Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
86. Salah Paham Glacia


__ADS_3

Lizy membuka matanya perlahan. Dingin, itulah yang ia rasakan. Seluruh tubuhnya terasa nyeri dan perih dengan berbagai macam luka. Lizy benar-benar ingin mati sekarang juga. Ia tidak menyangka, Narendra yang dicintainya bisa berbuat sekejam ini hanya karena Glacia.


Setelah dipikir, ia dan Narendra tak ada bedanya. Jika Lizy berani melakukan apa pun untuk mendapatkan Narendra, Narendra pun sama. Lelaki itu bisa menjadi lebih buas jika menyangkut seseorang yang diinginkannya.


Lizy mendengus, dengan kata lain perasaan Narendra pada Glacia lebih mendekati kata obsesi. Sama persis dengan apa yang dirasakannya pada lelaki itu.


"Kita sama saja, Naren," bisik Lizy, mendengus sembari menyeringai.


Ia mendongak ketika mendengar suara pintu yang dibuka, seorang pria masuk membawakan sepiring nasi serta teh dalam cangkir. Ini salah satu yang membuat Lizy ingin mati. Teh itu, Lizy masih harus meminum teh China tersebut sampai kemasannya habis.


Saat itu Lizy sengaja membeli kemasan besar supaya lebih banyak racun yang masuk ke tubuh Glacia. Tapi sekarang, rupanya racun itu yang akan membunuh Lizy secara perlahan.


Senjata makan tuan, mungkin itu cocok untuk keadaan Lizy saat ini. Pintu kembali dikunci dari luar. Lizy berusaha untuk tidak menangis kendati nasibnya kini berada di ujung jurang.


Ingin ia menumpahkan nampan itu, tapi itu berarti Lizy harus siap dengan siksaan berikutnya. Benar, setiap kali Lizy menolak apa yang diberikan, maka orang-orang itu akan memberinya kesakitan.


Dengan perasaan jijik, Lizy menyuapkan nasi dan lauk berbau tak sedap itu ke dalam mulutnya. Mengabaikan rasa basi yang membuatnya ingin muntah, Lizy berusaha keras menelan semuanya dengan susah payah.


Ini lebih menyiksa dari penjara. Ini lebih tepat disebut neraka. Tak berbeda jauh dengannya, nasib Wina pun sama sengsaranya. Tak jarang Lizy mendengar suara jeritan pelayan itu. Pasti Wina juga mengalami siksaan menyakitkan persis seperti apa yang ia dapatkan.


Tentu penderitaan Wina merupakan sebuah hiburan bagi Lizy. Ia masih ingin membunuh pelayan itu karena gagal menjalankan rencana membunuh Glacia. Sudah sampai sini, usahanya juga sia-sia karena Glacia masih hidup. Semua yang sudah Lizy lakukan benar-benar tak berguna.


Tiba-tiba saja Lizy terpikirkan sebuah rencana. Tapi, sebelum itu ia harus keluar dulu dari tempat mengerikan ini. Bagaimana caranya? Sementara penjagaan dan pengawasan begitu ketat. Lizy sungguh tak mau mati sia-sia di sini. Kalau ia harus mati, Glacia juga harus mati.


Sementara di luar, seorang pria berdiri sambil bersandar di sebuah pohon besar. Tangannya bersidekap mengamati lahan kosong yang rimbun dengan kumpulan ilalang.


Hampir tidak ada yang aneh, namun jika ditelusuri lebih dalam ada sebuah terowongan yang luput dari pandangan mata. Lapisan beton dengan tangga menjorok ke bawah itu seperti mengarah pada suatu tempat, mirip banker di masa penjajahan yang kerap digunakan sebagai persembunyian.


Pria itu merunduk merapatkan topi dan masker yang dikenakannya, lalu menaikkan tudung jaket guna menutupi sebagian wajah. Lelaki itu pergi, meninggalkan tempat tersebut dan menghilang di antara rimbunnya ilalang di kejauhan.


***


Langkah Narendra berderap di sepanjang lorong rumah sakit. Ia baru saja kembali dari lobi, usai mengambil berkas dan laptop yang Julian antarkan. Sebelumnya, Narendra memang meminta lelaki itu untuk membawa sisa pekerjaannya yang belum selesai kemari.


Rencananya Narendra hendak lembur sambil menemani Glacia. Tapi, rencana itu harus ia tunda ketika mendapati seseorang menghalangi langkahnya yang baru keluar dari lift.


Narendra mendongak datar, ia melihat Rafael yang juga balas menatapnya tanpa ekspresi. Narendra mengernyit, matanya sedikit memindai Rafael sebentar.


"Kau bukan dokter di rumah sakit ini, tapi aku sudah melihatmu 2 kali hari ini," ucap Narendra disertai sedikit sindiran.


Rafael hanya mendengus samar. "Meski begitu, bukan berarti aku tidak punya pekerjaan di sini," balasnya. "Aku kemari karena memenuhi panggilan direktur rumah sakit ini."


Narendra tahu, Rafael mungkin tidak berbohong dengan alasannya. Tapi tetap saja ia merasa tak nyaman, kendati Rafael tidak mampir ke ruangan Glacia. Narendra tahu karena ia kerap mengawasi ruang rawat tersebut meski sedang turun ke lantai bawah sekalipun.


Mereka tak bersuara lagi, Narendra hanya melirik pria yang berprofesi sebagai dokter itu sekilas sembari melewatinya. Narendra melanjutkan langkah menuju kamar Glacia, sementara Rafael masih berdiri di belakangnya, menatap kepergian Narendra dengan pandangan rumit dan penuh makna.


Sedetik kemudian Rafael turut pergi memasuki lift. Narendra, ia juga menoleh sebentar sebelum membuka pintu dan masuk ke kamar sang istri.


Saat dirinya masuk, ternyata Glacia tengah mengerjap, ia baru saja tersadar dari tidur lelapnya. Narendra mendekat setelah menyimpan berkas dan laptopnya di meja sofa.


"Kenapa bangun?"

__ADS_1


Malam telah larut, biasanya jika Glacia terbangun berarti ada sesuatu yang ia rasakan. Syukurlah, rupanya Glacia hanya ingin minum.


"Haus ..." ujarnya parau.


Narendra pun segera meninggikan punggung ranjang Glacia, lalu memberinya gelas berisi air yang selalu tersedia di nakas. Narendra menyimpannya kembali setelah Glacia selesai minum.


"Ada keluhan?" tanya Narendra, memperhatikan raut wajah Glacia yang berkedip sayu.


Wanita itu menggeleng, dan Narendra merasa lega karenanya. "Ya sudah, tidur lagi."


"Kamu kerja?" bisik Glacia bertanya. Matanya melirik laptop dan tumpukan kertas di meja.


Narendra turut menoleh sebentar ke belakang tubuhnya, lalu kembali menatap Glacia sambil mengangguk. "Ada sedikit yang harus diselesaikan."


"Apa tidak ngantuk?"


Narendra tersenyum. Tangannya terulur mengusap pelipis Glacia sesaat. "Ada kopi. Jangan khawatir, aku sudah terbiasa melakukan ini. Kamu tidurlah," ujarnya setengah berbisik.


Glacia membuang nafas, ia memang sangat mengantuk dan ingin tidur. Jadi ia kembali memejamkan mata seraya menyamankan posisi kepala. Namun sebelum itu ia bergumam. "Jangan terlalu memaksakan diri. Istirahatlah jika lelah."


Setelah itu Glacia nampak mendengkur halus. Narendra tersenyum, menatap teduh wajah pucat wanita itu yang terlelap. "Cepat sekali," bisiknya hampir tanpa suara.


Ia kembali mengusap Glacia, kali ini di bagian kepala. Narendra sempat dibuat mematung lantaran tak sengaja mendapati rambut Glacia yang rontok, padahal ia hanya menyentuhnya pelan.


Tubuh Narendra membungkuk mengecup kening Glacia. Namun saat ia akan berbalik ke arah sofa, tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu di bawah bantal. Narendra merogoh benda yang ternyata adalah tisu bekas dengan noda darah menggumpal.


Ia mengamatinya sesaat, lalu beralih pada Glacia dan menatapnya lama. Rautnya nampak berpikir sebelum memutuskan membuang tisu tersebut ke keranjang sampah.


Narendra membuang nafasnya panjang. Ia tidak tahu kapan Glacia menyembunyikan itu di bawah bantalnya. Kenapa bisa luput dari perhatian Narendra. Satu hal yang Narendra simpulkan, Glacia melakukannya karena ia tidak ingin memicu kekhawatiran.


***


Pagi harinya Glacia terbangun. Hal pertama yang ia lihat adalah Narendra yang sudah segar dengan penampilan casual. Celana chino berwarna hazelnut yang dipadukan sweater dengan warna mustard membuat sosoknya terlihat lebih fresh dan santai dari biasanya.


Belum lagi wangi parfumnya yang maskulin membelai indera penciuman Glacia. Lelaki itu tersenyum begitu mengetahui Glacia bangun.


"Pagi?" sapanya hangat.


Glacia mengerjap pelan. "Pagi."


Narendra mendekat memberi Glacia minum. "Pagi ini sangat cerah. Aku akan membawamu ke taman," ujarnya.


Glacia mengernyit, perhatiannya lalu teralihkan oleh beberapa perawat yang masuk. Narendra berdiri bersiap untuk keluar. "Aku akan ke bawah sebentar selama mereka membantumu membersihkan diri. Sebenarnya aku tidak keberatan membantu, tapi kamu pasti tidak setuju karena malu."


Narendra tersenyum, ia mengecup dahinya sekilas sebelum benar-benar pergi dari ruangan Glacia.


Sementara Glacia, ia masih bergeming karena merasa aneh dengan sikap Narendra yang mendadak begitu hangat pagi ini, pun tatapan lelaki itu lebih meneduhkan dari biasanya.


Mengabaikan rasa penasaran tersebut, Glacia kini fokus kepada para perawat yang mengurusnya. Hingga hampir satu jam kemudian Glacia sudah lebih segar dengan keadaan tubuh yang bersih dan wangi.


"Nyonya Glacia mau kami antar ke taman? Tuan Narendra menunggu anda di sana," ucap salah satu perawat, menawarkan.

__ADS_1


Glacia mengangguk saja. "Baiklah, antar aku ke sana."


Dua perawat mengantar Glacia, sementara yang lainnya kembali pada tugas mereka. Glacia mengambil nafas dalam-dalam begitu ia sampai di luar lobi. Udara segar seketika merasuki hidungnya.


Dengan pandangan yang mengedar, Glacia melihat-lihat halaman rumah sakit, seiring perawat di belakangnya mendorong kursi rodanya berjalan.


Sepanjang koridor banyak sekali pasien yang berkeliaran yang Glacia temui. Pasti mereka juga sama bosannya seperti Glacia. Melewati jalan setapak yang dicor, rerumputan hijau dengan berbagai tanaman bunga mengantarkan Glacia menuju sudut halaman yang lebih sepi dari lalu-lalang orang.


Ada beberapa gazebo kecil di sana, dan salah satunya ditempati oleh Narendra. Glacia menoleh pada dua perawat di belakangnya. "Kalian pergilah, aku akan menemui suamiku sendiri. Terima kasih sudah mengantar."


Dua perawat itu mengangguk paham. "Baik, Nyonya. Jika perlu sesuatu, jangan sungkan bicara pada pihak rumah sakit kami."


Glacia mengangguk, mereka pun pergi meninggalkannya yang kembali mengarahkan pandangan pada Narendra. Lelaki itu belum menyadari kehadiran Glacia, tampaknya ia pun sedang bicara entah dengan siapa di telepon.


Glacia mendekat, ia memperhatikan punggung Narendra yang berdiri membelakanginya. Glacia tersenyum, ia juga melihat beberapa piring makanan serta mangkuk berisi bubur di meja.


Sambil menunggu lelaki itu selesai menelpon, Glacia mendekati meja, lalu mengambil jus untuk ia minum. Akan tetapi, baru sedetik tangannya terangkat menyentuh gelas, perkataan Narendra yang tanpa sengaja ia dengar membuatnya refleks menjatuhkan gelas tersebut.


"Aku tidak mau tahu, bajingan itu harus mendapatkan hukuman paling berat yang hakim putuskan. Satu lagi, perketat keamanan di tempat itu, aku tidak mau mendengar kabar polisi menemukan Lizy di sana."


Prang!


Hening. Suara pecahan itu tak hanya mengejutkan Glacia, tapi juga Narendra yang langsung berbalik dan membelalak begitu mendapati kehadiran sang istri.


Glacia bergeming dengan wajah campur aduk menatapnya, pun Narendra refleks menurunkan ponsel dari telinga.


"Glacy?" gumam Narendra pelan.


Glacia masih terperangah dengan raut tak percaya. "Kau menyembunyikan Lizy?" tanya Glacia lirih.


Hening menyapa ketika Narendra tak kunjung menjawab. Sementara mata Glacia kini berkaca, ia tampak berusaha menelan ludah saat lanjut bertanya. "Naren, katakan."


"Glacy—"


"Kau menyembunyikan Lizy?!" Glacia berseru dengan nada bergetar. Narendra tergemap karena sepertinya Glacia salah paham.


"Kau tahu dia mau membunuhku, tapi kau melindunginya dari kejaran polisi? Jadi sampai saat ini Lizy belum ditemukan karena kau menyembunyikannya di suatu tempat? Di mana? Kenapa kau melakukan itu, Naren? Apa kau tidak sungguh-sungguh ingin melindungiku?" tanya Glacia beruntun. Ia bahkan tidak memberi kesempatan ada Narendra untuk menjelaskan.


"Glacy, bukan—"


"Kau masih mencintainya! Iya, kan?!" Glacia menangis sesenggukan. "Kau bohong selama ini. Aku kecewa padamu, Naren. Aku menyesal karena sempat percaya padamu!"


Narendra mematung. Tubuhnya seolah terpaku di tempat di saat otaknya menyuruh untuk segera merengkuh Glacia. Dan perkataan Glacia selanjutnya berhasil membuat Narendra tak berkutik.


"Jadi ini yang Papa maksud, bahwa aku harus berhati-hati padamu. Karena ternyata kamu seorang pembohong yang senang mengelabui orang."


"Kau mengelabuiku. Kau membuatku percaya bahwa kamu memang benar mencintaiku. Tapi ternyata aku salah. Aku salah menilaimu, Naren."


Glacia terisak menatap Narendra yang bergeming, ia lalu berbalik bersama kursi rodanya meninggalkan Narendra dengan segenap kebingungan di sana.


Lelaki itu terlihat bingung, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Di tengah kekalutan hatinya, suara Julian yang memanggil-manggil dari balik ponsel, membuatnya kembali tersadar.

__ADS_1


"Tuan? Tuan, anda masih di sana? Ada apa? Sepertinya saya mendengar suara Nyonya?"


Narendra berdesis tajam. "Sialan kau, Julian. Kenapa kau harus menelponku pagi ini?!" teriaknya kesal.


__ADS_2