Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
83. Manipulatif


__ADS_3

Rafael hanya bisa bergeming saat kedua orang tuanya berdebat memarahinya. Salah lagi. Rafael memang selalu salah di mata mereka. Entah Rafael melakukan ini atau itu, semuanya tetap tidak ada yang benar.


"Apa kamu sadar perbuatanmu bisa mengacaukan pendapatan perusahaan?! Kalau kamu seperti ini terus, kita bisa rugi, Rafael!" teriak Satria dengan wajah merah padam. "Kamu terus saja mengendapkan rasa iba tanpa memikirkan dampak besar bagi rumah sakit kita. Kapan kamu akan dewasa?!"


"Papa, sudah cukup!"


"Oke! Terus saja bela dia! Bela saja terus anakmu, Mina!"


Mina terisak ketika sang suami kembali membentaknya. Satria bahkan menepis tangannya yang berusaha merangkul menenangkan lelaki itu. Sementara Rafael, ia membuang nafas pelan. Wajahnya nampak datar dan tenang, seolah tak acuh namun juga terlihat lelah sewaktu-waktu.


"Tugas seorang dokter adalah membantu menyembuhkan kesehatan seseorang. Tidak perduli orang itu sedang kesulitan finansial atau tidak, kita sebagai dokter tetap harus mengutamakan nyawa. Kita adalah tenaga medis yang menyediakan fasilitas kesehatan. Itulah mengapa keberadaan dokter sangat penting. Kita dibutuhkan, masyarakat butuh kita. Lantas, apa mengabaikan mereka yang sudah percaya pada kita adalah tindakan yang benar?"


Satria berdesis kesal. Jarinya menunjuk-nunjuk Rafael seolah anak itu manusia paling bodoh yang pernah ia temui. "Ini. Pola pikirmu yang seperti ini yang membuatmu tidak maju-maju! Benar, kita tenaga medis yang menyediakan fasilitas kesehatan. Tapi semua itu tak lepas dari biaya! Mau sekecil apa pun, mau sebesar apa pun, kedua nominal itu sangat berpengaruh pada internal keuangan! Kalau kamu mau menangani pasien tanpa dibayar, jadi relawan saja sana!"


Nafas Satria memburu penuh emosi. "Kamu selalu membuat masalah. Terakhir kamu membuat pergi beberapa calon investor kita! Lalu sekarang, kamu mengecewakan pasien VVIP kita karena lebih mengutamakan operasi pasien tidak mampu! Apa kamu sengaja ingin membuat keluarga kita bangkrut?"


Rafael membuang nafasnya lelah. Ia mendongak, balas menatap Satria yang marah-marah. "Aku tahu, aku juga memikirkan internal keuangan rumah sakit kita. Aku memikirkan pemasukan sekecil apa pun jumlahnya. Bahkan saat menolong orang pun aku tetap memikirkannya. Apa Papa tahu seberapa tersiksanya aku dengan hal itu?"


"Semua pasien itu sama, mereka sama-sama membutuhkan pertolongan. Ada pun yang punya biaya lebih, mereka kita utamakan, dan sisanya tetap kita fasilitasi dengan baik."


"Papa harusnya bertanya padaku lebih spesifik. Aku bukan tanpa alasan menukar jadwal operasi. Aku mengutamakan salah satu pasien atas pertimbangan yang matang. Yang mana yang harus didahulukan, dan yang mana yang bisa kita buat menunggu. Tentu aku bukan melihat pada seberapa banyak dia memiliki uang, tapi seberapa parah kondisi dalam tubuhnya."

__ADS_1


"Papa dokter, kan? Papa harusnya punya pemikiran yang sama denganku, alih-alih terus memikirkan materi." Rafael bangkit berdiri, ia menatap kedua orang tuanya lurus. "Dan belajarlah menjadi seorang pria. Karena pria sejati tak akan pernah menyakiti wanita," lanjutnya, sambil melirik sang ibu yang juga balas menatapnya penuh haru.


Rafael tahu Mina selalu sedih dengan keadaan keluarganya. Anak dan suami yang selalu bertengkar serta berlainan pendapat. Mina selaku istri dan seorang ibu dituntut untuk menengahi keduanya.


Setelah mengatakan itu Rafael beranjak pergi, mengabaikan teriakan-teriakan Satria Adiwangsa yang berseru emosi memanggilnya.


"Rafael! Rafael, mau ke mana kau?! Jangan membuat Papa malu lagi! Tunanganmu bahkan belum ditemukan! Rafael!!!"


Rafael tetap bergeming dan berjalan lurus keluar rumah. Ia memasuki mobilnya dan memacu kendaraan itu cepat, membuat dua penjaga yang berdiri di kedua sisi gerbang kontan menepi. Mereka terkejut, meski ini bukan pertama kali Rafael dibuat kesal oleh ayahnya sendiri.


"Sialan! Dasar memalukan! Wanita itu sama saja! Rubah licik bertopeng keledai!"


Mina masih berusaha menenangkan amarah Satria. Ia meraih lagi lengan sang suami sambil berkata. "Sudah Mama bilang, seseorang yang terlihat baik belum tentu baik. Sekarang Papa menyesal menjodohkan mereka karena nama baik kita ikut terseret dengan adanya berita-berita miring mengenai Eliza."


Mina menggeleng. "Bukan begitu, Pa. Berhenti memarahi Rafael. Dia sudah dewasa, tahu apa yang harus dan tidak dilakukan. Dia juga selalu memikirkan resiko sebelum bertindak. Semua perbuatannya bukan tanpa alasan. Papa dengar sendiri tadi, kan?"


"Terserah! Anak itu tetap lemah terhadap empati!"


Di mansion Martadinata, ketegangan tak kalah melanda. Sejak kabar hilangnya salah satu pelayan di sana, berbagai hipotesis mengenai prediksi hilangnya Wina terus menyebar dari mulut ke mulut, dari telinga satu ke telinga lainnya. Semuanya mengutarakan anggapan dan alasan masing-masing yang masih belum jelas kebenarannya.


Yohanes sendiri dibuat kebingungan dengan keadaan rumahnya yang kacau. Belum selesai masalah Glacia, kini keberadaan pelayannya juga mengundang tanya. Ia sebagai kepala keluarga tentu tak bisa serta-merta diam.

__ADS_1


Kendati kepala Yohanes hampir pecah dibuatnya, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab. Yohanes adalah majikan yang tentu berperan penting dengan masalah ini. Bagaimana pun Wina adalah pelayan yang mengikuti Glacia dari rumah Narendra. Dan sekarang Wina menghilang, tentu Yohanes ikut memiliki tanggung jawab akan hal tersebut.


Yohanes sudah berdiskusi dengan Narendra mengenai hal ini, tapi ia paham saat respon sang menantu cenderung tak acuh. Narendra pasti masih mengkhawatirkan Glacia setelah insiden penculikan itu.


Yohanes tidak tahu, sikap Narendra yang demikian karena ia benar-benar malas, ia sendiri yang membuat Lizy serta Wina hilang dari peredaran. Hingga saat ini, dua wanita itu masih berjuang menghadapi siksaan Narendra yang tak main-main.


Tapi ada hal aneh yang mengganggu pikiran Yohanes sejak kemarin. Ini mengenai puluhan mayat yang ditemukan di hutan. Yohanes baru saja mendapat informasi bahwa mereka yang tewas adalah para tersangka penculikan Glacia.


Tentu kenyataan tersebut mau tak mau membuat Yohanes berpikir keras. Fakta lain pun datang bersusulan. Intinya, semua masalah itu saling berkaitan.


Yohanes memandang datar meja di hadapannya. Di sampingnya, Fin berdiri dengan gestur sopan dan segan seperti biasa.


Ia pun mengutarakan pendapatnya. "Tuan, apa anda juga berpikir semua ini berhubungan dengan Tuan Narendra?"


Yohanes diam berpikir. "Entahlah. Aku tidak tahu harus menyalahkan atau membenarkan tindakannya. Sikapnya didasari rasa peduli terhadap Glacia. Entah aku harus bersikap waspada atau berterimakasih padanya. Kenyataan bahwa menantuku cukup menakutkan sedikit banyak membuatku khawatir. Bukan hanya pada Glacia, tapi aku justru lebih khawatir padanya karena dia mulai masuk ke dunia yang berbahaya."


Fin mengerti. Segala sesuatu yang memiliki campur tangan Wiranata memang berbahaya. Bagaimana pun, ahli waris mereka tak lepas dari jaringan mafia yang kabarnya sampai saat ini masih berdiri secara rahasia.


"Entah itu obsesi atau cinta, semakin lama aku semakin tak mengenali Narendra. Kau tahu? Aku baru sadar bahwa dia manipulatif," lanjut Yohanes.


Di tengah pembicaraan mereka, dering ponsel Yohanes menyita perhatian. Nama Narendra mengambang di atas layar. Fin dan Yohanes sempat saling melempar pandang, sebelum kemudian Yohanes menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


"Halo? Ada apa, Naren?"


Ada jeda sejenak sebelum suara Narendra terdengar. "Papa, bisakah aku mengutarakan satu permintaan?"


__ADS_2