
"Jika ingin membalas dendam, kau butuh kekuatan dan kekuasaan. Bekerjalah padaku dan jadi menantuku."
"Tuan?"
Narendra terhenyak. Panggilan Julian sekaligus memupus bayang masa lalu yang sempat melintas. Ia mendongak, lalu mengangkat alis bertanya.
Julian diam-diam meringis melihat penampakan Narendra yang begitu berantakan. Ia tahu pria itu sedang sakit, tapi yang tidak biasa adalah matanya. Mata itu sembab seolah sebelumnya ia habis menangis. Rasanya aneh, tapi Julian pun sudah menyaksikannya kemarin. Narendra menangis sebelum pingsan di pelukan Glacia.
Mengesampingkan masalah tersebut, Julian segera mengulurkan kertas yang langsung diterima Narendra tanpa semangat. Lelaki itu membacanya sejenak, sebelum kemudian meremasnya erat dengan wajah mengeras.
"Jadi benar dia bebas bersyarat?" desis Narendra.
"Benar, Tuan." Julian mengangguk.
"Siapa yang membantunya?"
"Saya masih menyelidikinya."
Narendra membuang nafas, lalu melempar kertas di tangannya ke dinding. Ia memijat kening yang terasa berdenyut. Kepalanya pening sejak bangun tidur tadi.
"Glacia di mana?" tanya Narendra kemudian.
"Nyonya sedang sarapan di sun house," jawab Julian.
Hening. Julian memperhatikan atasannya yang kini nampak tak sehat dengan wajah pucatnya. Mungkin dampak dari luka tusuk di bahunya.
"Tuan mau saya panggilkan dokter lagi?" tanya Julian perhatian.
Namun Narendra menolak. "Tidak perlu. Obat kemarin sudah cukup."
"Aku bersyukur Glacia tak mengunci diri lagi. Jangan biarkan dia sendirian lagi," lanjutnya berkata.
"Kamar Nyonya akan mulai diperbaiki nanti siang," ucap Julian memberi tahu.
__ADS_1
Benar, jendela dan pintu balkon kamar Glacia pecah oleh Narendra kemarin. Jadi mungkin belum bisa ditempati.
"Dia tidur di mana?"
Jika tidak mengingat perseteruan mereka semalam, sebenarnya Narendra mau-mau saja seandainya Glacia harus tidur di kamarnya. Tapi itu tidak mungkin, sangat tidak mungkin di saat Glacia sudah mengibarkan pembatas dan menuntut perpisahan. Mengingatnya lagi-lagi membuat kepala Narendra bertambah sakit.
"Nyonya tidur di salah satu kamar tamu."
"Baiklah." Narendra mengangguk pelan.
Meredith masuk membawa sarapan dan obat untuk Narendra. Julian pamit undur diri dan membiarkan Narendra makan dengan tenang.
"Kalau begitu saya permisi. Jika ada apa-apa, hubungi saya." Setelah mengatakan itu Julian membungkuk lalu pergi meninggalkan kamar Narendra.
Meredith melihat Narendra yang kembali terpekur dalam kesendirian. Kepala pelayan itu membuang nafas samar sebelum bertanya. "Apa anda akan seperti itu terus?
Narendra menoleh. "Ya?"
Kembali Meredith menghembuskan nafas. "Apa anda akan melepaskan Nyonya begitu saja? Lagi?"
"Saya tahu anda sejak remaja. Anda tidak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali Nona Eliza. Kalian sering bersama. Nona Eliza terlihat sangat mencintai anda, anda pun begitu peduli padanya. Sebelumnya saya tidak pernah mengira hati anda akan bercabang pada wanita lain, dan meninggalkan Nona Eliza. Anda jatuh cinta pada Nyonya Glacia."
"Tapi, itu hanya pemahaman saya. Sekarang saya ingin bertanya, siapa wanita yang paling anda cintai dan inginkan? Anda tidak bisa memiliki keduanya secara bersamaan. Dalam dua persimpangan, pasti ada satu yang harus ditinggalkan."
Narendra mengernyit dalam. "Sepertinya semua orang salah paham." Ia menoleh pada Meredith. "Aku dan Eliza memang pernah bersama, tapi sepertinya perasaan kami berbeda. Aku memang peduli padanya, sebagai teman. Tapi aku tidak pernah merasakan seperti apa yang kurasakan pada Glacia."
"Perasaan menggebu itu, aku baru sadar setelah aku bertemu Glacia. Menurutmu apa aku jahat, Meredith? Menginginkan wanita lain di saat aku juga terikat hubungan dengan seorang wanita?"
Meredith diam. Ia menatap sang tuan tanpa berkata apa pun. Narendra sudah seperti anaknya, ia menolong anak malang itu dari kejaran ayahnya yang jahat dan tidak berperikemanusiaan.
Narendra terlahir dari keluarga yang kacau. Sang ibu dibunuh oleh ayahnya sendiri, lalu sanak-saudaranya tak ada yang peduli. Narendra sendirian, sampai ia bertemu Meredith yang merawatnya seperti anak sendiri.
"Mungkin ini hukuman untukku karena pernah menyakiti Eliza. Tapi aku benar-benar tidak bisa kehilangan Glacia. Kau tahu sesulit apa perjuanganku untuk sampai di tahap ini? Menikahi Glacia bukanlah hal mudah untukku. Glacia benar, aku hanya gelandangan yang beruntung dipungut oleh ayahnya." Narendra tertawa hambar. "Aku sangat menghormati papa mertuaku. Dia juga sama sepertimu, kalian sama-sama menolongku dan membantuku untuk bangkit. Dia orang baik."
__ADS_1
"Aku tidak tahu diri karena banyak memanfaatkan kebaikannya. Setelah semua yang dia beri, aku bertambah serakah karena menginginkan anaknya. Tidakkah aku begitu tamak, Meredith?" bisik Narendra.
"Dan sekarang, apa aku egois jika terus mempertahankan pernikahan kami, sementara aku tahu Glacia tak pernah memiliki perasaan yang sama padaku?"
"Selama hampir 2 tahun menikah, yang dia inginkan hanya bercerai. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau menyakiti Glacia lebih dalam. Selama ini dia sudah cukup menderita setelah kehilangan ibunya, dikhianati pacar dan teman juga bukan hal menyenangkan. Menurutmu apa yang harus kulakukan?"
Meredith membuang nafas pelan. "Hanya anda yang punya jawabannya. Hanya anda yang tahu apa yang hati anda inginkan. Tapi menurut saya, berjuang sekali lagi tidak ada salahnya."
Setelah mengatakan itu Meredith pergi, meninggalkan Narendra yang terpekur merenungi semua yang terjadi selama masa hidupnya.
Ia menatap kembali kertas yang sudah menjadi gumpalan kusut di tepi kamar. Ayahnya sebentar lagi bebas, dan Narendra tidak tahu harus mengurus masalah yang mana dulu.
Belum lepas kekisruhan yang merecoki pikirannya, siang harinya Narendra sudah harus dihadapkan masalah baru mengenai perceraian.
Narendra tak menyangka Glacia akan bertindak secepat itu. Ia benar-benar tak memberi Narendra waktu untuk negosiasi.
"Glacy." Ia menatap lurus surat cerai di atas meja. Luka di bahunya bahkan belum kering, tapi Glacia sudah mengajukan surat permohonan cerai.
"Aku sudah tanda tangan, tinggal kamu," ucap Glacia datar.
Saat ini mereka tengah duduk berhadapan di taman. Niat hati ingin menjernihkan pikiran dengan mencari udara segar, Narendra malah menyesal kenapa ia tak kritis atau koma saja setelah terkena tusukan pisau.
Setidaknya dengan ia yang tak sadarkan diri, Glacia akan menunda niatannya untuk meminta cerai.
"Glacia, bisakah kita bicarakan ini setelah aku benar-benar sembuh?" usul Narendra.
"Aku tidak tahu kau semanja itu," cetus Glacia.
"Tanganku sakit, tidak bisa tanda tangan."
"Yang terluka bahumu."
"Tetap saja, sakitnya menjalar sampai tangan." Narendra terus memberi alasan, meski tak sepenuhnya salah. Tangannya memang sedikit kaku karena tak bisa banyak bergerak.
__ADS_1
Mendengar itu Glacia pun membuang nafas. "Oke. Tapi sore ini aku akan pulang ke rumah Papa."
Narendra mematung. Ia berusaha memberi alasan untuk menunda perpisahan, tapi sepertinya mau ditunda atau tidak, semuanya tetap sama. Glacia bahkan sudah tidak ingin satu rumah dengannya.