Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
97. Hypnosis


__ADS_3

Sementara di luar, langkah Narendra berderap saat keluar dari lift. Ia melihat mobil Rafael masih terparkir di depan, artinya lelaki itu masih ada di rumah sakit tersebut.


Mata Narendra mengedar sesaat, ia lalu kembali ke dalam dan bertanya pada resepsionis. "Saya lihat Dokter Rafael tadi. Dia kemari untuk apa?"


Wanita yang menjaga resepsionis itu menatap Narendra seksama. "Maaf, tapi itu urusan internal."


"Apa dia menemui seseorang?"


"Untuk masalah itu, kami tidak dapat memberi tahu. Ini berkaitan dengan privasi dokter kami."


Narendra mendengus dalam hati. Sudah ia duga Rafael punya koneksi di rumah sakit manapun. Malas bertanya lebih jauh, Narendra pun memutuskan untuk bergerak dan mencari Rafael sendiri.


Dari mulai koridor satu ke koridor lainnya, melewati berbagai lorong ruang perawatan, hingga ruang khusus para dokter dan berbagai ruangan lain di beberapa lantai.


Narendra ingin memastikan kembali apa yang dilihatnya tadi. Entah sejak kapan Rafael memiliki tato di pergelangan tangannya, tapi Narendra yakin itu sangat mirip dengan tato yang ia lihat dari hasil penyelidikan Harley dan timnya.


Di tengah sibuknya Narendra ke sana kemari, ponselnya berbunyi menampilkan nama Harley. Ia langsung menerima panggilan tersebut dengan cepat. "Bagaimana?"


Kembali pada Glacia, wanita yang tengah menikmati croissant pemberian Narendra itu seketika menoleh, ketika pintu ruang rawatnya dibuka dari luar. Glacia mengernyit menunggu siapa yang datang. Padahal Narendra baru pergi beberapa saat lalu. Apa dia tidak jadi meninggalkan Glacia dan memutuskan kembali kemari?


Memikirkan hal tersebut senyum Glacia terkulum senang, tapi senyuman itu perlahan luntur saat yang dilihatnya bertentangan dengan apa yang dia pikirkan. Alih-alih Narendra, ia justru melihat orang lain.


"Dokter Rafael?" sapa Glacia bingung.


Benar, di hadapannya kini adalah Rafael Adiwangsa, dokter yang ia temui di lobi, beberapa saat lalu bersama Narendra.


Awalnya Rafael hanya diam saja, tapi kemudian senyum teduhnya yang khas terpatri di bibir lelaki itu.


"Dokter ada perlu dengan saya?"


"Glacy, apa kamu mau sembuh?"


"Ya?" tanya Glacia bingung.


"Jika kamu mau sembuh, ikutlah denganku."

__ADS_1


Suara Rafael terdengar aneh, Glacia sampai terpaku untuk beberapa saat. Dan entah kenapa, mata Glacia seolah tak bisa lepas dari pandangannya. Sesuatu seolah menahan ruang gerak serta pikiran Glacia, dan mendominasinya secara perlahan.


Samar-samar dan setengah berdengung, Glacia masih bisa mendengar Rafael berbicara.


"Bagaimana, Glacy? Kau mau ikut denganku?"


Glacia tidak tahu ia menjawab apa, entah itu sebuah gelengan atu anggukan. Tapi di tengah ketidaksadaran itu, Rafael mendorong kursi rodanya keluar ruangan.


***


"Kau di mana sekarang?" Harley bertanya tergesa, dan sepertinya lelaki itu juga tengah berjalan buru-buru.


"Masih di rumah sakit. Aku bertemu Rafael di sini. Tapi entah di mana dia sekarang."


Jauh di seberang sana, tubuh Harley berhenti. "Di mana istrimu?"


Kening Narendra berkerut. "Di ruangannya. Ada apa?"


Terdengar decakan keras dari Harley. "**!*! Kembali sekarang juga!"


"Kembali sekarang jika kau ingin istrimu aman! Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi cepat kau kembali temui istrimu!"


"Ada apa?"


"Hurry up, Narendra! Bajingan itu berbahaya!"


Meski masih belum mengerti apa yang Harley maksud, Narendra dengan cepat kembali memasuki lift dan menekan tombol untuk naik ke lantai di mana ruangan Glacia berada.


"Apa yang sebenarnya kau temukan?" Narendra berjalan tergesa saat lift tiba di tujuan. Ia setengah berlari melewati para pengawalnya yang masih berdiri di tempat semula, persis sebelum Narendra pergi meninggalkan mereka.


Cepat-cepat Narendra membuka pintu ruangan Glacia, dan ... Narendra dibuat mematung. Kosong, ruangan Glacia kosong. Dengan ponsel yang masih menempel di telinga, Narendra berlarian membuka satu persatu pintu, dari ruang khusus tamu hingga kamar mandi Narendra periksa, tapi ia tak kunjung menemukan Glacia.


Nafas Narendra menjadi tak beraturan. Wajahnya panik, dan dengan marah ia kembali keluar meneriaki anak buahnya. "Apa saja yang kalian lakukan?! Di mana istriku?!"


Hening. Pria-pria bersetelan hitam itu hanya mematung di tempat mereka berdiri. Ada yang salah. Narendra dibuat heran karena tak ada satupun yang menjawab, seolah mereka memang tak mendengar bentakannya barusan.

__ADS_1


Narendra menghampiri salah satu anak buahnya tersebut, lalu meninju pipinya hingga tubuh itu oleng menghantam lantai. Dan saat itulah, si pengawal seolah tersadar, menggelengkan kepala sambil memijat kening yang tampaknya terasa pusing. Ketika mendongak, ia terkejut karena Narendra berdiri menjulang di atasnya.


"Tuan?" ucapnya bingung.


Narendra yang lebih bingung kini tengah berpikir memahami sesuatu. Ia menatap pemuda di bawahnya dengan lekat, lalu mendongak melihat yang lainnya. Setelah ia perhatikan, memang ada yang aneh dari mereka semua.


Pemuda yang tadi Narendra pukul berdiri, dengan wajah yang turut bingung, ia pun memperhatikan rekan-rekannya yang masih berdiri seperti patung.


"Apa-apaan ini?" desis Narendra seoah tak percaya. Berbagai praduga muncul di otaknya, namun Narendra tidak serta-merta menyimpulkan, hingga ia mendengar suara Harley dari ponselnya, karena rupanya sambungan telpon mereka masih terhubung.


"Dari apa yang kudengar, sepertinya sesuatu yang buruk sudah terjadi," ucapnya. "Kau pasti terlambat."


Narendra masih mematung dengan sejumlah pikiran memenuhi otaknya. Harley pun lanjut buka suara. "Naren, aku menemukan sesuatu tentang pria bernama Rafael itu."


"Ada rahasia besar yang selama ini tidak orang lain ketahui. Dia memiliki ilmu hypnosis. Lalu ... penyusup yang masuk ke banker kita memang dia."


Narendra yang dilanda kekalutan tak lagi mendengarkan Harley. Ia menurunkan ponselnya dari telinga sebelum kemudian berlari ke arah lift. Sementara si pengawal yang berhasil disadarkan, ia lekas membangunkan rekan-rekannya dengan cara mendorong dan memukul mereka.


Setelah semuanya pulih, mereka pun lekas menyusul Narendra yang sudah menghilang semenjak memasuki lift.


Narendra berlarian di lantai bawah. Ia keluar lobi, bahkan mobil Rafael pun masih ada di sana, tapi kosong. Narendra pun membawa kakinya terus berlari mengelilingi rumah sakit. Wajahnya yang panik sontak mengundang tanya pihak keamanan. Dengan jujur ia pun mengutarakan apa yang terjadi, hingga pihak keamanan rumah sakit itu mau membantunya dengan berpencar mencari Glacia.


Tak ketinggalan anak buah Narendra ikut memeriksa berbagai ruangan di dalam gedung rumah sakit besar itu. Mereka sama-sama berpencar dan saling terhubung melalui earpiece.


Tepat giliran Narendra dan petugas keamanan memeriksa halaman samping, Narendra melihat ada pergerakan dari gerbang belakang rumah sakit. "Rafael," desisnya tajam.


Ia pun segera berlari mendekati seseorang yang diduga Rafael. Lelaki itu terlihat mendorong kursi roda yang Narendra yakin milik Glacia.


"Glacia!" Narendra berteriak keras. Posisi mereka yang jauh menyulitkan Narendra tiba dengan lebih cepat. Karena sedetik ia sampai di halaman belakang, Rafael sudah memasukkan Glacia ke dalam mobil hingga kendaraan tersebut melaju cepat meninggalkan rumah sakit.


"GLACIAAA!!" Narendra berlari sampai beberapa meter di trotoar. "Aargh! Sial!" Ia meninju udara lantaran telat mengejar mereka.


Tepat ketika itu sebuah mobil hitam melaju cepat dan berhenti di samping Narendra. Sosok Harley terlihat begitu kaca mobil diturunkan. "Naiklah, cepat!"


Tanpa menunggu waktu lama Narendra pun naik, dan mereka langsung melesat kejar-kejaran dengan mobil Rafael.

__ADS_1


__ADS_2