Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
87. Kemarahan Narendra


__ADS_3

Glacia masih menangis di ruang rawatnya. Wanita itu terseguk dengan bahu meluruh di atas kursi roda. Lagi dan lagi kepercayaannya harus terpatahkan oleh kenyataan menyakitkan. Inilah alasan kenapa ia selalu menolak Narendra. Glacia takut, ia takut hal yang sama akan terulang, seperti Gallen yang berujung mengkhianatinya.


Hatinya perih mengetahui Narendra masih menaruh kepedulian terhadap Lizy. Lelaki itu masih mencintai mantan pacarnya. Memang apa yang Glacia harapkan? Ia hanya wanita cacat dan pesakitan yang bahkan tak memiliki alasan untuk dicinta.


Pintu terbuka, dan Glacia tahu yang datang adalah Narendra. Glacia enggan berbalik dan tetap pada posisinya menghadap jendela. Hingga ia mendengar langkah kaki itu mendekat, lalu berhenti tepat di belakangnya.


"Glacy?" Narendra memanggil pelan dan penuh kehati-hatian. Perlahan kakinya berayun mengikis jarak, namun berhenti begitu Glacia bersuara.


"Jangan mendekat." Suara wanita itu terdengar parau. Narendra hanya bisa menatap nanar punggung Glacia dari belakang.


"Kamu salah paham," ujar Narendra.


Glacia tak menjawab, sedu-sedan lirih masih terdengar dari bibirnya. Narendra benar-benar dibuat serba salah, ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana.


"Yang kamu dengar tadi, itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Sebenarnya, aku ..."


"Aku mau pulang," potong Glacia.


"Apa maksudmu? Dokter belum—"


"Aku mau pulang!!" teriak Glacia sambil kembali menangis. Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isakannya kian kembali mengeras hingga membuat Narendra terdiam.


Narendra mendekat dan bersimpuh di samping kursi roda Glacia. Lelaki itu berusaha menyentuh istrinya yang berujung mendapat tepisan. "Glacy, jangan begini—"


Glacia menyentak tangan Narendra yang hendak memeluknya. Ia mendongak menatap lelaki itu, hingga kini wajah penuh air matanya terlihat jelas di mata Narendra.


"Aku harus bagaimana?" tanya Glacia. Suaranya menantang namun juga parau. "Katakan aku harus bersikap bagaimana padamu, Naren? Kau membohongiku. Kau tidak jauh bedanya dengan Gallen. Kalian sama-sama senang membodohiku."


Narendra menggeleng. "Bukan seperti itu."


"Lalu seperti apa?"


Narendra terdiam.


"Seperti kamu yang diam-diam masih memperdulikan Lizy?" lanjut Glacia. Ia terkekeh hambar. "Bodoh. Padahal sebelumnya memang aku yang mendekatkan kalian. Seharusnya aku tidak sesakit ini, kan?"

__ADS_1


"Glacy?" Narendra tampak memohon.


Glacia menggerakkan kursi rodanya menjauhi Narendra, hingga mau tak mau lelaki itu melepaskan pegangannya. Narendra berdiri memperhatikan Glacia yang berbalik ke arah lain.


"Aku ingin menjelaskan, tapi aku bingung harus memulainya dari mana. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan!" Nafas Narendra terengah. "Please, percaya padaku," lanjutnya memohon.


"Sulit, Naren. Sulit untuk aku percaya lagi padamu. Ini kedua kalinya kamu membuatku kecewa. Kamu tahu? Dulu Gallen—"


"Gallen! Gallen! Gallen dan Gallen!" seru Narendra mengejutkan. Nafas lelaki itu tak beraturan menatap punggung Glacia. "Berhenti memikirkan Gallen karena aku bukan dia!! Kenapa kamu selalu membawa bajingan itu di antara kita?! Apa kamu tidak bisa fokus melihatku saja?!"


Glacia terperangah melihat kemarahan Narendra. Jantungnya hampir lepas karena untuk pertama kalinya ia mendengar Narendra berteriak. Glacia menoleh menatap lelaki itu. Narendra kini memandangnya dengan tatapan tajam dan menuntut.


Jakun Narendra bergerak menelan ludah. "Sekali lagi kamu menyebut nama bajingan itu, aku benar-benar akan melenyapkannya," desisnya tajam.


Kening Glacia berkerut dalam. Ia merasa asing dengan Narendra di hadapannya. "Naren?" bisik Glacia tanpa sadar. Kenapa Narendra tampak menakutkan?


"Aku akan melenyapkannya, Glacia. Aku akan membunuhnya agar kamu tidak bisa memikirkannya lagi!"


"Sudah cukup selama ini aku bersabar. Kali ini kamu milikku, bukan Gallen atau siapa pun," tegas Narendra.


Langkah Narendra berderap menuju pintu. Glacia yang bertanya-tanya pun kontan mengejar. "Pembalasan apa?"


Namun Narendra tak menjawab lagi, lelaki itu tak menghiraukan Glacia dan lekas membuka daun pintu.


"Naren, pembalasan apa?! Naren! Narendra!"


Tak hanya mengabaikan Glacia, lelaki itu juga mengunci pintu ruang rawatnya dari luar. Mata Glacia membelalak lebar dengan apa yang dilakukan Narendra padanya.


Brak brak brak!


"Narendra apa yang kau lakukan?!" Glacia menggedor pintu dan berteriak keras. "Naren kenapa kau mengunciku?! Buka pintunya!! Narendra!!!"


"Dokter!!! Dokter!!! Siapa pun di luar tolooonggg!!!"


Brak brak brak!

__ADS_1


Narendra menatap datar pintu di hadapannya. Ia melirik dokter dan perawat yang berlarian mendekat karena mendengar kegaduhan. Narendra berucap tajam. "Jangan buka kecuali jadwal pemeriksaannya tiba."


Ia pun beranjak pergi, bersamaan orang-orang berpakaian hitam muncul keluar dari lift. "Awasi mereka, terutama Glacia. Jangan biarkan dia berbuat sesuatu yang nekat."


"Baik, Tuan."


Narendra memasuki lift, ia turun di lobi dan lekas berjalan ke luar menuju mobilnya. Ia tidak menyadari kehadiran seseorang yang bersandar di salah satu pilar.


"Kau mengurungnya? Hey, jangan terlalu kejam, ingat dia sepupuku."


Langkah Narendra berhenti, ia berbalik perlahan dan mendapati Gibran Wiranata tengah memandangnya, dengan wajah sombong yang sudah mendarah daging. Mereka saling tatap, matanya sama-sama terlihat datar.


Gibran Wiranata kemudian mendengus. "Sialan. Kalau aku tidak sedang membutuhkanmu, aku tidak akan membiarkanmu menatapku dengan menyebalkan seperti itu."


"Nyatanya kau butuh aku untuk menyelidiki pengeboman beberapa tahun lalu," timpal Narendra datar.


Gibran terdiam, sudut bibirnya berkedut tipis. "Jika ada gelandangan paling sombong, itu kau."


"Dan gelandangan ini yang bisa memecahkan masalahmu."


Gibran mencibir. Ia menjauhkan punggungnya dari pilar, lalu berjalan mendekat ke arah Narendra. Lebih tepatnya ia melewati Narendra dan masuk ke mobil lelaki itu.


Gibran duduk di kursi penumpang depan samping sopir, ia lalu membuka kaca kendela, dan menoleh pada Narendra yang masih diam saja di tempatnya berdiri.


"Tunggu apa lagi? Jalan! Kau tidak mau melihat persidangan mantan pacar istrimu?"


Narendra berjalan memasuki kemudi, dengan setengah hati ia mengemudikan mobilnya sendiri keluar dari pelataran rumah sakit. Gibran tersenyum miring menepuk pundaknya. "Santai, Dude. Kau harus belajar melemaskan otot-otot di wajahmu."


Narendra tak perduli. Pikirannya sedang kacau dan penuh oleh segala hal, terutama tentang Glacia.


Bicara soal Glacia, wanita itu kini sedang terperangah. Ia masih tidak percaya Narendra bisa berbuat sekeras itu hingga menguncinya di dalam ruang rawat.


"Apa-apaan ini. Bukankah di sini aku yang sedang marah padanya?" Glacia berdesis pelan. Ia memijat keningnya yang terasa pening lantaran berteriak dan lelah mengeluarkan tenaga ekstra. Ujung-ujungnya pintu itu tetap tak terbuka.


"Hey, kalian tidak mau membantuku? Aku seorang pasien, bagaimana kalau terjadi apa-apa padaku tanpa kalian tahu?" Glacia tahu di luar ada orang. Namun ia tidak tahu, segala tindak-tanduknya di dalam ruangan tak luput dari perhatian. Mereka mengawasi, dan bisa tahu seandainya wanita itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Astaga, kenapa jadi seperti ini?" lirih Glacia masih tak menyangka.


__ADS_2