
Glacia mengerjap pelan sebelum membuka matanya lamat-lamat. Nafasnya terhela lemah merasakan sakit di beberapa bagian tubuh, juga tenaga yang seolah terkuras habis. Tangannya sampai tremor ketika diangkat. Lemas, Glacia merasa kepalanya pusing. Ia juga sadar hidungnya kembali mimisan.
Mata Glacia mengedar menatap sekeliling. Seketika dahinya mengernyit jijik mendapati ruangan kotor nan apek juga permukaan tanah yang becek di beberapa bagian.
"Uhuk!" Glacia terbatuk pelan. Tepat ketika itu juga ia mendengar suara langkah yang mendekat.
"Tidurmu lumayan nyenyak," ucap seseorang dengan nada mengejek.
Glacia mendongak. Ia mendapati pria paruh baya, si tukang bunga gadungan yang beberapa waktu lalu ia lihat di mansionnya.
Seketika wajah Glacia mengeras disertai waspada. Ia berusaha mundur saat lelaki itu mendekat, namun Glacia lupa bahwa kakinya tak bisa bergerak.
Pria itu terkekeh memperhatikan kaki Glacia yang terjulur tak berdaya. "Tanpa diikat pun kau tidak akan bisa kabur, bukan begitu?"
Matanya menyorot Glacia dengan senyum menyeringai. Glacia mengetatkan rahang emosi, sementara tangannya meremas bawahan rok yang sekarang sudah lusuh nan kotor.
"Siapa kau? Apa maumu dariku?" desis Glacia tajam.
__ADS_1
Krisna kembali menyeringai. Tangan kasarnya terulur menyentuh pelan bawah hidung Glacia, menyeka sedikit darah dari sana sebelum menariknya kembali untuk diamati.
Krisna mendengus sembari tersenyum miring, memperhatikan jari telunjuknya yang diliputi warna merah.
"Mauku? Kau tidak perlu tahu." Krisna berbisik.
"Sebenarnya aku kasihan padamu," ucapnya. Krisna mendongak menatap Glacia, sudut bibirnya terangkat sumir seolah mengejek. "Lima hari lagi jadwalmu kemoterapi, kan? Sayang sekali, sepertinya setelah ini kau tak perlu lagi buang-buang uang untuk penyakitmu," lanjutnya.
Glacia menegang. Orang ini bahkan sampai tahu jadwal pengobatannya. Siapa dia? Apa yang dia inginkan dari Glacia?
Bibir yang selalu tersungging sumir itu sungguh membuat Glacia risih dan takut. Terlebih tatapan matanya sesekali terlihat mesum. Tapi Glacia berusaha tak perduli, ia tidak mau pria itu tahu bahwa sebenarnya Glacia gemetar karena gelisah.
"Apa hubunganmu dengan Lizy? Kenapa waktu itu dia meneleponmu? Lalu, Narendra ..." Suara Glacia tercekat. Ia tidak berani menduga-duga yang mana akan membuat hatinya semakin terluka.
Glacia menelan ludah, ia masih menatap Krisna dengan tajam dan waspada. Krisna tiba-tiba tertawa keras hingga membuat Glacia sedikit terkejut. Lelaki itu sampai mendongak, pun suaranya menggema di ruangan seram itu.
"Hahaha .... Hahaha ...."
__ADS_1
Diam-diam Glacia memundurkan bokongnya ke belakang, berharap kakinya bisa seringan bulu dan memudahkannya untuk berpindah tempat dari hadapan lelaki bau itu.
"Kau mau tahu?" Krisna menatap Glacia dengan senyum culas, begitu menikmati raut Glacia yang tampak tegang dan waspada.
"Narendra adalah ...." Pria itu menggantung ucapannya. Glacia sungguh merasa jijik karena terus-menerus melihat giginya yang kekuningan. Nafasnya juga tercium bau meski dari jarak tak begitu dekat.
Belum sempat Krisna meneruskan ucapannya, satu orang anak buahnya berlari masuk dan langsung memberi tahu. "Bos, lokasi kita terlacak!"
Krisna menoleh cepat. Ia mengernyit dalam dengan raut yang seketika kesal. "Apa?"
"Bon melihat ada sinyal yang mendekat ke lokasi kita. Itu pasti Naren—"
"Syut!" Krisna langsung memotong dan menyuruh pemuda itu diam. Ia berbisik, dan pemuda tersebut langsung berlari keluar dengan segera.
Sementara Krisna menatap Glacia yang memandangnya waswas. Ia mendengus sembari menyeringai. "Kau pikir Narendra mencintaimu?"
Ia kemudian melanjutkan. "Justru dialah, yang menyuruhku membawamu pergi," ucapnya dengan senyum miring.
__ADS_1