti ini, Glacy?"


Nafas Narendra terengah pelan. Ia menyugar rambutnya ke belakang sambil membuang mukanya sesaat. Wajahnya terlihat lelah dan frustasi. Ekspresi lain yang baru Glacia lihat dari seorang Narendra.


Pria dengan ketenangan setinggi gunung itu, bagaimana Glacia bisa tidak percaya kalau Narendra sudah bersikap demikian.


"Memang apa yang ingin kamu perbaiki dari hubungan kita?" bisik Glacia lemah.


Narendra menoleh menatap Glacia lagi. Keduanya pun beradu tatap dalam diam. Dan Narendra merasa waktu seolah berhenti tatkala mata yang selalu memandangnya rendah itu, kini menatap lebih redup sarat akan perhatian.


Glacia diam saja saat Narendra melangkah lebih dekat, ia bahkan berusaha tak mengelak saat lelaki itu berlutut menguncinya dalam pandangan.

__ADS_1


Narendra menatapnya lekat, pun jarak keduanya lumayan dekat. Glacia bahkan bisa mencium aroma nafas Narendra yang hangat, sebelum kemudian ia dibuat mematung oleh sentuhan lembut yang menyapa bibirnya.


Narendra menciumnya, dan itu membuat jantung Glacia kembali bergaduh di dalam sana. Bagi Glacia, ini ciuman pertama mereka setelah sekian lama menikah.


__ADS_2