
Keesokan harinya Narendra kedatangan tamu dari beberapa petinggi mitra perusahaan. Entah lelaki itu memang sering mengadakan pertemuan seperti ini di rumah, Glacia tidak tahu karena sebelumnya ia hampir tak pernah ada di rumah jika bukan malam hari. Itu pun Glacia lebih sering menghabiskan waktu menginap setelah clubing.
Glacia terdiam menatap orang-orang berjas itu dari lantai atas. Narendra membawa mereka ke sebuah ruangan besar khusus untuk rapat dan perkumpulan. Glacia menoleh pada Wina yang siang ini menemaninya jalan-jalan, hanya jalan-jalan mengelilingi rumah seperti biasa.
"Apa dia sering mengundang orang begitu?" tanyanya penasaran.
Wina pun menjawab. "Setahu saya sangat jarang, Nyonya. Dulu pernah, itu pun karena ada proyek tak jauh dari daerah ini. Selebihnya Tuan lebih sering melakukan meeting online jika berhalangan keluar."
"Begitu?"
Glacia membuang nafasnya pelan. Padahal sejak tadi ia menunggu Narendra berangkat kerja atau keluar untuk keperluan apa pun itu, yang penting dia tak berkeliaran di rumah.
Glacia masih malu mengingat kejadian kemarin. Meski tak ada yang terjadi, tetap saja rasanya aneh ia mandi di kamar Narendra. Belum lagi pria itu sempat membantu Glacia berpakaian. Glacia sampai berkali-kali menggeleng untuk menghilangkan ingatan tersebut.
"Wina, mintalah sopir untuk menyiapkan mobil," titah Glacia.
Wina menunduk menatap sang nyonya. "Untuk apa, Nyonya?"
"Sudah lama sekali aku tidak keluar rumah. Aku ingin belanja dan jalan-jalan sebentar."
"Tapi, Anda baru saja pulang dari rumah sakit, nanti Anda bisa kelelahan, Nyonya. Dokter bilang Anda tidak boleh beraktifitas terlalu berat." Wina nampak khawatir. "Dan lagi ... kita memerlukan izin dari Tuan. Kalau tidak, saya atau sopir yang mengantar Nyonya akan terkena imbasnya nanti," lanjutnya mencicit.
Glacia berdecak kesal, ia ingat pernah mendengar Narendra memecat sopir yang mengantarnya ke perusahaan Gallen.
"Kalau begitu mintalah izin," cetus Glacia sebal. Ia sedikit kesal karena terkesan harus menurut pada Narendra. Padahal sebelumnya tidak ada satupun orang yang bisa menyetirnya.
Wina menurut, ia meninggalkan Glacia sebentar dan turun ke lantai bawah, mencari Narendra atau Julian yang bisa ia mintai izin.
Glacia mengarahkan kursi rodanya ke dekat jendela. Koridor lantai dua begitu sepi dari lalu lalang pelayan. Glacia bisa melihat tukang kebun yang sedang bekerja di taman, pelayan yang membersihkan kolam, menyapu halaman, sampai yang membersihkan kaca sekalipun.
"Mereka pasti lelah," ucap Glacia pelan. Entah kenapa tiba-tiba ia berkata seperti itu. Padahal sebelumnya ia tak pernah peduli dan selalu memandang rendah siapa pun yang berstatus di bawahnya.
Mungkin karena Glacia sedang kurang kerjaan. Ia mendengus dan mengalihkan pandangannya pada ornamen-ornamen di rumahnya. Rumah ini Narendra yang menyiapkan, Glacia tidak tahu menahu dan bahkan menganggap rumah ini merupakan hadiah pernikahan dari Yohanes. Entah sebenarnya rumah ini dibeli oleh siapa.
Tak lama Glacia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Alih-alih Wina yang kembali, Glacia malah mendapati Narendra yang sedang berjalan ke arahnya.
Lagi dan lagi Glacia gagal menghindar dari pria tersebut. Karena keterbatasan geraknya, Narendra jadi sulit untuk Glacia jauhi.
__ADS_1
"Wina bilang kau ingin jalan-jalan?"
Glacia membuang matanya malas. "Kenapa jadi kau yang ke sini? Pelayanku mana?"
"Mau ke mana?"
Kebiasaan Narendra adalah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi. Menyebalkan.
"Bukan urusanmu. Lagipula terserah aku mau ke mana. Aku hanya sedikit kasihan kalau ada sopir yang dipecat tanpa alasan lagi." Glacia menyahut ketus.
"Aku hanya berusaha membangun kepercayaan antara majikan dan pekerja," balas Narendra kalem.
Mendelik, Glacia mencibir kesal dalam hati.
"Kau boleh pergi, tapi dengan Julian," lanjut Narendra. "Dengan Wina dan Weni juga."
"Terserah." Glacia memutar matanya malas. Ia tahu Narendra menempatkan Julian di sekitarnya guna mengawasinya.
Kenapa Glacia jadi merasa Narendra bersikap over protektif padanya? Baiklah, Glacia tahu sekarang ia adalah wanita cacat tak berdaya. Tapi sepertinya perhatian lelaki itu sudah berlebihan.
Sesuai kesepakatan tadi, Glacia pergi bersama Julian dan dua pelayannya, Wina dan Weni. Mereka mengunjungi toko-toko terkenal yang menjual barang internasional.
Meski mengalami kelumpuhan, selera Glacia terhadap sesuatu yang mewah tetap tak berubah. Glacia sedikit terkejut saat ingin membayar, Julian buru-buru mendahului dengan menyerahkan kartu miliknya.
Tentu hal tersebut membuat Glacia mendongak menatap pria itu heran. Lalu Julian pun menjawab. "Tuan sudah berpesan dan menitipkan kartu ini pada saya, Nyonya."
Lagi dan lagi Glacia hanya bisa bergeming sambil menatap kartu berwarna hitam dengan polet emas itu di tangan Julian. Ia mendengus dan memasukkan black card miliknya ke dalam tas.
Rupanya Narendra ingin menyombong bahwa dia juga memiliki kartu tanpa limit untuk membiayai gaya hedon Glacia. Setidaknya itu yang Glacia pikirkan.
Di tengah kesibukannya berbelanja, Glacia juga tanpa sengaja menangkap keberadaan Gallen di sana. Namun yang membuat Glacia terpaku adalah wanita yang berjalan di samping lelaki itu.
Meski sudah menegaskan diri melupakan, tetap saja hati Glacia seakan tercubit melihat kenyataan Gallen sudah memiliki pendamping lain.
Glacia berusaha menghindar, berupaya agar mereka tak berpapasan. Namun nyatanya justru Gallen yang terlebih dulu mendekat dan menyapanya.
"Glacy, apa kabar?"
__ADS_1
Dulu suara ini yang selalu Glacia rindukan, tapi sekarang Glacia merasa muak karena ekspresi Gallen mengandung cemoohan yang terasa mengejeknya secara tidak langsung.
Julian yang mendapati kehadiran Gallen, langsung menegakkan tubuh dan memajukan sedikit kakinya hingga berdiri di samping Glacia. Mereka baru saja selesai membayar dua buah tas yang Glacia pilih, dan benda itu kini berada di tangan Wina serta Weni.
"Baik," jawab Glacia singkat. Rautnya datar dengan sorot mata penuh keteguhan.
Hal itu membuat Gallen terkekeh pelan. "Lama tidak melihatmu berbelanja. Kupikir kamu sudah kehilangan selera," ucapnya, sedikit melirik pada kaki Glacia.
Lagi dan lagi kondisi kakinya yang menjadi alasan orang-orang menatapnya seperti itu, termasuk Gallen yang dulu begitu dekat dengannya. Betapa cepat hati manusia berubah.
Glacia mendengus sinis. "Aku hanya terlalu bosan, bukan berarti kehilangan minat."
Mata Glacia sempat melirik wanita di samping Gallen. Lebih tepatnya pada lengan mereka yang bertaut. Tapi ia dengan cepat membuang kembali pandangannya.
"Begitu? Aku sempat kasihan karena mengira suamimu kurang memperhatikan."
Mendengar sang tuan dibawa-bawa, Julian pun dengan cepat menimpali. "Maaf, tapi Tuan kami selalu memperhatikan kebutuhan Nyonya. Tanpa Nyonya meminta pun beliau sudah mencukupi segala keperluan istrinya."
Memang benar, meski terlihat tak acuh dan biasa saja, namun Narendra selalu memastikan keperluan Glacia terpenuhi semua. Kepala pelayan yang bertanggungjawab atas segala hal yang menyangkut kebutuhan sandang Glacia.
Terlebih sejak Glacia sakit dan tak mampu berbelanja sendiri, Narendra menerapkan aturan baru tentang hal tersebut, bahwa minimal setiap satu minggu sekali lemari Glacia harus terisi barang baru.
Glacia juga menyadari itu, hanya saja ia tidak berpikir bahwa semuanya berlaku atas perintah Narendra.
Sial, lagi-lagi Glacia merasa kalah dari pria itu. Mentang-mentang Glacia sedang tak berdaya, lalu Narendra memanfaatkan keadaan agar terlihat seperti superior.
Karena hal itu jugalah, tanpa sadar akhir-akhir ini yang Glacia pikirkan adalah Narendra. Nama Narendra selalu terdengar dengan berbagai topik dan alasan tertentu. Semakin sering Glacia kesal pada pria itu, semakin sering juga Narendra menghampiri otaknya meski dalam konsep sesuatu yang membuat Glacia kesal.
"Waw. Dia memang bertanggungjawab. Tapi ... kita tidak tahu isi hatinya seperti apa, kan?" Gallen tersenyum sumir. "Aku hanya mengingatkan kamu untuk berhenti berpikiran polos. Perhatian tidak melulu mencerminkan sikap seseorang yang sebenarnya."
"Bisa saja Narendra hanya kasihan padamu. Siapa yang bisa menebak perasaannya masih berlabuh pada masa lalu?" lanjutnya mengendik. Bibirnya mengukir senyum menyaksikan Glacia yang bergeming.
Hening menyapa lama. Tak ada satupun mulut yang berani terbuka. Wina dan Weni terdiam tanpa berniat ikut campur. Sementara Julian juga sama, pria itu hanya bungkam di samping Glacia yang diam-diam merasa penasaran dengan maksud perkataan Gallen.
Jika pun benar Narendra masih mencintai Lizy, harusnya tidak menjadi masalah bagi Glacia. Karena memang itu tujuannya sekarang.
"Kurasa itu bukan urusanmu. Meski benar aku juga tidak peduli."
__ADS_1