Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
52. Perpisahan


__ADS_3

Diam, itulah yang bisa Narendra lakukan ketika mengamati para pelayan yang hilir-mudik membawa barang-barang Glacia ke mobil.


Glacia merealisasikan ucapannya tadi siang, bahwa ia akan pulang ke rumah sang ayah. Narendra belum bertemu Yohanes, pun mereka belum bicara satu sama lain. Narendra tidak tahu apakah Glacia benar meminta bantuan ayahnya perihal surat cerai. Jika benar, kenapa Yohanes melakukannya?


"Tuan." Julian bergumam padanya, memberi tahu bahwa Glacia baru saja keluar dari lift bersama Weni, pelayannya.


Wanita itu sudah siap pergi. Sesaat mata mereka bertemu, dan Glacia yang pertama membuang pandangan melewati Narendra tak acuh.


"Kau benar-benar akan pergi?" sela Narendra, menghentikan gerak kursi roda Glacia.


Wanita itu membelakangi Narendra, tapi Narendra bisa melihat gestur wajahnya yang pucat nan hampa. Ia memandang punggung Glacia sedikit datar. Percuma Narendra mencegah wanita itu sekarang. Glacia bukan orang yang mudah mengubah keputusan.


"Seperti yang kau lihat," sahut Glacia singkat.


Narendra mengangguk. Ia mendekat dan berhenti tepat di hadapan Glacia, menghalangi pandangan wanita itu dari ambang pintu yang terbuka lebar. "Kalau begitu hati-hati. Aku akan berkunjung sesekali."


"Kurasa tidak perlu. Kau hanya harus tandatangani surat cerai itu, baru kau boleh menemuiku."


"Glacy ..." Narendra membuang nafas menyerah. "Aku tahu kamu sedang marah padaku. Tapi tolong dengarkan aku sekali saja. Tolong berhati-hatilah. Jangan keluar rumah tanpa pendampingan. Jangan lupa juga, jaga kesehatan. Turuti apa kata dokter dan jangan lupa minum obat."


"Bisakah kamu melakukannya? Bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri."


Glacia terdiam lama memandang Narendra. Ia pun bergumam pendek sebagai respon dari semua perkataan Narendra. "Hm."


"Weni, barangnya sudah masuk semua, kan?" Glacia menoleh apda Weni di belakang.


Gadis itu mengangguk. "Sudah, Nyonya. Kita tinggal berangkat." Suara Weni terdengar mengecil di akhir kalimat. Ia sedikit melirik Narendra yang sepertinya benar-benar enggan melepas kepergian Glacia ke rumah ayahnya.


"Ya sudah, ayo," ajak Glacia.


Glacia mendongak pada Narendra yang masih setia berdiri di hadapannya. "Bisa menyingkir? Kau menghalangi jalan."


Tanpa kata Narendra menggeser tubuhnya supaya Glacia bisa lewat. "Glacy," panggilnya lagi. Sesaat ia tampak ragu. "Jika ada apa-apa, hubungi aku."


Tidak ada respon, Glacia tak mengatakan apa pun dan melenggang mendekati mobil. Pun Narendra turut mendekat membantu wanita itu naik. Ia sudah cukup bersyukur tak mendapat penolakan meski Glacia tak bicara satu patah kata pun.


Glacia melihat Narendra sejenak dari jendela mobil yang terbuka, sebelum kemudian jendela itu menutup perlahan seiring roda mobil yang berjalan.


Narendra memandang lama kepergian sang istri. Ia terus mematung kalau saja Julian tak menegurnya.


"Tuan, Tuan Yohanes menghubungi anda."


Spontan Narendra berbalik dan memasuki rumah, ia menerima ponsel di tangan Julian dan langsung menempelkannya ke telinga.


"Papa?" sapa Narendra.


Ia terdiam mendengarkan sang mertua bicara. Tak lama ia mengangguk mengerti.


"Oke. Sampai bertemu," ucap Narendra menutup telepon.


Ia membuang nafas panjang, lalu menyerahkan ponsel Julian pada si empunya.


Julian bertanya. "Bagaimana, Tuan?"


"Besok luangkan jadwal makan siang. Aku akan bertemu mertuaku," ucap Narendra, lalu pergi ke kamar dengan langkah gontai. Tangannya sesekali menyentuh bahu yang kemarin dijahit.


"Tapi luka anda belum kering, Tuan," sergah Julian.

__ADS_1


"Lalu, aku harus terus diam dalam situasi ini?" balas Narendra datar.


Nada dingin tersebut membuat Julian seketika bungkam. Ia pun menyerah dan meminta maaf. "Baik, maaf. Saya hanya khawatir."


Narendra tak merespon, ia berjalan menaiki tangga, padahal bisa saja sampai lebih cepat menggunakan lift. Sudah jelas lelaki itu tengah kalut karena tuntutan cerai sang istri.


Julian membuang nafas kasar. Ia bingung dengan perkembangan hubungan majikannya yang begitu rumit. Julian cukup kagum dengan Narendra yang bisa bertahan selama itu menjalani pernikahan satu arah.


Selama menikah ia tak pernah dianggap oleh istrinya, lalu sekarang bersedih karena kembali digugat cerai. Julian tahu, perasaan Narendra sangat besar pada Glacia. Kalau tidak, tidak mungkin Narendra mempertahankan pernikahannya walau tahu hubungan tersebut tidak sehat.


Mungkin orang lain mengira, Narendra bertahan karena ia mengabdi pada ayah Glacia. Dia adalah budak kapitalis mertuanya. Tapi, sebenarnya Narendra tak membutuhkan itu semua. Kalau mau pria itu sudah melepas segalanya sejak lama.


"Tuan, Nyonya harus melihat seberapa besar cinta anda padanya," gumam Julian.


***


Keesokan harinya Narendra sudah duduk di sebuah meja di restoran, menunggu Yohanes yang sebelumnya sudah membuat janji untuk bertemu.


Tak sampai sepuluh menit pria itu datang dan duduk di hadapan Narendra. "Maaf, Papa terlambat. Tadi ada sedikit gangguan."


Narendra mengangguk. Ia meminta lelaki itu untuk segera memesan, begitu pula dirinya. Seorang pelayan mencatat pesanan mereka lalu pergi. Setelah itu hening menyapa lumayan lama. Narendra maupun Yohanes sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


"Bagaimana bahumu?" tanya Yohanes. "Papa dengar bahu kamu terluka. Papa minta maaf atas nama Glacia," lanjutnya lagi.


Narendra yang sejak tadi menatap meja pun menyahut. "Hanya luka ringan, tak perlu dipikirkan."


Yohanes percaya karena Narendra duduk begitu santai sambil bersandar. Lengannya bahkan bersidekap seperti tak terjadi apa-apa.


"Kalau begitu, kita bicara setelah makan saja," putus Yohanes yang secara tidak langsung disetujui oleh Narendra.


"Glacia apa kabar?"


Narendra tak merasa ada yang lucu dengan pertanyaannya. Jadi ia hanya diam saat mertuanya tertawa.


"Glacia baik. Dia tidur nyenyak sekali semalam," tutur Yohanes.


"Syukurlah."


Yohanes tersenyum, matanya sempat memandang Narendra lekat, tapi kemudian atensi mereka teralihkan oleh kedatangan pelayan yang membawa makanan.


"Silakan." Yohanes mengulurkan sedikit tangannya mempersilakan Narendra untuk segera makan.


Narendra mengangguk, ia pun mulai menyentuh makan siangnya setelah si pelayan pergi dari hadapan mereka.


Keduanya makan dengan tenang sambil sesekali berbincang masalah pekerjaan. Narendra mendengarkan dengan baik. Sikapnya begitu tenang terkendali, hal yang selalu Yohanes kagumi dari sang menantu.


Sayang sekali, mungkin ke depannya hubungan mereka tak akan seerat ini.


Narendra lebih dulu selesai makan. Ia lalu minum dan menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Yohanes yang melihat itu lantas tersenyum. "Glacia bilang, kamu menolak tanda tangan karena tanganmu sakit. Syukurlah, hari ini kamu sudah bisa makan dengan baik. Papa sempat khawatir."


Mendengar sindiran halus dari Yohanes, Narendra hanya bisa diam. Ia menunggu pria itu selesai makan sebelum mereka memulai pembicaraan sesungguhnya.


Yohanes selesai makan. Ia melakukan persis yang Narendra lakukan sebelumnya, lalu menghela nafas sesaat sambil menatap lurus pada suami putrinya itu.


"Kemarin malam, Glacia ada menghubungi Papa," ucapnya memulai pembicaraan. Narendra diam mendengarkan hingga Yohanes pun melanjutkan. "Papa terkejut karena dia tiba-tiba minta dibuatkan surat cerai, secepatnya. Papa sudah tahu pasti ada masalah di antara kalian."


Narendra masih mendengarkan. Tak heran surat perpisahan itu diproses dengan cepat, rupanya Glacia memang benar-benar meminta bantuan ayahnya.

__ADS_1


"Sebenarnya Papa masih ingin kamu menjadi menantu Papa. Tapi, Papa juga cukup kecewa, karena kamu gagal menjaga Glacia di pesta ulang tahun itu."


Yohanes menatap Narendra. "Saat Glacia mengalami perundungan, kamu di mana?"


Narendra diam. Ia menyadari sebetulnya Yohanes sudah tahu kebenaran ceritanya. Narendra masih sangat menyesal, bertemu Lizy adalah kesalahan terbesarnya saat ini.


"Papa sudah tahu, tapi Papa ingin mendengar langsung dari mulutmu," tutur Yohanes pelan. Sorot matanya meneduhkan, namun ada sedikit kekecewaan yang membuat Narendra tak mampu berkutik.


Narendra menghela nafas samar, menunduk sesaat sebelum menjawab seraya membalas tatapan Yohanes. "Saya minta maaf untuk Glacia. Saya tahu saya salah. Waktu itu saya memang ada pembicaraan dengan Lizy, tapi bukan seperti yang Glacia atau Papa pikirkan."


Yohanes masih memandang Narendra, mendengarkan. Narendra pun kembali melanjutkan ucapannya dengan lugas. "Saya tidak berniat melakukan pembelaan di sini, karena saya memang salah atas insiden yang menimpa Glacia malam itu. Tapi, saya juga akan jujur bahwa saya dan Lizy tidak ada hubungan apa pun. Lizy memberi tahu saya bahwa ayah saya dibebaskan secara bersyarat." Narendra balas menatap Yohanes. "Papa harusnya tahu kekhawatiran saya sekarang," tuturnya pelan.


Yohanes mengangguk lamat. "Papa mengerti, dan Papa janji akan menjaga Glacia. Papa tidak akan membiarkan ayahmu atau siapa pun itu menyakiti Glacia, kalau itu yang kamu takutkan. Papa percaya, Papa bisa menjaga putri Papa."


"Untuk perpisahan kalian—"


"Saya tidak ingin berpisah," potong Narendra. "Entah berapa kali saya membuat Papa kecewa karena kelalaian saya, tapi saya benar-benar tidak ingin berpisah dari Glacia."


"Dia istri saya, dan saya mau tetap seperti itu sampai kapan pun."


Ketegasan dalam suara Narendra sudah cukup menandakan bahwa lelaki itu memang serius dengan putrinya. Keseriusan Narendra tak perlu diragukan, Yohanes bisa melihat sendiri selama hampir 2 tahun pernikahannya dengan sang anak.


"Papa tahu." Yohanes mengangguk. "Tapi kali ini berbeda, Naren. Glacia sakit, dan Papa tidak ingin mengabaikan keinginannya. Glacia ingin bercerai."


"Papa setuju kami bercerai?" tanya Narendra pelan.


"Papa tidak punya pilihan. Sekali lagi ini keinginan Glacia. Papa harap kamu juga mengerti. Sejak dulu Papa terlalu banyak mengesampingkan kemauan Glacia di luar materi."


Narendra diam, matanya memandang piring kosong di meja. Apa memang seperti ini akhirnya? Rasanya baru sebentar Narendra menikmati kedekatan dirinya dan Glacia.


"Naren, kamu mencintai Glacia?"


Sudut bibir Narendra berkedut tipis. Sementara Yohanes memperhatikan lelaki itu yang bergeming.


"Papa tahu, alasan kenapa saya bisa bertahan selama ini meski Glacia tidak pernah menganggap saya sebagai suaminya?" Narendra mendongak. Yohanes pun sama-sama terpekur persis dirinya.


"Saya tidak pernah menuntut apa pun. Saya bahkan tidak masalah Glacia berhubungan dengan pria lain, meski sebenarnya saya sangat ingin marah dan memukul mereka berdua. Saya berusaha diam menahan diri saat Glacia hampir tak pernah pulang karena menginap dengan pacarnya."


"Menurut Papa, kenapa saya harus bertahan dalam semua perlakuan itu?"


Narendra lalu terkekeh hambar. "Glacia bilang, saya bertahan karena perusahaan."


Yohanes menggeleng. "Untuk alasan kedua Papa tidak percaya, karena jika benar tujuanmu perusahaan, kamu tidak akan mengatasnamakan saham milikmu untuk Glacia."


Rupanya Yohanes tahu apa yang selama ini Narendra lakukan secara diam-diam. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa ketika sang mertua menyadarinya. Toh, percuma terus dirahasiakan. Yohanes punya kedudukan penting sebagai founder sekaligus owner perusahaan tersebut, sudah sewajarnya lelaki itu tahu.


"Papa tahu ini berat bagi kamu. Tapi Papa berharap sekali lagi untuk kamu mengerti keadaan Glacia sekarang. Dokter melarangnya stress, dan Papa takut jika perceraian ini tidak terjadi akan semakin memperburuk kondisinya. Kamu tahu sendiri, bercerai adalah keinginan Glacia sejak lama."


Yohanes bangkit. "Papa masih ada urusan. Sekali lagi tolong pertimbangkan. Papa harap kamu bisa secepatnya tanda tangan."


Selepas itu Yohanes pergi dan menepuk pundak Narendra tegas. Narendra sendiri tak bergeming dengan pandangan menerawang. Nafasnya terhela panjang, pun tangannya mengusap wajah sedikit kasar.


Yohanes menatap punggung Narendra yang sudah tak setegap tadi. Ia pun turut membuang nafas sebelum langkahnya berlanjut memasuki mobil.


Dalam perjalanan pun Yohanes tak berhenti berpikir, lalu tiba-tiba saja matanya tersita oleh televisi kecil di hadapannya. Sebuah berita terbaru yang lumayan menarik perhatian Yohanes.


"Lima pria dan dua wanita berhasil ditangkap polisi usai kedapatan pesta sabu di salah satu hotel berbintang. Tiga di antara mereka merupakan putra menteri, sementara lainnya diduga putra konglomerat. Sebelum ini mereka diketahui merundung seorang wanita di pesta ulang tahun temannya. Wanita itu tak lain dan tak bukan Glacia Martadinata, putri dari Yohanes Martadinata yang kini mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan kurang lebih dua bulan lalu. Akibat perundungan dan penganiayaan itu, korban mengalami trauma dan memar berat di tubuhnya."

__ADS_1


Yohanes terpekur. Rupanya Narendra memilih jalan ini sebagai balasan. Dengan begini, sudah jelas para tersangka akan dijerat hukuman berlapis.


"Kamu memang peduli pada Glacia."


__ADS_2