
Glacia menoleh.
"Kamu suka baca juga?"
"Ah, iya, hanya beberapa buku fiksi." Glacia terkejut mendapati Rafael juga ada di sini. Bukankah seorang dokter pantasnya sibuk di jam seperti ini?
Mungkin dia praktek malam, pikir Glacia berusaha tidak percaya diri. Masalahnya, entah kenapa Glacia merasa mereka terlalu sering bertemu secara kebetulan.
Rafael mengangguk paham. "Like woman like romance, right?"
Glacia hanya tersenyum canggung seadanya. "Saya juga menyukai fantasi."
"Harry Potter?"
"No, selain itu. Saya tidak membaca buku yang sudah difilmkan."
"Ohh." Rafael kembali mengangguk.
"Dokter sendiri, kenapa bisa di sini? Tidak bekerja?" tanya Glacia penasaran.
Rafael tersenyum menjawab. "Jadwal saya nanti malam. Saya juga baru pulang dari Singapura pagi ini, dan mampir sebentar kemari karena yang punya pameran teman saya sendiri."
Glacia mengerjap tak menyangka. "Benarkah? Wah, hebat sekali dia."
Sekali lagi Rafael mengangguk. Ia terlihat ikut bangga dengan pujian itu. "Memang, dia sudah jadi profesor di usia muda."
"Mengagumkan sekali," ujar Glacia.
Mereka terlibat perbincangan kecil sebelum kehadiran seseorang berhasil mengalihkan atensi. Suara deheman membuat Rafael maupun Glacia seketika menoleh pada sumber suara. Di samping mereka sudah ada Narendra yang menatap keduanya bergantian.
Glacia bingung, kenapa pria-pria itu bisa ada di sini secara bersamaan. Lagi-lagi kebetulan yang tak disangka.
Rafael tersenyum canggung, mengangguk ramah pada Narendra yang justru melempar tatapan datar tak bersahabat.
"Naren, apa kabar?" sapa Rafael mengulurkan tangan.
Narendra menyambutnya sekilas disertai sahutan pendek. "Baik."
__ADS_1
Setelah itu dia melepas kembali tautan tangan mereka. Narendra menunduk pada Glacia yang seketika membuang pandang, raut kikuk tergambar samar di wajahnya.
Narendra hampir terkekeh geli berpikir Glacia pasti mengingat ciuman semalam. Narendra tak salah, Glacia memang langsung teringat ciuman mereka, itu refleksnya ketika melihat Narendra.
"Kenapa kau di sini?" ketus Glacia. Sejujurnya ia sedikit risih dengan keberadaan dua pria itu. Dua pria yang secara tidak langsung ada sangkut pautnya dengan Lizy.
Yang satu tunangan Lizy, satunya lagi mantan Lizy. Hebatnya, kenapa sekarang justru Glacia yang berada di antara mereka berdua.
"Ini jadwal terapimu," jawab Narendra.
Jangan bilang dia mau menemani Glacia terapi seperti sebelum-sebelumnya? Apa Narendra masih belum sadar diri juga terhadap kondisi hubungan mereka?
"Glacia terapi hari ini?" Suara Rafael menyeruak, yang kemudian dijawab tajam oleh Narendra.
"Hm. Saya kemari untuk menjemputnya."
Rafael terkekeh hambar. "Tapi, sepertinya Glacia baru saja sampai beberapa saat lalu. Dia juga belum mendapat buku yang dia mau."
"Kau begitu memperhatikannya," balas Narendra datar.
Rafael mengusap tengkuknya mendenguskan senyum. "Saya melihatnya sejak tiba di parkiran. Secara kebetulan kami memang datang bersamaan, hanya saja Glacia tak menyadarinya."
"Ah, sepertinya saya harus pergi sekarang. Glacy, kalau kamu butuh buku bacaan baru, beri tahu saya, ya? Saya akan tunjukkan beberapa koleksi di rumah. Kamu pasti menyukainya," lanjut Rafael sebelum melambai pergi.
Glacia hanya merespon sekilas, berbeda dengan Narendra yang terus menatap kepergian Rafael hingga pria itu menghilang. Apa maksudnya ingin menunjukkan koleksi buku? Dia mengundang Glacia ke rumahnya, begitu?
Glacia membuang nafas. Ia melirik para pengawalnya yang berdiri tak jauh dari tempatnya kini. Mereka bersikap santai tanpa mengintimidasi pengunjung lain karena itu yang Glacia minta. Namun Glacia tahu mereka tetap waspada.
Mata Glacia lalu bergeser pada Weni. Gadis itu langsung cepat tanggap begitu menangkap pandangan Glacia padanya. "Anda perlu sesuatu, Nyonya?"
Narendra turut menoleh mengamati Glacia. Wanita itu tak menjawab, namun nafasnya kian terdengar berat, juga gestur tangannya yang menepuk pelan bagian dada seolah menunjukkan bahwa nafasnya tengah terasa sesak.
Raut Narendra seketika berubah khawatir, pun Weni yang segera menyarankan Glacia untuk pulang saja.
"Kau baik-baik saja?"
"Nyonya, sebaiknya kita pulang saja," timpal Weni.
__ADS_1
Tapi Glacia menggeleng. "Aku masih ingin di sini sebentar lagi. Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," ujarnya mengambil nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Apa yang baik-baik saja? Jelas-jelas kau sesak nafas," ujar Narendra. "Lebih baik kita pulang, sebentar lagi Dokter Teresa datang," tegasnya lagi.
Glacia mendelik tak setuju. "Sudah kubilang aku baik-baik saja. Tujuanku ke sini mencari buku, perjalananku akan sia-sia jika tak mendapat apa-apa," kekehnya tak ingin mengalah.
Glacia meneruskan perhatiannya pada deretan rak yang memuat berbagai novel. Ia lalu lanjut berucap pada Narendra yang seketika mematung mendengar kalimatnya. "Berhenti memikirkanku, pikirkan saja kapan kau akan tanda tangan. Kurasa tanganmu sudah baik-baik saja, bahumu juga sudah tampak normal."
Luka jahit di bahu Narendra memang tak akan semudah itu pulih, tapi yang Glacia lihat pria itu bisa beraktifitas seperti biasa. Tak salah ia mengira tangan Narendra yang sakit hanya alasan, kan?
Weni sebagai pelayan hanya bisa berpura-pura tak mendengar. Sebagai pekerja yang baik ia harus tahu kapan harus menulikan telinga dan membutakan mata. Ia bukan tipe pelayan bawel yang suka menggosipkan majikan sendiri, meski dalam kehidupan sehari-hari ia cukup cerewet.
"Glacy, aku tidak akan lelah meminta untuk kamu berpikir lagi," ucap Narendra tenang. "Sekarang yang terpenting kesehatanmu. Ayo pulang, Dokter Teresa sudah datang. Sepertinya ia datang lebih cepat dari yang dijanjikan."
Glacia menoleh dengan kening berkerut dalam. "Pasti kamu yang menyuruhnya untuk cepat datang," tudingnya menunjuk Narendra.
Narendra tetap dengan sikap tenangnya seolah ia tak berbuat apa pun. Ia melirik Weni yang membuat gadis itu langsung mengangguk patuh. "Nyonya, sebaiknya kita pulang. Saya dengar pameran buku ini diadakan selama 2 hari, kita bisa datang lagi ke sini besok. Bagaimana?"
Menyebalkan. Narendra bisa dengan mudah berkonspirasi dengan siapa saja di sekitar Glacia. Dasar pria miskin sok berkuasa! Lihat saja, kalau sudah bercerai nanti Glacia akan menendangnya dari Martadinata.
Weni segera membawa Glacia yang menyerah untuk keluar dari aula pameran. Sementara itu, Narendra berjalan belakangan mengikuti sang istri yang dikawal meninggalkan tempat.
Mata tajam Narendra sedikit melirik ke ujung ruangan, di mana Krisna Julius dengan penyamarannya berbaur di antara para pengunjung. Keduanya sempat saling tatap sesaat, sudut bibir Krisna terangkat menyeringai pada Narendra.
Rautnya seolah mengejek dan mengatakan. "Kau begitu takut aku menyentuh istrimu? Aku ingin tahu reaksinya saat ia melihatku nanti."
Narendra mendengus tipis sambil lalu. Sikapnya yang tak acuh justru membuat Krisna merasa tertantang dan ingin tahu, sebesar apa peran Glacia dalam kehidupan putranya.
"Weni, kenapa kita di mobil ini?" Glacia bertanya heran karena Weni bukan mengarahkannya ke mobil yang semula dipakai kemari.
Seolah tanpa beban gadis itu menjawab. "Nyonya akan pulang bersama Tuan."
"Lalu kau?"
"Saya tentu bersama sopir kita."
Glacia menganga tak percaya. "Weni, kau pelayan pribadiku atau pria itu? Mulai besok minta Wina untuk cepat kembali bekerja, aku muak denganmu!"
__ADS_1