
Lizy memutus sambungan telepon. Ia menatap Narendra dengan pandangan menantang. "Kau bilang aku tidak menghargai dan menghormatimu sebagai pasangan, lalu apa kabar dengan Glacia yang bahkan tidak pernah menganggapmu sebagai suami? Melihatmu saja dia tidak pernah."
Perkataan Lizy berhasil menghentikan langkah cepat Narendra menuju pintu. Wajah Narendra berubah panik setelah tahu Glacia ada bersama Krisna. Tentu itu sebuah kemenangan bagi Lizy.
"Kau dan dia jelas berbeda. Posisimu dan posisinya tidak sama. Glacia istriku, dan aku memiliki perasaan padanya. Sementara kau hanya mantan pacar yang bahkan aku tidak tahu pernah mencintaimu atau tidak," tegas Narendra.
Jawaban tersebut berhasil memancing emosi Lizy. Wanita itu menggertakkan giginya marah lalu berdiri dengan nafas terengah. Dan tanpa peringatan ia berlari pada Narendra yang hendak keluar membuka pintu. "BAJINGAAANN!!!"
Lizy yang hendak menyerang Narendra malah berakhir limbung lantaran lelaki itu sigap menyingkir. Lagi dan lagi Lizy harus menghantam lantai dengan kondisi mengenaskan. Narendra tak tanggung-tanggung memukulnya. Bekas tamparan pria itu bahkan kini sudah berubah membiru.
Narendra menunduk memandang Lizy dengan tatapan dingin, sebelum kemudian melangkahinya untuk membuka pintu dan keluar dari apartemen wanita itu.
Narendra berlari memasuki lift menuju parkiran, ia melajukan mobilnya seolah kesetanan sambil terus menghubungi Glacia dan siapa pun yang berada di rumah. Bahkan Yohanes yang sedang di luar kota pun tak lepas Narendra hubungi.
"Julian, di mana kau?" Narendra menelepon asistennya.
"Tuan, maafkan saya. Nyonya—"
Brak!
Narendra melempar ponselnya kesal. "Sialan!"
Jika Julian sudah meminta maaf, itu berarti memang telah terjadi sesuatu.
***
Beberapa saat sebelumnya di mansion Martadinata.
Glacia tengah menikmati makan malamnya sendiri, karena tadi pagi sang papa berpamitan untuk perjalanan bisnis ke luar kota. Setelah berhasil mengusir Narendra yang menyusup ke kamarnya, Glacia langsung menyuruh pelayan untuk mengunci semua pintu dan jendela, terutama koridor yang mengarah ke lantai dua.
Glacia tidak mengerti bagaimana caranya Narendra sampai di lantai atas jika bukan melewati pintu atau jendela di lantai bawah. Apa pria itu benar memanjat sesuai dugaannya?
Tapi agaknya Glacia ragu, karena ia tidak pernah tahu Narendra memiliki kemampuan seperti itu.
Lembutnya daging wagyu yang lumer di mulut tak lantas membuat Glacia berhenti melamun. Ia masih terngiang oleh perdebatannya dan Narendra sore tadi.
Glacia masih tidak percaya ia baru saja mengungkapkan perasaan pada lelaki itu. Apa yang sebenarnya Glacia pikirkan? Kenapa ia dengan mudah mengeluarkan kalimat memuakkan itu? Kenapa juga ia harus terpancing oleh Narendra?
Berdecak keras, Glacia memotong daging di piringnya hingga menimbulkan bunyi yang membuat semua orang ngilu. Weni meringis di samping Wina, ia masih tak habis pikir dengan sang nyonya yang tadi sore meminta dibuatkan salad, tapi mendadak berubah haluan ingin makan wagyu.
Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Glacia. "Nona, di depan ada tamu, katanya ingin bertemu Nona."
Glacia menghentikan aksi potong dagingnya yang membuat ngilu. Masih dengan raut kesal ia menoleh dengan kening berkerut heran. "Siapa?"
Si pelayan menggeleng pertanda tak tahu. "Saya kurang tahu, Nona. Tapi katanya mereka ingin mengantar pesanan bunga," jelasnya.
Mungkin sebagian dari kalian bingung mengenai panggilan Glacia di rumah ini. Sebagai informasi, mereka yang memanggilnya Nona adalah para pekerja di mansion, karena di mata mereka, Glacia adalah Nona Muda Martadinata.
Berbeda dengan Weni, Wina, serta Julian yang kerap memanggil Glacia dengan sebutan Nyonya, karena Glacia adalah Nyonya Besar di rumah Narendra.
Kembali pada si pelayan, Glacia terdiam nampak berpikir. Rasanya ia tak ada memesan bunga, kenapa ada yang mengantar bunga ke rumahnya?
__ADS_1
"Aku tidak merasa memesan bunga, suruh pulang saja," ketusnya kembali makan.
"Tapi, Nona, katanya ini dari Tuan Narendra."
Mendengar itu Glacia pun terdiam. Sesaat ia mematung sebelum kemudian membuang nafas kasar sembari membanting sendok yang membuat para pelayan di sana terperanjat.
Tanpa kata ia memundurkan kursi rodanya menjauhi meja makan, lalu berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Wina dan Weni kontan mengekor Glacia ke ruang tamu guna melihat siapa yang telah mengganggu makan malam sang nyonya.
Seorang pria paruh baya berdiri di luar membelakangi pintu. Penampilannya sedikit berantakan untuk seukuran tukang bunga yang Glacia kenal. Terang saja Glacia mendengus, jika benar Narendra yang mengirim tukang bunga ini, selera lelaki itu begitu payah.
Glacia berdehem hingga pria itu berbalik. Sesaat mata mereka bertemu dan saling bertukar pandang. Glacia bergeming, ia tak mengerti kenapa ia merasa dejavu dan familiar. Pria itu seperti mirip seseorang yang Glacia kenal.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Glacia datar, tak ingin basa-basi. Rumahnya bukan tempat yang bisa dikunjungi orang-orang berpenampilan seperti itu.
Pria paruh baya itu tersenyum lebar menatap Glacia. Glacia mengernyit risih, terlebih saat ia menunduk dan melihat salah satu jari di tangannya tidak lengkap.
"Glacia Martadinata," lelaki itu bergumam seraya menatap Glacia aneh.
Glacia mengernyit tak nyaman. Berani sekali dia menyebut nama lengkapnya.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Glacia sekali lagi.
Masih dengan senyumnya pria itu mengulurkan tangan pada Glacia. "Perkenalkan, saya Julius."
Glacia hanya memandang tangan itu tanpa menyambutnya. "Ada perlu apa?"
Pria yang ternyata adalah Krisna itu kembali menarik tangannya. Diam-diam ia menyeringai melihat kesombongan Glacia.
"Saya ingin mengantar pesanan bunga atas nama Narendra untuk anda, Nona," ucap Krisna. Ia menoleh ke belakang, di mana sebuah mobil box terparkir di halaman mansion.
Glacia turut mengikuti arah pandang lelaki itu. Krisna memberi isyarat pada beberapa pria di sana untuk lekas mengeluarkan semua bunga-bunganya.
Kening Glacia berkerut melihat penampilan pria-pria itu yang menurutnya aneh dan lebih mirip seperti berandalan. Ia menoleh pada Wina serta Weni yang sepertinya juga sedikit risih. Glacia meminta salah satunya mendekat lalu berbisik. "Beri tahu Julian soal ini."
Wina yang mendapat perintah langsung mengangguk dan berlalu cepat ke dalam. Glacia tidak tahu kenapa ia menyuruh pelayannya menghubungi asisten Narendra, hanya saja otaknya bekerja secara refleks dan yang pertama Glacia pikirkan adalah pria itu.
Sejumlah buket bunga berukuran besar dikeluarkan dari mobil box tersebut. Dalam sekejap lobi mansion itu dipenuhi aneka ragam bunga yang cukup menguarkan aroma wangi. Sayangnya bunga-bunga itu sama sekali bukan favoritnya. Apa Narendra tidak tahu apa yang Glacia sukai?
Glacia masih dilanda kebingungan ketika ponsel Krisna berbunyi di dalam saku. Pria itu merogohnya untuk kemudian bersuara menerima panggilan tersebut. Ia menekan tombol loud speaker hingga Glacia bisa mendengar suara seseorang di sana.
"Halo, Glacy? Narendra ingin bicara padamu."
Tentu Glacia memandang aneh pada Krisna. Dia tidak tahu kenapa pria itu bisa mengenal Lizy juga, sementara tadi dia bilang yang mengirim bunga ini Narendra.
Terlebih, kenapa Narendra ada bersama Lizy? Sisi lain hatinya seolah tercubit. Lagi dan lagi Glacia dihempaskan oleh kenyataan, mirisnya lagi baru beberapa jam lalu Glacia mengungkapkan perasaan pada Narendra. Betapa lucunya kehidupan Glacia.
Glacia berusaha terlihat santai meski hatinya tak bisa mengelak rasa sakit, ketika mengetahui Narendra ada bersama Lizy.
"Naren, kau bersama Lizy? Ada apa? Kenapa kau mengirim bunga sebanyak ini padaku?"
Sesaat tak jawaban dari sana, hingga sedetik kemudian Glacia bisa mendengar suara Narendra yang seolah tercekat. "Glacy?"
__ADS_1
Glacia terpekur mendengar suara lelaki itu. Suara yang sekarang terdengar menyakitkan bagi Glacia. Apa yang selama ini Glacia takutkan terjadi, lagi dan lagi hatinya dikecam oleh sebuah perasaan yang tak semestinya. Seharusnya Glacia bisa lebih menahan hatinya untuk tidak jatuh pada Narendra.
Panggilan ditutup begitu saja. Krisna tiba-tiba tersenyum miring menatap Glacia, pun Glacia mulai bersikap waspada ketika ia merasakan cengkraman Weni di belakangnya. Rupanya gadis itu juga merasakan suasana yang berubah tak nyaman.
"Ada apa? Kalian sudah selesai menyimpan semua bunganya?"
Kini bukan hanya Krisna yang menatapnya, melainkan para pemuda berandal tadi yang kini berbaris di belakang lelaki itu.
"Sudah," jawab Krisna aneh.
"Ya sudah, kalau begitu pergilah." Glacia yang mulai merasakan aura bahaya, refleks menggerakkan kursi rodanya hendak memasuki rumah sambil mendorong Weni juga.
Namun belum sempat mereka berdua masuk, tiba-tiba ...
Buk!
Glacia terkejut ketika Weni pingsan tepat di hadapannya. Gadis itu baru saja dipukul oleh salah satu berandal. Kontan Glacia mendongak marah. Sudah jelas mereka memiliki niat buruk pada Glacia.
"Apa-apaan ini? Apa mau kalian?!"
Glacia mendengar derap langkah para pengawal yang berlarian mendekat. Namun belum juga sampai, salah satu rekan si berandal menembakkan peluru pada semua pengawal itu hingga mereka semua berjatuhan.
Dor! Dor! Dor!
"Aaaaa!!!" Suara tembakan itu membuat seisi mansion gempar dan terkejut. Para pelayan di luar berlarian panik memasuki rumah. Sementara Glacia memberontak saat beberapa orang mulai menyergap dan menyeret kursi rodanya dengan paksa.
"Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan! Siapa kalian sebenarnya?! Lepaaasss!!!"
"Nyonyaaaa!!!" Suara Wina yang berlari dari dalam mansion seolah hanya berupa angin lalu. Pria-pria itu membopong Glacia dan melemparkannya ke dalam mobil box yang terparkir.
Krisna tersenyum miring, ia menodongkan pistol ketika Wina hendak berlari ke arah Glacia yang kini tak berhenti berteriak di dalam mobil. Gadis itu sontak terhenyak dan tak mampu berkutik sampai Krisna dan orang-orangnya membawa Glacia pergi dengan mobil box itu.
"Nyonyaaa!!!"
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Wina bergerak panik dan berusaha membangunkan Weni yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Tepat ketika itu mobil Julian datang dengan kecepatan tinggi dan berhenti paksa hingga menimbulkan decitan nyaring. Pria itu keluar dan berlari mendekati Wina yang sedang mengguncang tubuh Weni.
"Di mana Nyonya?"
Wina mendongak sembari terisak menatap Julian. "Tuan, Nyonya diculik."
Julian menegang, pandangannya jatuh pada kursi roda Glacia yang teronggok di halaman.
"Sial!" umpatnya kasar.
Ponsel Julian berdering menunjukkan nama Narendra sebagai penelpon. Julian mengangkat panggilan tersebut, namun Narendra langsung memutusnya begitu ia berucap kata maaf.
Setelah ini Narendra pasti marah besar padanya. Alasan Wina begitu lama di dalam juga karena Julian tak kunjung mengangkat panggilannya.
Rupanya pria itu sudah dalam perjalanan kemari, meski telat karena Glacia sudah dibawa pergi.
__ADS_1