
"Kau yang merencanakan semua ini?" desis Krisna, menatap Narendra tajam.
Narendra masih berdiri di tempatnya dengan raut tak acuh. Sekilas ia melirik Thomas yang memandangnya dengan sorot dingin, lalu kembali pada Krisna yang kini mulai beranjak dari rerumputan.
"Kaulah, yang membuatnya jadi seperti ini," ujar Narendra santai. Ia mengendikkan bahu, lalu menyandarkan satu lengan pada batang pohon di sampingnya, hingga kemeja bagian tersebut kotor.
Sudut bibirnya kembali tersungging miring memandang Krisna. Hal itu membuat emosi Krisna perlahan memuncak. Krisna berjalan menghampiri Narendra dan hendak melayangkan tinjuan di wajah tampan sang putra. Sayangnya Narendra dengan cepat menangkisnya.
Ia menangkap tangan Krisna yang sebentar lagi mengenai wajahnya, sambil terus menatap lelaki itu. "Kau selalu mengira aku lemah, kan?" bisiknya pelan. "Inilah, salah satu perbuatanku yang paling lemah," lanjutnya lagi.
Narendra menyentak pegangannya pada Krisna hingga pria itu kembali tersungkur di tanah. Thomas menyaksikan dalam diam, pemuda itu berdiri dengan pandangan rumit menatap keduanya.
Krisna menatap Narendra penuh dendam. Ia juga menoleh pada Thomas yang memandangnya bungkam. Nafas Krisna terengah penuh kemarahan. "Kau mengkhianatku."
Thomas mengendik. "Kau salah. Kaulah yang memilih mengikutiku. Aku hanya tidak menyia-nyiakan kesempatan, karena keinginanku untuk membunuhmu sangat besar," ucapnya enteng. "Dan lagi, sejak awal aku tidak pernah menjadi rekanmu. Jadi, bagian mana yang kau maksud mengkhianati?"
"BRENGSEK KALIAN BERDUAAA ...!!! KALIAN MEMANG ANAK PEMBAWA SIAAALL!!!" Krisna berteriak keras. Air hujan mengguyurnya habis-habisan.
"Kau akan merasakan akibat dari melakukan semua ini," desisnya pada Narendra. "Tidakkah kau menyadari bahwa kau durhaka pada ayahmu sendiri?"
"Apa kau pernah menganggapku sebagai anak?" Narendra balik bertanya. "Tidak, kan? Lagipula, aku tidak pernah merasa memiliki seorang ayah. Aku hanya pernah melihat lelaki yang menyakiti ibuku hingga mati."
Narendra menoleh pada Thomas. Ia tak mengatakan apa pun, namun kakinya melangkah mendekati pemuda tersebut, lalu menariknya paksa untuk menjauh dari sana.
Thomas sempat memberontak ketika Narendra melemparnya ke sebuah truk yang langsung ditangkap orang-orang berpakaian hitam di sana. Mereka menutup pintu belakang bak truk itu tepat di hadapan Thomas yang masih mematung. Menghalangi segala pandangan Thomas dari area hutan, di mana suara tembakan terdengar tak lama kemudian.
Dor!
Thomas berdiri memberontak. "Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!"
Seruan Thomas sama sekali tak dihiraukan. Para pria bersetelan hitam dengan emblem keemasan itu memerangkap Thomas, dan memborgol salah satu tangan pemuda tersebut, lalu mencangklongkan satu bagian lainnya ke lubang truk.
"Brengsek!" umpat Thomas, ia merasa tertipu karena sebelumnya sempat mempercayai Narendra.
Di luar sana, Narendra kembali menembakkan pelurunya ke udara. Kakinya berderap mendekati Krisna yang masih terduduk di tanah.
__ADS_1
Ia berdiri di hadapan lelaki itu dengan angkuh. "Bagaimana? Masih mau menganggap dirimu lebih tinggi dariku?"
Narendra semakin mengikis jarak. "Kau pikir, dengan menyakiti istriku, kau akan keluar dari kesengsaraan itu? Ingatlah, kau sendiri yang membuat keadaanmu seperti ini. Kemiskinan, kau memang pantas mendapatkannya. Jadi nikmatilah. Kau juga harus ingat, dulu kau memiliki harta karena ibuku," desis Narendra disertai dengusan.
Rahang Krisna mengetat rapat, ia mendongak menatap Narendra dengan pandangan geram. Ia lalu tertawa. "Itu berarti kau tak ada bedanya denganku. Harta dan kekuasaan yang kau miliki sekarang juga milik istrimu. Jadi, kita berdua sama. Benar?"
Narendra mendengus, sudut bibirnya berkedut samar. "Kau tidak sepenuhnya salah. Tapi, aku bukan lintah yang serakah sepertimu."
"Narendra, ingatlah, selama kau berdiri di atas kekuasaan istri dan mertuamu, selamanya dunia akan memandangmu rendah." Krisna menyeringai. "Kecuali kalau kau merengkuh sepenuhnya kepemilikan dari kuasa itu. Hahaha ..."
Krisna tertawa. "Bagaimana kalau kita bekerjasama saja? Bukankah itu lebih menguntungkan?"
Narendra terdiam dengan mulut bungkam. Tak lama ia pun bersuara pelan. "Aku tidak butuh apa yang dia miliki, yang kubutuhkan dia menjadi milikku. Seutuhnya."
Perkataan Narendra membuat Krisna tertawa geli. "Dasar bodoh. Hahaha ... Cinta benar-benar membuatmu bodoh! Hahaha ... Pria sepertimu selamanya akan menjadi pengemis di perusahaan orang."
Narendra tak menanggapi, ia hanya menatap Krisna dengan pandangan datar setengah malas. Hujan mulai sedikit mereda daripada sebelumnya. Namun guntur masih menggelegar disertai kilat yang membelah langit gelap.
Narendra menyentuh earpiece di telinga kanannya ketika sebuah suara terdengar dari sana. Ia mendengarkan sembari memperhatikan Krisna di bawahnya.
"Aku pernah berjanji ketika dia bangun dari masa kritis," gumam Narendra tiba-tiba. "Bahwa aku akan menyiksa siapa pun yang berani menyakitinya."
"Bahkan, ia tak akan mampu untuk memikirkan makan dan minum. Karena aku akan membuatnya hanya memikirkan ... kematian." Narendra berbisik di akhir kalimatnya. Ia mengulas senyum lebar menatap Krisna. Senyum yang membuatnya terlihat seperti seorang psikopat haus darah.
Krisna tak berkutik seolah tersihir oleh aura Narendra yang tiba-tiba membekukan. Hingga ...
"Aaarrgghhh ...!!!"
Suara teriakan seseorang dari kejauhan, terdengar keras melonglong di udara, memecah kesunyian hutan yang hanya diisi gemuruh petir dan hujan. Lalu tak lama auman serigala turut menghantam pendengaran Krisna.
Aaauuuu ...!!!
Ada apa? Siapa yang berteriak?
Di tengah kepanikan Krisna yang mulai berdiri, Narendra justru tertawa santai di tempatnya.
__ADS_1
Orang gila! Krisna benar-benar menilai bahwa Narendra sudah gila. Krisna pun berlari meninggalkan lelaki itu saat mendengar banyaknya suara langkah kaki yang berlarian mendekat. Krisna bahkan tak sempat memikirkan siapa saja yang ada di hutan ini kecuali dirinya dan Thomas.
Sementara di tempat lain, Nick berdiri di atas kepala sebuah truk besar. Mobil serupa kendaraan militer itu terparkir angkuh, berjejer di antara lebatnya pepohonan hutan.
Lalu, ia melambaikan tangan pada seluruh anak buahnya, memberi isyarat pada mereka untuk membuka pintu belakang badan truk.
Para pria bersetelan hitam itu naik, lalu membuka pintu persegi panjang itu dari atas. Mereka sekaligus melepas kuncian kandang yang terletak di dalamnya, dan tak lama kemudian gerombolan serigala berlarian keluar.
Aaauuu ...!!!
Nick menyeringai puas. Sebelum ini, ia juga berhasil melepaskan para berandal yang sempat menculik Glacia dari penjara. Beberapa dari mereka mungkin sudah tercabik oleh sejumlah serigala-serigala itu.
Nick menekan earpiece di telinga. "Done," ucapnya dipenuhi senyum.
"Aih, Harley pasti iri melihat ini. Ini lebih menyenangkan daripada mengawasi wanita-wanita lemah di gudang," dengusnya geli.
Kembali pada Narendra, ia turut tersenyum mendengar teriakan-teriakan panik yang disusul geraman serigala. Dengan cepat dan gesit Narendra memanjat salah satu pohon, lalu menempati dahan tertinggi di sana.
Tepat saat dirinya duduk dan menatap ke bawah, para berandal tampak berlarian melewati tempat tersebut. Di belakang mereka, sejumlah serigala mengejar dengan sangat cepat.
"Toloonggg!!!"
"Aarrgghhh!!!"
Suasana hutan menjadi ramai oleh teriakan dan jerit kesakitan. Sesekali serigala-serigala itu mengaum lalu kembali berlari. Mengejar, menerkam, dan mencabik manusia-manusia di bawah sana.
Narendra terkekeh ketika mengingat Krisna. Ia tak sabar menemui potongan tubuh lelaki itu, atau jasadnya yang sudah mati dengan tak utuh.
"Sudah kubilang, bahwa siang tak selamanya terang," bisik Narendra puas, membuktikan perkataannya yang sempat menjadi peringatan untuk Krisna.
Semua ini memang sudah direncanakan. Setelah Thomas membawa Krisna kabur, ia pun melepaskan berandal lainnya yang terlibat penculikan Glacia, untuk kemudian diseret paksa ke hutan ini.
Di tengah rasa puas Narendra, Thomas justru mematung di dalam truk. Ia mendengar semuanya. Teriakan, jeritan, auman serigala yang terdengar mengerikan di luar sana.
Lalu pertanyaan lain pun muncul. Benarkah Narendra adalah kakaknya? Benarkah mereka bersaudara?
__ADS_1
Namun suara jeritan lain berhasil menghentikan pikirannya. Meski belum lama bertemu dan saling mengenal, Thomas tahu bahwa yang baru saja berteriak adalah Krisna, ayah biologis yang sudah lama ingin Thomas lenyapkan.
Narendra benar-benar lebih kejam dari dugaannya.