
Wina membuka tudung jaketnya pelan. Ia menelan ludah, masih berdiri di depan pintu yang menutup. Matanya melirik sekeliling ruangan yang sepi tak ada siapa pun, barulah selanjutnya ia menoleh pada seseorang yang terbaring di atas ranjang pasien, tak lain adalah Glacia.
Perlahan Wina mendekat, hingga kini ia berdiri tepat di sebelah wanita itu. Wajah pucat yang diselipi selang oksigen membuat Wina terpaku sesaat. Raut lemahnya masih mampu bersinar di tengah cahaya yang buram.
Sang nyonya terlahir cantik, namun sayang kecantikan itu membuat wanita lainnya iri hingga ingin membunuhnya. Keindahan yang menimbulkan petaka dan kecemburuan.
"Nyonya, saya tidak ingin melakukan ini. Tapi ... jika saya tidak melakukannya, ayah saya yang akan menjadi korbannya. Saya memohon kemurahan hati anda," bisik Wina hampir tanpa suara. Matanya tak lepas menatap Glacia lekat.
Keraguan menyelimuti hati Wina saat dengan tangan gemetar ia mengeluarkan sebuah suntikan berisi cairan. Berkali-kali Wina meneguk ludah, memandang bergantian suntikan tersebut dan wajah Glacia yang terlelap damai.
Jantung Wina bergemuruh hebat penuh ketakutan, pun nalurinya meneriakkan kata jangan. Tapi, sekali lagi Wina teringat sang ayah yang terancam. Untuk menyelamatkan satu nyawa, mau tak mau Wina harus mengorbankan nyawa lainnya.
Langkah Wina tersendat mendekati Glacia. Sekali lagi ia meyakinkan dirinya sendiri, sebelum membuka penutup alat suntik itu, dan menekannya sedikit untuk mengetes serta memastikan suntikan tersebut berfungsi dengan baik.
Wina menatap Glacia sesaat, ia lalu mulai menyentuh karet pada selang infus, bersiap menyuntikkan jarum ketika tiba-tiba saja tubuhnya dibuat menegang oleh sesuatu.
Jantung Wina berdegup hebat hingga ia merasa semua organ dalamnya turut terasa nyeri. Wina meneguk ludah dengan tenggorokan yang mendadak kering. Wajah yang semula gugup dan ketakutan kini bertambah pias dengan seluruh saraf yang menegang. Sesuatu yang keras nan dingin terasa menyentuh belakang kepala Wina.
Wajah Wina menegap dengan mata dan mulut tergagap. Nafasnya pun berat dan mulai berkejaran. Ia terengah dengan tubuh yang semakin bergetar.
"Kemurahan hati? Sepatunya bahkan lebih mahal dari seonggok nyawa yang kamu miliki, dan kau meminta kemurahan hatinya? Lucu sekali." Seseorang berbisik tajam di belakang Wina. Gadis itu kini terhenyak tak mampu bergerak.
Dengan kaku Wina berbalik, bahkan matanya tak mampu untuk sekedar mengerjap ketika mendapati siluet lelaki yang berdiri menjulang mengintimidasinya.
Seketika suntikan di tangan Wina jatuh menimbulkan bunyi denting di atas lantai. Sementara tubuhnya membeku, pintu ruang rawat di sana terbuka cepat memunculkan orang-orang bersetelan jas hitam.
Mereka berbaris melingkar di belakang lelaki tinggi itu sambil menodongkan senjata pada Wina. Jumlahnya lebih banyak dari yang sebelumnya Wina lihat berjaga di depan.
Wina jelas panik karena merasa terjebak di tempat. Wajahnya diselimuti ketakutan besar, hingga kedua kakinya bergerak kecil tak tentu arah.
"T-Tuan ..." bisik Wina lirih.
__ADS_1
Narendra menatap pelayan itu dingin. Rahangnya yang tegas mengeras membentuk sebuah kontur mengerikan di mata Wina. Satu tangannya masih terangkat memegang pistol.
Dengan tajam Narendra pun berkata. "Berani sekali, orang rendahan sepertimu menyentuh istriku. Aku membuat kesalahan besar karena sempat menjadikanmu pelayannya."
Bibir Wina bergetar dengan mata yang mulai berkaca. Lalu tanpa menunggu waktu lama tubuhnya meluruh, berlutut di hadapan Narendra. "T-Tuan, ampuni saya! Saya salah! Saya berdosa karena berniat membunuh Nyonya! Saya mohon ampuni saya, Tuaaann!!!"
Raungan Wina yang disertai ledakan tangis tak mampu menggerakkan hati Narendra yang kadung diselimuti kemarahan.
"Saya mohon, Tuan. Saya hanya diminta seseorang untuk melenyapkan Nyonya. Saya terpaksa melakukannya karena ayah dan saudari saya juga terancam. Saya betul-betul minta maaf, Tuan. Saya mengaku berdosa! Tolong ampuni saya ..."
Narendra memandang lurus dengan pandangan tak acuh. Wajahnya masih diselimuti ketegangan yang kini menguar menciptakan kebekuan. Situasi tersebut benar-benar mengintimidasi Wina.
"Harusnya kau mengakatakan itu pada dirimu sendiri, sejak kau memiliki niat buruk pada istriku," ucap Narendra datar.
Wina menggeleng rikuh. Ia mendongak menatap Narendra penuh air mata. "Saya betul-betul tak ada niat menyakiti Nyonya, Tuan. Hiks, saya terpaksa ..."
"Terpaksa atau bukan, kau tidak akan melakukannya jika tak ada niat. Berhenti melakukan pembelaan tak berguna, karena aku juga tak ada niat untuk mengampunimu," desis Narendra tajam.
Wina semakin terisak, orang-orang bersetelan jas hitam itu mulai menyergap Wina dan menyeret tubuhnya dengan paksa. Wina sedikit memberontak sambil terus menatap Narendra penuh permohonan. Namun Narendra bahkan tak meliriknya karena pandangan pria itu kini lurus pada sang istri yang terbaring tanpa tahu apa pun.
Suasana ruang rawat Glacia kini kembali hening setelah orang-orang itu membawa Wina pergi. Narendra menyimpan pistolnya ke dalam saku jas, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang.
Ia duduk di samping Glacia, mengusap sisi wajah wanita itu dengan sangat pelan dan hati-hati. "Betapa mengerikan wujud kecemburuan di dunia ini. Dan aku pun mengakui sempat ingin melakukannya pada mantan kekasihmu," bisik Narendra pelan.
Ia mengecup sekilas kening Glacia, lalu berdiri dan beranjak menuju pintu. Narendra membuka pintu tersebut hingga menampilkan sosok seorang wanita yang tersenyum menyapanya.
Narendra berujar datar namun tetap segan. "Saya titip Glacia sebentar."
Sudut bibir itu mengembang semakin lebar. "Tentu saja. Glacy sepupu suamiku, tentu aku harus menjaganya dengan baik."
Narendra mengangguk. Ia lalu melenggang diikuti salah satu pengawal yang mulai berjaga lagi di sana, meninggalkan si wanita yang kini membuang nafasnya panjang.
__ADS_1
"Kerumitan ini membuatku teringat masa lalu," bisiknya pelan, lalu tersenyum mengenang.
Ia lalu menoleh pada beberapa pengawal yang berdiri layaknya patung di sepanjang koridor kamar. "Kalian, bertugaslah dengan benar. Jangan sampai pelatihan dan gelar yang kalian miliki membuat aku dan suamiku malu!"
"Baik, Nyonya!" Para pengawal itu menjawab serentak.
Wanita itu pun mengangguk puas sebelum kemudian beranjak membuka pintu dan memasuki ruang rawat Glacia.
***
Sementara jauh di kota lain, Lizy yang hendak tidur dibuat terkejut oleh segerombolan orang yang tiba-tiba masuk membobol pintu rumah sederhananya.
Melihat logo keemasan yang tersemat di pakaian hitam mereka, membuat Lizy seketika sadar posisinya dalam bahaya.
Perempuan itu termundur gugup seiring pria-pria di sana yang mulai mengepungnya. Lizy tak bisa berbuat apa-apa karena mereka semua memiliki senjata.
Ia hanya mampu mengangkat tangan sambil terus bersikap waspada. "S-Siapa kalian? Apa mau kalian?" bisiknya lamat.
Mata Lizy beredar lambat meneliti orang-orang yang lebih mirip pasukan eksekutif itu.
Kemudian, satu pria lainnya datang membelah barisan hingga kini berdiri tepat di hadapan Lizy yang tergemap.
Pria itu mengangkat dagunya menatap Lizy sombong. "Bekerjasamalah, Nona. Atau kami menyeret paksa anda dengan cara yang tak pernah anda duga."
Nick tersenyum culas. Ia mengangkat satu tangannya, lalu melambaikan dua jarinya sebagai isyarat untuk para anak buahnya bergerak.
Detik itu pula, Eliza Pataya yang terkepung dibawa paksa dari perkampungan tempatnya bersembunyi.
Di depan rumah sakit di pusat kota, Narendra menengadah memandang langit malam yang gelap. Wajahnya penuh siasat yang tersirat, seolah di atas sana ia menatap seseorang paling dibenci.
"Krisna Julius, aku akan melihat bagaimana caramu berlari selanjutnya," bisik Narendra tajam.
__ADS_1